Kei Dan Layla

Kei Dan Layla
Chapter 13: Jatuh sakit.


__ADS_3

Sejak peristiwa di Puncak Bogor, Abdul menempatkan dua pengawal tepat di depan pintu kamar Kei. Setelah sebelumnya Kei di pindahkan ke kamar yang tidak memiliki jendela supaya Kei tidak bisa kabur lagi dari rumah. Tidak hanya itu, Abdul dan Anita akan mempercepat pernikahan Kei dan Dinda anak Pak Yuda seorang pengusaha paling kaya karena memiliki bisnis ilegal yang tidak di ketahui Abdul dan Alya.


Sore itu Surya dan Alya memutuskan untuk menemui Yuda untuk membicarakan tanggal pernikahan yang baik untuk anak anak mereka nanti. Setibanya mereka di rumah Yuda. Keluarga Yuda menyambut dengan baik Abdul dan Alya.


Alya dan Abdul pun mengutarakan maksud kedatangannya pada keluarga Yuda. Tentu saja di sambut dengan sangat baik. Akhirnya Dinda akan menikah dengan pria yang baik dan penurut. Itu yang ada di pikiran Yuda bahwa anaknya akan bahagia bersama Kei. Apalagi Dinda menyukai Kei sejak pandangan pertama karena ketampanan Kei. Tapi Yuda tidak tahu kalau yang di pikirkannya salah besar.


"Saya setuju Pak Abdul, Bu Alya. Pernikahan akan kita langsungkan dua minggu ke depan" ucap Yuda dengan sangat gembira.


Sementara Dinda hanya diam dan menundukkan kepala tersipu malu.


"Kalau begitu kami akan mempersiapkan segalanya" jawab Abdul tak kalah gembiranya.


"Oh, tidak perlu Pak. Biar semua saya yang tangani soal pernikahan Pak Abdul dan Bu Alya diam saja dan duduk manis di rumah. Biar semua saya yang bertanggung jawab."


Abdul dan Alya saling tatap sesaat dengan senyum sumringah. "Wah, terima kasih banyak Pak." Abdul menundukkan kepala sesaat.


"Iya sama sama, demi Dinda apapun akan saya lakukan" jawab Yuda sambil mengelus rambut Dinda yang tersipu malu.


"Kalau begitu kami pamit Pak." Alya memutuskan untuk pulang setelah semua sepakat.


"Oke, akan saya kabari kalau semua sudah sekesai" jawab Yuda sambil bangkit dari duduknya, di ikuti Abdul dan Layla. Lalu Abdul dan Layla saling berjabat tangan. Tanpa mereka sadari Abdul resmi menjual Putranya demi harta.


Abdul dan Alya pun undur diri dan meninggalkan rumah Yuda denga perasaan yang lega dan bahagia. Tapi bagaimana dengan Kei?


***


Sesampainya di rumah Alya dan Abdul mempersiapkan makan malam dengan semua makanan kesukaan Kei untuk menyenangkan hati Kei. Alya dan Abdul memasuki kamar Kei. Mereka melihat Kei hanya diam duduk tak bergeming di tepi tempat tidur.


"Kei?"


Kei menoleh menatap Abdul dan Alya sesaat lalu kembali diam dengan tatapan kosong.


Alya mendekati Kei dan menarik tangan Kei untuk berdiri, "Kita makan sayang, Ibu sudah siapkan makanan kesukaanmu."


"Tidak, aku tidak mau makan" jawab Kei dingin.


"Kau harus makan dan jaga kesehatanmu Kei. Dua minggu lagi kau akan menikah dengan Dinda" timpal Abdul menatap tajam wajah Kei.


"Apa?" Kei membulatkan matanya tidak percaya Ayahnya akan melakukan hal itu. Memaksa Kei menikahi wanita yang tidak Kei cintai.


Abdul menganggukkan kepala dan berkata, "ya itu benar."


"Aku tidak mau menikah! lebih baik aku mati!" seru Kei dengan nada tinggi hingga terdengar sampai luar kamar.


Mendengar kata kata Kei, membuat Abdul naik darah dan tidak dapat menahan emosi.


"Plakkk!!"


Abdul menampar Kei hingga oleng ke samping. Kei memegang pipinya dan menatap tajam Abdul dengan napas yang memburu menahan amarah.


"Anak tidak tahu di untung! Dinda gadis yang baik dan terhormat! Dia yang terbaik buatmu Kei!" pekik Abdul tak kalah kerasnya.


"Terbaik? Ayah telah menjualku!"


"Plakkk!!


Abdul kembali menampar Kei untuk membungkam mulut Kei. Alya yang menperhatikan berteriak menengahi ke duanya, " Cukup Pak! dia Putra kita!"


"Urus dia dan nasehati dia supaya lebih sopan!" Abdul balik badan melangkahkan kakinya menuju pintu kamar lalu keluar dari kamar Kei.


"Kei, mengertilah. Lupakan Layla dan turuti keinginan kami. Kami tidak menginginkan apa apa lagi selain melihat kau bahagia" ucap Alya berusaha membujuk Kei.


"Bahagia? bahagia menurut siapa Bu? " Kei mulai terisak, hatinya terasa pedih. "Jika itu mau Ibu dan Ayah, baik akan aku lakukan tapi jangan sampai Ibu dan Ayah menyesal akhirnya" jawab Kei. Kemudian dia naik ke atas tempat tidur dan membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur dengan posisi tidur miring membelakangi Alya.


"Kei, ayo makan." Layla duduk di tepi tempat tidur menyentuh pundak Kei.


"Bukankah Ibu ingin lihat aku bahagia?" Kei menoleh menatap Alya sesaat lalu kembali ke posisi semula.


"Apa maksudmu?" Tanya Alya tidak mengerti maksud Kei.


"Aku akan bahagia jika aku mati, dari pada harus menikahi gadis yang tidak aku cintai."


"Kei!" seru Alya geram mendengar jawaban Kei.

__ADS_1


"Bukankah Ibu ingin aku bahagia? maka biarkan aku mati."


"Kau benar benar membuat Ibu kesal Kei!"


Tapi Kei tidak memberikan jawaban apa apa pada Alya. Dia hanya diam tak bergeming.


Membuat Alya menyerah dan meninggalkan kamar Kei, lalu meminta asisten rumah tangganya untuk mengantarkan makanan ke dalam kamar Kei.


Hari hari Kei di habiskan di dalam kamar, selama itu pula Kei berpuasa. Dia tidak menyentuh makanan ataupun minum. Semua makanan yang Alya buatkan untuk Kei tak tersentuh sama sekali. Hingga tubuh Kei lemas dan mengalami demam tinggi.


Alya dan Abdul sangat khawatir tapi sedikitpun tidak melunakkan hati Abdul ataupun Alya untuk membatalkan pernikahan itu. Akhirnya Abdul memanggil Dokter ke rumah dan memeriksa kondisi Kei.


"Bagaimana Dok?" tanya Alya.


Dokter menggelengkan kepala, " Kondisinya sangat lemah, berikan obat ini dengan rutin dan usahakan dia bisa makan dan minum walaupun sedikit." ucap Dokter sembari menyerahkan selembar kertas berisi resep obat yang harus Abdul beli.


"Baik Dok, terima kasih" jawab Abdul sambil menerima resep Dokter.


"Kalau begitu saya permisi." Dokter menundukkan kepala sesaat. Lalu berpamitan kembali pulang dan di antarkan Abdul sampai teras rumah.


Abdul menatap kertas di tangannya dan berkata, "kenapa kau keras kepala sekali Kei." Abdul mendengus kesal.


Setelah itu dia berpamitan pada Alya untuk membeli obat dan meminta Alya untuk menjaga dan memberikan Kei makan dan minum. Karena dua hari lagi Kei akan segera menikah.


"Kei, makanlah sedikit saja, biar kau cepat sembuh" ucap Alya menatap mangkok yang berisi bubur yang ada di tangannya. Tapi Kei tetap diam dan tidak mau makan. Melihat Kei bersikeras seperti itu, Alya pun menangis di hadapan Kei. Bukan karena takut kehilangan Kei tapi yang membuat Alya menangis dia takut pernikahannya gagal dan dia bisa di tuntut oleh Yuda.


Melihat Ibunya menangis, hati Kei tergerak untuk memakan bubur itu walaupun hanya sedikit. Melihat Kei mau makan membuat Alya menghentikan tangisnya dan tersenyum.


"Anak baik." Seraya mengusap pipi Kei yang terlihat cekung karena tidak mau makan. Setelah Kei makan Alya pun meninggalkan Kei di kamarnya sendirian.


"Layla maafkan aku" gumam Kei pelan dan terus di ulang sampai berkali kali dengan mata berkaca kaca.


"Layla maafkan aku, jika suatu hari nanti aku tidak lagi ada di sisimu. Aku tunggu kau di keabadian" gumam Kei pelan.


Dua jiwa yang melebur jadi satu dalam kesucian cinta, bagai sebuah misteri yang entah kapan akan berakhir. Namun cinta sejati akan terus melukiskan sejarah di setiap generasi ke generasi dan akan selalu di kenang untuk cerita para pecinta.


***


Tapi, di kamar yang sepi, sunyi, hanya ada kesedihan dan air mata. Kei duduk meringkuk di pojok kamarnya. Ia menangis dengan menyebut nama Layla.


"Layla, aku berjanji. Kalaupun aku menikahi gadis itu, sedikitpun aku tidak akan menyentuhnya, tidak akan Layla."


Kei terdiam menatap kosong, lalu ia mengalihkan pandangannya pada sebuah meja di hadapannya. Lalu ia bangun dan berdiri. Kemudian Kei melangkahkan kakinya mendekati meja. Ia memperhatikan semua barang di meja seakan ada yang di carinya.


"Silet.." ucapnya lirih.


Kei menatap silet yang tergeletak di meja. Perlahan tangannya terulur mengambil silet yang ada di atas meja. Kemudian ia membukanya dan membuang cankang silet ke lantai.


Kei menghela napas panjang. Ia memejamkan matanya, bibirnya mengatup. Lalu tangan kananya diangkat ke atas dan tangan kiri yang memegang silet langsung ia goreskan di urat nadinya.


"Srettt!


Darah segar mengalir deras di pergelangan tangan Kei, kei meringis menahan rasa sakit dan pedih di pergelangan tangannya. Pandangan matanya perlahan mengabur dan gelappun menyambutnya. Kei ambruk ke lantai tak sadarkan diri.


Tapi keberuntungan masih ada di pihak Kei, itu artinya Yang Maha Kuasa tidak menginginkan Kei meninggal dengan cara seperti ini. Alya datang ke kamar Kei dengan membawa makanan. Ia membuka pintu kamar Kei, dan langsung menjatuhkan piring ke lantai.


" Prankkkk!!"


"Keiii!!!"


Alya menjerit histeris memanggil Kei, ia langsung menghampiri Kei dan mengangkat kepala Kei ke pangkuannya.


"Paaakkk!! Kei, Paaakk!!" Jerit Alya berteriak memanggil Abdul.


Abdul yang berada di ruang tengah bersama dua pengawalnya langsung berlari ke arah suara, saat mendengar Alya berteriak histeris.


"Kei!!" seru Abdul langsung mengangkat tubuh Kei dan menggendongnya dan di letakkan di atas tempat tidur.


"Cepat telepon Dokter Bu!!" seru Abdul


Alya langsung bergegas ke ruang tamu untuk menelpon Dokter, Sementara Surya mengambil kain di lemari dan mengikat pergelangan tangan Kei.


Tak lama kemudian, Dokter datang dengan satu perawat membawa alat alat medis yang diperlukan. Mereka langsung masuk kedalam kamar Kei dan menanganinya.

__ADS_1


Alya dan Abdul menunggu di luar kamar Kei, mereka terlihat sangat ketakutan jika kehilangan Kei. Namun sedikitpun hati Abdul ataupun Anita melunak. Meski berbagai peristiwa telah Tuhan beri pesan kepada mereka. Abdul dan Anita tetap saja menuduh Layla sebagai sumber permasalahan yang terjadi. Hingga kebencian mereka terhadap Layla semakin besar.


"Sampai aku matipun, tak akan aku biarkan Kei menikahi gadis pembawa sial itu." Gigi Abdul gemelutuk menahan amarah.


"Semoga Kei baik baik saja." Alya terus saja mondar mandir di depan pintu kamar Kei.


Satu jam berlalu, akhirnya Dokter keluar dari kamar Kei. " Pak, Bu" sapa Dokter.


"Bagaimana dengan Kei, Dok?" tanya Alya dengan cemas.


"Alhamduliah, Putra Bapak dan Ibu, bisa tertolong." Dokter menundukkan kepala sesaat.


"Terima kasih Dok, boleh saya masuk?" tanya Abdul.


"Jangan dulu Pak, biarkan Kei beristirahat." Dokter dan perawat itu keluar dan menutup pintu kamar Kei.


"Berapa hari kira kira proses kesembuhan Kei, Dok?" tanya Anita.


"Luka di tangan bisa cepat sembuh Bu, tapi luka dari dalam dirinya yang sulit untuk sembuh, jadi saya harap. Ibu dan Bapak tidak membebani pikiran Kei."


Alya dan Abdul saling tatap sesaat, lalu mereka menundukkan kepala, " baik Dok, dan terima kasih."


Dokter menganggukkan kepala, lalu mereka berpamitan untuk kembali bekerja, setelah memberikan resep yang harus Abdul beli, Dokter juga akan kembali lagi di sore hari untuk memeriksa kondisi Kei.


Kemudian Abdul mengantarkan Dokter sampai depan rumahnya, setelah itu ia kembali masuk ke dalam rumah.


"Anak itu menjadi sangat keras kepala." Abdul menghempaskan tubuhnya di sofa.


"Lalu bagaimana dengan pernikahannya besok? kita tidak mungkin memundurkan jadwal pernikahan Kei?" tanya Anita, sedikitpun sebagai seorang Ibu hatinya melunak terhadap darah dagingnya sendiri. Yang ada di pikirannya hanyalah harta dab pernikahan.


"Pernikahan tetap akan berlangsung besok Bu," ucap Surya. "Jika tidak, kita akan ketahuan oleh Yuda." Abdul memijit pelipisnya.


Sebagai orang tua, mereka hanya memikirkan egonya sendiri sendiri, dari pada memikirkan kebahagiaan Putra semata wayangnya.


Menit berlalu, jam pun berganti. Kei sudah sadar dan menatap langit langit kamar.


"Kenapa aku masih hidup, buat apa aku hidup jika harus menikah dengan gadis lain."


Entah datangnya dari mana, seekor kupu kupu masuk ke dalam kamar Kei dan hinggap di tangan Kei. Kei menatap Kupu Kupu cantik berwarna hitam dan kuning berukuran besar.


"Layla?" ucap Kei pelan. "Apa yang ingin kau katakan?" tanya Kei pada Kupu Kupu itu.


Kemudian Kupu Kupu itu terbang rendah hinggap di hidung Kei. Kei tertawa kecil menatap Kupu Kupu itu.


"Apa? kau minta aku untuk tidak sedih?" ucap Kei. "Baiklah Layla, jika itu permintaanmu."


Kemudian Kupu Kupu itu kembali terbang tinggi dan keluar dari kamar bersamaan dengan pintu yang terbuka. Kei melihat Anita dan Abdul masuk ke dalam kamar.


"Kei..." ucap Alya pelan. Lalu ia duduk di tepi tempat tidur.


"Bagaimana keadaanmu sekarang?" tanya Abdul.


Kei memalingkan mukanya kesamping. Ia sama sekali tidak inhin bicara dengan kedua orang tuanya.


"Kei, Ayah sedang bertanya padamu."


Lagi lagi Kei hanya diam dan tetap tidak ingin melihat mereka berdua. Hingga membuat Abdul kembali emosi.


"Kei!"


Alya langsung memegang tangan Abdul, supaya Abdul jangan bicara keras dulu terhadap Kei.


"Sudah Pak, biarkan Kei istirahat."


Abdul mendengus kesal, lalu ia balik badan dan melangkahkan kakinya keluar kamar.


Alya menarik napas panjang, "apa kau butuh sesuatu?" tanya Alya.


Kei masih diam, dan memalingkan wajahnya.


"Baiklah, Ibu akan keluar. Kau istirahat biar cepat pulih." Alya bangun dari duduknya, sesaat menatap Kei. Lalu ia balik badan meninggalkan Kei sendiri di kamarnya.


"Maafkan aku Ibu, Ayah. Kalian sangat mengecewakanku" ucap Kei lirih.

__ADS_1


__ADS_2