
Di antara kebisingan kota Jakarta, siang itu nampak Yuda dengan dua orang pria bertubuh kekar tengah merencanakan penculikan Layla di dalam mobil yang terparkir di tepi jalan raya.
Yuda meminta dua orang pria itu menculik Layla, pada saat Layla berziarah ke pemakaman hari Jumat depan. Dan membawa Layla ke pabrik perusahaan Yuda yang sudah kosong dan tidak terpakai.
"Aku mau kalian jangan sampai gagal, dan lakukan dengan sangat rapi tanpa meninggalkan jejak, kalian paham?!" tanya Yuda.
Dua pria kekar itu menganggukkan kepala, menatap Yuda. "Paham" jawab mereka serempak.
Yuda tersenyum sinis menatap dua pria itu, ia masih menyimpan luka atas kematian Dinda, dan Yuda menimpakan kesalahan ini pada Layla. Jika Dinda saja mati dan tidak dapat memiliki Kei, maka Layla pun harus bernasib sama seperti Dinda. Itu yang ada di pikiran Yuda selama ini.
Setelah mereka selesai merencanakan penculikan, dua pria kekar itu keluar dari pintu mobil dan pergi meninggalkan Yuda sendirian di dalam mobil.
"Hutang nyawa harus dibayar dengan nyawa," Yuda tertawa. "Tunggu saja giliranmu Layla."
Setelah itu Yuda menjalankan mobilnya kembali ke rumahnya. Selama ini ia memperhatikan Kei yang sering menemui Layla, dan hal itu membuat luka Yuda semakin dalam akan kematian Dinda Putri semata wayangnya. Ia merasa hidupnya sudah tidak berarti apa apa lagi. Tanpa Dinda, anak kesayangannya. Hidupnya kosong dan hampa.
***
Layla berjalan ke dapur membuatkan teh hangat untuk Raiden yang baru saja datang.
Tak lama kemudian Layla kembali dengan dua gelas teh hangat di atas nampan kecil.
Lalu ia letakkan di atas meja.
"Tumben kau datang sepagi ini? memangnya kau tidak bekerja?" tanya Layla, lalu ia duduk berhadapan dengan Raiden di teras depan rumah.
Raiden tersenyum menatap wajah Layla, lalu ia mengambil gelas di atas meja dan menyecap teh hangat.
"Ada yang mau aku bicarakan denganmu" jawab Raiden. Lalu ia letakkan gelas di atas meja.
"Tentang apa?" tanya Layla.
"Lamaran."
Kedua alis Layla bertaut menatap Raiden.
"Lamaran?" Layla sedikit terkejut dan tidak mengerti maksud Raiden.
"Iya." Raiden menggeser kursinya supaya lebih dekat dengan Layla.
"Sebagai kakak, aku ingin lihat kau bahagia. Jadi?," Raiden menghela napas dalam. "Aku akan melamar Kei buatmu, Layla."
Sesaat Layla terdiam, namun detik berikutnya dia tertawa keras. Membuat Raiden mengerutkan dahi menatap Layla tak mengerti kenapa Layla tertawa.
"Kenapa kau tertawa?" tanya Raiden.
Layla perlahan menurunkan volume suara tertawanya. Lalu ia tertawa kecil menatap Raiden.
"Bagaimana kau tahu, kalau aku tidak bahagia tanpa Kei?" Layla balik bertanya.
Raiden terdiam sesaat, mencoba mencerna pertanyaan Layla. "Bukankah kau sangat mencintainya?"
__ADS_1
"Aku memang mencintai Kei tapi, bukan berarti aku tidak bahagia dengan pilihanku."
Raiden menautkan kedua alisnya semakin tidak mengerti. "Maksudmu?"
Layla bangun dari duduknya langsung mendekati Raiden dan berdiri di belakang Raiden. Kedua tangan Layla memeluk Raiden dari belakang.
"Kebahagiaan itu bukan terletak pada orang lain, tapi kebahagiaan datang dari sini" ucap Layla telunjuknya menekan dada kiri Raiden.
Raiden menganggukkan kepala tanda mengerti apa yang di katakan Layla.
"Lalu?" tanya Raiden.
Layla berbisik di telinga Raiden. "Hidup sendiri atau bersama Kei, itu adalah sebuah pilihan tapi," Layla mengecup pipi Raiden sesaat. "Cintaku pada Kei tidak akan berubah, Kau tahu kenapa?" tanya Layla.
Raiden menggelengkan kepala. "Aku tidak tahu."
"Kasih adalah sebuah pemberian tanpa harus mendapatkan pengembalian. Sementara Cinta adalah konsisten." Layla melirik Raiden sesaat, lalu ia berdiri tegap kembali duduk di kursi.
Raiden mengerutkan dahi, ia menggaruk kepalanya mencoba mencerna semua yang Layla katakan.
"Layla, kau gadis yang unik." Raiden menatap Layla kagum.
"Jadi, bagaimana? apa kau masih mau melamarkan Kei buat aku?" tanya Layla.
Raiden tertawa kecil, sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Tidak Layla."
Layla tersenyum, lalu ia mengalihkan pembicaraan tentang rencananya untuk membuka satu mata pelajaran di sekolahnya yaitu seni melukis. Dan rencana Layla di dukung penuh oleh Raiden.
***
Sementara itu, Kei tengah berbincang dengan kedua orang tuanya. Ia mengutarakan maksudnya untuk menikahi Layla. Tapi kedua orang tua Kei tetap menentang keinginan Kei untuk menikahkan Kei dengan Layla.
"Kenapa Bu, Yah?" tanya Kei.
"Ibu bilang tidak ya tidak!" Alya menatap Kei kesal.
"Tapi Bu, sampai kapan kalian akan seperti ini terus?" tanya Kei lagi.
"Sampai kapanpun, Ayah dan Ibu tidak akan setuju kau menikah dengan Layla." Alya bangun dan duduknya dan berlalu begitu saja, sementara Abdul hanya diam tanpa bicara sepatah katapun.
Kei bangun dan berdiri, ia menatap Ayahnya sesaat lalu pergi keluar rumah dengan perasaan kecewa untuk yang kedua kali terhadap orang tuanya.
Kei meninggalkan rumah, dan membawa mobilnya dengan perlahan. Ia berniat pergi ke taman yang tak jauh dari rumah Layla, untuk menenangkan diri.
Tak lama kemudian Kei telah sampai di taman. Ia menepikan mobilnya dan keluar dari pintu mobil langsung menuju taman dan duduk di bangku.
Kei mengedarkan pandangannya ke sekitar taman. Taman ini mengingatkan Kei, saat saat masih bersama Layla semasa sekolah dulu. Ia dan Layla akan menghabiskan waktu tatkala rindu saling berpagut manja diantara rinai hujan rintik rintik. Kei tersenyum sendiri mengingat itu semua.
Kei terus memperhatikan semua sudut taman, hingga matanya tertuju pada seorang wanita tengah duduk dengan memegan pena dan beberapa lembar kertas putih.
"Layla?" gumam Kei pelan.
__ADS_1
Lalu ia bangun dan berdiri menghampiri Layla. "Layla, kau disini juga?" sapa Kei.
Layla menoleh, wajahnya tengadah menatap Kei yang sudah berdiri di sampingnya.
"Ah, kau Kei?"
Kei langsung duduk di sebelah Layla. Dan matanya menatap kertas yang ada di tangan Layla. "Kau sedang melukis?" tanya Kei.
"Tidak " jawab Layla dengan tersenyum.
Layla memperhatikan wajah Kei yang terlihat murung. "Kau kenapa?" tanya Layla.
Kei menghela napas dalam, ia pun menceritakan apa yang membuat dia murung.
Layla menghela napas dalam dalam, lalu ia hembuskan perlahan. "Kei."
"Hmm" jawab Kei menatap sendu Layla.
"Lihat!" Layla menunjuk seorang anak kecil yang kurus kerontang di seberang jalan.
Kei menoleh dan melihat anak kecil di seberang jalan, "Iya, anak kecil itu terlihat kurus."
Layla tersenyum, tangannya menyentuh pipi Kei untuk mengalihkan pandangan Kei dari anak kecil itu.
"Carilah kesunyian di malam hari, berdamailah dengan diri sendiri. Sebab," Layla menurunkan tangannya. "Kau harus bersuka cita dan tertawa jika tidak, jiwa mu akan terus kelaparan, Kei."
Kei menundukkan kepala sesaat, menatap sendu kedua bola mata Layla. " Siang dan malam aku berpikir," Kei menyentuh pipi Layla. "Aku bertanya pada diriku sendiri, apa yang aku cari?"
"Aku mencintaimu, dan ku ukir namamu dengan darah." Kei menatap Layla dengan mata berkaca kaca.
Layla tersenyum menatap Kei, ia mengusap lembut pipi Kei. "Kau pernah bilang padaku, kalau hidup ini penuh dengan ketidak pastian," Layla menurunkan tangannya. "Lalu kenapa kau masih memiliki keangkuhan di pagi hari dan kau pun menarik diri di malam hari?" tanya Layla.
Layla meletakkan pena dan kertasnya di atas bangku. Kedua tangan Layla terulur menangkup wajah Kei.
"Akan aku tunjukkan keindahan dalam kesunyian, kepahitan dalam kesendirian," Layla menurunkan tangannya. "Lihat!" Layla menunjuk sebuah bungan yang terlihat layu.
Kei mengalihkan pandangannya menatap bunga yang Layla tunjuk.
"Di dalam kesunyian, didalam kesendirian. Kau akan menemukanNya dalam cintamu yang selama ini kau puja Kei," Layla menyentuh tangan Kei. "Gunakan Rasamu, maka kau akan menemukan kenikmatan dalam kesunyian dan setiap penderitaan."
Kei menghela napas dalam, "tapi Layla.." ucapnya lirih.
"Aku tahu itu sulit, tapi lihatlah ke dalam dirimu yang paling dalam, kau akan menemukanKu disetiap hembusan napasmu." Mata Layla berkaca kaca menatap Kei.
Kei tersenyum getir, ia menganggukkan kepala tanda mengerti apa yang di ucapkan Layla. "Tetima kasih." Kei langsung memeluk erat Layla. Kei selalu merasa tenang jika sudah berbicara dengan Layla. Layla mampu memberikan ketenangan bagi Kei.
Tapi Layla tidak menginginkan Kei untuk terus bergantung pada orang lain. Kei harus menjadi jiwa yang mandiri dan merdeka. Jika suatu hari nanti Layla sudah tidak ada, Kei akan mampu mengatasi dirinya sendiri tanpa harus ada Layla.
Kei mengerti dan akan menjalani seperti yang Layla katakan meski itu butuh waktu dan proses yang panjang untuk menjadi pribadi berjiwa kuat dan mandiri.
Hidup ini bukan seperti Matematika, hidup ini penuh dengan bayang semu dan ketidak pastian. Untuk mencintai sesuatu yang tak terlihat, mungkin kita harus sedikit menjadi gila, Kenapa tidak?
__ADS_1