
Di suatu pagi, suasana kantor Raiden yang awalnya tenang berubah terjadi kegaduahan. Dua anggota Polisi mendatangi kantor Raiden untuk menangkap Manager perusahaan di kantor Raiden bekerja. Sebagai pemilik perusahaan Raiden sudah mengendus kecurangan yang di lakukan Managernya itu. Raiden tidak menyangka jika orang kepercayaannya akan menggelapkan uang, dan hampir membuat bangkrut perusahaan Raiden. Berkat ketegasan dan kemampuan Raiden dalam mengungkap kasus ini, Polisi berhasil meringkus Manager yang menjadi tersangka utama.
Sempat terjadi adu mulut antara Raiden dan Managernya yang bersilat lidah. Tapi dengan kedatangan Polisi dan bukti bukti yang kuat membuat Manager itu tidak bisa berbohong lagi. Manager itu pun sempat menyebut nama Yuda ketika Polisi mengintrogasinya.
Alhasil Manager itu pun di gelandang ke Kantor Polisi. Beserta Raiden ikut ke ke Kantor Polisi untuk memberikan keterangan yang di butuhkan.
Setelah semua selesai, Raiden kembali meluncur ke rumah Layla untuk menemuinya.
Sesampainya di rumah Layla, Raiden tidak menemukan sosok wanita pujaan hatinya. Dan menurut keterangan Mbok Darmi, Layla meninggalkan rumah sejak tadi sekitar pukul 06:30. Dan Mbok Darmi mengatakan kalau Layla tidak mengatakan kemana tujuannya.
Raiden melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul 10:30. Itu artinya Layla pergi sudah empat jam lamanya.
"Mbok, aku cari Layla dulu di mungkin Layla pergi menemui teman temannya." Raiden menatap Mbok Darmi.
"Baik Den" jawab Mbok Darmi.
Lalu Raiden kembali meninggalkan rumah Layla dan memutuskan untuk ke sekolah milik Almarhum Surya.
Sesampainya di sekolah tempat teman temannya mengajarpun Layla tidak berada di sana, Raiden sempat bingung mau kemana lagi mencari Layla. Kemudian Raiden kembali menjalankan mobilnya menyusuri jalan raya berharap Layla di temukan.
Tiba tiba Raiden melihat Yuda tengah berjalan bersama Dinda juga Kei. Mereka baru saja keluar dari sebuah Restoran.
Raiden memutuskan untuk menemui Yuda dan hendak mempertanyakan akan pernyataan Managernya tadi sewaktu di introgasi Polisi.
Raiden menepikan mobilnya di tepi jalan raya, dan langsung keluar dari dalam mobil menghampiri Yuda, Kei dan Dinda.
"Apa kabar Pak Yuda."Raiden menatap Yuda curiga.
Yuda, Kei dan Dinda menghentikan langkahnya menatap lurus Raiden.
"Saya mau bicara dengan Anda," kata Raiden.
Yuda tersenyum miring, melirik sesaat ke arah Dinda dan Kei. Ia berpikir kalau Raiden akan membicarakan kontrak kerjasama perusahaan.
"Tentu saja boleh," kata Yuda. "Kau mau bicara tentang apa?"
"Aku tahu, kau terlibat dalam penggelapan uang perusahaan, yang dilakukan Managerku." Mata Raiden menatap Yuda penuh selidik.
Yuda membelalakkan matanya menatap Raiden. Ia maju selangkah lebih dekat dengan Raiden.
"Apa kau bilang?" tanya Yuda sekali lagi.
Raiden tersenyum miring menatap Yuda, "apa kau tuli?" ucap Raiden.
Yuda mendengus kesal, kedua tangannya menarik kerah baju Raiden, "tarik ucapanmu, atau kau akan menyesal." Yuda menatap tajam Raiden.
__ADS_1
Raiden menarik kedua tangan Yuda dan mendorong tubuh Yuda ke belakang, membuat Yuda mundur dua langkah ke belakang.
"Menjauh dari hadapanku!" seru Raiden.
Yuda menarik napas dalam, ia langsung menghampiri Raiden dan melayangkan tinju di wajah Raiden secepat kilat tanpa Raiden duga.
"Rasakan ini!" pekik Yuda.
Raiden oleng ke samping dan hampir saja ambruk ke jalan, tapi Raiden mampu mengimbangi tubuhnya. Ia kembali berdiri tegap sambil meraba hidungnya yang berdarah.
"Kalau kau tidak merasa seperti itu, kenapa kau harus marah?" tanya Raiden.
"Cuih!" Yuda menanggapi dingin pertanyaan Raiden.
"Pa! sudah jangan berkelahi!" seru Dinda. "Malu di lihat orang lain?!"
Dinda dan Kei berjalan menghampiri Yuda dan membujuknya untuk tidak meladeni Raiden. Tapi Yuda menolaknya, ia kembali melayangkan tinju ke arah perut Raiden. Tapi kali ini Raiden mampu mengimbanginya sehingga perkelahian itu menjadi imbang. Yuda dan Raiden sama sama luka lebam di wajah dan pendarahan di mulut.
Orang orang yang lalu lalang di sekitar area itu, tidak ada yang berani memisahkan mereka. Malah kebalikannya, Yuda dan Raiden jadi tontonan orang orang yang lalu lalang.
"Hentikan!" pekik Layla berlari ke tengah Raiden dan Yuda yang tengah berkelahi.
Kedatangan Layla yang tiba tiba, membuat satu pukulan telak mengenai perut Layla. Layla terjungkal dan ambruk ke jalan.
"Layla!" pekik Raiden.
"Layla, kenapa kau ke sini?" tanya Raiden.
Raiden mengangkat tubuh Layla dan menggendongnya lalu ia membawanya masuk ke dalam mobil.
"Aku ikut!" seru Kei.
Raiden menoleh ke belakang, setelah menutup pintu mobil. Raiden tersenyum miring dan berkata, " Layla urusanku, bukan urusanmu lagi." Mata Raiden menatap benci Kei.
"Kau ini apa apaan sih Kei?- Dinda menarik lengan Kei,-"kau bukan siapa siapa Layla bukan?"
Kei mundur selangkah dengan tatapan ke arah kaca mobil menatap Layla yang tengah kesakitan di dalam mobil. Kei paling tidak tahan melihat Layla terluka. Ia sangat ingin ada di sampingnya dan merawat luka Layla.
"Ayo kita pulang." Dinda menarik tangan Kei, dengan tatapan lurus ke arah Raiden yang berdiri di samping mobil.
"Urusan kita belum selesai, Yuda!" seru Raiden.
Setelah berkata seperti itu Raiden memasuki mobilnya dan langsung membawa Layla ke Rumah Sakit terdekat.
Yuda mengusap noda darah di bibirnya dengan tatapan lurus ke depan. Ia meludah ke samping dan melangkahkan kaki mendahului Kei dan Dinda. Akhirnya mereka kembali melanjutkan langkahnya kembali ke rumah.
__ADS_1
***
Sesampainya di halaman Rumah Sakit, Raiden menepikan mobilnya dan keluar dari mobil. Raiden menggendong Layla memasuki Rumah Sakit dan memeriksakan keadaan perut Layla yang terkena pukulan Yuda.
Setelah dua jam berlalu Dokter melakukan pemeriksaan, akhirnya Dokter pun mengijinkan Layla pulang tanpa harus di rawat inap. Setelah mengurusi semua biaya administrasi dan obat yang harus di beli, akhirnya Raiden membawa Layla kembali pulang ke rumahnya.
Dua puluh menit kemudian, Raiden telan sampai di halaman rumah Layla. Raiden langsung keluar dari pintu mobil dan membawa Layla langsung memasuki kamar pribadi Layla dan membaringkannya di atas tempat tidur.
"Layla, maafkan aku," kata Raiden. "Gara gara aku, kau jadi seperti ini." Raiden menatap Layla dengan tatapan bersalah.
"Bukan salahmu." Layla tersenyum, matanya terlihat sedih.
Maafkan aku," ucap Raiden.
"Boleh aku bertanya?" tanya Layla.
Raiden menganggukkan kepala cepat.
"Silahkan," jawab Raiden.
"Kenapa kau berkelahi dengan Yuda?" tanya Layla.
Raiden menundukkan kepala sesaat, lalu ia menceritakan peristiwa tadi pagi di kantornya. Raiden juga mengatakan kecurigaannya selama ini terhadap Yuda pada Layla.
"Aku yakin sekali, kalau Yuda terlibat" ucap Yuda mengakhiri ceritanya.
Layla tertegun mendengar semua penjelasan Raiden. Apa yang Raiden pikirkan ternyata sama, dengan apa yang Layla pikirkan juga tentang Yuda. Tapi Layla tidak ingin larut dalam kecurigaannya, " Serahkan semua pada Yang Maha Kuasa," kata Layla. "Kita hanya perlu berusaha dan mencari jalan keluar."
Raiden menganggukkan kepala. Ia tersenyum dan membungkukkan badan. Ia mencium puncak kepala Layla dengan lembut.
"Terima kasih."
Layla menganggukkan kepala menatap wajah Raiden. Tangannya terulur mengusap pelan pipi Raiden. Raiden pun memegang tangan Layla dan mengecupnya.
"Sekarang kau istirahat," ucap Raiden. "Aku akan buatkan kau susu hangat." Raiden bangun dan berdiri, lalu ia balik badan meninggalkan kamar Layla menuju dapur.
'Aku memang mencintai Kei, tapi aku juga tidak akan membiarkan siapapun mengganggumu Rai.' ucap Layla dalam hati.
Tak lama kemudian, Raiden datang dengan membawa segelas susu hangat. Lalu ia berikan pada Layla.
"Terima kasih." Layla mengambil gelas di tangan Raiden dan menyecapnya perlahan.
"Apakah perutmu masih sakit?" tanya Raiden.
Layla menganggukkan kepala sambil meletakkan gelas di atas meja yang ada di dekatnya. "Tidak apa apa, nanti juga hilang sakitnya." Layla menatap Raiden dan tersenyum manis.
__ADS_1
"Kalau begitu kau istirahat. aku akan menunggumu di sofa" ucap Raiden.
Layla menganggukkan kepala sesaat, lalu ia menarik selimut dan berusaha memejamkan mata. Sementara Raiden berbaring di sofa menjaga Layla sembari mengistirahatkan tubuhnya yang terasa sakit di sekujur tubuh.