
" Dasar *****! aku bayar kau mahal mahal bukan untuk jadi pengecut!" ucap Yuda dengan nada tinggi, menatap dua pria orang suruhannya untuk menghabisi Raiden.
Kedua pria itu menundukkan kepala dan berkata. " Maafkan kami Pak, saat itu ada warga yang melihat kami" jawab salah satu pria itu.
"*****! cari alasan saja kau! pokoknya aku tidak mau tahu, kalian harus bereskan Raiden hari ini juga!" ucap Yuda geram menatap tajam kedua pria itu.
"Baik Pak" jawab kedua pria itu serempak.
"Cepat pergi! dan kerjakan dengan baik tanpa ada jejak, paham!" Yuda melebarkan matanya menatap kedua pria kekar itu.
Kedua pria kekar itu menganggukkan kepala sesaat, lalu mereka beranjak pergi dari ruangan kantor Yuda.
"Duk!"
Yuda memukul meja dengan tangan kanannya dengan sangat keras. "Dasar tidak berguna!"
***
Dua jam berlalu, setelah selesai membeli alat alat tulis, Layla dan Raiden meninggalkan toko itu. Raiden melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul 19:30.
"Layla, aku lapar sekali. Bagaimana kalau kita cari makan dulu?" tanya Raiden menatap Layla.
Layla menganggukkan kepala. "Iya boleh."
Kemudian Layla dan Raiden meninggalkan halaman toko dan berjalan menuju tepi jalan. Raiden menggenggam erat tangan Layla, sementara tangan yang satunya menenteng kantong berisi alat alat tulis. Lalu mereka menyebrang jalan. Raiden sengaja tidak membawa mobilnya dan memilih jalan kaki karena toko alat lukis tak jauh dari rumah Layla. "Layla, bagaimana kalau kita makan sate kambing di ujung jalan sana?" tanya Raiden menunjuk ke arah ujung jalan.
Layla menoleh ke arah ujung jalan dan menganggukkan kepala. "Ayo."
Raiden dan Layla memutar badan berjalan menuju ujung jalan mendekati penjual sate yang nampak ramai pengunjung. Tiba tiba kaki Layla tersandung sebuah balok kayu yang tergeletak di jalan.
"Duk"
Layla hampir terjatuh tapi Raiden dengan sigap menahan tubuh Layla supaya tidak jatuh. Layla berpegangan pada lengan Raiden dan sempat melirik ke belakang.
Tiba tiba Layla mendorong tubuh Raiden ke samping membuat Raiden terjungkal ke jalan.
"Jlebb!"
"Aakkhh" Layla memegang perutnya, ia membulatkan matanya menatap dua pria yang ada di hadapannya. Lalu dua pria itu langsung balik badan berlari sekencang kencangnya meninggalkan Layla yang berlumuran darah di perutnya.
__ADS_1
Kejadian yang tidak terduga membuat Raiden tak sempat berbuat apa apa. Raiden terpaku dengan kedua mata melebar menatap Layla yang perlahan terjatuh dan ambruk di jalan.
"Laylaaa!!" ucap Raiden berteriak langsung bangun dan berlari mendekati Layla. Raiden membalikkan tubuh Layla dan dia langsung histeris berteriak memanggil Layla.
"Laylaaa!"
Raiden memegang sebuah pisau yang menancap di perut Layla. Raiden pun menatap sekitar dan meminta pertolongan orang orang yang ada di kedai sate.
"Tolong! tolong!"
Orang orang yang ada di kedai sate langsung berhambur mendekati Raiden. "Ada apa Bang?" tanya salah satu warga menatap Raiden dan Layla yang berlumuran darah.
"Tolong saya Bang, antar saya ke rumah sakit." ucap Raiden panik.
"Ayo bantu, ayo bantu angkat!"
"Layla, bertahan sayang" ucap Raiden sambil mengangkat tubuh Layla di bantu orang orang dan di masukkan ke dalam mobil salah satu pria yang membantu Raiden ke rumah sakit terdekat.
"Layla bertahanlah, bertahan sayang" ucap Raiden lirih memeluk tubuh Layla erat. Baju yang Raiden kenakan basah oleh noda darah dari perut Layla yang terus mengalir.
"Maafkan aku Layla, seharusnya kita langsung pulang, Layla maafkan aku" ucap Raiden memaki kesalahannya sendiri.
"Bertahan Layla, bertahan sayang. Bang bisa lebih cepat" ucap Raiden takut dan panik bercampur jadi satu. Dia terus mengeluarkan kata kata penyesalannya sepanjang jalan.
"Cepat bawa ke ruang UGD" ucap Dokter Adrian.
"Bertahanlah Layla, bertahan sayang" ucap Raiden sepanjang lorong rumah sakit. Sesampainya di pintu ruangan UGD Dokter Adrian meminta Raiden untuk menunggu di luar ruangan UGD.
Raiden berdiri mondar mandir di depan pintu ruang UGD dengan cemas. Ia menggigit jari telunjuknya sambil mondar mandir entah untuk berapa lama. Sementara di dalam ruangan Dokter Adrian sedang melakukan operasi.
***
Raiden duduk lemas di kursi ruangan ia menangkup wajahnya. "Layla, bertahanlah Layla" ucapnya pelan.
Raiden menurunkan tangannya mendengar suara langkah kaki tengah berlari di lorong rumah sakit. Raiden melihat Mbok Darmi dan Mang Usman tengah mendekat.
"Den..Den Rai..bagaimana keadaan Neng Layla?" tanya Mbok Darmi dengan napas tersengal sengal.
Raiden berdiri dan memegang lengan Mbok Darmi dan Mang Usman. "Aku belum tahu Mbok, Mang, Dokter belum keluar dari ruang operasi" jawab Raiden berdiri dan menundukkan kepala.
__ADS_1
Mbok Darmi dan Mang Usman tengadahkan kedua tangannya dan berkata. "Ya Rabb, sembuhkan Neng Layla, selamatkan Neng Layla Ya Rabb" ucap keduanya lalu mereka usapkan ke wajah setelah selesai berdoa untuk kesembuhan Layla.
"Kenapa bisa begini Den?" tanya Mbok Darmi dengan berlinangan air mata, menatap Raiden.
"Aku tidak tahu harus bagaimana memulai cerita kejadiannya Mbok, peristiwa penusukan orang tak di kenal itu begitu cepat."
"Tapi kenapa mereka ingin membunuh Neng Layla? setahu saya Neng Layla tidak memiliki musuh Den?" pertanyaan Mang Usman menyadarkan Raiden, dan dia teringat kembali pada peristiwa penyerangan di pemakaman kedua orang tua Layla, ini bukan suatu kebetulan. Tapi sudah di rencanakan seseorang tapi siapa? Yuda kah? itu yang sedang Raiden pikirkan.
"Mang Usman tidak perlu khawatir, saya akan melaporkannya pada pihak berwajib dan meminta Polisi untuk mengungkap kasus ini" jawab Raiden menatap Mbok Darmi dan Mang Usman yang terlihat mengkhawatirkan Layla yang sudah di anggap Putri mereka sendiri. Begitu juga Layla, setelah kepergian kedua orang tuanya.
Beberapa menit suasana di luar ruangan hening seketika. Tidak ada pembicaraan apa apa. Meteka larut dalam kesedihan dan terus berdoa untuk kesembuhan Layla.
Tiba tiba mereka mendengar suara pintu di buka dari dalam. Raiden, Mbok Darmi dan Mang Usman langsung berdiri dan berjalan mendekati pintu ruangan. Mereka melihat Dokter Adrian keluar dari pintu.
Raiden langsung mendekati Dokter Adrian. "Bagaimana dengan Layla Dok?" tanya Raiden dengan cemas.
Dokter Adrian menghela napas dalam sambil melepas sarung tangannya. "Layla sudah melewati masa kritisnya, tapi saat ini Layla belum sadar" jawab Dokter Adrian.
Raiden langsung mengucap syukur pada Sang Maha Hidup. Lalu balik badan memeluk Mbok Darmi dan Mang Usman.
"Alhamdulillah" ucap Mbok Darmi dan Mang Usman sembari membalas pelukan Raiden.
"Raiden, kau harus melaporkan kasus ini pada pihak berwajib" ucap Dokter Adrian.
"Raiden melepas pelukannya dan menoleh menatap Dokter Adrian. " Pasti Dok."
"Kalau begitu saya permisi dulu, kalian boleh melihat Layla di dalam" ucap Dokter Adrian.
"Baik Dok, terima kasih."
Dokter Adrian menganggukkan kepala, lalu ia melangkahkan kaki meninggalkan ruangan di ikuti oleh Suster yang membantunya.
Raiden langsung masuk ke dalam ruangan di ikuti Mbok Darmi dan Mang Usman. Raiden berjalan perlahan mendekati Layla yang terbaring lemah di atas tempat tidur. Raiden mengambil kursi lalu duduk di kursi.
"Terima kasih, kau telah menyelamatkan nyawaku Layla" ucap Raiden lirih, tangannya menyentuh jari jemari Layla dan mengusapnya pelan.
"Aku sadar, cinta kasih tidak harus di ucapkan dengan kata kata, peristiwa ini sekaligus menyadarkanku. Bahwa kau menyayangiku Layla" ucap Raiden lagi tersenyum getir menatap wajah Layla yang pucat pasi.
"Neng Layla, kesayangan Mbok..cepet sembuh" ucap Mbok Darmi yang berdiri di samping tempat tidur Layla dengan berurai air mata. Mbok Darmi dan Mang Usman saksi hidup keluarga Surya dan Anita. Bagaimana perjuangan mereka untuk mendapatkan seorang anak. Dan bagaimana perjuangan Layla mempertahankan cintanya pada sosok Kei. Mang Usman yang melihat Mbok Darmi menangis, ia ulurkan tangannya mengusap punggung Mbok Darmi untuk menenangkan hatinya.
__ADS_1
"Aku akan melaporkan kasus ini, dan jika dugaanku benar Yuda akan menerima akibatnya yang setimpal" ucap Raiden pelan, sembari menundukkan kepala mencium jari jemari Layla.
'Yuda??' ucap Mbok Darmi dan Mang Usman dalam hati mereka saling berpandangan. Lalu beralih menatap Raiden.