
Sepanjang apapun Kei berusaha menjelaskan, bagi Clara Kei tetap bersalah telah mengkhianatinya.
"Aku tetap tidak terima kau khianati!" jerit Clara, tangannya memukul dada Kei. Kei berusaha menenangkan Clara namun usahanya sia sia. "Kalau kau tidak mau meninggalkannya, aku akan mengambil langkah melalui jalur hukum!" ancam Clara.
"Clara! aku mohon memgertilah.." ucap Kei.
"Cukup! aku tidak mau mendengar apa-apa lagi Kei," bentak Clara. "Sekarang kau tinggal pilih..aku atau dia.." Clara menatap tajam ke arah Kei dan memberikan pilihan yang sangat sulit untuk di putuskan.. Kei hanya diam.
"Jawab!" pekik Clara. Kei menarik napas dalam dalam.
"Baik..jika itu maumu..aku memilih Layla, tapi bukan berarti aku tidak bertanggung jawab padamu Clara," jawab Kei. Clara menarik napas panjang lalu ia hembuskan dengan kasar. Clara mengangguk-anggukkan kepala dan tersenyum sinis.
"Baik..jika itu pilihanmu," ucap Clara penuh penekanan. "Aku akan mengambil jalur hukum. Sekarang kau keluar dari rumahku!" jerit Clara sembari mendorong tubuh Kei.
"Clara...aku"
"Pergi!!" jerit Clara. Kei perlahan berjalan mundur, lalu ia balik badan dan melangkahkan kakinya keluar rumah.
"Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi Kei..kau milikku selamanya!
Clara mencengkram rambutnya sendiri lalu ia menjatuhkan tubuhnya duduk di lantai.
" Aaaahhhhhkkk!!" Clara menjerit histeris dan menangis, Keila yang tengah tertidur pulas lalu bangun dan memperhatikan Mamanya yang sedang sedih, ia diam mematung di depan pintu kamar.
"Mama.." gumam Keila.
***
Kei berjalan gontai memasuki rumah Layla, ia masih kepikiran Clara yang mengancamnya. Langkah Kei teehenti di ruang tamu saat melihat Layla tertidur di kursi roda, ia berjalan menghampirinya lalu mendorong kursi roda masuk ke dalam kamar hingga Layla terbangun saat merasakan kursi rodanya bergerak. Ia tengadahkan wajah menatap Kei.
__ADS_1
"Dari mana?" tanya Layla.
Kei tidak langsung menjawab pertanyaan Layla, ia mengangkat tubuh istrinya lalu ia dudukkan di atas tempat tidur, "dari rumah," jawab Kei duduk di hadapan Layla.
"Apakah kau baik baik saja?" Layla menatap lekat wajah Kei. Kei menundukkan kepalanya sesaat.
"Aku baik baik saja, sebaiknya kau istirahat," jawab Kei tidak ingin menceritakan apa apa pada Layla. Ia khawatir akan membuat Layla sedih.
"Kau tidak perlu membohongiku, Kei..aku tahu kau tidak baik baik saja," ucap Layla.
"Layla.."
"Katakan," potong Layla. Kei menghela napas dalam dalam.
"Layla..aku baik baik saja, sebaiknya kita tidur.." Kei tetap tidak mau bercerita, ia rebahkan tubuh Layla lalu ia tarik selimut. "Kita istirahat..percayalah semua akan baik baik saja." Kei menutupi tubuh Layla dengan selimut dan mencium kening Layla sesaat dan tersenyum.
"Aku tidak akan men-sia-sia kan kesempatan yang kau berikan untukku, Layla..aku mencintaimu," kata Kei sembari merebahkan tubuhnya di samping Layla dan memeluk erat Layla.
Kei menatap nanar wajah Layla, ia peluk erat istrinya dengan segenap perasaan yang ia miliki.
'Andai waktu bisa di putar..andai aku tidak sebodoh itu..mungkin kau tidak akan mengalami hal ini Layla..kata maafpun tidak cukup untuk membayar semua kesalahanku padamu..Ya Rabb..berikan waktu sebanyak mungkin untukku menebus kesalahan pada wanita yang sangat aku cintai' ucap Kei dalam hati.
Waktu terus berlalu, endapkan lara di hati. Tak kan mampu menghapus semua kenangan pahit.
Detak suara jam dinding seakan merobek hati yang semakin terpuruk dalam situasi yang salah. Kei tidak dapat menejamkan matanya, begitu pula dengan Layla. Namun tak ada pembicaraan di antara mereka, hanya keheningan malam yang coba mereka resapi.
"Andai waktu bisa di putar kembali, aku akan menyerahkan sisa hidupku untukmu Layla," ucap Kei berbisik di telinga Layla. Layla yang terpejam masih bisa mendengar kata kata Kei, tak terasa bulir air mata jatuh membasahi pipinya. Rasa sesak memenuhi ruang perasaannya yang sudah koyak, di susa hidupnya Layla hanya pasrah menerima semua keadaan yang menimpanya. Layla tidak lagi memikirkan cintanya yang sudah berkali kali hancur, yang Layla pikirkan saat ini bayi dalam kandungannya. Perlahan tangan Layla mengusap perutnya.
'Maafkan Bunda Nak' ucap Layla dalam hati.
__ADS_1
Waktu terus berjalan, tak lama merekapun tertidur hingga pagi menjelang. Kei bangun terlebih dahulu, kemudian ia menyiapkan semua keperluan Layla. Perlahan ia duduk di tepi tempat tidur, ia sedikit membungkukkan badan dan mengecup pipi Layla, "bangun sayang..sudah pagi," ucap Kei.
Perlahan Layla membuka matanya dan tersenyum menatap Kei, "Kei.." sapa Layla.
"Ayo bangun sayang..kau harus mandi," ucap Kei, lalu ia mengangkat tubuh Layla dan menggendongnya menuju kamar mandi.
Lima belas menit berlalu, Kei mendorong kursi roda menuju meja makan, "ini susu hangatnya..habiskan," ucap Kei sembari memberikan segelas susu pada Layla.
"Terima kasih," kata Layla. Kei tersenyum terus memperhatikan Layla.
"Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Layla. Kei menggelengkan kepala.
"Hari ini aku tidak ke kantor..aku mau menemanimu, Layla." Layla menganggukkan kepala sambil meletakkan gelas di atas meja. "Bagaimana kalau kita jalan jalan di taman?" ajak Kei. Layla mengangguk cepat.
Kei langsung berdiri dan mendorong kursi roda Layla menuju taman yang ada di samping rumah Layla. Kei dan Layla menghirup udara segar di pagi hari, Layla tersenyum menatap ke arah Kei.
"Kau suka?" tanya Kei sembari mencium puncak kepala Layla. Layla menganggukkan kepala.
"Aku suka," kata Layla. Kei melangkahkan kakinya memetik setangkai bunga sedap malam lalu ia berikan pada Layla.
"Terima kasih kau telah memberikanku kesempatan untuk kesekian kalinya," ucap Kei. Layla menghirup aroma wangi bunga sedap malam.
Dari balik gerbang rumah Layla, seorang pria berdiri memperhatikan mereka berdua, "Layla..sepertinya kau bahagia bersamanya," gumam Rico mematap ke arah Layla yang tengah tertawa bersama Kei.
'Jauh di lubuk hatiku, masih terukir namamu..aku masih mengharapkanmu. Meski kucoba tepis semua kenangan namun aku tidak bisa..kenangan itu memaksaku untuk terus merindukanmu Layla..kuharap cinta yang kumiliki bukan sebuah kekeliruan, aku tulus mencintaimu Layla' ucap Rico dalam hati.
"Perasaan ini begitu menyiksaku" Rico menghela napas dalam dalam, ia tersenyum tipis menatap ke arah Layla. Lalu ia balik badan hendak pergi. Namun saat ia memutar tubuhnya, Raiden sudah berdiri di belakang Rico. "Raiden?" sapa Rico.
Raiden menepuk pundak Rico, "aku tahu bagaimana perasaanmu," ucap Raiden sambil merangkul bahu Rico mengajaknya menjauh dari rumah Layla. "Kita sama."
__ADS_1
Rico menoleh ke arah Raiden lalu tertawa samar sambil memukul pelan perut Raiden.
"Kita ngopi," ucap Raiden mengajak Rico ke rumahnya.