
Sabtu pukul 04:00. Saat semua masih terlelap tidur di kamar masing masing, nampak Yuda tengah jongkok di hadapan pusara Dinda. Ia menangis menatap batu nisan Dinda yang tulisannya terlihat samar samar karena hari masih gelap.
"Sayang, maafkan Papa yang belum bisa membalaskan sakit hatimu, Nak."
Yuda masih merasakan sakit hati yang luar biasa atas kematian Dinda. Rasa dendamnya terhadap Layla dan Kei tidak hilang terhapus oleh waktu.
"Tapi, Papa janji padamu Nak. Suatu hari nanti. Papa akan balaskan sakit hatimu."
Yuda menarik napas dalam dalam. Ia menatap batu nisan Dinda dengan perasaan kecewa, "Papa pergi dulu sayang."
Kemudian Yuda bangkit dan berdiri. Sesaat ia menatap batu nisan Dinda. Lalu ia balik badan dan meninggalkan pemakaman menuju rumah Layla
****
Pagi pagi sekali saat fajar baru saja muncul dari ufuk timur memancarkan semburat oranye. Kei sudah berada di halaman rumah Layla. Ia langsung keluar dari pintu mobil dan melangkahkan kakinya menuju pintu rumah Layla.
"Tok tok tok!" suara pintu di ketuk.
Kei berdiri di depan pintu menunggu seseorang membuka pintu rumah Layla.
Beberapa menit lamanya Kei menunggu, akhirnya terdengar suara pintu di buka dari dalam.
"Kei?" sapa Layla pelan dari depan pintu.
"Pagi Layla" ucap Kei tersenyum.
"Ada apa Kei?" tanya Layla sambil memutar panel kursi roda.
"Tidak ada Layla, aku hanya ingin menjengukmu." Kei berjalan lalu mendorong kursi roda Layla menuju teras rumah.
"Oh, aku pikir ada apa." Layla tersenyum menatap Kei.
"Bagaimana kondisimu Layla?" tanya Kei. Ia jongkok di hadapan Layla
"Aku sudah lebih baik" jawab Layla.
"Bagaiman kalau kita jalan jalan sebentar?" tanya Kei, menunjuk ke arah depan jalan rumah Layla.
"Boleh."
Kei berdiri lalu mendorong kursi roda Layla menuju jalan yang masih sepi. Baru saja Kei dan Layla sampai halaman rumahnya. Tiba tiba seseorang muncul dari balik gerbang rumah Layla dan berdiri di hadapan mereka.
Layla dan Kei menatap pria yang menggunakan penutup kepala dan kedua tangan di masukkan kedalam saku jaket hitamnya.
"Siapa kau!" seru Kei menatap pria itu.
Namun pria itu hanya diam, perlahan ia berjalan mundur dan satu tangannya ia keluarkan. Ia angkat tangannya perlahan dengan sepucuk pistol di genggamannya lalu diarahkan pada Layla.
Layla dan Kei membelalakan matanya menatap pistol di tangan pria itu.
"Kk,au mau apa?" tanya Kei dengan suara bergetar.
Pria itu tetap diam dan mengarahkan pistol pada Layla, dan detik berikutnya.
"" Dorrrr!"
Satu buah peluru pria itu lepaskan tepat mengenai dada kanan Layla. Bersamaan terdengar suara Layla mengerang kesakitan.
"Apa yang kau lakukan! tolong!" Kei hendak maju hendak mengejar pria itu yang melarikan diri. Tapi Kei menghentikan langkahnya karena mendengar suara erang kesakitan Layla, lalu ia balik badan dan jongkok di hadapan Layla.
"Ahhk!
"Laylaaa!" Kei memegang dada Layla lalu ia berdiri dan berteriak minta tolong.
"Tolong! tolong!" seru Kei berkali kali.
Mang Usman dan Mbok Darmi yang mendengar teriakan langsung berhambur keluar dari dalam rumah.
"Ada apa Den?" tanya Mbok Darmi mendekat. "Neng Laylaaa!" pekik Mbok Darmi menatap dada Layla yang mengeluarkan darah.
"Mang Usman bawa mobilnya, kita kerumah sakit cepat!" seru Kei sambil mengangkat tubuh Layla lalu ia bawa masuk ke dalam mobil di ikuti Mbok Darmi. Sementara Usman yang menyetir.
__ADS_1
"Duh Gustiii! apalagi ini.Musibah kok tidak ada berhentinya!" Mbok Darmi terus meracau sepanjang perjalanan karena panik.
"Layla, bertahanlah Layla." Kei memeluk erat tubuh Layla, kemeja putih yang Kei kenakan basah oleh noda darah.
"Neng..bertahan Neng.." ucap Mbok Darmi lirih.
"Mang cepat Mang! seru Kei panik.
" Iya Den" jawab Mang Usman.
"Duh Gusti..." ucap Mbok Darmi berlinangan air mata.
Sepuluh menit berlalu, akhirnya mereka sampai di rumah sakit. Layla langsung di bawa ke ruang operasi ditangani langsung oleh Dokter Kenzi dan Dokter Adrian.
"Layla" ucap Kei lirih.
"Kenapa bisa seperti ini Den?" tanya Mbok Darmi.
"Aku juga tidak tahu, siapa orang itu Mbok."
"Duh Gusti, apa yang harus hamba lakukan." Mbok Darmi terus saja mengeluarkan kata kata sambil berjala mondar mandi di depan ruang pintu operasi.
"Sabar Bu, sabar" imbuh Mang Usman merangkul pundak Mbok Darmi.
***
Sepuluh menit berlalu peristiwa penembakan, Raiden yang baru saja datang hendak mengantarkan Layla ke rumah sakit, ia melihat beberapa warga di sekitar luar gerbang rumah Layla dan beberapa orang Polisi. Raiden menepikan mobilnya dan keluar dari pintu mobil langsung menghampiri Polisi.
"Maaf Pak, ada apa ya?" tanya Raiden sopan.
"Terjadi penembakan di rumah Pak Surya" jawab Polisi.
"Penembakan? siapa yang tertembak Pak?" Raiden mengerutkan dahi.
"Putri Pak Surya."
Kemudian Polisi itu menjelaskan pada Raiden berdasarkan keterangan warga. Setelah mendengar informasi dari pihak Polisi, Raiden langsung bergegas menuju Rumah Sakit tempat Layla di bawa.
Setengah berlari Raiden menuju lorong rumah sakit, dari jauh ia melihat Kei, Mang Usman dan Mbok Darmi tengah berdiri di depan pintu ruang operasi.
"Den Rai!" seru Mbok Darmi langsung memeluk Raiden saat melihatnya datang.
Raiden membalas pelukan Mbok Darmi dan mengusap punggungnya, "sudah berapa lama Mbok?" tanya Raiden menatap pintu ruang operasi.
"Dua jam Den" jawab Mbok Darmi bergetar.
Raiden melepas pelukan Mbok Darmi dan menatap tajam wajahnya, "Bagaimana ceritanya Mbok?" tanya Raiden.
Mbok Darmi menceritakan peristiwa tadi sesuai apa yang dia tahu, "begitu Den, yang Mbok tahu" ucap Mbok Darmi di akhir cerita.
Raiden menoleh menatap tajam ke arah Kei. Ia langsung mendekati Kei dan mencengkram kerah baju Kei.
"Aku sudah bilang berkali kali, berhenti menyakiti Layla!" seru Kei sembari mendorong tubuh Kei ke belakang.
Kei terhuyung ke belakang hingga menabrak dinding, "mana mungkin aku menyakiti kekasihku sendiri, Rai!" jawab Kei menatap wajah Raiden yang terlihat sangat marah.
Raiden tersenyum sinis mendengar jawaban Kei, "Heh, kekasih kau bilang?" Raiden Berjalan mendekati Kei.
"Aku juga tidak berharap, bahkan tak terlintas di benakku supaya Layla mengalami hal ini, Rai!" seru Kei.
"Cukup!" seru Raiden. "Aku muak dengan semua alasanmu!"
"Terserah kau, Rai!" Kei memalingkan mukanya kesamping.
"Kau laki laki pengecut dari awal, Kei." Raiden tertawa kecil menatap Kei.
"Apa maksudmu?" tanya Kei menatap Raiden.
"Dari awal kau pengecut, kau laki laki lemah yang tidak punya pendirian." Raiden menyilangkan kedua tangan di dadanya.
"Diam kau, kau tidak tahu apa apa" jawab Kei mulai kesal dengan Raiden.
__ADS_1
"Kau laki laki lemah, yang tidak bisa memperjuangkan cintamu, bukan begitu?" Kei tersenyum sinis. "Bahkan kau laki laki yang tidak berguna, yang hanya mengandalkan cintamu yang tak seberapa."
Kuping Kei mulai panas, kedua tangannya mencengkram kerah baju Raiden.
"Jaga mulutmu Raiden."
Raiden menepis tangan Kei dari kerah bajunya. "Saat Layla sedih, terluka, kesepian, terpuruk, sakit, dihina, kau dimana Kei?!!" pekik Raiden menatap marah Kei. Ia sangat jengkel dengan sikap Kei yang hanya membuat Layla susah.
Kei terdiam, ia menundukkan kepala cukup lama. Ia secara tidak langsung membenarkan ucapan Raiden. Ia merasa kalau dirinya tidak bisa berbuat apa apa untuk Layla.
"Jawab!" seru Raiden menatap tajam Kei.
"Terserah, bagaimana kau menilai ku, Rai." Kei menjawab pertanyaan Raiden dengan perasaan kesal.
Mbok Darmi dan Mang Usman yang sedari tadi hanya memperhatikan sambil menangis. Akhirnya angkat bicara untuk menengahi pertengkaran antara Kei dan Raiden.
"Sudah Den, sudah," ucap Mbok Darmi. "Neng Layla tidak akan suka kalau melihat kalian ribut." Mbok Darmi menatap Kei dan Raiden bergantian.
"Sebaiknya kita berdoa untuk keselamatan Neng Layla, Den Rai kan tahu, kalau Neng Layla kondisinya lemah." Mang Usman menimpali ucapan Mbok Darmi.
Kei dan Raiden terdiam sesaat, lalu mereka saling pandang, "aku minta maaf, ini semua salahku" ucap Kei pelan.
"Aku tidak butuh maafmu."
Kei mengusap wajahnya kasar, ia balik badan menghadap dinding dengan kedua tangan mencengkram dinding, lalu ia meninju dinding dengan tangan kananya. "Aku memang lemah! aku lemah!"
"Sudahlah, percuma Den Kei seperti itu. Ada baiknya kita berdoa. Yang penting Den Kei bisa bersikap lebih dewasa lagi." Mang Usman menahan tangan kanan Kei supaya tidak melukai tangannya sendiri.
"Maafkan aku Layla, maafkan aku." Kei balik badan dan langsung memeluk Mang Usman
"Sudahlah Den, jangan cengeng." Mang Usman menepuk punggung Kei berkali kali, lalu melepaskan pelukan Kei.
"Kita berdoa sama sama Den" ucap Mbok Darmi dan Mang Usman.
Kei, Mbok Darmi dan Mang Usman duduk di kursi luar ruangan operasi. Sementara Raiden berdiri dan menyandarkan tubuhnya di dinding.
Di ruang operasi, para Dokter berusaha menyelamatkan nyawa Layla. Sementara di luar ruangan terasa sunyi, tak ada perbincangan ataupun keributan yang di lakukan Raiden dan Kei. Mereka hanyut dalam pikiran masing masing, memikirkan Layla dan keselamatannya.
Tiga jam berlalu, suara pintu ruangan operasi di buka dari dalam, nampak Dokter Adrian keluar ruangan.
Raiden dan yang lain langsung menatap kearah pintu dan mendekati Dokter Adrian.
"Bagaimana keadaan Layla Dok?" tanya Raiden dan Kei bersamaan.
Dokter Adrian tidak langsung menjawab pertanyaan mereka, ia menghela napas dalam dalam lalu menatap mereka semua satu persatu.
"Saya harap kalian lebih berhati hati menjaga Layla" jawab Dokter Adrian.
"Apa yang harus saya lakukan Dok?" tanya Kei dan Raiden lagi.
Mereka saling pandang sesaat lalu kembali menatap Dokter Adrian.
"Layla dalam keadaan sakit, jangan buat dia semakin drop, saya khawatir..." Dokter Adrian tidak melanjutkan ucapannya.
"Layla kenapa Dok?" potong Raiden.
"Layla kondisinya akan semakin tidak baik," mata Dokter Adrian sedih, "jika kalian seperti ini terus, kondisi Layla akan semakin buruk." Dokter Adrian menjelaskan.
Raiden langsung menoleh menatap Kei dan mencengkram kerah baju Kei.
"Ini semua gara gara Kau!" seru Raiden.
"Aku tidak tahu apa masalahmu Rai? sampai kau begitu membenciku" balas Kei.
"Cukup Den!" sergah Mbok Darmi menarik lengan Raiden.
"Saya harap kalian tidak membuat keributan di sini, tolong jaga etika kalian" sela Dokter Adrian.
"Sudah Den, sudah.." Mbok Darmi menatap keduanya.
"Layla masih koma, jadi kalian belum boleh menjenguknya," ucap Dokter Adrian, "saya permisi dulu."
__ADS_1
Dokter Adrian kembali masuk ke dalam ruang operasi dan menutup pintunya. Sementara Raiden dan Kei kembali ke tempatnya semula. Dengan perasaan kesal, sesekali Raiden melirik Kei. Ia tidak terima kalau Kei selalu membuat Layla susah.