
Sepulangnya dari rumah Layla, Kei mampir sebentar ke rumah orang tuanya. Setelah itu Kei langsung kembali pulang ke rumah Yuda. Sepanjang perjalanan Kei tidak pernah berhenti memikirkan Layla. Membuatnya semakin serba salah atas kematian Dinda. Tak terasa akhirnya Kei sampai di halaman rumah Yuda. Ia menepikan mobilnya dan langsung masuk ke dalam rumah.
"Plakkkk!!
Tiba tiba saja Yuda menampar Kei, ia tidak terima atas sikap Kei yang telah berani menemui Layla pada saat Dinda telah tiada. Bagi Yuda, Kei adalah pembunuh Dinda.
" Pergi kau sekarang juga!" seru Yuda. "Aku tidak sudi memelihara pembunuh di rumahku!" pekik Yuda.
"Pa," kata Kei. "Jangan salah paham dulu." Kei memegang pipinya menatap tajam Yuda.
"Salah paham kau bilang,"-Yuda melebarkan matanya-" Kau tidak punya hati Kei!" teriak Yuda.
Kei menundukkan kepala, ia tidak membalas makian Yuda, karena bagi Kei itu percuma. Apapun yang ia katakan tetap saja akan salah di mata Yuda. Kei memilih diam dan membiarkan Yuda mencaci maki sesuka hatinya.
"Sekarang juga kau pergi!" seru Yuda.
Yuda mendorong tubuh Kei keluar dari pintu rumah. Setelah itu Yuda melemparkan koper berisi pakaian milik Kei yang sudah ia masukkan sendiri ke dalam koper, selagi Kei pergi.
"Pergi!!" Yuda menatap tajam penuh kebencian.
Kei terdiam sesaat, menatap kedua bola mata Yuda yang menyimpan luka dan kekecewaan. Hati Kei serasa perih, bukan karena ia mengakui bahwa semua salahnya. Tapi hatinya perih melihat Yuda seperti itu dan membuatnya semakin serba salah.
Kei memungut kopernya, lalu ia berjalan mundur dengan perlahan dengan tatapan mata ke lurus ke arah Yuda.
"Jaga diri Pa..." ucapnya lirih. Tanpa terasa air mata menetes dari sudut mata Kei. Kei langsung balik badan sembari mengusap air matanya yang hampir jatuh. Lalu ia berjalan menuju mobil dan masuk ke dalam mobil. Ia mulai menjalankan mobilnya meninggalkan halaman rumah Yuda. Tapi di tepi jalan Kei menghentikan mobilnya tak jauh dari rumah Yuda.
"Ya Rabb, apa aku salah telah mencintai Layla?" tanya Kei dengan lirih kepada Sang Pemilik Cinta, dengan kedua tangan mencengkram stir mobil, tatapannya kosong ke depan. Ia terdiam di dalam mobil cukup lama, memikirkan hidupnya yang semakin serba salah.
"Layla, aku harus menemui Layla." Kei tersadar dari lamunannya, lalu ia kembali menjalankan mobilnya menuju rumah Layla.
***
Sesampainya di rumah Layla, Kei melihat Raiden tengah bersama Layla di teras depan rumah. Kei langsung berjalan mendekati Layla dan Raiden.
"Kei? kau kembali lagi?" tanya Layla.
Kei menundukkan kepala sesaat. "Iya" saut Kei.
"Duduklah." Layla menatap wajah Kei yang terlihat bingung. Lalu ia mempersilahkan Kei untuk duduk di sebelahnya.
__ADS_1
"Terima kasih." Kei menatap Layla, lalu ia melirik Raiden sesaat lalu beralih menatap Layla.
"Ada apa, Kei?" tanya Layla.
Kei mulai menceritakan apa yang telah terjadi di rumah Yuda. "Aku harus bagaimana, Layla?" tanya Kei di akhir ia bercerita.
Layla menghela napas dalam, ia menatap kedua bola mata Kei dengan dalam. Layla sangat mengerti apa yang sedang terjadi pada Kei. Dengan reflek, Layla langsung memeluk Kei dengan erat. Dan Kei pun perlahan membalas pelukan Layla.
Raiden yang sedari tadi memperhatikan membuang muka ke samping melihat Kei dan Layla berpelukan. Membuat rasa takutnya akan kehilangan Layla semakin besar.
"Ehemm!"
Raiden pura pura batuk, dan itu di dengar Layla dan Kei. Mereka pun melepaskan pelukannya masing masing dan menoleh menatap Raiden yang pura pura minum air mineral di dalam gelas.
"Kau baik baik saja?" tanya Layla.
"Iya, hanya batuk saja" jawab Raiden melirik sesaat ke arah Layla dan Kei. Lalu ia meletakkan gelas di atas meja.
"Bagaimana Layla?" tanya Kei.
Layla mengalihkan pandangan pada Kei.
"Kau, maunya bagaimana?" Layla balik bertanya.
"Kalau menurutmu itu yang terbaik, lakukan saja." Layla menyentuh tangan Kei yang ada di atas meja.
"Tapi?"-Kei balik menyentuh tangan Layla-" bagaimana dengan Papa Yuda?"
"Begi-?"
"Kalau kau, kasihan pada Yuda dan mau totalitas merawatnya, kenapa kau harus bingung?" Raiden menyela ucapan Layla.
Kei menatap tajam Raiden, sesaat ia diam dan mencoba mencerna apa yang di katakan Raiden. Detik berikutnya Kei mengangguk anggukkan kepala tanda mengerti apa yang di katakan Raiden.
"Ya, kau benar." Kei tersenyum menatap Raiden lalu beralih menatap Layla lagi.
"Layla, aku pulang dulu. Aku tahu apa yang harus aku lakukan." Tangan Kei terulur menyentuh pipi Layla dan mengusapnya dengan lembut. Membuat Raiden semakin terbakar cemburu. Tapi dia bisa apa? hubungannya dengan Layla tidak ada kejelasan. Dekat tapi bukan kekasih, kekasih tapi tidak pernah ada pernyataan dari Layla sendiri.
"Apa keputusanmu?" tanya Layla.
__ADS_1
"Aku pulang saja ke rumah orang tuaku." Kei menurunkan tangannya dari pipi Layla.
"Baik, terserah kau saja." Layla tersenyum melihat Kei sudah lebih tenang.
"Layla, Raiden..aku pulang."
Raiden dan Layla menganggukkan kepala menatap Kei yang melangkahkan kakinya menuju mobil. Layla melambaikan tangannya saat mobil Kei mulai berjalan meninggalkan halaman rumah Layla.
"Layla..."
Layla menoleh menatap Raiden yang terlihat murung. "Iya?"
"Apa kamu akan kembali lagi kepada Kei?" tanya Raiden ragu ragu.
Layla tertawa mendengar pertanyaan Raiden. Ia mengerti mengapa Raiden berkata seperti itu. Layla berdiri dan mendekat ke arah Raiden. Lalu ia berbisik di telinga Raiden.
"Cintaku pada Kei, tidak berubah. Tapi aku sangat menyayangimu dan tidak akan meninggalkanmu, Rai." Tangan Layla langsung terulur dan mencubit pinggang Raiden.
"Awwww!!" Raiden menjerit.
Layla langsung berlari masuk ke dalam rumah menuju dapur, untuk membantu Mbok Darmi memasak.
Raiden terdiam, kedua alisnya saling bertaut. Ia mencoba lebih memaknai kata kata Layla baru saja. Supaya dia tidak terlalu patah hati jika pada akhirnya nanti, Layla akan kembali juga pada Kei. Raiden mengangkat kedua bahunya lalu ia berdiri dan menyusul Layla ke dapur.
***
Sementara itu Kei telah sampai di rumahnya. Ke dua orangtuanya sempat terkejut mengapa Kei pulang kerumah di saat Yuda masih berduka. kei pun mulai menceritakan semua peristiwa yang telah terjadi setelah kematian Dinda.
"Kenapa dia harus menimpakan kesalahan padamu, Nak?" tanya Abdul.
"Entahlah," Kei bangun dari kursi. "Kalian juga bersalah" saut Kei, ia berdiri dan berlalu begitu saja masuk ke dalam kamarnya.
Abdul dan Anita saling pandang setelah Kei mengatakan hal itu. Apa yang di katakan Kei itu benar. Abdul dan Anita juga bersalah jika mau menyalahkan siapa yang paling bersalah.
Waktu terus berjalan terasa lambat. Kei termenung di balkon kamarnya entah sudah berapa lama. Ia memikirkan Layla juga memikirkan semua tuduhan Yuda. Membuatnya semakin dilema.
"Layla, aku akan tetap menjaga cinta ini sampai ajal menjemputku" ucap Kei pelan.
Kei bangun dari duduknya, lalu ia melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar, ia hempaskan tubuhnya di atas tempat tidur. "Layla" ucapnya dengan tatapan mata kosong, menatap langit langit kamar.
__ADS_1
Setiap menit, yang dipikirkan Kei hanya Layla. "Sejak pertama kali bertemu denganmu, bayanganmu selalu ada menemaniku, memberikanku bahagia dan juga memberikanku luka," ucap Kei. "Aku berikan madu tapi kau berikan racun, Ya Rabb, jika dengan mencintaiMu aku harus menderita, aku rela. Yang aku tunggu saat ini adalah perjumpaan kita pada saat kematian."
Perlahan Kei memejamkan mata, dan gelappun menyambutnya. Kei tertidur pulas bersama mimpi indahnya yang tak pernah menjadi nyata.