
Satu minggu berlalu Layla di rawat di rumah sakit, akhirnya Dr. Kenzi mengijinkan Layla untuk pulang. Setelah semua sekesai di urus, Rico langsung membawa Layla pulang ke rumah.
"Kau istirahat, biar aku buatkan kau susu hangat," ucap Rico sesampainya di rumah. Layla menganggukkan kepala. Kemudian Rico mengangkat tubuh Layla dan menggendongnya memasuki kamar pribadi Layla.
"Terima kasih," kata Layla.
"Terima kasih terus, aku bosan mendengarnya," goda Rico, lalu ia baringkan tubuh Layla di atas tempat tidur.
"Lalu kau mau apa?" tanya Layla.
"Peluk," kata Rico. Layla tertawa kecil, lalu ia rentangkan kedua tangan memeluk Rico dengan erat.
"Terima kasih..sekarang kau tunggu di sini, aku buatkan susu hangat dulu." Layla menganggukkan kepala. Ia menatap punggung Rico yang meninggalkan kamarnya.
"Andai aku di berikan waktu yang banyak, akan ku berikan sisa hidupku buatmu Rico..maafkan aku yang telah menjadi beban untukmu" ucap Layla pelan, ia seka air matanya yang turun dari sudut netranya.
"Hei..kenapa kau menangis?" tanya Rico sambil meletakkan gelas di atas meja, lalu duduk di tepi tempat tidur.
"Tidak..aku hanya kelilipan," jawab Layla mengusap matanya. Rico mencubit hidung Layla.
"Kalau bohong, nanti hidungmu panjang." Layla tertawa kecil. Menepis tangan Rico dari hidungnya. "Ayo bangun..di minum dulu susunya, setelah itu kau istirahat," Rico mengangkat tubuh Layla supaya duduk di atas tempat tidur, lalu ia berikan susu hangat pada Layla. Layla mengambil gelas di tangan Rico dan ia habiskan susunya.
"Sudah kenyang." Layla kembali memberikan gelas kosong pada Rico, kemudian Rico letakkan gelasnya diatas meja.
"Sekarang kau istirahat, aku akan menunggumu di luar, kalau ada apa apa..panggil aku ya." Layla menganggukkan kepalanya. Kemudian Rico berdiri dan melangkahkan kakinya keluar ruangan.
Minggu berlalu, bulanpun berganti. Kehamilan Layla semakin hari semakin besar, ia semakin kesulitan untuk sekedar duduk atau pun tidur. Tapi Layla beruntung ada Rico di sampingnya yang selalu sigap menjaga dan merawat Layla.
***
Sore hari Raiden dan Sila darang kerumah Layla dengan membawa kabar gembira tentang kehamilan Sila.
"Selamat ya buat kalian berdua," ucap Layla dan Rico.
"Kau juga Layla, tetap jaga kesehatanmu ya," sela Sila tersenyum menatap ke arah Layla.
"Kalian tidak perlu khawatir, ada Rico.." jawab Layla, melirik ke arah Rico sesaat.
"Aku kan ayah yang baik," celoteh Rico, tertawa kecil mengusap perut Layla.
__ADS_1
"Beda dengan dia nih.." potong Sila menunjuk ke arah Raiden. "Kalau sudah tidur, dia lupa sama istrinya..di bangunin saja susah." Raiden melebarkan matanya hendak menggigit tangan Sila. Rico dan Layla tertawa melihat kemesraan mereka berdua. Layla sesaat tertegun, ia menatap Raiden sekilas lalu menundukkan kepala.
'Pria yang kuharapkan malah menyakiti perasaanku, Raiden yang dulu mencintaiku..kini sudah menemukan kebahagiaannya' ucap Layla dalam hati.
"Layla? kenapa melamun?" tanya Sila. "Apa aku menyinggung perasaanmu? atau?"
"Ah tidak Sila..aku hanya sedang merasakan tendangan bayi dalam perutku saja," jawab Layla berbohong.
"Ah..aku pikir kenapa.." Sila kembali tertawa.
Tapi tidak bagi Raiden, ia tahu apa yang sedang Layla pikirkan. Karena selama ia dekat dengan Layla, hanya Raiden yang bisa mengerti Layla tanpa harus bicara.
'Aku masih mencintaimu seperti dulu Layla, tapi aku tidak ingin membebanimu dengan cintaku' ucap Raiden dalam hati, ia menunduk sesaat lalu menoleh ke arah Sila.
Mereka berempat menghabiskan waktu bercanda bersama, canda tawapun terlontar indah, namun luka yang sudah tertoreh di hati tidak bisa di tutupi. Kisah hidup Layla, keterlibatan Raiden dan Rico sangat membekas di hati Layla. Ada rasa penyesalan namun semua itu tidak mampu mengembalikan semuanya kembali semula. Cermin yang sudah pecah, meskipun di satukan kembali akan tetap terlihat retakannya.
Tak lama kemudian, Sila dan Raiden berpamitan pulang karena sudah malam. Rico mengantarkan mereka berdua sampai teras rumah, lalu kembali masuk ke dalam.
"Layla..ayo istirahat," ucap Rico. Layla menganggukkan kepalanya. Kemudian Rico mengangkat tubuh Layla dan menggendongnya memasuki kamar.
Sesampainya di kamar, Layla tidak mau tidur. Ia minta Rico untuk menemaninya di balkon dan menikmati bulan purnama.
"Baiklah, kau tunggu di sini..aku akan persiapkan tempatnya supaya kau nyaman dan tidak kedinginan." Layla menganggukkan kepala. Lalu Rico beejalan ke arah balkon dan menyiapkan kursi yang empuk dan bisa untuk bersandar. Setelah itu ia kembali ke kamar mengambil selimut tebal dan ia letakkan di kursi yang sudah ia siapkan tadi.
"Apakah kau mau habiskan malam di sini?" tanya Rico. Layla menganggukkan kepala, ia tersenyum merekah menatap ke arah Rico.
"Baiklah, kita habiskan malam ini berdua," ucap Rico. Ia sandarkan tubuh Layla di kursi panjang, lalu ia ikut naik ke atas kursi dan membuka selimut tebal. Rico selimuti tubuh mereka berdua, dan membiarkan kepala Layla bersandar di dadanya menatap ke arah bulan yang bersinar terang.
"Apakah kau senang?" tanya Rico mengusap lembut rambut Layla. Layla menganggukkan kepala.
"Rico.."
"Hem"
"Nanti anakku, aku mau kau yang memberi nama," ucap Layla. "Apakah kau sudah punya nama?"
Rico terdiam sejenak, "Aira...namanya Aira..apa kau suka?" tanya Rico. Layla menganggukkan kepala nya.
" Nama yang cantik," ucap Layla
__ADS_1
"Putri kita pasti cantik, secantik kamu sayang." Rico mencium puncak kepala Layla berkali kali. Perlahan tangan Layla terulur memeluk erat tubuh Rico, seakan tidak ingin di tinggalkan.
"Apa kau baik baik saja? tanya Rico menatap wajah Layla yang memejamkan mata. Layla mengangguk anggukkan kepala, ia tersenyum dan semakin mengeratkan pelukannya.
" Layka..jangan buat aku khawatir," Rico mengusap pipi Layla.
"Tidak Ric..aku hanya tidak ingin melewatkan satu detikpun bersama kamu.." ucap Layla, matanya terpejam. "Terima kasih sudah memberikan cinta dan kasih sayang untukku dan putriku." Rico menarik napas dalam dalam. Lalu ia hembuskan perlahan.
"Layla..aku sangat mencintaimu, meskipun aku bukan yang pertama untukmu..tapi dirimu bagiku..adalah segalanya.."
"Rico..."
"Hem"
"Peluk aku.." Rico membalas pelukan Layla.
"Rico.."
"Hem" Rico menautkan kedua alis, ia merasa bingung dengan sikap Layla.
"Jangan lepaskan pelukanmu sampai aku terbangun nanti," ucap Layla masih matanya terpejam.
"Rico.."
"Hem"
"Aku menyayangimu, aku menyukaimu..belum terlambat bukan?" tanya Layla.
"Tentu tidak sayang.."
"Kalau begitu..peluk aku..jangan lepaskan..biar aku rasakan semua kehangatan cintamu malam ini."
Rico menarik napas panjang, tak terasa bulir air mata jatuh di pipinya. Hal yang paling Rico takutkan. Jika suatu hari nanti Layla tidak bangun lagi dan meninggalkannya.
"Aku sayang kamu..aku sangat mencintaimu," ucap Rico berkali kali, ia cium puncak kepala Layla berkali kali.
"Rico.."
"Iya.."
__ADS_1
"I Love You"
Rico terdiam, ia hanya membalas pelulan Layla semakin erat dan membiarkan Layla tertidur di dadanya, bersama sinar rembulan yang akan bersinar lagi esok hari. Mungkin, tidak ada yang tahu.