
"Aku bukan lemah...aku lelah" ucap Layla lirih.
Layla menyeka air matanya, siapa yang sanggup bertahan? dalam situasi seperti itu?
Layla bangin dan duduk di atas tempat tidur, ia memikirkan semua perkataan Clara tadi pagi.
"Semua menganggap aku bersalah, aku lah yang jadi tertuduh," ucap Layla pelan. "Atau memang benar, apa yang mereka tuduhkan padaku?"
"Ya Rabb, jika memang aku yang bersalah, dan cintaku suatu dosa," ucap Layla terisak. "Tunjukkan padaku, cinta yang seperti apa sedang aku rasakan ini?"
Layla menyeka air matanya dengan selimut.
"Jika Kei adalah cinta sejatiku, mengapa kami sulit untuk bersama," Layla tengadahkan wajahnya menatap langit langit.
"Atau..." Layla tidak melanjutkan ucapannya, ia terdiam lalu mengusap air matanya berkali kali dengan selimut. "Ini caraMu mengajariku Ya Rabb."
Layla termenung, mengingat semua hal yang pernah terjadi padanya, dari awal ia mengenal Kei hingga kerumitan demi kerumitan.
"Apakah ini adalah rasa cintaMu ya Rabb?" gumam Layla. "Apakah ini bukan tentang cintaku pada seorang pria, tapi ini tentang aku dan Engkau ya Rabb."
Layla kembali terisak, air matanya mengalir semakin deras, "aku mengerti Ya Rabb."
"Terima kasih Ya Rabb, Engkau telah mengembalikan kesadaranku," ucap Layla sembari menyeka air matanya. "Mulai sekarang aku tidak akan lemah lagi karena Kei."
Layla tersenyum, "Cintaku padamu tidak akan berubah sampai ajal menjemput, tapi aku juga tidak perlu sedih pada kenyataannya aku tidak memiliki siapa siapa selain diriku sendiri, tapi wajar juga jika aku terkadang lemah dan lelah. Sudah kodrati manusia memiliki dua sisi. Namun bukan berarti harus memilih satu di antara dua, karena aku juga sadar akan kelemahanku sendiri."
Layla bicara sendiri untuk lebih memantapkan hatinya menghadapi semua hal yang tak terduga bisa saja terjadi.
"Tok tok tok!"
Suara pintu di ketuk dari luar, Layla menoleh menatap ke arah pintu kamar, "ya, masuk."
Pintu terbuka, nampak Raiden, Dokter Kenzi dan seorang pria seusia Layla, wajahnya manis, alisnya tebal dan hidungnya mancung.
"Selamat siang Layla," sapa Dokter Kenzi.
"Siang Dok," jawab Layla menatap ke arah pria yang baru di lihat Layla.
"Bagaimana kabarmu hari ini, Layla?" Dokter Kenzi mendekati Layla, dan mengeluarkan semua alat alat medisnya. Kemudian mulai memeriksa kondisi Layla.
"Baik Dok," kata Layla. "Dokter, itu siapa?" tanya Layla.
Dokter Kenzi melirik sesaat ke arah pria yang berdiri di samping Raiden, lalu ia tersenyum sambil menyuntikkan obat di lengan Layla.
"Dia Rico ," jawab Dokter Kenzi.
__ADS_1
Layla menganggukkan kepala, "apakah dia akan menggantikan Dokter?" tanya Layla.
"Tidak Layla" sapa Dokter Adrian yang baru saja tiba. Langsung menghampiri Layla.
"Dokter Adrian.." sapa Layla.
"Rico ini putra dari salah satu sahabat ayahmu Layla," ucap Dokter Adrian. "Di karenakan kau tidak mau di rawat di rumah sakit, jadi Rico akan membantu kami dengan sukarela untuk mengawasimu selama dalam proses penyembuhan.
Layla menganggukkan kepala, ia menatap Rico yang terlihat sangat dingin.
" Apa kau lupa padaku, Layla?" Rico mendekati Layla.
Layla mengerutkan dahi menatap Rico, coba mengingatnya. Tapi tetap saja Layla tidak ingat, "aku lupa."
"Aku yang pernah mengajakmu berkenalan di hari ulang tahunmu yang ke tyjuh belas, kau ingat?" ucap Rico. "Saat itu Tante Anita memperkenalkan kita, tapi kau malah bengong."
Layla coba mengingat pada masa lalu, dia baru sadar ternyata itu adalah Rico yang pertama kali mengatakan Layla gila. Layla tersenyum, "iya, aku baru ingat."
"Baiklah Layla, pemeriksaan selesai, mulau besok kau akan di periksa oleh Dokter Rico."
Dokter Kenzi dan Dokter Adrian menjelaskan dan meminta izin Layla untuk menerima Rico untuk tinggal di rumah Layla selama pengobatan, "bagaimana Layla?" tanya Dokter Adrian.
"Tentu saja boleh Dok," jawab Layla.
Layla menganggukkan kepala, "terima kasih Dok."
Kemudian Dokter Adrian, Kenzi, Rico dan Raiden keluar kamar meninggalkan Layla untuk beristirahat dan di jaga oleh Mbok Darmi.
"Dok, separah itukah kanker otak Layla?" tanya Raiden di sela sela langkahnya.
"Benar, untuk kesembuhannya sangat kecil.Tapi kita tetap akan berusaha yang terbaik untuk Layla," jawab Dokter Adrian.
Raiden menganggukkan kepala, "Terima kasih Dok," ucap Raiden. "Sebisa saya, akan menjaga Layla dengan baik."
Dokter Kenzi menepuk bahu Raiden, lalu mereka berdua meminta Rico untuk memberikan kabar sekecil apapun tentang kondisi Layla.
"Baik Dok."
Kemudian ke dua Dokter itu berpamitan untuk kembali ke rumah sakit.
"Apakah kau teman Layla?" tanya Rico.
Raiden menganggukkan kepala, "iya, kenapa?"
"Tidak ada," jawab Rico melirik sesaat pada Raiden.
__ADS_1
"Orang aneh," ucap Raiden dalam hati.
***
"Mulai sekarang, kau harus ikuti semua yang aku sarankan. Supaya kau cepat sembuh." Rico meletakkan obat obatan dan air mineral di atas meja.
"Mbok, semua hal yang berkaitan dengan obat dan makanan Layla biar saya yang mengurusnya," ucap Rico. "Satu lagi Mbok, jangan biarkan orang yang tidak memiliki kepentingan dengan Layla untuk bicara dengan Layla."
Mbok Darmi menganggukkan kepala, "baik Tuan."
"Kau boleh pergi Mbok."
Mbok Darmi membungkuk sesaat, lalu ia balik badan meninggalkan Rico dan Layla di teras rumah.
"Bukankah kau di sini sekedar membantu Dokter Kenzi?" tanya Layla. "Lalu kenapa kau mencampuri urusan yang lain?" Layla mengerutkan dahi, ia tidak mengerti dengan sikap Rico yang baik di awal.
"Kau tidak perlu banyak bicara, ini semua demi kesembuhanmu." Rico memberikan beberapa butir obat pada Layla.
Layla menerima obat itu dari tangan Rico, "tapi kau tidak berhak mengatur hidupku Rico."
"Kalau bukan aku yang mengatur hidupmu, dan juga kesembuhanmu, lalu siapa?" tanya Rico.
Layla menautkan dua alisnya menatap Rico, "apa maksudmu?"
"Tidak perlu banyak tanya, cepat di minum obatnya."
Kemudian Layla menelan semua obat yang di berikan Rico. Setelah beberapa menit Layla minum obat, kemudian Rico mengajak Layla untuk jalan jalan sebentar ke taman, supaya Layla mendapatkan sinar ultraviolet di pagi hari.
"Sekarang kau istirahat, nanti sore aku akan membantumu supaya bisa berjalan lagi." Rico mendorong kursi roda Layla memasuki rumah.
"Apakah aku bisa berjalan lagi?" tanya Layla tengadahkan wajah menatap Rico.
Rico tersenyum menatap Layla, "tentu saja," kata Rico.
Sesampai di kamar pribadi Layka, Rico mengangkat tubuh Layla dan menggendongnya, lalu ia baringkan di atas tempat tidur.
"Istirahat yang cukup, nanti sore kita belajar berjalan," ucap Rico.
Layla menganggukkan kepala, memperhatikan Rico yang tengah menyelimuti tubuh Layla dengan selimut, "terima kasih."
"Tidak perlu berterima kasih, aku belum berbuat apa apa," jawab Rico. "Sekarang kau istirahat."
Kemudian Rico balik badan, ia melangkahkan kakinya meninggalkan Layla di kamarnya sendirian.
"Pria aneh, kadang baik, kadang kasar," gumam Layla menatap punggung Rico keluar dari ruangan Layla.
__ADS_1