Kei Dan Layla

Kei Dan Layla
Chapter 27: Penyerangan


__ADS_3

Setelah semua pekerjaan Raiden selesai, ia langsung meluncur ke rumah Layla, karena hari ini ia berjanji akan menemani Layla ke pemakaman Anita dan Surya.


Setibanya di halaman rumah Layla, Raiden langsung membuka pintu mobil dan keluar.


Raiden menoleh ke arah pintu rumah Layla. Raiden melihat Layla sudah berdiri di depan pintu dengan menyilangkan ke dua tangan di dada. Ia terlihat cantik menggunakan gaun panjang berwarna krem dan kerudung berwarna hitam Raiden tersenyum saat Layla mulai berjalan mendekatinya dengan raut wajah cemberut.


"Lama" ucap Layla sambil membuka pintu mobil lalu duduk di kursi. Ia menatap Raiden yang bengong menatapnya.


"Hei! malah bengong, ayo!" Layla menarik lengan Raiden.


"Ah iya" ucap Raiden langsung memutar arah dan membuka pintu mobil lalu masuk dan duduk di kursi dan menutup kembali pintu mobil.


Raiden tertawa kecil menoleh ke arah Layla. "Kau cantik se-?"


Layla langsung memotong kata kata Raiden, tangannya terulur mencubit pinggang Raiden. "Apa?apa?" ucap Layla memajukan bibirnya.


"Hahaha!" Raiden tertawa smbil meringis, lalu ia menyalakan mobilnya. "Sakit Layla" ucapnya sembari mengusap pinggangnya.


"Ayo cepetan, jangan bercanda terus" jawab Layla menatap ke depan.


"Siap Tuan Putri" ucap Raiden, melirik sesaat ke arah Layla. Lalu ia menjalankan mobilnya menuju pusara Ayah dan Ibunya.


***


sepuluh menit berlalu, akhirnya Layla dan Raiden telah sampai di pemakaman. Raiden dan Layla langsung keluar dari mobil. Layla berdiri dan menghela napas dalam menatap ke pemakaman. Raiden yang memperhatikan Layla langsung menggenggam tangan kanan Layla dengan erat. Ia menganggukkan kepala dan tersenyum tipis menatap Layla, menguatkan hati Layla. Layla tersenyum menatap Raiden dan menganggukkan kepala sebagai pertanda dia baik baik saja. Lalu mereka melangkahkan kaki mendekati pusara Anita dan Surya.


Layla jongkok di dekat batu nisan, di ikuti Raiden yang jongkok di sebelah Layla. Sesaat mereka saling pandang, lalu Layla menganggukkan kepala meminta Raiden untuk memimpin puja dan puji ke pada Sang Maha Hidup. Dan mendoa kan Anita dan Surya tenang di alam sana dan di tempatkan di sisiNya.


Dua puluh menit berlalu, mereka pun telah selesai mendoakan kedua orang tua Layla. Layla menarik napas dalam dalam, lalu ia hembuskan perlahan. "Ibu..Ayah..." ucap Layla lirih. Air matanya merembes membasahi pipinya. Ia menundukkan kepala dan mengusap air matanya menggunakan kerudung hitam yang ia kenakan.


Raiden yang memperhatikan Layla, dan mengusap punggung Layla dengan lembut. Layla menoleh sesaat ke arah Raiden.


"Ibu..Ayah" Layla terisak menutup mulutnya dengan tangan kiri, kata katanya tertahan di tenggorokkan membuat dadanya sesak, "Maafkan Layla Bu, maafkan Layla Yah" ucapnya tak mampu lagi membendung air matanya. Ia menangis sesegukan dan memalingkan wajah, dan ia sandarkan wajahnya di lengan Raiden. Raiden hanya bisa mengusap punggung Layla lembut, hanya itu yang bisa Raiden lakukan. Tak ada kata yang terucap dari bibir Raiden karena dia tahu bagaimana sedihnya Layla di tinggal orang yang dia sayangi.


"Layla, jangan menangis lagi. Hapus air matamu." Akhirnya Raiden angkat bicara karena ia tidak sanggup melihat Layla yang terus menangis. Layla menyeka air matanya dan menatap wajah Raiden. "Maaf."


"Iklaskan Layla, Ayah dan Ibumu akan sedih kalau melihatmu seperti ini terus" ucap Raiden mencoba menegarkan hati Layla.


Layla menganggukkan kepala sambil menyeka air matanya, lalu ia berdiri di susul Raiden yang ikut berdiri. Suasana pemakaman yang terlihat sepi dan cuaca yang mendung. Membuat angin berhembus kencang dan menggugurkan beberapa helai daun kering jatuh tepat di wajah Layla. Layla tengadah sesaat menatap pohon dan memungut daun yang jatuh. Ia tersenyum menatap daun itu. Ibu, Ayah, kalian mendengar permintaan maafku? terima kasih" ucap Layla tersenyum lalu meletakkan daun kering itu di atas batu nisan Anita dan Surya.

__ADS_1


'Kamu memang unik Layla, kau anggap semua isi alam semesta ini adalah bagian dari dirimu.' ucap Raiden dalam hati memperhatikan semua yang Layla lakukan.


"Hei, bengong?" tanya Layla sembari mencubit lengan Raiden.


"Aw! sakit!"


"Makanya, jangan bengong terus. Ayo pulang." Layla berjalan mendahului Raiden, kemudian Raiden mengikuti Layla dari belakang, menuju mobil Raiden yang terparkir di luar pemakaman.


Baru saja Layla dan Raiden sampai di dekat mobil. Tiba tiba dua pria tak di kenal menerjang Raiden dari belakang. Membuat Raiden terhuyung ke depan dan menubruk pintu mobil. Layla yang berdiri di samping Raiden langsung berteriak dan memegang tubuh Raiden yang terjatuh ke tanah.


"Rai!!"


Raiden dan Layla menoleh menatap kedua pria yang menggunakan penutup muka.


"Siapa kalian!!" ucap Layla menatap tajam kedua pria itu. Tapi kedua pria itu hanya diam dan salah satu pria lainnya kembali menerjang Raiden dengan kaki kirinya. Namun dengan sigap Raiden menangkap kaki pria tersebut dan menghempaskannya ke samping. Membuat pria itu terjatuh ke tanah. Raiden langsung berdiri dan menubruk pria satunya menggunakan pukulan kosong. Akhinya terjadilah baku hantam di antara keduanya.


Layla yang memperhatikan perkelahian mereka berteriak lantang. "Rai!! hati hati!!" Lalu ia menatap sekitar pemakaman dan melihat ada beberapa orang yang hendak berziarah. Layla berniat meminta bantuan namun langkahnya terhenti karena pria yang tadi terjatuh menarik tangan Layla. Layla balik badan langsung menendang pria itu tepat di perutnya. Pria itu terhuyung ke belakang begitu juga Layla ikut terjatuh ke tanah. Tapi Layla langsung berdiri dan berlari berteriak meminta tolong.


"Tolong!! tolong!!"


Warga yang hendak ke pemakaman langsung berlaruan menghampiri arah suara.


"Grepp!


Pria itu memiting leher Layla dan membungkam mulut Layla. Layla berusaha berontak tapi usahanya sia sia.


" Woyy!! lepaskan!! ucap salah satu orang yang di antara lima orang pria yang hendak ke pemakaman. Pria yang memiting Layla langsung mendorong tubuh Layla dan dia langsung melarikan diri. Di susul pria yang sedang berkelahi dengan Raiden ikut melarikan diri setelah menyadari perbuatannya di ketahui warga. "Kalian tidak apa apa?" tanya salah satu warga pada Layla dan Raiden.


Layla dan Raiden menggelengkan kepala menatap para warga. "Terima kasih banyak Bang" ucap Raiden menundukkan kepala.


"Ya sama sama" jawab salah satu warga.


"Kalau begitu, kami permisi" ucap salah satu warga lainnya.


"Ah iya Bang, sekali lagi terima kasih" jawab Raiden. Lalu warga pergi meninggalkan Layla dan Raiden.


"Layla, kau tidak apa apa?" ucap Raiden memegang lengan Layla. Layla menggelengkan kepala cepat. "Aku baik baik saja Rei, kau terluka?" tanya Layla menyentuh bibir Raiden yang berdarah.


"Aww" Raiden mengerang kesakitan saat bibirnya di sentuh Layla.

__ADS_1


"Ah, maaf" ucap Layla menarik tangannya dari bibir Raiden.


"Apa kau kenal mereka? kenapa mereka menyerangmu?" tanya Layla lagi.


Raiden menggelengkan kepala menatap Layla. "Aku tidak tahu dan aku tidak mengenal mereka" jawab Raiden memegang bibirnya sendiri.


"Ayo kita pulang Layla" Raiden menarik tangan Layla, lalu membukakan pintu mobil. Akhirnya mereka memutuskan untuk pulang.


***


Sepuluh menit berlalu, mereka pun sampai di depan rumah Layla. Layla langsung keluar dari pintu mobil, di susul Raiden. Mereka langsung masuk ke dalam rumah.


"Mbok! Mbok!"


Layla berteriak memanggil Mbok Darmi sambil membantu Raiden duduk di kursi ruang tamu.


Mbok Darmi berjalan tergesa gesa dari arah dapur mendekati Layla. "Ada apa Non? Den Rai kenapa?" tanya Mbok Darmi menatap wajah Raiden.


"Tadi ada yang menyerang kami di pemakaman Mbok, Mbok aku minta tolong ambilkan air hangat dan kain ya Mbok" ucap Layla menatap Mbok Darmi. Mbok Darmi menganggukkan kepala langsung putar badan berjalan menuju dapur.


"Sakit Rai?" Layla menatap wajah Raiden sembari menyentuh pipi Raiden.


Antara sakit di pukul dan senang di perhatikan Layla membuat Raiden tiba tiba tersenyum lalu meringis kesakitan.


Tak lama kemudian terdengar suara langkah Mbok Darmi "Neng, ini air hangatnya." Mbok Darmi memberikan wadah berisi air hangat dan kain yang lembut.


"Terima kasih Mbok" jawab Layla sembari mengambil wadah itu. Lalu Mbok Darmi kembali ke dapur.


Sementara Layla membasuh luka di bibir Raiden dengan kain yang sudah di basahi.


"Tahan ya" ucap Layla sambil membasuh luka Raiden.


Raiden hanya diam membiarkan jari jemari Layla yang lentik mengobatinya. Raiden terus menatap wajah Layla sembari tersenyum. Hatinya bahagia karena pelan pelan Layla sudah bisa menerima kehadirannya.


"Kenapa kau menatapku seperti itu?" Layla menghentikan tangannya dan menatap horor Raiden.


"Tidak apa apa" jawab Raiden mengalihkan matanya dari wajah Layla dan menatap langit langit ruangan.


"Awas ya" ucap Layla lalu kembali mengobati luka Raiden.

__ADS_1


'Kejadian ini, aku jadi teringat Yuda, apakah dalang di balik penyerangan tadi adalah Yuda?' ucap Raiden dalam hati.


__ADS_2