Kei Dan Layla

Kei Dan Layla
Chapter 24: putus asa


__ADS_3

"Bagaimana keadaanmu sekarang Layla?" tanya Raiden sembari meletakkan sebuket bunga sedap malam diatas meja.


"Aku sudah jauh lebih baik." Setelah di rawat dua hari di rumah sakit Kasih Bunda, luka lebam dan di pelipisnya sudah sembuh.


Raiden mengambil kursi besi lalu duduk di atas kursi di samping Layla. "Mereka yang melukaimu, sudah aku laporkan pada pihak yang berwajib."


Layla bangun dari tempat tidur, menatap Raiden. Tangan kiri Layla menyentuh tangan Raiden yang ada di atas tepi tenpat tidur. "Seharusnya kau tidak perlu melaporkan mereka Rai."


Raiden mengerutkan dahi menatap Layla.


"Kenapa?"


Layla tersenyum dan menarik tangannya dari tangan Raiden. "Batalkan saja Rai."


Raiden masih mengerutkan dahi menatap Layla bingung. " Tapi mereka sudah melukaimu Layla? kenapa harus di maafkan begitu saja?"


Layla menghela napas panjang, ia menundukkan kepala sembari memainkan jari jarinya yang lentik. "Aku tidak tahu harus bilang apa, tapi aku mohon batalkan saja." Layla menoleh menatap Raiden penuh pengharapan.


"Tidak bisa Layla, terkadang kita harus tegas. Untuk memberikan mereka pelajaran supaya tidak bertindak anarkis " jawab Raiden tegas.


Layla menarik napas panjang lagi, menundukkan kepala. "Ya sudah, terserah kamu Rai." Layla melirik sesaat ke arah Raiden.


Raiden meraih tangan Layla lalu menggenggamnya erat dan menatap wajah Layla yang tertunduk. "Layla lihat aku."


Layla menoleh menatap Raiden, ia mengangkat ke dua alisnya. "Ya?"


Raiden menatap ke dua bola mata Layla dalam dalam. " Aku tahu kau tidak selemah itu dan butuh perlindungan, tapi aku di sini hanya memberi mereka pelajaran, tidak lebih dari itu Layla."


Layla menganggukkan kepala dan tersenyum. "Ya, iya."


Raiden tersenyum sembari mencubit gemas hidung Layla. "Nah gitu dong, kamu harus berubah."


Layla mengerutkan dahi menatap Raiden.


"Maksudmu?"


Raiden melepaskan genggaman tangannya lalu berdiri, kedua tangan ia masukkan ke dalam saku celananya dan berkata.


"Layla, aku tidak memintamu melupakan Kei, tapi cobalah lihat dunia ini dari sisi lain."


Layla menundukkan kepala. "Aku tahu maksudmu Rai."


Raiden kembali duduk di kursi menatap Layla. "Jadi bagaimana?"


Layla menoleh menatap Raiden dan tersenyum. "Ya, aku akan berubah untuk hal yang lain. Tapi tidak untuk perasaanku, cinta aku."


"Ehemm !"


Raiden terbatuk kecil, menatap Layla dan tersenyum. "Tidak kah ada ruang lain untukku?"


"Kamu?"


"Hahaha!" Raiden tertawa.


Layla mengerutkan dahi menatap bingung Raiden " Bercanda Layla" jawab Raiden mencubit lengan Layla.


"Aw! sakit Rai." Layla memajukan bibirnya memukul pelan lengan Raiden.


"Oh ya, aku lupa. Tadi aku ketemu Dokter dan katanya hari ini kamu di perbolehkan pulang Layla."

__ADS_1


Layla membulatkan mata menatap Raiden.


"Benarkah? terima kasih ya Rabb." Layla tengadahkan dua tangannya lalu ia usapkan ke wajahnya.


" Kalau begitu kita siap siap untuk pulang." Raiden berdiri lalu mengambil tas kecil di samping Layla dan mulai membereskan semua barang barang Layla ke dalam tas kecil.


Setelah semua selesai di urus. Raiden mengajak Layla kembali kerumah siang itu juga. Sementara Mbok Darmi dan Mang Usman sudah lebih dulu pulang karena mereka tidak di rawat di rumah sakit itu.


***


Sesampainya Raiden dan Layla di rumah. Mereka terkejut melihat Kei sudah ada di dalam rumah tengah duduk di kursi tamu.


Layla dan Raiden berdiri menatap Kei yang menggunakan sweater hitam dan celana panjang berwarna putih.


"Kau?" ucap Raiden menatap Kei.


Kei langsung berdiri dan mendekati Layla.


"Layla? apakah kau sudah sembuh?" tanya Kei menatap Layla, tangannya terulur menggenggam kedua tangan Layla.


Belum sempat Layla menjawab. Raiden sudah lebih dulu menyela dengan menepis tangan Kei hingga lepas dari tangan Layla.


"Seharusnya kau tidak memperkeruh suasana, dan kau pun harus tahu batasanmu Kei!" Raiden menatap tajam Kei dengan menaikkan satu level nada suaranya.


"Apa maksudmu?" tanya Kei menatap Raiden tidak suka.


"Apa yang terjadi pada Layla, itu juga atas fitnah mertuamu si Yuda itu! sekarang kau datang lagi ke sini untuk menambah daftar kebencian Yuda terhadap Layla. Itu yang kau inginkan!"


Kei melebarkan matanya menatap Raiden lalu beralih menatap Layla. "Layla, apakah itu benar?" tanya Kei pada Layla.


Layla menganggukkan kepala menatap Kei.


Raut wajah Kei berubah merah padam, giginya gemelutuk menahan amarah. Kei melirik Layla dan Raiden sesaat lalu ia melangkahkan kakinya keluar rumah tanpa berpamitan.


Layla menatap Kei yang berlalu begitu saja.


"Kai" ucapnya pelan. Setiap kali Layla melihat Kei, ia selalu beruarai air mata. Ada kesedihan dan rasa rindu bercampur jadi satu yang entah rasanya seperti apa, sulit untuk dijelaskan. Hanya air mata yang mampu mewakili segala yang Layla rasakan.


Raiden menoleh menatap Layla. "Layla." Raiden merangkul bahu Layla dan ia sandarkan di dadanya. Saat ini hanya itu yang bisa Raiden lakukan jika Layla sedang bersedih. Raiden sadar, apapun yang dia lakukan tak akan mampu menggeser nama Kei di hati Layla.


"Neng Layla, Mbok sudah siapkan susu hangatnya, mau di letakkan di mana?" tanya Mbok Darmi membawakan dua gelas susu hangat di sebuah nampan.


Layla menoleh menatap Mbok Darmi. "Di meja balkon kamar saja Mbok" jawab Layla sembari menyeka air matanya. Lalu ia menarik tangan Raiden dan melangkahkan kakinya memasuki balkon kamar Layla.


***


Sementara itu Kei yang baru saja sampai di rumah langsung mencari mertuanya. Dengan berteriak lantang ia memanggil Yuda.


"Om! Om!"


Dinda yang berada di dalam kamar, mendengar suara teriakan Kei langsung keluar dan bertanya pada Kei.


"Apa kau sudah gila? teriak teriak di tengah hari? ada apa Kei?" Layla menyentuh lengan Kei. Tapi Kei tepiskan begitu saja dan berlalu meninggalkan Kei yang kebingungan dengan sikap suaminya. Kemudian Dinda bergegas menyusul Kei yang memasuki ruang kerja Yuda.


"Om!"


Kei berteriak sembari tangan kanannya menggebrak meja kerja Yuda. Membuat Yuda dan Dinda berjengkit kaget dan langsung berdiri menatap geram Kei.


"Apakah orang tuamu tidak pernah mengajarkan sopan santun, hah?!"

__ADS_1


Kei menatap tajam Yuda dengan raut wajah merah padam. "Kau tidak perlu mengajarkanku soal etika Om. Om lebih kejam dari apa yang aku bayangkan" jawab Kei dengan mengarahkan satu telunjuknya di wajah Yuda.


"Kei!" Dinda maju selangkah di hadapan Kei.


"Plakkk!"


Dinda melayangkan tangan kanannya menampar wajah Kei. "Aku sudah berusaha sabar menghadapi sikapmu, tapi kali ini aku tidak bisa tinggal diam lagi Kei! aku lelah!" ucap Dinda teriak lantang.


"Oh, lalu kau mau apa?" tanya Kei tersenyum sinis. Menatap Dinda menunggu jawaban yang selama ini Kei tunggu dari mulut Dinda.


Dinda diam tidak menjawab pertanyaan Kei. Dinda masih bingung harus bersikap apa. Antara lelah dan cinta tidak bisa lagi Dinda bedakan. Yang ia lakukan hanya bisa diam tiap kali Kei bertanya 'apa maumu'


"Cukup!


Yuda menggebrak meja menatap marah Kei.


" Apa maksudmu Kei?" tanya Yuda.


Kei mengalihkan pandangannya pada Yuda. "Kau! orang macam apa yang tega memfitnah Layla dan menganiayanya!"


Yuda memalingkan wajagnya kesamping. Yuda diam tak membantah apa yang di katakan Kei.


"Aku benar benar kecewa!" ucap Kei.


Yuda menoleh menatap Kei dan menarik kerah baju Kei. "Kau ingat kata kataku dulu Kei? aku akan melenyapkan Layla jika kau tidak merubah sikapmu terhadap Dinda, kau paham?" ucap Yuda lalu mendorong tubub Kei hingga Kei mundur selangkah ke belakang.


"Kau pikir aku takut hah? sedikit saja kau berani menyentuh Layla maka tamatlah riwayatmu di penjara Tuan Yuda yang terhormat." Kei tersenyum miring menatap Yuda, setelah itu ia berlalu meninggalkan Yuda dan Dinda yang tengah terisak.


"Sayang, maafkan Papa." Yuda merangkul tubuh Dinda yang bergetar karena mencoba meredakan rasa sakit di dadanya.


"Maafkan Papa" ucap Yuda lagi dengan memeluk erat Dinda.


"Apa yang harus aku lakukan Pa?" tanya Dinda.


"Papa ikuti maumu sayang" jawab Yuda.


"Aku sudah tidak tahan Pa, aku sudah tidak memiliki harapan lagi, Kei Suamiku taoi-?"


Dinda sesegukan menelan salivanya susah.


"Kei suamiku, tapi dia bukan suamiku, kami memang sudah berumah tangga tapi tidak ada kehangatan layaknya pasangan suami istri" ucap Dinda dengan susah mengatakan apa yang dia rasakan selama berumah tangga dengan Kei.


"Maafkan Papa sayang, maafkan Papa" ucap Yuda, sembari mencium puncak kepala Dinda berkali kali. Ada rasa penyesalan di hati Yuda telah menikahkan Dinda dengan Kei. Tapi semua sudah menjadi terlambat.


"Uhukkk!!"


Tiba tiba saja Dinda batuk batuk. Dinda meringis menagan sakit di dada.


"Ada apa sayang?" tanya Yuda menatap wajah Dinda yang terlihat pucat.


"Uhukk"


Dinda kembali terbatuk. ia menutupi mulutnya dengan tangan kanannya. Dinda merasakan basah di telapak tangannya. Karena penasaran ia buka telapak tangannya.


"Darah?" ucap Yuda menatap darah kental di telapak tangan Dinda.


"Pa.."


Yuda langsung memeluk Dinda, seumur hidup dia untuk pertama kalinya ia menangis.

__ADS_1


"Maafkan Papa, maafkan Papa sayang..maafkan"


__ADS_2