Kei Dan Layla

Kei Dan Layla
Chapter 58: Waktu yang tersisa


__ADS_3

Minggu pukul 06:30.


"Papa sudah rapi, mau kemana?" tanya Keila.


Kei menoleh menatap Keila lalu berjalan mendekatinya, "Papa ada urusan penting sayang."


"Tapi Pa, bukankah sekarang hari minggu?" Keila menundukkan kepala, wajahnya cemberut.


Kei menatap Keila, dari raut wajahnya nampak kecewa. Lalu Kei menarik tangan Layla mengajaknya duduk di kursi.


"Memangnya Kei mau apa?" tanya Kei.


"Ayah janji mau ajak Keila jalan jalan hari ini," kata Keila.


Kei mengusap lembut rambut Keila, lalu ia turun dari kursi dan jongkok di hadapan Keila.


"Sayang jangan cemberut gitu dong," ucap Kei, "kita bisa jalan jalannya minggu depan, hari ini Papa ada urusan yang sangat penting."


Keila menatap Kei, "baiklah Pa" jawab Keila kecewa.


Kei berdiri dan mengacak rambut Keila sesaat, lalu ia balik badan melangkahkan kakinya keluar kamar.


"Kenapa kau batalkan janjimu?" sapa Clara dari belakang.


Kei menghentikan langkahnya dan melirik sesaat ke arah Clara, "aku ada urusan." Kemudian Kei kembali melangkahkan kakinya.


"Layla bukan?" sindir Clara.


Kei menghentikan langkahnya sesaat, lalu ia kembali beejalan tanpa menjawab sindiran dari Clara. Untuk hari ini, Kei tidak perduli dengan hal apapapun. Meski di hari ini ada urusan kantor yang mendadakpun akan dia tinggalkan. Karena Kei tidak mau melewatkan hari ulang tahun Layla yang ke tiga puluh lima.


Kei terus berjalan meninggalkan rumah dan memutuskan untuk membeli kado untuk Layla.


"Mama!!" jerit Keila menubruk Clara dan menangis.


"Kenapa sayang?" tanya Clara mengusap rambut Keila.


"Papa ingkar janji, Ma!"


Clara mendengus kesal, "tidak sayang, Mama akan ajak Keila jalan jalan hari ini bersama Papa" ucap Clara.


"Janji?" tanya Keila.


"Mama janji," kata Clara.


Sementara itu di tengah perjalanan, Kei melihat Asha dan Layla ada di halaman rumah sakit.


"Sepertinya Layla ada di rumah sakit, aku ambil kado dulu, baru ke rumah sakit" gumam Kei.


***


Sementara itu, Raiden pun telah meninggalkan rumah Layla pagi pagi sekali. Raiden juga tidak ingin melewatkan hari ulang tahun Layla. Ia pergi ke sebuah toko perhiasan.


Raiden memilih sebuah kalung liontin yang berwarna biru terang, setelah kalung liontin itu selesai Raiden beli. Kemudian ia meninggalkan toko untuk bersiap siap membuat pesta kecil kecilan di rumah Layla, dengan tidak melupakan untuk mengundang ketiga sahabat Layla, Valeri, Asha dan Stela.


Sesampainya di rumah Kei langsung mempersiapkan pesta kecil kecilan itu bersama ketiga sahabatnya. Dan kebetulan hari ini Layla sedang berobat untuk chekUp dengan di antar oleh Asha.


"Bagaimana Rai?" tanya Stela menatap seluruh ruangan yang dihiasi pernak pernik pesta ulang tahun.


"Bagus, sederhana tapi elegan" jawab Raiden tersenyum.


"Taraaa!! seru Valeri, " kue nya sudah jadi." Valeri tersenyum sambil membawa kue ulang tahun di tangannya.


"Oke! semua sudah siap" ucap Stela, "sekarang kita tinggal tunggu Layla pulang.


Diluar rumah Layla, nampak Sila tengah berjalan memasuki gerbang rumah dan langsung menuju pintu rumah Layla. Dia terkejut karena melihat banyak orang dan rumah Layla sudah di hiasi pernak pernik aneka warna.


" Wahh, kalian sedang buat pesta kejutan ya."


Raiden, Valeri dan yang lainnya menoleh ke arah suara. Mereka melihat Sila sudah berdiri di depan pintu yang terbuka.


"Kau? mau apa lagi kau kesini! seru Raiden, " aku tidak mengundangmu, cepat pergi!" Raiden berjalan mendekati Sila.


"Eittt, tunggu dulu!" Valeri mencekal tangan Raiden, "biarkan dia ikut meramaikan ulang tahun Layla, biar rame."


Raiden menatap Valeri sesaat, lalu ia beralih menatap Sila, "kali ini kau, kuijinkan. Tapi lain kali, tidak akan aku izinkan masuk rumah ini."

__ADS_1


"Horeee!!" seru Sila. Ia bertepuk tangan lalu melangkahkan kakinya mendekati Raiden dan yang lain.


"Ada yang bisa aku bantu?" tanya Sila.


"Tentu," kata Stela.


***


Sementara itu di rumah sakit. Layla telah selesai pemeriksaan, kemudian Asha mendorong kursi roda Layla dan Asha duduk berhadapan dengan dokter Kenzi.


"Bagaimana hasilnya Dok?" tanya Layla tersenyum menatap Dokter Kenzi.


Dokter Kenzi menutup berkas yang dia baca, lalu menatap Layla dan ia tertegun sesaat.


"Dokter?" sapa Asha. karena ia melihat Dokter Kenzi bengong.


"Ah iya" jawab Dokter Kenzi, "maaf."


"Lalu bagaimana hasilnya Dok?" ucap Asha, "apa ada kemajuan?"


"Ehem!"


Dokter Kenzi terbatuk kecil dan menghela napas dalam dalam.


"Layla...." ucap Dokter Kenzi pelan.


"Iya Dok?" Layla menaikkan kedua alisnya menatap Dokter Kenzi.


"Kau harus secepatnya melakukan operasi yang kedua, karena," ucap Dokter Kenzi, "sel kankernya sudah semakin luas."


"Ya Tuhan..." ucap Asha lirih.


Asha menatap Layla dan mengusap punggung Layla untuk menenangkan. Sementara Layla diam tertegun sesaat.


"Berapa lama lagi aku bisa bertahan Dok?" tanya Layla.


"Layla, itu bukan uruasan saya, hidup dan mati seseorang hanya Tuhan yang tahu" jawab Dokter Kenzi.


"Katakan saja Dok..aku sudah siap mendengarnya..." ucap Layla pelan.


"Aku mohon Dok" potong Layla.


"Layla, kau jangan pikirkan hal itu." Asha merangkul pundak Layla. Layla menoleh menatap Asha.


"Asha, aku mohon. Biarkan aku tahu."


"Tapi Layla..." Asha tidak mampu melanjutkan kata katanya.


"Katakan yang sebenarnya Dok, aku mohon."


"Baiklah kalau kau memaksa." Dokter Kenzi berdiri dan melangkahkan kaki mendekati Layla dan jongkok di hadapan Layla. Dokter Kenzi meraih kedua tangan Layla dan mengusapnya pelan dengan tatapan lurus ke arah Layla.


"Katakanlah..." ucap Layla lirih.


"Sel kanker sudah meluas dan merusak semua jaringan otak, dan," ucap Dokter Kenzi, "kau hanya punya waktu satu bulan lagi dari sekarang." Dokter Kenzi matanya berkaca kaca.


Layla terhenyak, dia diam terpaku menatap Dokter Kenzi dengan raut wajah tanpa ekspresi. Matanya basah oleh air mata, dan perlahan jatuh ke pipi dan jatuh membasahi tangan Dokter Kenzi yang sedang menggenggam kedua tangan Layla.


"Ya Tuhan..." ucap Asha lirih, matanya melebar menatap Layla, lalu merangkul pundak Layla dan memeluknya.


Dokter Kenzi menundukkan kepala, ia berdiri dan kembali duduk di kursi.


Langit yang cerah, pagi yang indah bagi sebagian orang. Tapi tidak untuk Layla, pagi itu bagaikan di sambar petir, jiwa Layla serasa terbang meninggalkan raganya. Ia terdiam seribu bahasa. Hanya air mata yang mampu mewakili segenap perasaan yang Layla rasakan saat ini.


"Ayah, Ibu...aku akan menyusul kalian" suara Layla bergetar.


"Tidak Layla, kau harus punya semangat hidup" sapa seseorang dari arah pintu yang terbuka.


Dokter Kenzi, Asha, menoleh ke arah suara, mereka melihat Kei sudah berdiri di depan pintu ruangan, lalu mendekati Dokter Kenzi.


"Kei?" ucap Asha pelan.


"Katakan itu tidak benar Dokter, katakan kalau itu semua bohong!!!" seru Kei menatap Dokter Kenzi.


Dokter Kenzi hanya diam, ia tidak tahu harus bagaimana menjawabnya. Dokter Kenzi tahu, akan semua konsekwensinya jika ia mengatakan itu semua

__ADS_1


"Kenapa diam!" seru Kei, "katakan itu bohong!!"


Dokter Kenzi menatap Kei, "itu benar, tapi kita masih bisa berusaha."


"Brakkkk!!!" Kei memukul meja dengan kedua tangannya membuat Asha terkejut.


"Kau bohong!!" kau bohong!!" seru Kei.


Matanya merembes, "katakan itu bohong Dokter" ucap Kei pelan. Ia menundukkan kepala, dengan kedua tangan mencengkram meja.


Dokter Kenzi berdiri dan mendekati Kei, dan menepuk punggung Kei sesaat, "hidup dan mati itu urusan Tuhan, kita hanya bisa berdoa dan berusaha" ucap Dokter Kenzi. "jika kau bisa membuat Layla bahagia dan tenang, itu akan sangat membantu."


Kei mengangkat wajahnya menatap Dokter, lalu ia berdiri. "Tidak!! seru Kei. " Katakan itu semua bohong!!"


Kei mencengkram kerah baju Dokter Kenzi, "katakan itu semua bohong!"


Dokter Kenzi menggelengkan kepala. Menatap kedua bola mata Kei.


Asha yang sedari tadi memperhatikan, akhirnya ia berdiri mendekati Kei. "Cukup Kei!!" seru Asha.


Asha menarik lengan Kei dan mendorong tubuh Kei supaya menjauh dari Dokter Kenzi.


"Cukup!" pekik Asha.


"Ya Rabb" ucap Kei pelan.


Kei menyeka air matanya, lalu ia berjalan mendekati Layla dan memeluknya erat.


"Kei.." ucap Layla lirih.


"Aku tahu kau kuat, aku tahu kau bisa sembuh Layla." Kei mengeratkan pelukannya.


"Kei...aku mau pulang"


"Iya sayang, aku antarkan kau pulang kerumah" jawab Kei.


Kei mendorong kursi roda Layla meninggalkan ruangan, di ikuti Asha sebelumnya berpamitan terlebih dahulu kepada Dokter Kenzi.


"Kei..." ucap Layla.


"Iya sayang" jawab Kei.


"Lihat! Layla menunjuk seekor burung yang terbang tinggi ke langit, dihalaman rumah sakit.


Kei menatap burung itu ke atas langit, " iya, aku melihatnya."


Layla menoleh menatap Kei ke belakang.


"Suatu hari nanti, jiwaku akan terbang jauh ke sana."


Kei berjalan ke hadapan Layla dan jongkok di hadapannya. Ia letakkan satu jari di bibir Layla.


"Ssttttt, jangan bicara seperti itu. Kau akan hidup lebih lama bersamaku Layla."


Layla tertunduk sesaat, "kau tidak perlu menghiburku Kei" ucap Layla. "Aku tahu usiaku tidak akan lama lagi."


"Ah, aku punya kado buatmu."


Kei merogoh saku celananya, dan mengambil sebuah cincin yang berukirkan nama Layla dan Kei di cincin itu.


"Selamat ulang tahun Layla!" seru Kei kemudian mencium kening Layla dengan dalam.


"Terima kasih." Layal tersenyum menatap Kei.


"Pakailah, semua doa terbaik aku berikan hanya untukmu Layla" ucap Kei, sembari menyematkan cincin di jari manis Layla.


"Kau lihat?" ucap Asha. "semua orang menyayangimu Layla, jadi bertahanlah."


Layla menganggukkan kepala menatap Asha, tangannya terulur menyentuh tangan Asha.


"Kau, Valeri, Stela, sahabat terbaikku."


"Selamat ulang tahun sayang." Asha membungkukkan badan dan memeluk erat Layla.


"Sekarang kita pulang." Kei berdiri, di susul Asha. Kemudian mereka meninggalkan rumah sakit menuju rumah, di mana Raiden, Stela, Valeri dan yang lain menanti kedatangan Layla.

__ADS_1


__ADS_2