
"Layla, apa kau baik baik saja?" tanya Kei.
"Aku baik baik saja," jawab Layla.
"Ini minumlah." Kei memberikan air mineral dalam gelas.
"Terima kasih." Layla meminum air itu dengan tubuh gemetaran.
"Kau istirahat, aku akan menjagamu di sini," ucap Kei, ia turun dari atas tempat tidur.
"Kei.."
"Iya?" Kei menoleh menatap Layla.
Layla meraih tangan Kei, "berjanjilah padaku," ucap Layla. "Kau jangan bertengkar lagi dengan Rico." Mata Layla berkaca kaca.
Kei duduk di tepi tempat tidur, ia mengulurkan tangannya mengusap air mata Layla yang hampir saja menetes di pipinya.
"Aku berjanji sayang," ucap Kei. "Aku tidak akan bertengkar lagi, aku janji."
"Terima kasih."
"Sekarang kau istirahat, biar nanti Rico memeriksamu." Kei merebahkan tubuh Layla dan membenarkan bantalnya supaya Layla tidur dengan nyaman.
"Jangan pergi, aku takut sendirian."
"Tidak Layla, aku temani kau di sini."
Layla tersenyum samar, ia mencoba untuk menenangkan diri dengan memejamkan mata.
"Tidurlah sayang," ucap Kei. "Maafkan aku yang tak bisa berbuay banyak untukmu." Mata Kei berkaca kaca. Ia menggenggam erat tangan Layla dan mengecup jemari Layla dengan lembut.
Kei mencium tangan Layla cukup lama, semua ucapan Rico masih terngiang di telinganya, apa yang di katakan Rico, Kei membenarkannya. Ia merasa lemah dan tidak dapat berbuat banyak untuk Layla, Kei juga menyadari apa yang ia lakukan selama ini hanya menambah luka hati Layla semakin dalam. Tapi Kei juga tidak ingin meninggalkan Layla, meski raga terpisah, meski banyak halangan yang membuat Kei tidak dapat menjaga Layla seutuhnya. Kei berharap selalu ada di saat Layla tengah berjuang melawan kanker otaknya.
Salah memang, cara Kei melukai Layla dan juga Clara, tapi Layla sangat membutuhkan Kei saat saat ini, itu yang Kei pikirkan. Oleh sebab itu, Kei tidak perduli lagi hinaan yang akan dia terima.
***
Sementara itu Raiden yang berhasil membujuk Sila, karena Sila selalu menghalangi Raiden untuk membantu Layla, akhirnya Raiden bisa membantu Rico untuk menangkap Yudha.
"Ayo cepat," ucap Rico duduk di atas kursi mobil.
"Kita kemana?" tanya Raiden.
"Kau jalankan saja mobilnya, aku yang akan mengarahkanmu."
"Baik," kata Raiden.
__ADS_1
Kemudian Raiden dan Rico langsung meluncur ke tempat persembunyian Yudha.
"Aku penasaran dengan kau Rico?" ucap Raiden di perjalanan.
"Penasaran?"
"Ya, kau itu siapa? tanya Raiden. " Kau tahu banyak tentang Layla juga Yudha."
Rico melirik sesaat ke arah Raiden, "aku tahu semua hal tentang kau, dan juga dendam Yudha terhadapmu."
"Wow!" seru Raiden. "Lalu kau siapa?" tanya Raiden lagi.
"Sudahlah, kau fokus ke jalan, sebentar lagi kita sampai," ucap Rico mengalihkan pembicaraan.
"Oke, oke."
Tak lama kemudian, mereka telah sampai di sebuah gang menuju perumahan elit.
"Kau telpon polisi sekarang juga," perinta Rico.
"Baik," jawab Raiden.
Raiden merogoh saku celananya, dan mengambil ponsel miliknya, kemudian Raiden menelpon kantor Polisi. Sementara Rico mengawasi rumah besar dengan no 20.
"Bagaimana?" tanya Rico dengan tatapan terus ke arah pintu rumah yang di tempati Yudha.
"Sudah, Polisi segera datang," jawab Raiden. "Bagaimana kau tahu ini rumah si Yudha?" tanya Raiden.
"Jadi?"
Rico menganggukkan kepala, "Yudha selama kabur dari penjara, telah melakukan dua kali operasi wajah untuk mengelabui Polisi, dan Yudha tinggal di rumah Sinta, wanita yang baru dia nikahi satu bulan ini, dan Sinta adalah teman sekolahku dulu." Rico menjelaskan semua tentang Yudha. Itulah mengapa Yudha berhasil lolos dari pengejaran Polisi.
"Dia memang licik dan licin!" seru Raiden.
"Bisnis ilegal yang di biayai istri barunya, berjalan sukses di luar negeri." Rico menambahkan informasi daftar kejahatan Yudha.
Tak lama kemudian, suara sirine dari mobil Kepolisian datang langsung mengepung rumah Yudha, sementara Raiden dan Rico memperhatikan dari luar untuk mengantisipasi kaburnya Yudha. Dan benar saja, Raiden dan Rico melihat Yudha menyelinap lewat pintu belakang menuju jalan raya.
"Kita kejar Yudha!" seru Rico.
Rico keluar dari pintu mobil dan mengejar Yudha yang melarikan diri, disusul Raiden dari arah belakang.
"Yudha! jangan kabur kau!" seru Rico sambil terus berlari kencang menyusuri tepi jalan raya.
Yudha menoleh ke belakang, ia melihat Rico dan Raiden tengah mengejarnya. Yudha berbelok hendak menyebrang jalan menuju persimpangan, namun sial dari arah yang berlawanan sebuah sedan mewah muncur dengan sangat cepat dan menabrak Yudha hingga terpental jaub dan berguling guling di jalan aspal.
"Brukkkkk!!!
__ADS_1
Yudha berhenti berguling menabrak mobil lain yang melintas dari arah lain. Tak ayal tubuh Yudha terbawa arus mobil hingga beberapa meter, lalu mobil itu baru berhenti.
Raiden dan Kei menghentikan langkahnya melihat kejadian tabrakan itu, " tamat riwayatmu Yudha," gumam Rico.
Sementara Raiden begidik ngeri melihat darah berceceran dan kepala Yudha pecah, dan Yudha pun tewas seketika itu juga.
Tak lama kemudian, suara mobil sirine milik Polisi datang, dan jalan raya yang tadi lancar berubah macet total.
"Ayo kita pulang," ucap Rico menepuk pundak Raiden.
Raiden menutup mulutnya, ia merasakan mual hendak mau muntah melihat darah segar. Kemudian Raiden dan Rico kembali menuju mobil miliknya untuk secepatnya kembali ke rumah.
***
Sesampainya di rumah Layla, Rico mendapati Layla tengah tertidur lelap setelah di berikan obat penenang.
"Apa yang terjadi denganmu Rai?" tanya Kei melihat Raiden yang mual mula.
Raiden menceritakan apa yang telah terjadi, "Yudha sudah tewas, selama ini dia bersembunyi di rumah istri barunya yang baru dia nikahi satu bulan ini."
"Sayang sekali, kenapa dia tidak menyerahkan diri saja, mungkin hal itu tidak akan terjadi." Kei duduk di kursi.
"Siapapun tidak bisa menghindar dari maut," sahut Rico sinis.
"Aku tidur dulu, rasanya aku pusing," ucap Raiden lalu ia berdiri dan melangkahkan kakinya menuju kamar tamu.
"Kau masih di sini?" tanya Rico.
"Aku menunggu Layla bangun," jawab Kei.
"Kei, ini sudah hampir malam," ucap Rico. "Apakah sikap dan tindakanmu itu tidak akan berimbas pada Layla juga?" sindir Rico.
Kei mendengus kesal, ia menatap tajam Rico.
"Iya aku tahu, tapi..." Kei tidak melanjutkan ucapannya.
"Aku tahu kau mencintai Layla," potong Rico. "Tapi tidak begini caranya, justru sikap dan tindakanmu selalu merugikan Layla."
"Aku males ribut denganmu," ucap Kei bangun dan berdiri. "Baik, aku pulang sekarang." Kei melangkahkan kakinya.
"Loh, Den? mau kemana?" tanya Mbok Darmi.
Kei menghentikan langkahnya, "pulang Mbok."
"Kalau Neng Layla cariin Den Kei bagaimana?" tanya Mbok Darmi lagi.
"Biarkan dia pulang Mbok, dia sudah punya keluarga!" potong Rico.
__ADS_1
"Aku pulang dulu Mbok," ucap Kei pelan, ia melirik sesaat ke arah Rico, lalu ia kembali melangkahkan kakinya keluar.
"Pria tidak punya pendirian seperti itu," gumam Rico.