
Perlahan Layla membuka mata, ia menatap sekitar ruangan mencari keberadaan Kei, namun yang ia lihat Rico tengah duduk di sofa memperhatikannya.
"Rico..."
Rico bangun dan berdiri, ia langsung mendekati Layla dan duduk di tepi tempat tidur.
"Kau butuh sesuatu?" tanya Rico.
Layla bangun dan duduk di atas tempat tidur, "di mana Kei?" tanya Layla.
Rico memalingkan wajahnya ke samping, lalu kembali menatap Layla, " Kei sudah pulang, dia punya keluarga Layla," ucap Rico.
"Ya, aku tahu," jawab Layla menundukkan kepala.
"Aku tahu ini sulit, tapi sadarilah kalau dia sudah berkeluarga," ucap Rico. "Kau sama saja menyiksa dirimu sendiri, dan itu bukan cinta namanya!" Rico menaikkan nada suaranya.
"Kau kenapa Rico?" tanya Layla. "Bukankah kau hanya Dokter yang merawatku? lalu kenapa kau ikut campur masalah pribadiku?" tanya Layla lagi. Layla heran dengan semua sikap dan ucapan Rico.
"Jelas aku akan ikut campur dengan semua urusan pribadimu mulai sekarang Layla!" Rico berdiri dan memutar tubuhnya melangkahkan kaki menuju pintu kamar.
"Aneh..." gumam Layla. "Rico tunggu!" seru Layla.
Rico menghentikan langkahnya, ia menoleh ke arah Layla.
"Aku bosen di kamar, aku mau keluar kamar," ucap Layla. "Aku juga lapar."
Rico kembali berjalan mendekati Layla, dia langsung mengangkat tubuh Layla dan menggendongnya ke kamar mandi.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Layla bingung.
"Kau bersihkan badanmu dulu, baru kau makan." Rico meletakkan Layla di atas bak mandi yang berukuran besar.
"Dingin Rico..." keluh Layla.
Rico tidak perduli dengan keluhan Layla, ia membersihkan wajah Layla dengan lembut. Tak lupa ia memberikan pasta gigi dan sikat giginya.
"Bersihkan gigimu, biar tidak ada kuman," ucap Rico.
Layla perlahan mengambil pasta gigi dan sikatnya, dengan tatapan bingung pada Rico.
"Kenapa?" tanya Rico.
__ADS_1
Layla menggelengkan kepala, "tidak ada."
"Cepat sikat gigimu, dan bersihkan badanmu," ucap Rico, ia berdiri. "Aku tunggu kau di luar kamar, jika sudah selesai panggil aku." Rico balik badan dan meninggalkan Layla di kamar mandi.
Layla menganggukkan kepala, ia menatap punggung Rico hingga hilang dari balik pintu.
"Aneh, kadang baik kadang kasar," gumam Layla.
Tak lama kemudian Layla telah selesai, ia memanggil Rico, namun yang masuk Mbok Darmi. Kemudian Mbok Darmi mulai membersihkan badan Layla dengan handuk.
"Sebentar, Mbok panggil Den Rico dulu." Mbom Darmi melangkahkan kakinya ke luar kamar mandi.
Tak lama Rico masuk ke kamar mandi dan mengangkat tubuh Layla yang hanya menggunakan handuk.
"Seger kan?" tanya Rico.
Layla menganggukkan kepala, ia hanya diam saat Rico mulai menggendong tubuhnya dan meletakkan Layla diatas tempat tidur.
"Sekarang pakai pakaianmu." Rico meminta Mbok Darmi untuk memakaikan pakaian Layla, sementara dia menunggu di luar pintu. Tak lama kemudian Mbok Darmi memanggil Rico untuk membawa Layla ke luar kamar.
"Kau cantik, masih cantik seperti saat ulang tahunmu Layla," ucap Rico sambil menggendong Layla ke luar kamar, kali ini Rico tidak membiarkan Layla duduk di kursi rodanya.
Siapakah Rico?
***
"Rico seorang Dokter, tapi sikap dan ucapannya sangat aneh," gumam Kei, ia duduk melamun di balkon memikirkan semua yang terjadi tadi sore.
"Dia seperti sangat mengenal Layla dan sikapnya seperti layaknya kekasih terhadap Layla."
Kei merasa ada yang ganjal dengan Dokter Rico, Rico yang baru saja masuk di kehidupan Layla. Tapi Rico seolah olah bagian dari hidup Layla.
"Tidak, tidak akan aku biarkan Rico merebut perhatiannya dariku," ucap Kei pelan.
Kei tidak menyadari kalau Clara telah berdiri di belakangnya dan mendengarkan semua ucapan Kei.
Clara tertawa di belakang Kei, membuat Kei terkejut. Kei menoleh ke belakang dan melihat Clara mentertawakannya.
"Apanya yang lucu?" Kei berdiri menatap Clara.
Clara menghentikan ucapannya, ia tahu Kei tengah stres memikirkan Layla dan Rico. Clara mulai melancarkan aksinya untuk mendapatkan kesempatan bersama Kei, hal yang di dambakan Clara sepanjang pernikahannya dengan Kei, Kei tidak pernah menyentuh Clara sedikitpun.
__ADS_1
"Apa yang kau bawa di belakangmu?" tanya Kei, menatap tangan Clara yang menggenggam segelas minuman segar yang telah di campur obat.
"Kei," ucap Clara lembut. "Aku tahu kau sedang bingung memikirkan Layla, aku tahu juga kalau aku telah salah memisahkan kau dengan Layla."
"Kau tidak sedang bercanda bukan?" tanya Kei.
Clara menggelengkan kepala, "tidak Kei..."
"Sukurlah kalau kau sadar akan posisimu," jawab Kei.
Jawaban Kei sangat menusuk hati Clara, namun Clara berusaha menyembunyikannya, ia tidak ingin usahanya gagal untuk memisahkan Kei dan Layla dengan caranya.
"Sebagai permintaan maafku, aku membuatkan minuman segar rasa leci kesukaanmu."
Clara memberikan minuman segar pada Kei, Kei terdiam sesaat menatap minuman itu, lalu ia beralih menatap Clara yang tengah tersenyum padanya.
"Baiklah..." ucap Kei.
Kei mengambil minuman itu, dan menyecapnya sampai habis.
"Terima kasih." Kei mengembalikan gelas itu pada Clara, kemudian duduk di atas kursi lagi.
Clara tersenyum menatap Kei. Ia berjalan menuju meja dan meletakkan gelas di atas meja. Clara menunggu obatnya bereaksi dan dia naik ke atas tempat tidur Kei.
Detik berlalu, menitpun berganti. Clara mulai melihat reaksi Kei. Kei nampak gelisah dan berkali kali mengusap wajahnya. Clara tersenyum saat melihat Kei semakin gelisah.
"Kemarilah Kei..."
Kei berjalan mendekati Clara, ia langsung naik ke atas tempat tidur dan mencium bibir Clara dengan penuh gairah. Clara tidak ingin menyia nyiakan kesdmpatan itu, ia langsung membalas ciuman panas Kei.
Seluruh ruangan kamar pribadi Kei me jadi saksi bisu. Malam itu hasrat terpendam yang Clara idam idamkan akhirnya kesampaian. Untuk kedua kalinya Kei mengkhianati cinta suci dan janjinya terhadap Layla.
Tiga puluh menit berlalu, akhirnya Clara mencapai puncak kepuasannha, ia terbaring lemas di samping Kei yang tertidur pulas, Clara menarik selimut dan membiarkan tubuh mereka tanpa memakai sehelai benangpun. Clara ikut tertidur di samping Kei hingga pagi menjelang.
Kei membuka mata perlahan, ia mengucek matanya dan memegang kepalanya yang terasa sakit. Ia bangun dan duduk di atas tempat tidur. Ia mendapati Clara tertidur pulas di sampingnya. Kei mengusap wajahnya dan menyandarkan tubuhnya di bantal.
"Layla, maafkan aku...maafkan aku."
Kei mencengkram rambutnya sesaat, lalu ia memukul kepalanya sendiri, "Bodoh, bodoh," ucapnya. "Kenapa aku sebodoh itu masuk perangkap wanita ini!" Kei memaki dirinya sendiri. Ia bertanya pada dirinya sendiri, masih pantaskah ia di cintai Layla? sucikah cintanya pada Layla?"
Kei turun dari tempat tidur, ia bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan badan, setelah itu ia berniat menemui Layla.
__ADS_1