
"Keila bangun sayang." Clara menarik selimut di tubuh Keila, lalu ia melangkahkan kakinya menuju jendela kamar dan membuka tirai jendela.
"Iya Bunda." Keila bangun dan langsung turun dari tempat tidur.
"Bunda tunggu di meja makan, jangan sampai telat." Clara mengecup kening Keila dengan lembut. Lalu ia melangkahkan kakinya keluar kamar.
"Sekolah baru, teman baru" gumam Keila pelan. Lalu ia melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.
Tak lama kemudian Keila telah selesai. Ia terlihat rapi dengan pakaian seragamnya. Dengan tas yang menggantung di punggungnya. Lalu ia melangkahkan kakinya menuju ruang makan.
"Pagi Ayah, pagi Bunda." Keila mengecup pipi Clara dan Kei bergantian.
"Ayah yang antar kamu ke sekolah, Keila." Clara menuangkan susu hangat di gelas, lalu ia sodorkan kehadapan Keila.
"Baik Bundaku sayang" jawab Keila tersenyum menatap Clara.
Kei tersenyum menatap Clara dan Keila. Entah mengapa hari ini dia merasakan perasaan yang aneh, tapi ia sendiri tidak tahu kenapa.
"Sudah siang, ayo berangkat" ucap Kei.
"Iya Ayah"
Keila bangun dari duduknya, lalu ia berpamitan pada Clara. Setelah itu ia melangkahkan kakinya bersama Kei menuju sekolah baru Keila.
Tak membutuhkan waktu lama, Kei telah sampai di depan gerbang sekolah. Lalu Kei keluar bersama Keila. "Kau sudah siap sayang?" tanya Layla.
"Siap Ayah" Keila menganggukkan kepala menatap halaman sekolah.
"Kalau begitu, cepat masuk dan jangan nakal." Kei mencium kening Keila.
"Dah, Ayaah." Keila melangkahkan kakinya sembari menoleh dan melambaikan tangan pada Kei. Lalu ia memasuki gerbang sekolah.
Kei menghirup napas dalam dalam, menatap punggung Keila hingga hilang dari pandangan. "Harapan Bangsa" gumam Kei pelan. Kei mengedarkan pandangannya keseluruh taman. Dan tanpa Kei sadari ia melangkahkan kaki memasuki gerbang sekolah. Ia merasa sangat familiar dengan sekolah ini.
"Nak Kei?" sapa seseorang dari arah belakang.
Kei balik badan menatap pria paruh baya, yang mengenakan seragam Security.
"Kei?" Kei mengerutkan dahi menatap pria paruh baya yang bernama Dirman.
"Nak Kei masih hidup?" tanyanya lagi.
"Saya bukan Kei Pak, saya Samuel" jawab Kei tersenyum. Ia berpikir kalau Dirman salah orang. Mungkin ada orang yang mirip dirinya, pikir Kei.
"Oh, maaf Pak. Saya kira Nak Kei" Dirman membungkukkan badan sesaat.
"Tidak apa apa" jawab Kei sopan. "Saya permisi dulu Pak." Kei menundukkan kepala sesaat lalu ia melangkahkan kakinya menuju gerbang. Ada rasa penasaran dalam hatinya ingin bertanya tentang Kei. Nama itu terdengar sangat familiar di telinga Kei.
Lalu ia menghentikan langkahnya dan balik badan menatap Dirman yang masih terpaku menatapnya.
"Pak, boleh saya tahu? siapa Kei?" tanya Kei sendiri.
__ADS_1
Dirman tersenyum dan melangkah maju lebih dekat dengan Kei.
"Kei dulu sekolah di sini, dan Kei pacaran dengan putri pemilik sekolah ini Bu," ujar Dirman. "lima belas tahun yang lalu, Nak Kei di kabarkan hilang dan meninggal karena kecelakaan mobil." Dirman menjelaskan kronologi hilangnya Kei.
"Meninggal?" tanya Kei.
"Benar Bu, tapi jasadnya sampai sekarang tidak ditemukan."
Kei termenung, ia memikirkan kata kata Dirman. Ada perasaan aneh yang Kei tidak mengerti menyeruak di dalam hatinya.
"Kasihan sekali Nak Kei, sampai sampai Nak Layla mencarinya kemana mana" kata Dirman.
"Layla?" Kei menautkan kedua alisnya menatap Dirman.
"Benar Bu, Kei itu kekasihnya Nak Kei. Semua guru di sini tahu tentang kisah cinta Kei dan Layla."
"Degg"
Jantung Kei terhenyak, dan berdegup kencang. Kei mulai merasakan pusing di kepalanya. Lalu ia berpamitan pada Dirman. Dengan tergesa gesa Kei meninggalkan sekolah.
Satu menit sepeninggal Kei, sebuah mobil berhenti tepat di gerbang sekolah. Raiden keluar dari pinti mobil, lalu Raiden membantu Layla keluar dari mobil untuk duduk di kursi rodanya. Kemudian Raiden mendorong kursi roda layla memasuki gerbang sekolah. Sejak Layla mengalami kelumpuhan. Layla menjadi guru pengajar seni melukis di sekolah miliknya.
"Nak Rai!!" sapa Dirman.
Rai balik badan menatap Dirman yang mendekatinya. "Ada apa Pak?" tanya Raiden menghentikan langkahnya.
"Waduuuh..tadi bapak salah orang, jadinya malu sendiri" jawab Dirman.
"Tadi ada pria yang mirip dengan Nak Kei. Bapak pikir itu Nak Kei. Padahal bukan." Dirman tertawa kecil menatap Raiden
"Lalu siapa?" tanya Raiden
"Kalau tidak salah, namanya Pak Samuel. Tapi," ucap Dirman. "Wajahnya bagai pinang di belah dua dengan Nak Kei." Dirman menjelaskan ciri ciri pria yang di temuinya tadi.
Raiden dan Layla yang mendengarkan sempat tertegun. Mungkinkah Kei ada disini? atau memang ada orang lain yang sama?
Raiden menatap Dirman. "Bapak ini, mungkin kebetulan saja. Kalau begitu saya permisi Pak." Raiden menepuk lengan Dirman sesaat, lalu ia kembali mendorong kursi roda Layla.
"Ya Rabb, jika memang Kei masih hidup, pertemukan kami Ya Rabb" gumam Layla pelan. Menatap kosong ke depan.
***
Sesampainya di rumah, Kei langsung masuk ke dalam kamar. Ia merasa butuh istirahat karena kepalanya mengalami rasa sakit yang luar biasa nyeri. Bagai di hantam palu godam. Kei merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Ia berusaha memejamkan mata setelah minum obat. Tapi Kei tidak dapat memejamkan matanya. Nama Layla dan nama Kei terus terngiang ngiang di telinga Kei, dan menyebabkan rasa sakit di kepala Kei semakin hebat.
Ia bangun dan duduk di atas tempat tidur. Ia tutup kedua telinganya dengan kedua tangan, Kei menggelengkan kepala berkali kali.
"Tidak! tidak! tidaaaaakkkk!!" Kei berteriak histeris hingga terdengar oleh Minah Dan Clara yang baru saja keluar dari ruang kerjanya. Mereka langsung memasuki kamar Kei.
"Sam, kau kenapa!" seru Clara langsung mendekati Kei dan memeluknya erat.
"Tidaakk!!" Kei kembali menjerit histeris lalu ia jatuh pingsan dalam pelukan Clara.
__ADS_1
"Mbok! telepon Dokter Mira sekarang!" seru Clara.
"Baik Bu" jawab Minah, lalu ia bergegas keluar kamar.
Clara mengusap keringat di wajah Kei, ia merasa cemas dan takut kehilangan Kei.
Seandainya Kei sembuh dari amnesianya.
"Sam, bangun sayang" ucap Clara lirih.
Kemudian Clara merebahkan tubuh Kei dan menyelimuti Kei dengan selimut.
Berkali kali Clara menepuk pipi Kei dengan lembut Berharap Kei bangun.
Tak lama kemudian Dokter Mira datang langsung memasuki kamar Kei dengan di antar Minah. Lalu Dokter Mira memeriksa kondisi Kei.
"Apa yang terjadi Dok? apakah dia baik baik saja?" tanya Clara.
"Sepertinya dia berusaha keras mengingat siapa dirinya" Jawab Dokter Mira.
"Apa yang harus saya lakukan Dok?" tanya Clara.
"Jangan biarkan dia berpikir keras, berikan ketenangan." Dokter Mira mengambil kertas dan pena. Lalu ia menuliskan resep obat yang harus Clara beli.
"Apakah dia akan pulih secepatnya Dok?"
"Saya belum tahu, tapi semoga saja dia cepat pulih." Dokter Mira menyerahkan kertas pada Clara.
Clara menerima kertas itu perlahan. "Terima kasih Dok."
Kemudian Dokter Mira berpamitan untuk kembali ke Rumah Sakit.
"Sam, aku benar benar akan kehilanganmu." Clara duduk di tepi tempat tidur. Ia membelai pipi Kei dengan lembut.
Tak lama kemudian, Kei perlahan sadar dan membuka matanya. Ia menatap Clara yang terlihat sedih. Lalu ia bangun dan menyentuh tangan Clara.
"Apa kau baik baik saja?" tanya Kei
Clara tidak menjawab pertanyaan Kei, ia langsung memeluk erat Kei dengan segenap perasaan yang ia miliki.
"Aku takut kau akan meninggalkanku, Sam."
Kei tersenyum dan melepas pelukan Clara. "Kau ini bicara apa, siapa yang mau meninggalkanmu?"
Clara tersenyum samar, ia menundukkan kepalanya sesaat. Clara memutuskan untuk tidak memberitahu apa apa pada Kei.
"Aku buatkan coklat hangat ya."
Kei menganggukkan kepala, ia menatap Clara yang terlihat murung, "iya".
Sepeninggal Clara, Kei termenung. Dia merasa asing di rumah Clara, dan Kei merasakan ada sesuatu yang hilang dalam dirinya. Tapi Kei tidak mengerti apa yang sedang dia rasakan saat ini, dan itu sangat menyiksa perasaan Kei.
__ADS_1