Kei Dan Layla

Kei Dan Layla
Chapter 38: Keheningan.


__ADS_3

Satu minggu berlalu sejak kematian Dinda. Suasana rumah Yuda menjadi tidak tenang. Setiap hari Yuda meratapi kematian Dinda dan tidak berhenti menimpakan kesalahan kepada Kei dan Layla. Setiap hari Yuda pulang dalam keadaan mabuk berat.


Kei sendiri menjadi serba salah. Ia tidak mungkin meninggalkan Yuda untuk kembali ke rumahnya sementara Yuda dalam keadaan tidak stabil. Setiap hari Kei harus mendengarkan sumpah serapah Yuda. Bukan hanya sekali saja Yuda memukul Kei saat mabuk berat. Kei sendiri menjadi merasa bersalah atas kematian Dinda. Meskipun itu bukan kesalahannya.


Di setiap malam dalam keheningan Kei coba untuk lebih memaknai dari setiap perjalanan hidup yang telah ia lalui. Semua peristiwa yang telah menimpanya. Timbul pertanyaan dalam dirinya. 'Apa yang aku cari? apa yang temukan?'


Suara ayam berkokok di kejauhan pertanda hari sudah pagi. Kei bangun dan membuka matanya perlahan. Ia menoleh ke sampingnya berharap Dinda masih ada dan selalu menyapanya di setiap Kei bangun. Mungkin akan lain situasinya pikir Kei.


"Ahhh!"


Kei mengusap wajahnya perlahan lalu ia turun dari tempat tidur langsung masuk ke kamar mandi.


Tiga puluh menit berlalu, Kei telah selesai dengan dirinya. Ia langsung bergegas ke luar kamar. Hari ini ia berencana untuk ke rumah Layla untuk meminta saran saran. Kei lebih memilih Layla untuk diskusi dari pada orang tuanya sendiri. Sejak keputusan orang tuanya untuk memaksakan Kei menikah dengan Dinda karena harta. Kei kehilangan kepercayaannya pada orang tuanya sendiri. Tapi bukan berarti Kei tidak menyayangi dan menghormati ke dua orangtuanya.


"Kau mau kemana? tanya Yuda.


Kei menoleh menatap Yuda yang tengah duduk di kursi dalam keadaan mabuk berat. Di tangannya Yuda memegang satu botol Vodka. Kei beralih menatap meja yang berjajar botol botol minuman bekas Yuda semalam.


" Aku ada urusan keluar." Kei menatap Yuda sedih.


Yuda tertawa kecil, ia bangkit dari duduknya dan berjalan sempoyongan mendekati Kei.


"Menemui Layla, bukan begitu?" ucap Yuda dengan tatapan mencemooh.


Kei menundukkan kepala sesaat. "Iya" jawab Kei tegas.


"Prankkkk!!


Yuda melemparkan botol minuman ke lantai hingga botol itu hancur berantakan. "Sudah kuduga, kalian memang pembunuh anakku." Yuda menatap Kei dengan rasa benci.


"Pa, Papa jangan salah paham dulu."


"Cukup!" seru Yuda.


Yuda kembali berjalan dengan sempoyongan ke arah kursi lalu ia duduk telentang.


"Kau pembunuh Dinda, Kei..." ucapnya lirih, Yuda menangis layaknya anak kecil.


Kei menghela napas dalam, ia berjalan mendekati Yuda dan berusaha mengangkat tubuh Yuda untuk di bawa ke kamar. Perlahan Kei memapah tubuh Yuda memasuki kamar pribadi Yuda dan membaringkannya di atas tempat tidur.

__ADS_1


Yuda terus meracau, kata kata makian ia terus keluarkan sembari menangis, kadang di selingi ketawa. Kei diam berdiri mematung menatap Yuda. Akhirnya Yuda pun tertidur dengan genangan air mata masih membasahi pipi Yuda yang mulai terlihat kerutan di sekitar mata.


Kei mengambil tisu di atas meja yang tak jauh dari tempat tidur, lalu ia menyeka air mata Yuda dan menyelimuti tubuh Yuda. Setelah itu Kei kembali keluar, sebelumnya ia berpesan pada asisten rumah tangganya untuk menjaga Yuda selagi ia pergi.


***


Lima belas menit berlalu, akhirnya Kei telah sampai di halaman rumah Layla. Ia melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul 9:30. Kei langsung keluar dari mobil dan berjalan menuju pintu rumah Layla. Tapi sebelum Kei mengetuk pintu, Mbok Darmi yang datang dari arah belakang memberitahu Kei kalau Layla ada di taman sedang melukis.


Kei langsung memutar arah menuju taman tempat Layla melukis. Sesampainya di taman, Kei melihat Layla yang menggunakan sweater hitam kontras dengan warna kulitnya yang putih. Kei langsung menghampiri Layla.


"Layla" sapa Kei dari belakang.


Layla menoleh ke belakang menatap Kei yang sudah berdiri di belakangnya.


"Kei?" tanya Layla. "Kapan kau datang?"


Kei tertunduk sesaat lalu ia berjalan lebih dekat dengan Layla dan duduk di sampingnya.


"Baru saja" jawab Kei


"Maaf, aku tidak datang ke pemakaman Dinda." Layla menatap Kei sesaat, lalu ia menundukkan kepalanya.


"Tidak apa apa Layla." Kei menyentuh pundak Layla sesaat.


"Layla,"-Kei menoleh menatap Layla-" aku bingung saat ini."


"Kenapa?" tanya Layla.


Kei mulai menceritakan semua situasi di rumah Yuda dan perasaan ia saat ini yang berada di situasi serba salah, dari sejak kematian Dinda. Kei pun menceritakan semua kemarahan Yuda padanya.


"Itu yang terjadi sekarang Layla" kata Kei di akhir ceritanya.


Layla menarik napas dalam, ia sangat mengerti posisi Kei saat ini. Dan Layla juga bisa memahami akan situasi Yuda saat ini. Tapi Layla tidak dapat memberikan saran yang di minta Kei. Layla hanya bisa menguatkan hati Kei saja.


"Kei," ucap Layla. "Lakukan saja apa kata hatimu, jangan dengarkan apa kata orang lain." Layla meraih tangan Kei dan mengusapnya pelan.


"Tapi Layla-?"


"Kei, kau menjalani hidup bukan apa kata orang lain, tapi kau hidup apa kata hatimu." Layla memperjelas lagi pernyataannya.

__ADS_1


Kei terdiam menundukkan kepala, menatap tangan Layla yang mengusap tangannya pelan. Entah ia harus bahagia saat ini, atau sebaliknya?"


"Kenapa kau diam?" tanya Layla.


"Aku tidak tahu, mengapa Papa begitu bencinya terhadapku." Kei menatap wajah Layla.


"Kau tidak bisa memaksa orang lain untuk menyukaimu, dan kau juga tidak bisa mencegah orang lain untuk membencimu." Layla menarik tangannya dari tangan Kei.


Layla berdiri dan berjalan menuju meja yang tak jauh dari tempatnya duduk. Ia mengambilkan air mineral pada Kei, lalu di berikan pada Kei.


"Jangan terlalu banyak pikiran, lakukan saja apa yang menurutmu benar, meski itu salah menurut orang lain."


Kei mengambil botol air mineral dari tangan Layla, ia tengadah menatap wajah Layla.


"Baik" kata Kei.


Layla tersenyum, lalu ia kembali duduk di sampingnya dan berkata, "cinta itu konsisten, sementara kasih sayang adalah memberi tanpa pengembalian." Layla menoleh menatap Kei.


Kei tersenyum, ia menganggukkan kepala sesaat, lalu ia membuka botol air mineral dan menenggaknya.


"Jadi, lakukan itu semua dengan kasih sayang dan cinta. Rawat Om Yuda seperti Ayahmu sendiri" ucap Layla dengan lembut dan tegas.


"Terima kasih, Layla."


Layla menganggukkan kepala, lalu ia kembali melanjutkan melukis. Sementara Kei berpamitan pada Layla untuk kembali pulang.


"Hati hati di jalan" imbuh Layla, tersenyum menatap Kei.


Kei menganggukkan kepala, lalu ia berdiri dan melangkahkan kakinya menuju halaman rumah Layla. Sesampainya di halaman rumah Layla, Kei melihat Raiden baru saja keluar dari pintu mobil dan menatap Kei.


"Kei?" sapa Raiden, alisnya bertaut menatap Kei.


"Hai, apa kabar?" Kei menyapa balik Raiden.


"Baik..aku turut berduka cita..." ucap Raiden


Kei menganggukkan kepala menatap Raiden.


"Kalau begitu aku pulang dulu."

__ADS_1


"Oh, silahkan." Raiden menundukkan kepala sesaat. Lalu ia mempersilahkan Kei untuk pulang.


Raiden menghela napas dalam menatap mobil Kei yang meninggalkan halaman rumah Layla. Ia berdiri dan terpaku cukup lama. Ada yang Raiden khawatirkan saat ini. Raiden sangat takut jika Layla akan kembali pada Kei setelah kematian Dinda. Raiden juga sangat takut jika Layla benar benar meninggalkannya. Raiden belum siap untuk itu.


__ADS_2