
Siang itu Layla sudah bersiap siap menunggu Raiden menjemputnya. Tak lama kemudian Layla mendengar suara mobil terparkir di luar rumah. Layla bergegas keluar rumah untuk memeriksa. Nampak Raiden dengan penampilan sederhana menggunakan kaos berwarna putih dan celana pendek selutut tengah tersenyum mendekati Layla.
"Apa kau sudah siap?" Tanya Raiden pada Layla.
Layla menganggukkan kepala. "Iya."
"Kalau begitu kita berangkat, eh apakah kau sudah bilang dulu sama Bu Kartika?" Tanyanya.
"Sudah." Jawab Layla singkat.
"Oke, yuk berangkat." Raiden berjalan menuju mobil di ikuti Layla dari belakang. Kemudian Raiden membukakan pintu mobil untuk Layla. Setelah Layla masuk ke dalam mobil Raiden menyusul Layla masuk ke dalam mobil dan menjalankan mobilnya menuju rumah Raiden.
Sepanjang perjalanan, Raiden meminta Layla untuk melantunkan puisi. Karena Raiden sangat menyukai puisi Layla. Dengan senang hati Layla melantunkan beberapa puisi, dan Raiden tidak tahu sama sekali jika puisi yang Layla lantunkan di tujukan hanya untuk Kei seorang.
Tak lama kemudian Raiden dan Layla telah sampai dihalamn rumah Raiden yang sangat megah. Raiden menepikan mobilnya lalu keluar dari pintu mobil dan membukakan pintu mobil lainnya untuk Layla. Lalu Raideng mengajak Layla masuk ke dalam rumahnya yang megah. Sesampainya di dalam rumah, Layla memperhatikan seluruh ruangan dan terlihat sepi. Karena Raiden tinggal sendirian di rumah itu hanya di temani dua orang asisten rumah tangga. Ke dua orang tua Raiden ada di luar di Jepang. Sementara dia menjalankan bisnis Ayahnya yang ada di indonesia sebagai cabang dari bisnisnya di Jepang.
"Duduk." Raiden mempersilahkan Layla duduk di kursi ruang tamu.
Tak lama kemudian seorang wanita masuk dengan membawakan minuman dan cemilan dan diletakkan di atas meja. Setelah selesai wanita itu kembali ke dapur.
"Apa kau tidak kesepian tinggal di rumah sebesar ini sendirian?" Tanya Layla sembari menatap sekitar ruangan.
"Kesepian sih, tapi aku belum punya calon istri yang bisa ku ajak tinggal di sini." Jawab Raiden.
"Kenapa kau tidak segera mencari calon istri?" Tanya Layla lagi.
"Belum ada yang cocok." Jawab Raiden menatap Layla. Ada rasa tertarik Raiden terhadap Layla yang sederhana dan terlihat cuek.
"Oh, mau aku bantu cari?" Ucap Layla sambil tertawa kecil menggoda Raiden.
"Boleh, tapi aku mau nya kamu sih." Jawab Raiden.
Layla berpikir ucapan Raiden baru saja sekedar candaan. " Oh, boleh tuh." Jawab Layla sekenanya.
"Serius??!"
Layla tertawa melihat ekspresi Raiden yang melebarkan matanya menatap Layla. " Tidak, aku hanya bercanda." jawab Layla.
__ADS_1
"Oh." Ucap Raiden pelan.
Di tengah percakapan antara Raiden dan Layla mulai menghangat karena kepribadian Layla yang mudah membawa diri membuat siapapun akan nyaman bila berbincang bincang dengan Layla. Tiba tiba ponsel milik Raiden berbunyi. Raiden merogoh saku celananya dan mengambil ponselnya. Ditatapnya layar ponsel tertera nama Yuda.
"Sebentar Layla." Ucap Raiden. Lau ia menggeser icon yang berwarna hijau dan meletakkannya di telinga.
"Halo selamat siang." Sapa Raiden.
"Oh, Pak Yuda. Ada apa?" Tanya Raiden lalu ia berdiri dan berpindah tempat, sehingga Layla tidak bisa mendengar percakapan mereka. Sepuluh menit berlalu Raiden telah selesai bicara di telpon dan kembali duduk di kursi. "Maaf ya Layla, baru saja Yuda menelpon saya. Dia meminta saya untuk join di perusahaannya yang mulai bermasalah." Ucap Raiden menjelaskan tanpa Layla minta.
"Oh." Jawab Layla singkat.
"Dia mau kesini bersama Putrinya, sekalian mampir katanya."
Layla hanya menganggukkan kepala, mendengarkan penuturan Raiden.
"Tittt!" Suara klakson mobil terdengar dari halaman rumah Raiden.
"Nah, itu pasti mereka. Apa kau tidak keberatan kita ngobrol dengan Yuda, Layla?" Tanya Raiden.
"Mbok, tolong bukakan pintu." Raiden meminta asisten rumah tangganya untuk membukakan pintu setelah terdengar suara bel berbunyi. Tak lama kemudian tamu yang di maksud Raiden memasuki rumah.
"Selamat siang Pak Yuda."
"Siap Pak Rai." Jawab Yuda sembari mengulurkan tangan menjabat tanga Raiden.
"Ini Dinda putri saya." Ucap Yuda.
Layla terhenyak mendengar nama Dinda, mengingatkannya pada Dinda istrinya Kei. Layla menoleh ke belakang menatap Tuda dan Dinda. Betapa terkejutnya Layla melihat mereka berdua yang sudah Layla kenali. Layla tidak mengira akan bertemu lagi dengan mereka di rumah Raiden.
"Kau!" Seru Yuda saat melihat Layla.
"Layla?" Ucap Dinda menatap Layla.
Sementara Raiden mengerutkan dahi memperhatikan mereka semua. Raiden mencoba mengikuti alur yang terjadi.
"Gadis gila! sedang apa kau disini? oww..jangan jangan kau sedang merayu Pak Rai karena sudah tidak mendapatkan Kei? dasar murahan!" Yuda langsung menghina Layla karena masih kesal sudah di permalukan Layla di pesta pernikahan iti. Semenjak ke jadian itu Usaha Yuda semakin menurun drastis.
__ADS_1
"Pa! sebaiknya kita pulang, aku tidak mau melihat dia!" Dinda menarik tangan Yuda untuk segera pulang.
"Maaf Pak Rei, saya permisi dulu, soal bisnis kita bicarakan besok di kantor." Ucap Yuda menatap Raiden yang mengerutkan dahi tak mengerti.
"Dan kau gadis gila, jangan coba coba merusak Pak Rai !" Hardik Yuda menatap marah pada Layla. Sementara Layla hanya diam mematung tanpa membalas kata kata Yuda.
"Permisi Pak, saya berubah mood gara gara melihat gadis yang tidak waras itu." Ucap Yuda. Lalu ia undur diri meninggalkan rumah Raiden. Raiden menyilangkan ke dua tangannya di dada menatap kedua bola mata Layla yang berkaca kaca. "Apa kau baik baik saja?" Tanya Raiden pada Layla yang hanya berdiri mematung dan membiarkan air matanya jatuh.
"Layla, kalau kau tidak keberatan. Ceritakan padaku apa yang sebenarnya tetjadi."
Layla menjatuhkan tubuhnya di kursi dan menangis sesegukan dengan menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Layla kembali merasakan pedih, luka lama yang coba dia simpan dengan rapi di relung hatinya yang dalam dan dia kunci rapat rapat. Akhirnya kembali luka itu menganga.
Raiden menurunkan kedua tangannya, lalu ia jongkok di hadapan Layla. "Layla dengar, beritahu aku ada apa? dan apa hubunganmu dengan Yuda dan Putrinya itu?" Tanya Raiden semakin penasaran. Kemudian Raiden mengambil tisu yang ada di atas meja lalu di sodorkan pada Layla.
"Hapus air matamu Layla."
Layla menurunkan tangannya dan mengambil tisu di tangan Raiden. Ia seka air matanya dan mulai bicara. "Kau mau tahu?" Tanya Layla. Raiden menganggukkan kepala dan berdiri lalu duduk di samping Layla. Layla mulai menceritakan awal pertama kenal Kei hingga berujung di pernikahan. Dengan derai air mata terucap kata rindu untuk Kei, di akhir cerita Layla.
Raiden menarik napas dalam dalam, ia terharu mendengar kisah cinta Layla. Dia baru mengerti kenapa Layla seperti ini. Hidup sendiri jauh dari orang tuanya. Raiden semakin kagum dan menyukai Layla, ada keinginan terbersit di kepalanya untuk membantu Layla. Tapi dia juga geram dengan ke dua orang tua Kei yang telah menjual darah dagingnya sendiri demi harta.
Raiden menarik bahu Layla dan dia sandarkan kepala Layla di pundaknya.
"Hapus air matamu Layla, sudah cukup kau menangis. Kau wanita tangguh dan aku menyukaimu." Ucap Raiden mengungkapkan apa yang dia pikirkan tentang Layla.
"Kau tidak malu berteman denganku, setelah kau tahu semua ini?" Tanya Layla di sela isak tangisnya.
"Tidak Layla, kau gadis yang berbeda, kau unik." Jawab Raiden.
"Aku minta maaf, gara gara aku mengajakmu ke sini malah membuat kau terluka." Ucap Raiden menatap Layla.
"Bukan salahmu Rai." Jawab Layla.
Sesaat hening tidak ada pembicaraan. Layla memikirkan Kei, sementara Raiden memikirkan Layla.
"Rai, sebaiknya aku pulang." Ucap Layla lalu berdiri menatap Raiden.
"Baiklah jika itu maumu." Jawab Raiden lalu berdiri dan menggenggam tangan Layla. Akhirnya Raiden mengantarkan Layla pulang dalam keadaan sedih. Berkali kali Raiden meminta maaf.
__ADS_1