Kei Dan Layla

Kei Dan Layla
Chapter 49: Sebuah rasa


__ADS_3

Pagi yang cerah, angin sepoi sepoi,udara dingin di iringi semilir angin. Layla duduk termenung di kursi balkon kamarnya. Sudah lebih dari satu bulan, Layla tidak pernah mengajar di sekolah lagi. Teman temannya sering menjenguknya karena kondisi Layla sering sakit sakitan. Tiada kebahagiaan selain fajar tiba, itulah yang Layla rasakan kini.


Layla tersenyum puas, segala jiwa yang mengkerut, menikmati setiap detail perjalanan hidup yang penuh dengan ketidakpastian. Dalam kelembutan fajar yang meneluknya seakan memasuki alam sukma terdalam dirinya sendiri.


Sebelum malam mengambil siang, sebelum cahaya habis di telan sang kegelapan. Layla telah berpuas diri dengan apa yang kini ia miliki, yaitu keberadaannya sendiri. Menerima segala keutuhan yang ia miliki tanpa harus konflik dengan semua pikiran jahat yang setiap waktu memberikan sebuah kecemasan tiada akhir.


Saat saat seperti inilah, Layla menikmati kehidupannya sendiri. Kesunyian, kehampaan dan kesendirian adalah kekasih yang paling intim di antara semua keberadaan.


Layla menghirup udara dalam dalam, lalu ia mengambil sebuah koran pagi. Ia membuka tiap lembarnya, hingga matanya tertuju pada sebuah foto yang sangat familiar. Layla membacanya perlahan, ternyata Yuda melarikan diri dari penjara sejak seminggu yang lalu, sewaktu terjadi kebakaran di Rutan.


Layla menghela napas dalam dalam, lalu ia melipat koran itu kembali dan meletakkannya di atas meja. Ia kembali teringat akan masa kecilnya dulu, saat masih ada Ayah dan Ibunya. Masa kecil yang indah, perasaan yang polos dan kenangan tertawa riang bersama Ayah dan Ibunya. Masa kecil yang sangat indah lebih indah dari pada masa depan.


"Layla, kita kerumah sakit sekarang."


Layla menoleh ke samping, menatap Raiden.


"Baiklah."


Raiden mengangkat tubuh Layla, lalu ia pindahkan ke kursi roda dan mendorongnya keluar rumah. Setelah berpamitan pada Mbok Darmi dan Mang Usman yang sudah berusia sepuh. Lalu Raiden dan Layla pergi ke Rumah Sakit untuk memeriksakan kondisi Layla yang selalu merasakan sakit di kepala.


Lima belas menit berlalu, akhirnya Raiden telah sampai di rumah sakit. Layla langsung mendapatkan perawatan intensif. Ternyata selama ini Layla menyembunyikan penyakitnya. Layla terkena kanker otak dan Layla harus mendapatkan penanganan yang lebih serius lagi oleh Dokter ahli kanker.


Dokter Adrian menyarankan Raiden untuk di rawat oleh Dokter Kenzi.


"Pagi Dok" sapa Raiden mengulurkan tangan pada Dokter Kenzi.


Dokter Kenzi tersenyum menatap Raiden dan Dokter Adrian, membalas jabatan tangan Raiden.


"Mari, masuk ke ruangan saya." Dokter Kenzi mempersilahkan Raiden.


Raiden menganggukkan kepala, "Baik, Dok."


"Maaf Dok, saya tidak bisa ikut, ada pasien yang harus saya tangani." Adrian munundukkan kepala sesaat.


"Oh, tidak apa apa." Dr Kenzi tersenyum.


"Mari Dok, mari Pak Rai." Adrian menundukkan kepala sesaat, lalu ia balik badan melangkahkan kakinya.


"Mari." Dokter Kenzi melangkahkan kaki mendahului Raiden. Kemudian Raiden menyusul Kenzi dan duduk berhadapan dengan Dokter Kenzi.


Sesaat Dokter Kenzi menundukkan kepala menatap beberapa lembar hasil tes Lab pemeriksaan Layla.


"Dokter Adrian sudah lama memberikan file hasil tes Lab, tapi"-Dokter Kenzi menatap Raiden-" mengapa baru sekarang di bawa kesini?"


"Layla menyembunyikan penyakitnya dari saya Dok, saya baru tahu tadi dari Dokter Adrian." Raiden menatap Dokter Kenzi.


"Anda siapanya Nona Layla?" Kenzi mengangkat dua alisnya menatap Raiden.

__ADS_1


"Saya bukan anggota keluarganya Dok, tapi Layla selama ini saya yang merawat" ucap Raiden. "Layla hidup sebatang kara, orang tuanya telah tiada." Raiden menghela napas dalam.


"Maaf" ucap Dokter Kenzi menundukkan kepala sesaat.


"Dok, saya mau tanya," ucap Raiden. "Sudah stadium berapa kanker otak Layla?" tanya Raiden.


Kemudian Dokter Kenzi menjelaskan, kalau kanker otak Layla sudah stadium tiga, dan Dokter Kenzi mengatakan kalau Layla harus menjalani kemoterapi dan serangkaian operasi.


Raiden menangkup wajahnya, "Ya Rabb, kenapa kau uji Layla sedemikian rupa," Raiden menurunkan tangannya menatap Dokter Kenzi. "Apa yang harus saya lakukan Dok?" tanya Raiden.


"Jangan buat dia sedih, tetap buat dia tenang dan bahagia" ucap Dokter Kenzi.


Raiden menganggukkan kepala, ia berpikir bagaimana caranya membuat Layla bahagia.


Setelah semuanya selesai di bicarakan, Raiden meninggalkan ruangan Dokter Kenzi menuju ruangan di mana Layla di rawat. Dengan langkah gontai Raiden memasuki kamar rawat Layla.


"Hei..." ucap Layla pelan saat melihat Raiden masuk ke ruangannya.


Raiden duduk di kursi, "kenapa kau berbohong?" tanya Raiden menatap Layla.


"Bohong apa?" Layla balik bertanya.


"Tentang penyakitmu." Mata Raiden berkaca kaca.


Layla tersenyum meraih tangan Raiden yang ada di tepi tempat tidur, dan mengusapnya lembut.


"Rai, besok atau lusa aku akan meninggal juga," ucap Layla. "Apa yang harus aku takutkan?"


"Tapi Layla, kau tidak boleh putus asa." Raiden mengusap tangan Layla.


"Aku tidak putus asa," jawab Layla. "Apa aku terlihat seperti orang putus asa?" tanya Layla.


Raiden menggelengkan kepala, ia tersenyum dan mengecup tangan Layla.


"Aku tahu kau wanita yang tangguh, aku kagum padamu Layla."Mata Raiden menatap kagum pada Layla.


"Mulai deh lebaynya." Layla tertawa kecil. Di ikuti Raiden yang tertawa sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.


***


"Pagi Layla" sapa Dokter Kenzi.


Layla menoleh kesamping menatap Dokter Kenzi, "pagi juga Dok."


"Saya periksa dulu ya." Dokter Kenzi mengeluarkan alat medis nya dan memeriksa kondisi Layla.


Tak lama kemudian Dokter Kenzi selesai memeriksa Layla, "kau harus secepatnya melakukan operasi Layla" ucap Dokter Kenzi.

__ADS_1


Layla menggelengkan kepala, "saya mau pulang Dok."


"Tapi,"-Dokter Kenzi menatap Layla-" kenapa?"


"Di rumah, aku menemukan ketenangan Dok."


"Saya izinkan kau pulang Layla, tapi kau tetap dalam pengawasan saya. Dan kau harus secepatnya melakukan operasi, supaya cepat sembuh."


Layla tersenyum, "baik Dokter."


Kemudian Dokter Kenzi meminta Raiden untuk mensterilkan kamar Layla sebelum pulang kerumahnya, dan Dokter Kenzi pun memastikan akan tiap hari datang untuk memeriksa Layla.


Raiden mengiyakan perkataan Dokter Kenzi, lalu ia mempersiapkan segalanya sebelum Layla pulang kerumah.


Setelah semua selesai, sore harinya Layla di bawa pulang ke rumah. Dengan berbagai syarat dari Dokter Kenzi untuk menjaga kesehatan Layla.


***


Sementara itu, di rumah Clara. Kei tengah merasakan sakit kepala yang hebat. Hingga Kei jatuh pingsan. Dan Clara akhirnya memanggil Dokter Mira ke rumah.


"Bagaimana keadaan suami saya Dok?" tanya Clara khawatir.


"Ibu tidak perlu khawatir, Pak Sam baik baik saja," ucap Dokter Mira. "Gejala yang di alami Pak Samuel biasa terjadi, di karenakan Pak Samuel coba untuk mengingat siapa dirinya di masa lalu."


Clara menganggukkan kepala menatap Dokter Mira, "apakah suami saya bisa sembuh lagi Dok?" tanya Clara untuk memastikan bahwa Kei tidak perlu ingat lagi siapa dia di masa lalu.


"Bisa, Pak Samuel bisa sembuh lagi Bu. Berdoa saja" jawab Dokter Mira.


Clara menganggukkan kepala, ia sedikit merasa lega atas jawaban Dokter Mira. Setidaknya dia masih punya harapan. Karena ia dan Dokter Mira pun tidak tahu kapan Kei akan ingat kembali.


Setelah selesai, Dokter Mira berpamitan pulang. Sementara Clara berjalan memasuki kamar Kei. Ia melihat Kei sudah sadar dan duduk di atas tempat tidur.


"Bagaimana sakit kepalanya, Sam?" tanya Clara sambil duduk di tepi tempat tidur.


"Sudah lebih baik," jawab Kei. "Aku hanya mengingat seseorang, tapi aku tidak tahu siapa." Kei menatap lurus ke depan dengan tatapan kosong.


"Siapa?" tanya Clara ingin tahu.


"Entahlah, dia seorang wanita tengah kesakitan di rumah sakit" jawab Kei.


Clara menundukkan kepala sesaat, "lebih baik kau istirahat, jangan terlalu dipaksakan."


Kei menganggukkan kepala, lalu ia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.


"Aku buatkan kau teh hangat." Clara berdiri, sesaat menatap Kei. Lalu ia balik badan melangkahkan kakinya menuju dapur.


Disela sela langkahnya Clara berpikir keras bagaimana kalau Kei ingat semuanya? bagaimana kalau Kei meninggalkannya? Calar belum siap untuk hal itu. Tapi di hatinya yang paling dalam, ia merasa bersalah jika harus membiarkan Kei tidak ingat apa apa.

__ADS_1


__ADS_2