Kei Dan Layla

Kei Dan Layla
Bab 84: Rindu Ibu.


__ADS_3

Clara merasakan sakit di perut setelah mendapat kabar tentang kecelakaan yang dialami suaminya yaitu Kei.


"Sepertinya Bu Clara hendak melahirkan," ucap Dr. Kenzi. Lalu ia meminta perawat untuk membawa Clara ke ruang persalinan, sementara Dr. Kenzi kembali ke ruangan di mana Kei tengah di rawat.


Tiga puluh menit berlalu, proses persalinan Clara berjalan dengan lancar. Ia melahirkan bayi kembar berjenis kelamin perempuan dan laki laki.


"Selamat ya Bu..Anda memiliki putra putri yang sehat," ucap salah satu Dokter yang membantu persalinan Clara.


"Terima kasih Dok," jawab Clara. "Bagaimana keadaan suami saya Dok?" tanya Clara dengan tatapan cemas ke arah Dokter yang bernama Mira.


"Ibu tidak perlu khawatir, suami ibu sedang dalam perawatan tim ahli medis," jawab Dr. Mira. "Sebaiknya Ibu istirahat, suami ibu baik baik saja."


"Lakukan yang terbaik untuk suami saya Dok." Clara memegang tangan Dr. Mira.


Dr. Mira tersenyum sembari menganggukkan kepala. "Tentu saja Bu, itu tugas kami. Kalau begitu saya permisi dulu dan sebaiknya Bu Clara beristirahat."


Clara menganggukkan kepala, "terima kasih Dok." Dr.Mira tersenyum, lalu ia melangkahkan kakinya keluar ruangan.


Sementara itu, Dr Adrian yang baru saja keluar dari ruangan di mana Kei di rawat, ia berpas pasan dengan Dr. Kenzi.


"Bagaimana kondisi Layla sekarang?" tanya Dr. Adrian.


Dr. Kenzi menghela napas dalam dalam, "Layla mengalami pendarahan, dan sepertinya kita harus melakukan operasi," jawab Dr. Kenzi.


Dr. Adrian menganggukkan kepala, "baik Dok, lakukan yang terbaik." Dr. Adrian menepuk lengan Dr. Kenzi lalu mereka berjalan menuju ruangan di mana tempat Layla di rawat.


Disela sela langkahnya Dr. Kenzi bertanya tentang kondisi Kei, "bagaimana dengan Kei, Dok?" tanyanya.


"Kei masih belum sadar akibat pengaruh obat, dia akan secepatnya pulih."


"Syukurlah Dok," jawab Dr. Adrian.


***


Rico yang tengah duduk di kursi, langsung berdiri saat melihat Dr. Kenzi dan menghampirinya, "bagaimana kondisi Layla Doj? apakah dia mau melahirkan?" tanya Rico.


"Layla belum melahirkan, dia hanya kelelahan yang di akibatkan terlalu banyak beban pikiran..usahakan Layla tetap dalam keadaan tenang," jelas Dr. Kenzi. "Jika Layla tidak tenang, itu akan berakibat fatal pada penyakit kanker otaknya juga bayi dalam kandungan. Jadi saya sarankan untuk tidak membebani dia dengan hal hal yang membuatnya stres."

__ADS_1


Rico menganggukkan kepala, "baik Dok, saya akan berusaha semaksimal mungkin," jawab Rico.


"Oya, saya hendak memberitahumu kalau Kei mengalami kecelakaan," kata Dr. Kenzi.


"Kecelakaan Dok? terus..sekarang bagaimana kondisi Kei?" tanya Rico.


"Masih koma karena dalam pengaruh obat, tidak ada kerusakan yang berakibat fatal..Kei akan cepat pulih."


"huuuffft..syukurlah," ucap Rico. "Tapi Dok..jangan beritahu Layla, kalau sampai dia tahu..Layla akan sedih dan menjadi beban pikiran dia."


"Baik, saya tidak akan memberitahunya."


"Kau boleh menjenguk Layla, saya masih ada pekerjaan lain." Dr. Kenzi menepuk pundak Rico lalu ia berjalan menuju ruangannya.


Rico terdiam, lalu ia berjalan memasuki ruangan tempat Layla di rawat. Ia tertegun sesaat di depan pintu saat melihat Layla tengah tersenyum menatap ke arahnya. Rico membalas senyuman Layla, ia berjalan mendekat, "apakah kau sudah lebih baik?" tanya Rico sembari duduk di kursi.


Layla menganggukkan kepala, "iya Ric..sekarang sudah tidak terasa sakit lagi," jawab Layla.


"Jangan buat aku khawatir, kau harus kuat Layla..demi bayimu..bayi kita." Rico menggenggam tangan Layla dengan dengan erat.


"Maafkan aku..sudah membuatmu cemas," kata Layla.


Layla menghela napas dalam, "aku juga berharap demikian..tapi..sesuatu hal di luar dugaan seringkali terjadi.."


"Iya, aku tahu itu," jawab Rico.


"Rico.."


"Hem" jawab Rico menatap lembut wajah Layla.


"Aku..." Layla tidak melanjutkan ucapannya.


"Ada apa sayang?" tanya Rico.


"Rico..aku.." Layla kembali terdiam, tiba tiba saja ia terisak menangis tanpa Rico tahu apa sebabnya.


"Hei..kenapa kau menangis?" Rico mengusap lembut pipi Layla yang basah oleh air mata.

__ADS_1


Layla berusaha untuk bangun dari tempat tidur sembari terisak.


"Biar aku bantu," ucap Rico. Ia langsung mengangkat tubuh Layla supaya duduk di atas tempat tidur.


"Ada apa? kenapa kau menangis?" tanya Rico memeluk erat Layla.


Layla hanya terisak, ia menangis dalam pelukan Rico, "aku tidak tahu..aku hanya sedih saja Ric..aku rindu ibu..aku butuh ibu..aku mau di peluk ibu.." ucap Layla lirih dengan nada suara bergetar.


Rico terhenyak, hatinya ikut merasakan sakit. " Layla..jangan menangis sayang.."


"Saat seperti ini..aku butuh pelukan ibu.."


"Aku tahu Layla..aku tahu bagaimana perasaanmu saat ini..tapi aku bisa apa?" Rico semakin mengeratkan pelukannya.


"Ibu..maafkan Layla..andai saja aku mendengarkan semua nasehatmu, ibu.."


Rico terdiam, ia hanya mendengarkan semua kerinduan Layla pada sosik ibunya. Hanya itu yang bisa Rico lakukan.


"Ibu..maafkan aku.." ucap Layla.


"Menangislah..jika menangis bisa mengurangi beban di hatimu, Layla."


"Ibu.." ucap Layla pelan nyaris tidak terdengar oleh Rico. Rico terdiam lalu ia menatap wajah Layla yang terpejam. Bulu matanya yang lentik basah oleh air mata.


"Layla.." Rico mengguncang pelan bahu Layla. "Layla!" seru Rico. Namun Layla tidak merespon panggilan Rico, sehingga membuat Rico sangat panik.


"Layla.." Rico merebahkan kepala Layla di bantal. Lalu ia berjalan mendekati meja dan menekan tombol untuk memanggil Dokter.


"Layla, bertahanlah sayang," ucap Rico menggenggam tangan Layla erat.


Tak lama kemudian Dr. Kenzi masuk ke dalam ruangan, "ada apa?" tanyanya.


"Tidak tahu Dok, tadi dia menangis tanpa sebab..ternyata dia merindukan ibunya," jawab Rico.


Dr. Kenzi menganggukkan kepala, "baiklah..kau tunggu dulu di luar."


Rico memganggukkan kepala, lalu ia berjalan keluar ruangan lalu duduk di kursi. "Layla..kau pasti sangat menderita," gumam Rico. "Maafkan aku yang telah memintamu lebih dari apa yang kau mampu jalani, Layla."

__ADS_1


Tanpa terasa, Rico menitikkan air mata. Dadanya serasa sesak, "aku tidak tahu kalau kau semenderita ini Layla..maafkan aku..maafkan aku..aku berjanji pada diriku sendiri..akan kuberikan sisa hidupku hanya untukmu dan bayimu, Layla." Rico menarik napas dalam, ia usap kedua bola matanya dan tersenyum getir.


"Selama ini kau berjuang sendirian, kau benar benar wanita luar biasa Layla..aku merasa malu karena tidak memiliki kesabaran dan kebesaran hatimu dalam menerima semua kepahitan hidup yang kau jalani..semua kepribadian yang selama ini tidak kuketahui membuatku semakin yakin..aku tidak salah mencintai wanita setegar dirimu Layla.."


__ADS_2