Kei Dan Layla

Kei Dan Layla
Chapter 50: Hidup dan mati.


__ADS_3

Layla duduk termenung di teras rumahnya, sambil menikmati pagi hari yang ceria. Kebetulan hari ini adalah hari minggu. Jadi Layla tidak ada jadwal pergi ke sekolah. Meskipun Layla dalam keadaan sakit, tapi Layla tidak mau terpuruk oleh keadaan.


"Laylaaa!!"


Layla menoleh ke arah suara, nampak Valeri, Stela dan Asha keluar dari pintu mobil. Layla tersenyum menatap mereka bertiga.


"Apa kabarmu, sayang. Mmmuaachh" ucap Valeri sambil mencium pipi kiri dan pipi kanan Layla. Di susul Asha dan Stela.


Layla tertawa kecil menatap ketiga temannya, "tumben kalian datang kesini?" ucap Layla. "Ini kan hari minggu? kalian tidak jalan jalan bersama keluarga?" tanya Layla.


"Tidak Layla, kami kangen sama kamu" jawab Asha merangkul pundak Layla sesaat.


"Bagaimana kabar kau Layla?" tanya Stela.


"Aku baik." Layla matanya berbinar.


"Hei, kalian ada di sini?" sapa Raiden dari arah pintu menatap ke arah Layla dan yang lain.


Layla dan yang lainnya menatap ke arah suara, "iya dong, kami kangen dengan Layla" ucap Asha berdiri dan melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah.


Raiden berjalan mendekati Layla dan duduk di sebelah kursi roda Layla, "terima kasih kalian sudah datang."


"Kita sahabat, kita keluarga, kita semua tidak akan meninggalkan satu sama lain" ucap Valeri. "Hidup sahabat!!" seru Valeri sambil mengangkat tangannya ke atas. Di ikuti Stela mengangkat tangannya ke atas.


"Hahahha!" mereka tertawa bersama.


Layla menggelengkan kepala, sambil tertawa kecil, "kalian tidak berubah, sama saja seperti dulu."


"Aku bawakan makanan!" seru Asha dari arah pintu, dengan nampan ditangannya yang berisikan minuman segar dan cemilan di atas nampan. Lalu ia letakkan di atas meja.


"Ini buatmu Layla" ucap Asha meletakkan satu gelas susu hangat di atas meja.


"Terima kasih."


"Kau selalu mengerti akan kesukaanku." Stela mengambil gelas minuman segar rasa Cery.


"Tentu dong" jawab Asha.


Mereka semua menikmati minuman segar dan cemilan sambil berbincang bincang seputar sekolah. Layla dengan antusias menceritakan anak anak didiknya dalam seni melukis dapat penghargaan dari Pemerintah.


waktu terus berlalu, canda tawa terlontar indah di teras rumah. Raiden dan tiga sahabat Layla menatap Layla yang terlihat bahagia. Tapi detik berikutnya Layla merasakan sakit kepala yang luar biasa.


Layla memegang kepalanya dan meringis kesakitan, "aduh..kepalaku.." ucap Layla lirih.


Raiden, dan tiga sahabatnya langsung bangun dan berjalan mendekati Layla.


"Layla, kau kenapa? tanya Raiden merangkul pundak Layla.


" Layla, kau kenapa Layla" ucap Valeri dan dua sahabatnya.


"Kita masuk ke dalam." Raiden hendak mengangkat tubuh Layla. Tiba tiba saja kepala Layla terkulai lemas di dada Raiden.


"Laylaa!" seru tiga sahabatnya.


"Layla, bangun Layla." Mata Raiden berkaca kaca.


"Sebaiknya kita bawa ke Rumah Sakit, aku khawatir terjadi apa apa pada Layla" ucap Valeri. Asha dan Stela menganggukkan kepala menyetujui usul Valeri.


"Iya, kau benar" ucap Raiden. "Ayo bantu aku, buat angkat Layla."


Kemudian Raiden dan tiga sahabatnya menggotong tubuh layla masuk ke dalam mobil. Lalu Raiden dan tiga sahabatnya langsung membawa Layla kerumah sakit, tempat di mana Dokter Kenzi bekerja.

__ADS_1


Tak lama kemudian, mereka telah sampai di rumah sakit. Layla langsung di bawa keruangan untuk mendapatkan pertolongan.


Raiden, dan ketiga temannya berdiri di depan pintu menunggu hasil pemeriksaan dengan perasaan was was. Sesekali Valeri dan dua sahabatnya saling berpelukan sambil memanjatkan untaian doa untuk Layla.


Tak lama kemudian, Dokter Kenzi keluar dari ruangan. Raiden dan tiga sahabatnya langsung mendekati Dokter Kenzi.


"Bagaimana Dok?" tanya Raiden.


"Layla harus segera di operasi" jawab Dokter.


"Operasi Dok?" Raiden termangu menatap Dokter Kenzi sesaat, lalu beralih menatap tiga sahabat Layla.


"Apa tidak ada cara lain Dok?" tanya Asha.


"Kanker otak Layla sudah sangat parah, karena terlambat dalam penanganan." Dokter Kenzi menjelaskan.


Raiden terduduk di kursi, ia menangkup wajahnya, "Ya Rabb, sembuhkan Layal." Mata Raiden berkaca kaca.


"Kalau begitu, saya permisi dulu. Dan operasi akan dilakukan besok jika Pak Raiden sudah menandatangi semua surat suratnya." Dokter Kenzi menundukkan kepala sesaat, lalu ia melangkahkan kakinya menuju ruangannya yang di ikuti tiga perawat dari belakang.


"Raiden, bagaimana ini?" tanya Asha duduk di sebelah Raiden.


"Aku tidak tahu Sha."


"Sebaiknya kau ikuti saja apa kata Dokter, ini semua demi kesembuhan Layla" kata Valeri.


"Sebaiknya begitu" timpal Stela.


"Ya Rabb, bantu hamba untuk mengambil keputusan."


"Kita doakan yang terbaik buat Laya, Layla pasti sembuh" imbuh Valeri.


"Amin!" jawab mereka bersamaan.


"Bagaimana Rai?" tanya Stela. Ia berdiri saat melihat Raiden telah selesai menandatangani berkas berkas.


"Sekarang, semua tergantung Dokter" ucap Raiden dengan lirih.


"Lalu?" tanya Stela lagi.


"Dokter akan melakukan operasi pada otaknya, dan Dokter tidak akan melakukannya tanpa izinku."


"Tidak ada yang bisa kita lakukan, dan kita harus bersiap untul kemungkinan yang terburuk sekalipun." Stela mengusap punggung Raiden.


Raiden menganggukkan kepala, ia tersenyum samar menatap Stela. "Ya, kau benar."


Kemudian, Raiden dan Stela melangkahkan kaki menuju kamar rawat Layla.


**


Hari Rabu pukul 10:25 ketika alam semesta ini serasa berhenti berputar. Hari ini Layla sedang menjalani operasi yang pertama. Menurut Dokter Kenzi, operasi hari ini bukanlah yang terakhir, tapi akan ada serangkaian operasi berikutnya.


"Sudah berapa lama?" tanya Asha terdengar bergetar.


"Dua jam." Raiden menjawab pertanyaan Asha dengan suara yang tidak stabil.


"Aku takut terjadi sesuatu terhadap Layla." Raiden menatap pintu ruang operasi.


"Rai..Layla anak yang kuat." Asha menyentuh pundak Raiden.


"Aku tahu tapi dokter bilang..."

__ADS_1


"Soal hidup dan mati, dokter tidak tahu apa apa." Asha terdiam sesaat seolah olah ia juga ingin memastikan ucapannya sendiri.


"Aku akan keluar sebentar" ucap Asha lalu ia balik badan meninggalkan Raiden.


"Ceklek" suara pintu di buka dari dalam.


Raiden, Valeri dan Stela langsung berdiri mendekati pintu.


"Bagaimana Dok?" tanya Raiden pada Dokter Kenzi.


Dokter Kenzi menarik napas dalam, "operasi kali ini berhasil, semoga ke depannya pun hasilnya akan sama. Kalian berdoa saja."


"Amin" ucap mereka serempak.


"Boleh, saya masuk Dok?" tanya Raiden menatap Dokter Kenzi.


"Silahkan, tapi kalian tidak boleh masuk bersama sama." Dokter Kenzi meminta mereka untuk menjenguk Layla bergantian.


"Baik Dok."


"Kalau begitu, saya permisi dulu." Selepas bicara, Dokter Kenzi langsung meninggalkan ruangan bersama para Suster.


Raiden berjalan mendekati Layla yang terbaring di tempat tidurnha, napasnya terdengar teratur juga suara yang berasal Ekektrokardiogram yang memberikan sebuah ketenangan untuk Raiden, bahwa Layla masih hidup dan tidak akan meninggalkannya.


"Layla sayang..." ucap Raiden sangat pelan sekali. Lalu ia duduk di kursi besi yang ada di dekatnya. Raiden meraih tangan Layla dan tidak melelaskannya.


"Layla sayang, kau yang kuat" gumam Raiden menatap wajah Layla yang masih belum sadarkan diri. Untuk pertama kalinya posisi Raiden dalam situasi untuk mengambil keputusan hidup dan matinya seseorang.


"Layla, kau harus semangat, kau harus bisa melawan kanker otakmu" gumam Raiden.


Setelah Raiden selesai menjenguk Layla, giliran Asha, Stela dan Valeri secara bergiliran. Serangakain doa mereka panjatkan pada Sang Pemilik Hidup untuk kesembuhan Layla.


***


Raiden menundukkan wajah duduk di kursi, di luar ruangan tempat Layla di rawat. Ia merasa sangat terpukul. Karena sudah empat jam berlalu, Layla belum juga sadar.


"Om! sedang apa di sini?" sapa seorang anak remaja.


Raiden menoleh ke arah suara, ia melihat Keila, Kei dan Clara sudah berdiri di hadapannya, "Keila?" ucap Raiden. "Om lagi menunggu Bu Guru Layla sedang di rawat." Raiden menatap Keila sesaat, lalu beralih menatap Kei yang hanya diam saja.


"Ibu Guru sakit apa?" tanya Keila.


"Ibu Guru habis operasi sayang." Raiden berdiri dengan tatapan lurus ke arah Kei dan Clara yang hanya diam.


"Boleh aku lihat Om?" tanya Keila.


"Boleh."


Kemudian Raiden berjalan memasuki kamar, di ikuti Kei dan Keila, hanya Clara yang nampak ragu ragu untuk masuk ke dalam kamar.


Keila mengangkat kedua tangannya dan langsung memanjatkan doa, saat sudah sampai di dekat Layla.


"Ya Rabb, sembuhkanlah Ibu Guru Layla, amiin.." ucap Keila.


Kei menatap tajam wajah Layla, tak ada sepatah katapun yang terucap dari bibirnya. Sekelebat bayangan bayangan mimpi tentang seorang wanita mengganggu pikirannya, "Layla." Dari bibirnya tiba tiba saja menyebut nama Layla. Kei memejamkan matanya, sambil menggeleng gelengkan kepala karena Kei merasakan sakit di kepalanya kambuh lagi.


"Sam? kau baik baik saja?" tanya Clara.


"Aku pusing sekali." Kei memegang kepalanya.


"Kita periksakan ke Dokter" ucap Clara. " Keila ayo ikut Ibu." Clara menatap Raiden sesaat, lalu ia melangkahkan kakinya keluar ruangan bersama Kei dan Keila.

__ADS_1


Raiden menarik napas dalam dalam, "semoga kau cepat sembuh Kei." Raiden menatap punggung mereka hingga hilang dari pandangannya. Lalu ia kembali duduk di kursi.


__ADS_2