Kei Dan Layla

Kei Dan Layla
Chapter 75: Takdir Layla?


__ADS_3

Satu minggu berlalu setelah pernikahan Kei dan Layla, Rico tak pernah lagi menampakkan batang hidungnya di depan Layla. Ia merasa sangat kecewa akan keputusan Layla untuk memberikan kesempatan kepada pria yang berkali kali menyakiti perasaannya. Besarnya cinta Layla pada Kei sehingga Layla rela untuk menjadi istri ke dua Kei. Takdir tak bisa di pungkir, akhirnya Layla harus menjalani hidup seperti itu. Sementara Raiden tak kalah kecewanya di banding Rico, tapi Raiden sadar sejak ia berusaha untuk mendapatkan cinya Layla lebih baik ia membuka hati untuk Sila.


Sepandai pandainya Kei menyembunyikan pernikahannya dengan Layla, akhirnya tercium juga oleh Clara. Clara datang ke rumah Layla untuk meminta penjelasan dari Kei. Setibanya di rumah Layla ternyata Clara hanya bertemu dengan Layla.


"Wanita tidak tahu malu! dasar pelakor!" maki Clara, menatap tajam ke arah Layla seakan ingin menerkamnya. "Apa di dunia ini tidak ada laki-laki lain, Layla?!" Layla hanya diam, ia tidak tahu harus berkata apa, semua seakan salahnya.


"Kenapa kau diam, Layla!" pekik Clara lagi berjalan lebih dekat ke arah Layla yang tertunduk. Hati Clara serasa panas melihat wajah Layla dan tangannya serasa gatal ingin menampar wajah Layla. "Katakan padaku! apa pernah aku menyakitimu?!" Clara mengangkat tangannya hendak menampar Layla namun seseorang dari arah belakang menahan tangan Clara.


"Apa yang hendak kau lakukan, Clara?!" Clara dan Layla menoleh ke arah suara.


"Raiden?" ucap Clara. "Kau tidak perlu ikut campur!" bentak Clara.


Raiden menurunkan tangan Clara, ia tersenyum sinis menatap wajah Clara seolah tak berdosa, "apa kau lupa sejarah hidupmu, Clara?" sindir Raiden "Kau sudah tahu kalau Kei menikahimu karena hilang ingatan, bukankah kau juga tahu, kalau Kei dan Layla saling mencintai. Kau lupa? kalau kau yang telah merebut Kei dengan paksa?. Apa perlu aku ingatkan kembali Clara?!!!" seru Raiden sudah tidak tahan dengan ke egoisan Clara yang selalu menuduh Layla lah yang bersalah.


Clara memalingkan wajahnya, "walau bagaimanapun Kei adalah suamiku," jawab Clara.


"Lalu? di mana salah Layla? apa kau tidak merasa bersalah Clara! aku muak dengan orang-orang sepertimu!" maki Raiden. Layla menarik lengan Raiden.


"Sudahlah..biarkan dia bicara sesuka hatinya Rai..percuma aku jelaskan..percuma aku membela diri..kenyataannya memang seperti apa yang dia katakan..." ucap Layla terisak. Raiden menatap Layla, ia paling tidak bisa melihat wanita menangis di hadapannya.


"Sekarang juga kau pergi, Clara!" bentak Raiden, lalu ia menarik lengan Clara keluar rumah.


"Kau tidak perlu kasar Rai!" Clara menepis tangan Raiden. "Aku bisa pulang sendiri. Tapi ingat..aku tidak akan tinggal diam!" Clara menatap tajam sesaat ke arah Raiden, lalu ia balik badan dan melangkahkan kakinya meninggalkan rumah Layla. Raiden menghela napas panjang, ia menoleh ke arah Layla yang tengah menangis, dan melangkahkan kakinya menghampiri Layla.

__ADS_1


Raiden menatap tak bergeming ke arah Layla, membiarkannya menangis sepuas hati. Setelah tangisan Layla mereda barulah Raiden bicara, "puas? hilangkah beban di hatimu? apakah cukup dengan menangis?" Layla di berondong pertanyaan oleh Raiden.


"Aku..." Layla tidak melanjutkan ucapannya.


"Apa? katakan apa alasanmu menikahi Kei?" potong Raiden sedikit kesal. Lalu ia menarik kursi dan duduk di hadapan Layla.


"Apa kau bahagia? tidak bukan? menurutmu dengan menikah dengan Kei, adalah jalan keluar? kau nyaman? atau sebaliknya?"


"Rai..aku.."


"Layla..kau yang selalu mengajariku..kau inspirasiku selama ini..tapi kenapa kau sendiri seperti ini?" Raiden menautkan kedua alisnya menatap Layla. "Kau ingat dulu..saat semua orang menganggapmu gila? apa kau terganggu? apa kau takut? apa kau depresi? tidak bukan? lalu kenapa kau sekarang begini? katakan padaku apa alasanmu menikah dengan Kei? katakan Layla!" Raiden mengguncang bahu Layla, ia merasa sangat kecewa dengan Layla. Bukan karena tidak bisa memiliki Layla tapi menurut Raiden, keputusan Layla menikahi Kei sama saja menggali lubang kuburnya sendiri.


"Cukup Rai!" Layla tengadahkan wajah menatap Raiden, air matanya berlinang semakin deras. "Mungkin apa yang kau katakan benar adanya! tapi kau tidak tahu bagaimana perasaanku! apa aku memikirkan diriku? apa aku salah? jika aku melakukan ini demi bayi juga Rico?! Layla bahunya bergetar, ia menangis sesegukan. Sesekali ia pukul dadanya untuk meredam tangisannya.


"Ada apa ini?" Raiden dan Layla menoleh ke arah Kei yang sudah berdiri di belakang mereka. Raiden langsung berdiri dan mencengkram kerah baju Kei. Sementara Layla menjerit berusaha menghentikan Raiden supaya tidak ribut lagi.


"Rai..cukup!" jerit Layla suaranya serak.


"Tidak Layla, pria ini harus mempertanggungjawabkan semuanya," ucap Raiden mencengkram kerah baju Kei. Kei menautkan ke dua alisnya menatap Raiden.


"Apa maksudmu, Rai?" tanya Kei, ia berusaha melepaskan tangan Raiden.


"Sebaiknya kau pulang, dan beritahu istrimu Clara. Untuk tidak mengganggu Layla dan menyalahkan dia terus!" Raiden melepaskan cengkraman tangannya dan sedikit mendorong tubuh Kei hingga mundur ke belakang. "Kalau sampai terjadi apa-apa dengan Layla, aku tidak akan memaafkanmu, Kei!" tunjuk Raiden. Kei dan Raiden saling pandang sesaat sebelum akhirnya Raiden ngeloyor keluar rumah setelah bicara seperti itu.

__ADS_1


Kei terdiam menatap Layla yang menangis, lalu ia menghampiri Layla dan memeluknya erat, "maafkan aku, Layla..maafkan aku," bisik Kei di telinga Layla. Layla hanya diam. "Aku yang salah..semua salahku.." ucap Kei.


Layla melepaskan pelukan Kei, "tidak perlu kau minta maaf, Kei" jawab Layla. "Semua sudah terjadi, apapun yang akan aku katakan..apapun yang akan aku jelaskan..aku tetap salah di mata siapapun Kei.." kata Layla suaranya parau.


"Layla..."


"Sudahlah Kei..aku mau istirahat, antarkan aku ke kamar," potong Layla. Kei menganggukkan kepala, lalu ia berdiri dan mendorong kursi roda Layla menuju kamar.


"Aku mau sendiri..tinggalkan aku.." ucap Layla.


"Tapi Layla.."


"Aku mohon Kei.." potong Layla. Kei menghela napas dalam dalam, sesaat ia terpaku menatap Layla. Lalu ia melangkahkan kakinya meninggalkan Layla di balkon sendirian.


"Maafkan aku Ayah..Ibu..maafkan aku, Rai..maafkan aku, Rico..maafkan aku Clara.." ucap Layla menangkup wajahnya sendiri, bahunya bergetar ia menangis tak bersuara. "Aku pun tidak menginginkan seperti ini..sama sekali tidak..aku tidak ingin menyakiti siapapun..tapi aku juga tidak tahu kenapa harus berakhir seperti ini," gumam Layla. Ia menurunkan kedua tangannya dan tengadahkan wajah menatap langit yang mulai terlihat gelap.


"Ibu..." gumam Aira.


Sementara itu Kei terdiam duduk di ruang tamu, ia tidak habis pikir mengingat semua kejadian yang telah ia lewati.


"Kenapa semua harus seperti ini, Ya Rabb," gumam Kei. Tiba tiba ia teringat Clara. "Clara.." Kei langsung berdiri dan menghampiri Mbok Karsih yang ada di dapur.


"Ada apa Den?" tanya Mbok Karsih.

__ADS_1


"Mbok, aku titip Layla sebentar. Kalau ada apa-apa cepat hubungi aku," ucap Kei. Mbok Karsih menganggukkan kepala. Kemudian Kei putar badan dan melangkahkan kakinya keluar rumah.


__ADS_2