
Butuh beberapa hari untuk mengurus surat perceraian, setelah setelah semua selesai Rico mengantarkan surat perceraian Layla kerumah Kei setelah di tanda tangani Layla. Kei sempat menolak dan tetap tidak mau menandatanganinya, hingga keributanpun terjadi di rumah Clara. Namun di tengah tengah keributan, Alya sebagai Ibu dari Kei. Memaksa Kei untuk menandatanganinya. Karena khawatir dengan kondisi Ibunya yang semakin buruk, akhirnya Kei mau menandatangani surat cerai itu.
Setelahnya Rico kembali ke rumah dan memberikan surat peeceraian yang sudah di tandatangani, "kau tidak perlu khawatir Ric..aku baik baik saja," ucap Layla pelan. "Terima kasih, kau selalu ada buatku seperti halnya Raiden. Mungkin usiaku tidak lama lagi..tapi asal kalian tahu..aku menyayangi kalian berdua."
"Layla..kau tidak perlu bicara seperti itu..aku akan selalu ada buat kamu," ucap Rico memeluk sesaat Layla. "Kau jangan sedih lagi." Layla menganggukkan kepala, meski sakit yang Layla rasakan. Tapi keputusan Layla kali ini sudah bulat. Ia ingin tenang di sisa hidupnya.
Waktu terus berlalu, Rico selalu ada disamping Layla, memberikannya kebahagiaan yang memang pantas Layla dapatkan. Tidak sedikitpun Rico membiarkan Layla bersedih, hingga di saat pernikahan Raiden. Layla jatuh pingsan. Kemudian Rico membawa Layla ke rumah sakit.
Rico berdiri di luar ruangan, ia merogoh saku celananha mengambil ponsel yang berdering, "Raiden?" gumam Rico pelan. Lalu ia geser icon berwarna hijau dan ia lerakkan ponsel di telinganya.
"Ric..kau di mana? kenapa kau tak datang di hari pernikahan kami?" tanya Raiden .
"Maaf Rai..aku lagi di rumah sakit."
"Layla kenapa?" potong Raiden.
"Layla pingsan dan sekarang sedang di tangani Dokter Kenzi," ucap Rico.
"Tuuuttt" panggilan terputus, Rico mengerutkan dahi menatap layar ponsel. Lalu ia kembali memasukkan ponsel ke saku celananya.
Lima belas menit Rico berdiri di depan pintu, ia melihat Raiden dan Sila berjalan di lorong rumah sakit mendekatinya.
"Kalian? bukankah kalian hari ini menikah?" tanya Rico menatap mereka berdua.
"Kami meninggalkan resepsi pernikahan, kami khawatir dengan keadaan Layla..Ric," kata Raiden. Sila menganggukkan kepala membenarkan ucapan Raiden.
"Bagaimana keadaan Layla?" tanya Sila menatap ke arah pintu yang tertutup. Rico menggelengkan kepala.
"Aku belum tahu.." jawab Rico pelan. Mereka berdua saling pandang lalu menunduk. Tak lama terdengar suara pintu ruangan di buka dari dalam. Rico dan yang lain langsung mendekati Dokter Kenzi saat melihatnya keluar dari ruangan.
"Dok, bagaimana dengan Layla?" tanya mereka bertiga menatap dengan cemas ke arah Dr. Kenzi.
__ADS_1
Dr. Kenzi menarik napas dalam dalam, "Sel Kanker otak Layla semakin menyebar, tapi kami akan berusaha yang terbaik." Dr. Kenzi menunduk sesaat. " Kesulitannya sekarang, Layla tengah mengandung. Kami hanya memberikan satu pilihan..Layla..atau bayinya..tapi kami akan tetap berusaha untuk menyelamatkan keduanya."
Raiden dan Sila saling pandang sesaat, "apa yang bisa kami lakukan Dok?" tanya Raiden dan Sila. Sementara Rico diam saja, ia tidak dapat berkata apa apa lagi.
"Buat dia bahagia, buat dia menikmati hidupnya..jangan biarkan dia sedih atau jangan memberikan dia beban pikiran yang berat," jelas Dr. Kenzi.
"Baik Dok! ucap mereka serempak.
" Layla sudah boleh kalian tengok, dan saya permisi dulu." Mereka mengangguk, lalu masuk ke dalam ruangan tempat Layla di rawat. Rico langsung duduk di kursi dan meraih tangan Layla. Sementara Raiden dan Sila duduk di samping kanan tempat tidur Layla.
"Selamat ya, atas pernikahan kalian," ucap Layla tersenyum menatap ke arah Raiden dan Sila. "Maaf..aku tidak bisa datang."
Sila langsung memeluk Layla, "kau curang, pokoknya setelah kau keluar dari rumah sakit..kau harus beri kami hadiah," goda Sila. Layla tertawa kecil.
"Baiklah..memang kau mau hadiah apa dari aku?" tanya Layla. Sila melepaskan pelukannya. Ia menatap lekat kedua bola mata Layla.
"Aku mau hadiah istimewa darimu," sela Raiden.
"Apa?" tanya Layla.
"Akan aku berikan," jawab Layla tersenyum.
"Terima kasih," kata Sila memeluk Layla sesaat.
"Rico.." ucap Layla pelan, ia menoleh ke arah Rico yang tengah mengusap kedua matanya yang merembes.
"Iya.." kata Rico memalingkan wajahnya sesaat.
"Aku punya permintaan, itupun jika kau tak keberatan."
"Katakan Layla, semampuku akan ku kabulkan." Rico meremas pelan tangan Layla.
__ADS_1
"Mau kah kau menjadi ayah dari anakku?" tanya Layla menatap Rico penuh harap. "Maukah kau?"
Rico tertawa kecil, ia menyentuh pipi Layla, "tentu saja aku mau, Layla.."
"Benarkah?" tanya Layla.
"Dengan setulus hati, seperti aku mencintaimu dengan tulus," ucap Rico langsung memeluk Layla. Layla menangis haru mendengar jawaban Rico. Rico melepas pelukannya dan mengusap air mata di pipi Layla. "Jangan menangis lagi..tersenyumlah buatku..hanya itu pintaku," Layla menganggukkan kepala tersenyum menatap lekat wajah Rico. Lalu beralih menatap Raiden dan Sila yang tengah berpelukan. Tiba tiba saja Layla tertawa melihat mereka berdua. Raiden dabmn Sila saling melepas pelukannya menatap bingung ke arah Layla.
"Ada apa? tanya Sila.
"Ini rumah sakit, kalian jangan mesra mesraan di sini," goda Layla. Raiden dan yang lain tertawa meskipun itu rasa terpaksa.
Beban di hati Layla sedikit berkurang, kini ia menyadari kalau selama ini, ia tidak kekurangan kasih sayang dari mereka. Layla berjanji akan memberikan yang terbaik di sisa hidupnya untuk mereka yang telah berkorban banyak untuk dirinya. Tak lama Raiden dan Sila berpamitan pulang dan berjanji akan datang lagi besok pagi.
Sementara Layla beristirahat di ruangannya setelah minum obat dari Dr. Rico sendiri menunggu Layla di luar ruangan sambil memainkan ponsel.
"Rico? sedang apa kau di sini?" Rico tengadahkan wajahnya menatap ke arah Kei yang sudah berdiri di hadapannya.
Rico berdiri dan berkata, "kau sendiri?" tanya Rico.
"Apakah Layla sakit lagi?" tanya Kei. Rico hanya diam. Melihat diamnya Rico, membuat Kei semakin yakin kalau Rico tengah menjaga Layla. Kei menatap ke arah pintu ruangan tempat Layla di rawar, lalu ia bergegas menghampiri pintu. Tapi Rico mencegahnya, ia menyusul Kei dan menghadangnya sebelum Kei membuka pintu.
"Jangan halangi aku!" seru Kei menatap wajah Rico.
"Cukup Kei, jangan sakiti Layla..jangan menambah beban pikiran Layla," ucap Rico pelan. "Biarkan dia tenang di sisa hidupnya..biarkan dia bahagia karena dia pantas bahagia!"
Kei terdiam sesaat lalu berkata, "apa maksudmu?"
"Layla di hadapkan pada satu pilihan, nyawanya..atau bayinya..dan kanker otak Layla sangat tipis harapan untuk sembuh, jadi aku mohon..kau jangan ganggu Layla lagi..kumohon..demi Layla.." Rico melipat kedua tangannya memohon penuh harap, supaya Kei menjauhi Layla. Kei menghela napas panjang, ia tundukkan kepalanya.
"Semua salahku.." ucapnya pelan.
__ADS_1
"Terserah kau, tapi apapun itu..aku cuma minta satu hal..jauhi Layla.." Kei tersenyum tipis, ia anggukkan kepala.
"Baiklah..aku memang tidak pantas dapat maaf dari Layla," usai bicara seperti itu, Kei memutar badan dan meninggalkan Rico. Dengan perasaan bersalah ia terus merutuki kebodohannya. Nasi sudah menjadi bubur, kenyataan memang seringkali tidak sesuai keinginan.