
Sejak peristiwa perkelahian tempo hari, Yuda semakin membenci Raiden. Niatnya untuk menghancurkan Raiden semakin kuat. Yuda rela mengeluarkan uang untuk menyewa orang bayaran untuk melenyapkan Raiden. Padahal keuangan Yuda saat ini sedang dalam krisis.
"Kau tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa Raiden." Mata Yuda menyala merah memendam amarah.
Yuda melangkahkan kakinya keluar rumah untuk menemui orang orang yang ia sewa.
***
"Kau mau kemana?" tanya Dinda.
"Aku hari ini masuk kerja." Mata Kei melirik sesaat ke arah Dinda.
"Boleh aku ikut?" tanya Dinda.
"Tidak" tegas Kei.
"Ayolah,aku ikut" rengek Dinda manja.
Kei menatap tangan Dinda yang bergelayut manja di lengannya. Lalu Kei melepaskan tangan Dinda dan menurunkannya. Lalu ia berlalu begitu saja tanpa mengucapkan sepatah katapun. Dinda mengejar Kei dan mengikuti langkah Kei dari belakang.
Saat Kei masuk ke dalam mobil, Dinda pun menyusul Kei masuk ke dalam mobil. Kei menoleh menatap Dinda tanpa ekspresi. Lalu ia membiarkan Dinda duduk di sampingnya tanpa mengatakan apapun. Lalu Kei menjalankan mobilnya menuju tempat ia bekerja di perusahaan Abdul.
Di perjalanan menuju kantor, Kei melihat Layla tengah berdiri di pinggir jalan seperti hendak menyebrang jalan. Kei menatap lurus ke depan memperhatikan Layla. Lalu ia menepikan mobilnya. Membuat Dinda bertanya tanya, apa yang hendak Kei lakukan.
Kei keluar dari mobil langsung menghampiri Layla, sementara Dinda memperhatikan Kei dengan mendengus kesal begitu tahu, kalau Kei hendak mendekati Layla. Akhirnya Dinda pun keluar dari mobil menyusul Kei.
Layla yang sedari tadi berdiri di pinggir jalan, melangkahkan kakinya untuk menyebrang jalan.
"Layla!" seru Kei.
Layla menghentikan langkahnya menoleh ke samping, ia melihat Kei dan Dinda tengah mendekatinya. Hingga ia tidak waspada melihat jalan raya yang terlihat sedikit ramai. Hingga Layla tidak menyadari dari arah kiri sebuah mobil dengan kecepatan tinggi tengah melaju.
"Ttiiiiiiiittttt!!"
Suara klakson mobil yang memekakkan telinga membuat Layla kehilangan fokus. Layla bukannya mundur tapi malah maju selangkah ke depan. Satu langkah lagi Layla hampir saja ke tabrak mobil yang melaju kencang, jika saja tidak ada Kei. Kei dengan sigap menarik tangan Layla dan menariknya mundur ke belakang.
"Laylaaa!!!" seru Kei.
Tubuh Layla oleng ke samping dan hampir jatuh ke jalan aspal. Tapi tubuh Layla tertahan karena Kei memeluk tubuh Layla dengan erat. Dengan reflek Kei mencium puncak kepala Layla dan mendekapnya erat.
"Apa kau baik baik saja?" tanya Kei.
"Iya." Tatapan mata Layla beradu dengan mata Kei.
"Kau mau kemana?," Kei mengusap pipi Layla lembut. "Kenapa kau sendirian? kemana Mang Usman?" tanya Kei.
"Aku mau membeli alat lukis." Layla melirik ke arah Dinda sesaat.
"Kau buat aku khawatir Layla" kata Kei.
__ADS_1
Layla melepas pelukan Kei, dan berjalan ke tepi jalan menjauh dari tubuh Kei.
"Ada apa?" tanya Kei.
Kei berjalan mendekati Layla tanpa menyadari kalau di dekatnya ada Dinda yang tengah memperhatikan mereka dengan perasaan terluka.
"Kei, aku pulang dulu." Layla berlalu begitu saja tanpa memperdulikan Kei yang tengah memanggilnya.
"Laylaaa!!" seru Kei.
Kei berniat untuk menyusul Layla. Tapi lengan Kei di cekal Dinda. Kei menoleh ke belakang menatap Dinda.
"Kau tega," kata Dinda. "Kau tidak pernah menganggap aku ada."
Kei tertunduk sesaat, " maafkan aku."
Tapi Dinda diam, ia menggelengkan kepala menatap Kei dengan berlinangan air mata. Dinda berjalan mundur lalu ia balik badan dan berlari meninggalkan Kei.
"Dinda!" seru Kei.
Dinda terus berlari menyusuri tepi jalan. Disela sela langkah kakinya ia mengusap air matanya dengan telapak tangan. Hatinya hancur berkeping keping. Seakan takdir tidak pernah berpihak padanya. dan kehidupan ini sudah tidak adil terhadapnya. Dinda berteriak histeris sambil terus lari ke depan tanpa memperdulikan orang orang yang memperhatikannya.
Sementara Kei hanya bisa diam, ia berdiri dan menyandarkan tubuhnya di pintu mobil. "Ya Rabb..kenapa jadi begini."
Kei mengusap rambutnya kasar, ia menundukkan kepala sesaat. Lalu kembali mengalihkan pandangannya pada Dinda yang tengah berlari. Lalu beralih menatap Layla yang terus berjalan ke depan tanpa melihat Kei lagi.
Siapa yang lebih hancur hatinya dari pada Layla? semua berawal dari sebuah ke egoisan orang tua. Gemerlap harta duniawi telah menghancurkan tiga hati sekaligus tanpa bisa melihat lagi mana salah mana benar.
***
"Duggg!"
Kepala Layla membentur dada bidang Raiden. Layla tengadahkan wajahnya menatap Raiden yang sudah berdiri di hadapannya.
"Kenapa kau menangis, Layla?" tanya Raiden.
Layla hanya menggelengkan kepala cepat, dan berlalu begitu saja masuk ke dalam rumah.
"Layla!" seru Raiden.
Raiden menyusul Layla masuk ke dalam dan menarik tangan Layla dan membalikkan tubuh Layla supaya menghadapnya dan Raiden langsung memeluknya erat.
Layla membalas pelukan Raiden perlahan. Lalu menangis dalam dekapan Raiden. Raiden mengerti tanpa harus bicara. Raiden memahamk tanpa harus bertanya lagi, mengapa Layla menangis.
Raiden mengusap lembut punggung Layla. Dan mencium puncak kepala Layla berkali kali. "Menangislah jika itu mengurangi bebanmu" kata Raiden.
Raiden tersenyum saat menyadari Layla menghentikan tangisnya, ia melepaskan pelukannya lalu menangkup wajah Layla dan menatap kedua bola mata Layla yang masih ada sisa genangan air mata di matanya.
"Kau tambah jelek kalau menangis,"- Raiden menurunkan tangannya- " tapi lebih jelek lagi kalau kau lagi galak."
__ADS_1
Layla mengusap air matanya dan menatap horor Raiden. Tangannya langsung terulur mencubit pinggang Raiden.
"Awwww!!" pekik Raiden.
Layla tertawa kecil sembari terisak menatap Raiden. Sosok Raiden bagi Layla bagai seorang Kakak dan Ayah, yang selalu ada buat dia. Raiden juga seorang pria yang selalu mengerti bagaiman memperlakukan Layla dan mengerti tanpa harus bicara.
"Layla, kau pernah bilang padaku," Raiden mengusap air mata yang tertinggal di pipi Layla. "Untuk mencintai sesuatu yang tak nampak, kita harus belajar menjadi gila. Bukan begitu?"
Layla menganggukkan kepala sembari terisak, menundukkan kepala sesaat.
"Bagaimana kalau sekarang kita makan? aku lapar" ucap Raiden sembari mengusap perutnya sendiri.
"Kau mau aku masakin apa?" tanya Layla.
"Apa saja," kata Raiden.
Layla menganggukkan kepala, lalu mereka melangkahkan kaki ke dapur.
***
Sore hari Kei baru saja sampai di rumahnya. Ia melangkah gontai menuju kamar pribadinya. Dari dalam kamar Kei mendengar suara Dinda terbatuk berkali kali. Kei langdung bergegas mendekati pintu dan membukanya. Nampak Dinda terbaring lemah di atas tempat tidur.
"Dinda, apa kau sakit?" tanya Kei.
Dinda melirik sesaat ke arah Kei, lalu ia membalikkan tubuhnya dan tertidur miring membelakangi Kei yang duduk di tepi tempat tidur.
"Dinda.." ucap Kei.
Dinda hanya diam tanpa menjawab panggilan Kei. Ia sudah tidak ingin bicara lagi dengan Kei. Hatinya telah patah dan semua harapannya telah sirna seketika saat melihat kejadian tadi pagi, saat Kei memeluk erat dan mencium Layla.
"Maafkan aku..." ucap Kei lagi.
Tapi Dinda tetap saja dalam posisinya, ia sudah tidak perduli lagi dengan apapun yang Kei katakan. Bagi dia saat ini semua sudah hilang dan Dinda sudah tidak ada keinginan lagi untuk melanjutkan hidupnya.
Kei menghela napas dalam dalam menatap punggung Dinda. Lalu ia berdiri dan melangkahkan kakinya mendekati jendela yang terbuka. Satu tangan mencengkram jendela dan satu tangan kanan melonggarkan dasi yang serasa mencekik lehernya.
"Akkkhh!" Pekik Kei.
Kei menoleh ke belakang menatap Dinda sesaat lalu ia menundukkan kepala dan memejamkan mata. Ia kini berada dalam situasi serba salah.
Kei terdiam cukup lama, sampai suara batuk Dinda kembali terdengar. Ia membalikkan badan dan mendekati Dinda yang terduduk dengan terbatuk.
"Apa sakitmu kambuh lagi?" tanya Kei.
Kei menyentuh pundak Dinda hendak memijit tengkuknya, tapi Dinda langsung mencekal tangan Kei dan menghempaskannya. Dinda menatap Kei penuh kekesalan. Lalu ia turun dari atas tempat tidur dan langsung menuju pintu kamar. Tapi belum juga Dinda sampai di depan pintu, tiba tiba Dinda jatuh pingsan.
"Dindaa!" pekik Kei.
Kei langsung berdiri dan berlari mendekati Dinda. Ia jongkok dan mengangkat tubuh Dinda ke pangkuannya. Kei menepuk pipi Dinda berkali kali dengan pelan, berharap Dinda bangun seperti semula.
__ADS_1
"Dinda, bangunlah." Kei menatap Dinda dengan mata berkaca kaca.
Kei mengangkat tubuh Layla keluar kamar dan langsung menuju pintu rumah. Kei memutuskan untuk membawa Dinda ke rumah sakit. Dia khawatir kalau Dinda penyakit paru parunya kambuh.