
"Ada yang aneh dengan Dokter bantuan itu," gumam Raiden.
"Aneh kenapa?" tanya Sila.
"Diam kau!" Raiden menggeser duduknya, karena Sila terus saja berusaha dekat dekat dengan Raiden.
"Kau cemburu bukan?"
Raiden melirik sesaat ke arah Sila, "bukan urusanmu."
Sila menggeser duduknya lebih dekat dengan Raiden, ia menyentuh pundak Raiden dan tersenyum manja.
"Buat apa kau terus memikirkan Layla?" ucap Sila. "Bukankah masih ada aku?" Sila tersenyum, ia memiringkan wajahnya menatap Raiden.
"Apaan sih kamu?" Raiden berdiri dengan kedua tangan ia masukkan ke dalam saku celana.
"Loh, benar kan?" Sila ikut berdiri. "Sejauh mana kau mendekati Layla, hati Layla hanya untuk Kei, kekasihnya yang tidak jelas itu," sungut Sila.
"Hmm, kau benar," ucap Raiden. "Justru itu yang selama ini buat aku bingung, hubungan apa yang sedang mereka jalani?!"
"Ah sudahlah Rai, lebih baik kau temani aku ke Mall." Tangan Sila bergelayut manja di lengan Raiden.
"Tidak mau, pergi saja kau sendiri." Raiden menepis tangan Sila.
"Ayolah, Rai," rengek Sila.
"Tidak, ya tidak!" bentak Raiden. "Aku mau ke rumah Layla sore ini."
"Kalau begitu aku ikut," ucap Sila.
"Kau?!" Mata Raiden mendelik menatap Sila. "Kayak lem perangko, lengket!"
"Hihihi!"
Sila tersenyum, bergelayut manja di lengan Raiden. Membuat Raiden semakin risih dengan sikap Sila.
"Bisa tidak, kau tidak manja seperti ini?!"
Raiden melepas paksa tangan Sila dari lengannya, "anak manja."
Sila memajukan bibirnya, "tapi kau suka bukan?" Sila tersenyum.
"Ih, amit amit."
Raiden berjalan mendekati mobil miliknya, di ikuti Sila dari belakang.
***
Sementara itu di rumah Clara, saat Kei tidak ada dirumah. Clara menemukan kotak penyimpanan barang barang Kei dari senenjak sekolah. Karena merasa penasaran Clara membuka kotak itu. Saat Clara mengetahui isi dari kotak itu, ia pun marah dan membantik kotak ke lantai hingga barang barang dalam kotak berserakan di lantai.
Clara mendengus kesal, ia menyandarkan tubuhnya di pintu lemari.
__ADS_1
"Isinya hanya barang barang pemberian Layla," ucap Clara, dadanya naik turun menahan amarah dan api cemburu yang bergejolak di dalam dada.
"Akan aku kembalikan barang barang ini pada Layla," gumam Clara.
Clara kembali memungut semua barang barang yang berserakan di lantai, ia masukkan kembali ke dalam kotaknya. Setelah semua selesai ia masukkan, lalu Clara bergegas meluncur ke rumah Layla membawa kotak milik Kei.
Tiga puluh menit kemudian, Clara telah sampai di halaman rumah Layla, ia keluar dari pintu mobil dan mengeluarkan kotak barang barang milik Kei, kemudian Clara menutup pintu mobil dan balik badan menatap ke arah Layla dan Rico di teras rumah. Clara langsung mendekati Layla dan Rico, ditangannya membawa kotak milik Kei.
"Siang Layla," sapa Clara.
Clara menatap benci Layla, lalu beralih menatap Rico sesaat.
"Siang Bu Clara," jawab Layla, setiap kali kedatangan Clara, Layla sudah merasakan tidak enak hati.
"Ada keperluan apa, Ibu datang kemari?" tanya Rico berdiri menyambut Clara.
"Bukan urusanmu," jawab Clara dengan ketus.
"Lalu?" tanya Rico.
"Ambillah!!" seru Clara melemparkan kotak ke bawah kaki Layla.
"Brakkk!!"
Kotak itu terbuka dan barang barang di dalam kotak itu berserakan di lantai.
"Ap,pa maksud Ibu?" tanya Layla.
"Aku kembalikan semua barang barang yang kau berikan pada suamiku," ucap Clara. "Dalam rumah tanggaku tidak boleh ada barang barang bekas yang tidak berguna," sindir Clara.
"Kenapa Ibu lakukan ini semua?" tanya Layla.
"Cukup Layla!" seru Clara. "Tidak perlu kau senaif itu!"
"Tapi...." Layla tidak melanjutkan ucapannya.
"Kau itu polos, naif atau?" Clara terdiam. "Kau memang munafik!!" Clara tidak dapat mengontrol emosinya yang semakin meledak ledak. Hinaan dan cacian keluar dari bibir Clara yang sensual.
Rico yang sedari tadi diam, akhirnya angkat bicara.
"Aku baru tahu, kualitas seseorang tidak bisa di nilai dari penampilan, usia, dan setinggi apa dia sekolah," sindir Rico.
"Apa maksudmu?!" Clara matanya mendelik menatap Rico.
"Kau, kau lah orangnya." Rico tersenyum sinis.
"Tidak perlu kau ikut campur, kau siapa?! Clara memperhatikan Rico dari ujung rambut hingga ujung kaki.
" Rico, sudahlah..." ucap Layla, dengan mata berkaca kaca.
"Kau yang diam Layla!" seru Rico.
__ADS_1
Layla terhenyak saat Rico membentaknya.
"Mau sampai kapan kau diam di perlakukan oleh orang orang yang tidak punya hati!"
Layla menggelengkan kepala, air matanya tak dapat ia tahan lagi.
"Menangislah Layla!" Rico menatap kesal Layla. "Hanya itu yang bisa kau lakukan, wanita lemah!"
"Cukup!" pekik Layla. "Aku bukan lemah, aku hanya lelah, lelah!!" Layla pun menangis.
"Dia memang wanita lemah, bisanya hanya merayu suami orang," sindir Clara menatap sinis Layla.
"Tutup mulutmu!!" bentak Rico menatap tajam Clara.
"Kau membentakku?" tanya Clara.
"Ya, kau juga manusia tidak punya hati, pergi dari rumah ini secepatnya," ucap Rico. "Pergi!!"
Clara tersentak, ia mundur selangkah, "awas kau," ancam Clara.
Clara balik badan dan melangkahkan kakinya meninggalkan rumah Layla.
"Cukup Layla!" seru Rico. "Hentikan tangisanmu!"
Rico menarik kursi roda Layla dan mendorongnya memasuki rumah, dan membawa Layla masuk ke kamar.
"Berhenti menangis!" seru Rico mendorong kasar kursi roda Layla hingga membentur meja yang ada di kamar Layla.
Rico duduk di kursi memperhatikan Layla yang terus menangis, hingga beberapa menit berlalu barulah Layla bisa menghentikan tangisannya.
Rico menghela napas dalam dalam, lalu ia berdiri dan mendekati meja. Ia ambil tisu dan jongkok di jadapan Layla. Tangannya terulur menyeka air mata Layla dengan lembut.
Layla terdiam, di sela sela isaknya ia bertanya, "kenapa kau marah padaku?"
Rico menghentikan gerakannya mengusap air mata Layla, ia menatap kedua bola mata Layla. Ia tidak menjawab pertanyaan Layla.
Rico berdiri dan meletakkan tisu basah di pangkuan Layla. Ia sedikit membungkukkan badannya dengan kedua tangan terulur menangkup wajah Layla.
Rico menatap kedua bola mata Layla dalam dalam. Detik berikutnya ia mengecup bola mata Layla yang kiri dan kanan.
"Air matamu terlalu berharga hanya untuk menangisi pria yang tidak punya prinsip, Layla."
Layla terkejut sekaligus bingung dengan sikap Rico. Ia menatap Rico yang berdiri tegap lalu balik badan meninggalkan Layla sendirian di kamar.
Layla menatap punggung Rico hingga hilang dari balik pintu, "aneh, dia aneh," gumam Layla.
Layla mengambil tisu yang di letakkan di pangkuannya lalu ia mulai menyeka sisa air mata di pipinya. Layla terdiam saat menyeka ke dua bola matanya.
"Bagaimana dia tahu tentang hubunganku dengan Kei? seingatku dulu, aku kenal Rico hanya di pesta ulang tahunku yang ke tujuh belas," gumam Layla bingung.
Delapan belas tahun yang lalu Layla berkenalan dengan Rico, itupun hanya sepintas lalu, tapi bagaimana mungkin Rico bisa bersikap seakan akan dia tahu segalanya, dan ciuman itu? apa artinya?
__ADS_1