Kei Dan Layla

Kei Dan Layla
Chapter 57: Gigih


__ADS_3

Senin pukul 8:30. Kei sudah ada di kantor Polisi. Ia bertanya tentang kasus penembakan Layla tempo hari. Dan Polisi memberikan keterangan bahwa pelakunya adalah Yuda, dan hari ini sedang dalam pengejaran Polisi karena Yuda berhasil melarikan diri.


Kei sedikit merasa lega, namun ia belum tenang jika Yuda masih belum tertangkap. Untuk memastikan hal hala yang tidak di inginkan terjadi pada Layla. Kei memutuskan untuk pergi menemui Layla dan berpesan untuk tidak keluar rumah dulu.


Sesampainya Kei di halaman rumah Layla, ia melihat ada seorang wanita muda dan seksi tengah berbincang dengan Layla dan Raiden.


Kei pun langsung menghampiri mereka.


"Selamat pagi," kata Kei.


Layla dan yang lain menoleh ke arah suara, menatap Kei yang sudah berdiri di hadapan mereka.


"Pagi," kata wanita itu.


Wanita itu adalah Sila, yang tak lain adalah tetangga baru Layla. Selama ini Layla tidak tahu dan baru tahu setelah mereka ketemu secara tidak sengaja.


"Kei..." ucap Layla pelan.


"Ada apa lagi kau datang kesini?" tanya Raiden, "apa kau mau cari masalah baru?" sindir Raiden.


Keila hanya diam menanggapi perkataan Raiden, tapi Kei lebih fokus pada keselamatan Layla.


"Layla aku hanya ingin memberitahu, kau jangan keluar rumah dulu sebelum Yuda di tangkap Polisi," ucap Kei. "Yuda sekarang dalam pengejaran Polisi."


"Iya Kei, terima kasih," kata Layla.


"Yuda begitu juga gara gara kau Kei, jadi secara tidak langsung kau lah penyebabnya" timpal Raiden.


"Rai, sudahlah" sela Layla, menoleh menatap Raiden.


Kei menghela napas dalam dalam, "baiklah Layla, kalau begitu aku pulang." Keila menundukkan kepala sesaat menatap Layla.


"Bagus, jangan lama lama" sindir Raiden.


Kei menatap tajam Raiden, ia hanya diam menanggapi sindiran Raiden. Ia sadar, kalau sekarang posisi dia sudah beristri. Kei balik badan melangkahkan kakinya.


Sila yang sedari tadi diam hanya memperhatikan, ia melihat ada yang ganjal di antara mereka, namun Sila belum tahu apa masalah mereka.


Layla menatap Raiden dengan perasaan kesal, "bisa tidak, sedikit saja kau tidak kasar terhadap Kei?" tanya Layla.


"Loh?" Raiden bengong menatap Layla, "apa aku harus bersikap lembut, terhadap dia?"


"Rai, usiaku tidak akan lama lagi...aku tahu itu" ucap Layla lirih.


"Layla, aku tidak ada maksud seperti itu pada Kei." Raiden berjalan mendekati Layla dan jongkok di hadapannya.


"Sudahlah..." Mata Layla berkaca kaca.


Raiden mengusap air mata Layla yang hampir jatuh, "jangan menangis, aku hanya tidak ingin kau tambah sakit hati, hanya itu kok."


"Mbook!" seru Layla.


Mbok Darmi yang ada di dapur mendengar Layla memanggilnya langsung bergegas keluar rumah.


"Ada apa Neng?" tanya Mbok Darmi dari arah pintu.


"Antarkan aku ke kamar" jawab Layla.


"Baik Neng." Mbok Darmi langsung mendekati Layla dan mendorong kursi roda memasuki rumah.


"Layla!" seru Raiden berdiri dan menyusul Layla.


Sementara Sila hanya bengong melihat itu semua, ia coba mengikuti alurnya. Lalu ia bangun dan berdiri memperhatikan Layla dan Raiden dari balik kaca rumah.


"Layla, aku mohon kau jangan marah." Raiden menahan kursi roda.


"Kau sudah keterlaluan Rai." Mata Layla berkaca kaca.


"Tapi aku hanya-?"

__ADS_1


"Cukup Rai, kau tahu kalau usiaku tidak lama lagi, mana mungkin aku kembali pada Kei! seru Layla.


" Aku minta maaf."


"Aku hanya ingin melihat kalian bisa bersahabat, hanya itu kok" ucap Layla. "Mbok, bawa aku kekamar."


Mbok Darmi kembali mendorong kursi roda masuk ke dalam kamar Layla. Sementara Raiden hanya diam mematung menatap Layla masuk ke dalam kamar.


"Ahhkkk!" seru Raiden.


"Kenapa aku selau salah di matanya" gumam Raiden pelan.


Lalu ia balik badan melangkahkan kaki menuju teras rumah, "sedang apa kau disitu?" tanya Raiden menatap Sila yang berdiri di dekat kaca.


"Ah tidak" jawab Sila, "kalau boleh tahu, kalian itu kenapa?" tanya Sila.


"Bukan urusanmu." Raiden berlalu begitu saja meninggalkan Sila yang bengong menatapnya.


"Ih, dasar aneh" gumam Sila pelan.


"Neng Sila, maaf ya" sapa Mbok Darmi dari arah pintu.


"Eh Mbok, Sila boleh tanya tidak?" tanya Sila mendekati Mbok Darmi.


"Iya Neng, mau tanya apa?"


"Mbok, sebenarnya ada apa diantara mereka?" tanya Sila.


"Oh, Mbok kurang tahu Neng." Mbok Darmi menundukkan kepala sesaat.


"Oh, iya tidak apa apa Mbok" ucap Sila, "kalau begitu saya pamit dulu Mbok."


"Iya Neng, sekali lagi maaf."


Sila menganggukkan kepala, ia berjalan melangkahkan kaki menuju rumahnya.


"Aku harus menvmcari tahu, ada apa dengan mereka sebenarnya" gumam Sila di sela langkahnya.


Sila langsung berjalan mendekati Raiden dan menyapanya, "kau sedang apa di sini?"


Raiden tengadahkan wajahnya menatap Sila, "ah kau lagi" Raiden membuang mukanya ke samping.


"Kau itu kenapa? sensitif amat sih!" seru Sila.


Raiden mendengus kasar, menatap Sila sesaat. Lalu ia bangun dan berdiri dan mendorong lengan Sila ke samping, hingga Sila berjalan selangkah ke samping.


"Minggir!" seru Raiden.


Sila memegang lengannya, lalu ia berjalan menyusul Raiden, "tunggu!"


Sila menarik lengan Raiden membuatnya mundur kebelakang dan menatap Sila.


"Ada apa lagi?" Raiden mengangkat kedua alisnya menatap Sila.


"Boleh aku temani?" tanya Sila tersenyum manis.


"Tidak!" Raiden kembali balik badan. Tapi Sila kembali menarik lengan Raiden.


"Ayolah, boleh ya?" tanya Sila lagi, ia melipat kedua tangannya menatap Raiden.


Raiden membelalakkan matanya, "tidak."


Kemudian Raiden kembali melangkahkan kakinya menuju mobilnya yang terparkir di tepi jalan.


Sila tidak ingin menyerah, ia kembali mengejar Raiden. Tapi Raiden sudah masuk ke dalam mobil dan menjalankan mobilnya.


"Ah sial!" seru Sila menghentikan langkahnya menatap mobil Raiden yang sudah meninggalkan Sila.


Sila tersenyum sendiri menepuk keningnya, "ayo Sila, kau harus bisa meluluhkan hatinya" gumam Sila pelan. Lalu ia melangkahkan kakinya kembali ke rumah dengan hati riang gembira.

__ADS_1


***


Sila masih penasaran dengan Raiden juga Layla, ia meminta temannya Lina untuk mencari informasi tentang Layla.


"Bagaimana Lin?" tanya Sila sudah tidak sabar.


"Sabar dong Sil" jawab Lina, lalu ia duduk di kursi teras rumah Sila.


"Jadi begini Sil....." ucap Lina pelan.


Kemudian Lina mulai menceritakan tentang awal mula hubungan Kei dan Layla, hingga sampai hari ini.


"Begitu cerita yang aku dapat, dari tetangga dan teman sekolah Layla dulu, Sil." Lina mengakhiri ceritanya.


"Ooohh, pantas saja kemarin aku lihat mereka saling bersitegang." Sila memajukan bibirnya menatap Lina.


"Iya itu benar," kata Lina.


"Berarti aku punya kesempatan untuk dapatkan Raiden dong?!" Mata Sila berbinar.


"Tentu saja, lagipula si Layla itu kan sudah sekarat. Apa yang di harapkan dari wanita yang sudah mau mati?" ejek Lina.


Sila menganggukkan kepala menatap Lina, "kau benar" ucap Sila, "kau harus bantu aku Lin."


"Siap Bos!" seru Lina tertawa kecil.


"Sekarang aku mau kerumah Layla, Raiden pasti ada di sana." Sila berdiri dan merapikan rambutnya sesaat.


"Ya sudah, aku tunggu kau di sini. Karena malam ini aku mau nginap di rumahmu" timpal Lina.


Sila mengacungkan jempolnya pada Lina, lalu ia melangkahkan kakinya menuju rumah Layla yang jaraknya hanya terhalang dua rumah.


Sesampainya di rumah Layla, Sila melihat Raiden dan Layla tengah berada di teras. Sila langsung mendekati Raiden yang tengah memakaikan penutup kepala Layla.


"Selamat sore" sapa Sila tersenyum.


Layla menoleh menatap Sila, "hai Sila."


"Kau lagi" sela Raiden tanpa melihat Sila sedikitpun.


"Boleh aku gabung?" tanya Sila.


"***-?"


"Tidak boleh!" potong Raiden, menatap Sila.


Raiden berdiri dan menarik lengan Sila dan membawanya turun ke halaman, "sebaiknya kau pulang, karena aku tidak mengharapkanmu." Raiden balik badan melangkahkan kakinya.


"Tunggu!" Sila berjalan dan menarik lengan Raiden.


"Apalagi hah?" Raiden membulatkan mata menatap Sila.


"Kenapa kau kasar sekali padaku?" tanya Sila.


Raiden menepis tangan Sila, "bukan urusanmu" ucap Raiden, "sekarang kau pulang, dan jangan datang lagi kesini."


Raiden mendorong tubuh Sila hingga keluar dari gerbang rumah Layla, "bye."


Kemudian Raiden menutup gerbang rumah Layla dan menguncinya.


"Raiden, ayolah!" Sila merajuk pada Raiden.


"Tidak!"


Raiden berlalu begitu saja meninggalkan Sila dan kembali mendekati Layla. Layla yang sedari tadi memperhatikan hanya menggelengkan kepala.


"Kau jangan begitu Rai, nanti kau jatuh cinta loh." Goda Layla.


"Tidak mungkin." Raiden duduk di kursi dengan tatapan lurus ke arah Sila yang masih berdiri di depan pintu gerbang.

__ADS_1


"Oke, hari ini aku ngalah. Tapi lihat besok, aku pastikan kau tidak akan menolakku lagi" gumam Sila tersenyum menatap Raiden. Lalu ia balik badan kembali ke rumahnya dengan harapan tinggi di hatinya untuk merebut perhatian Raiden.


__ADS_2