
"Hai Layla" sapa Raiden dari arah pintu dengan membawakan sebuket bunga sedap malam kesukaan Layla.
Layla tersenyum menatap Raiden. "Pagi Rai" jawab Layla.
"Kau sudah lebih baik?" tanya Raiden sambil meletakkan bunga itu di atas meja.
Layla menganggukkan kepala. "Terima kasih."
"Layla, hari ini aku ke kantor Polisi dulu, kau baik baik ya di sini." Raiden duduk di kursi dan meraih tangan Layla.
"Iya, pergilah. Aku baik baik saja kok" ucap Layla menatap Raiden, "hati hati di jalan."
"Tentu sayang." Raiden mencubit gemas hidung Layla.
"Mulai deh."
"Hahaha." Raiden tertawa, lalu ia berdiri dan mengecup puncak kepala Layla.
"Hati hati" ucap Layla, mengingatkan lagi Raiden.
"Baik tuan Putri." Raiden membungkukkan badan sesaat.
"Bye." Raiden tersenyum menatap Layla berjalan mundur sembari melambaikan tangan pada Layla.
Layla menggelengkan kepala menatap Raiden. "Cepat kembali!" ucap Layla.
"Oke!" Raiden balik badan melangkahkan kaki keluar kamar dan menutup pintunya kembali.
Baru saja Raiden menutup pintu, satu menit kemudian pintu di buka lagi dari luar. Layla berpikir itu adalah Raiden. Layla menatap pintu sambil berkata. "Apa la-?"
Ucapannya terhenti saat melihat yang datang bukanlah Raiden. "Om Yuda?"
"Apa kabarmu Layla." Sapa Yuda tersenyum sinis mendekati Layla.
"Ada apa Om?" tanya Layla menatap Yuda yang duduk di kursi.
"Hanya memastikan apa kau masih hidup atau tidak" ucap Yuda memajukan wajahnya menatap Layla tajam.
Layla mengerutkan dahi menatap Yuda. "Maksud Om?" tanya Layla.
"Aku datang ke sini bukan untuk menjengukmu Layla, tapi aku datang ke sini hendak meminta sesuatu padamu."
"Apa?" Layla mengerutkan dahi menatap tajam Yuda.
Yuda bangkit dari duduknya dan duduk di tepi tempat tidur, tangannya terulur mengangkat dagu Layla. "Jika kau ingin melihat Raiden kekasihmu itu selamat, maka kau harus turuti permintaanku" jawab Yuda tersenyum sinis.
Layla memalingkan wajahnya, menjauh dari tangan Yuda. "Apa maksudmu Om? aku tidak mengerti?"
"Lepaskan Kei, lupakan Kei, buat dia benci sama kamu."
"Tidak mungkin itu Om!" ucap Layla dengan nada tinggi.
"Oke, jika kau tidak mau. Tidak masalah bagiku. Tapi kau akan melihat mayat kekasih barumu itu. Raiden." Dengan mata melotot, tangan mencengkram dagu Layla, Yuda berusaha mengancam Layla.
"Orang tua macam apa kau!" Seru Layla. Tangannya menepis tangan Yuda dari dagunya.
"Kau tidak perlu menceramahiku Layla, kau setuju atau tidak yang jelas nyawa kekasihmu ada di tanganmu Layla!" Yuda berdiri dari tepi tempat tidur lalu mendekati meja dan menuangkan air mineral ke dalam gelas.
"Raiden akan melaporkanmu pada Polisi!"
"Oya?" Yuda melirik ke arah Layla tertawa kecil. Lalu berjalan dengan membawa satu gelas air mineral di tangannya.
"Kapan saja aku bisa melenyapkan nyawa kekasihmu meskipun aku di penjara, jadi jangan coba coba kau mengancamku Layla" ucap Yuda sambil menyecap air mineral.
"Kau bukan manusia Om!"
__ADS_1
"Hahaha! bukankah Raiden sedang ke kantor polisi sekarang? " Yuda berjalan mengelilingi tempat tidur Layla.
"Detik ini juga nyawa Raiden bisa melayang, aku tinggal menelpon orang orangku sekarang Layla" ucap Yuda sambil menumpahkan air mineral di gelas ke rambut Layla.
Layla mengusap wajah dan rambutnya yang basah. "Apa apan ini Om!" Layla menatap tajam Yuda, "Om pikir aku takut!"
"Oya? baiklah." Yuda merogoh saku celananya dan mengambil ponsel miliknya.
"Hentikan Om!" Layla turun dari tempat tidur dan mencengkram lengan Yuda hingga infusan di tangannya terlepas dan mengeluarkan darah di lengan Layla.
"Jadi bagaimana?" Yuda mengangkat tangan yang menggenggam ponsel tinggi tinggi dan tangan yang lain mendorong bahu Layla hingga terjungkal ke atas tempat tidur.
"Jangan sakiti Raiden, aku mohon Om, jika mau Om seperti itu. Baiklah akan aku lakukan!" ucap Layla menatap marah pada Yuda.
"Hahaha! nah, gitu dong Layla" ucap Yuda sembari memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celananya.
"Sekarang pergi dari hadapanku, pergi!" seru Layla sambil menunjuk pintu ruangan.
"Tentu manis, dengan senang hati." Yuda tertawa kecil lalu balik badan meninggalkan ruangan.
Layla terduduk lemas, ia menangis menyesali kata katanya untuk melupakan Kei. Tapi jika tidak, keselamatan Raiden terancam. "Ayah, Ibu, mengapa hidupku seperti ini. Apa aku terlalu egois?" ucap Layla pelan menangkup wajahnya dengan kedua tangan.
"Ceklek!"
Suara pintu kembali di buka dari luar, layla menoleh menatap pintu. Nampak Kei dari arah pintu.
Kei berdiri di depan pintu menatap Layla yang terlihat berantakan. "Layla? apa kau baik baik saja?" tanya Kei langsung berlari mendekati Layla dan memeriksa lengannya yang berdarah.
"Kau kenapa Layla?" tanya Kei lagi. Lalu ia mengangkat tubuh Layla dan di baringkan di atas tempat tidur. Sementara Layla hanya diam sambil menangis terisak.
"Aku panggil dokter." Kei hendak menekan tombol tapi di cegah Layla.
"Tidak Kei!" ucap Layla menatap nanar Kei.
Kei duduk di tepi tempat tidur dan menatap Layla. "Ada apa Layla? katakan padaku, siapa yang sudah menyakitimu?" tanya Kei meraih kedua tangan Layla dan menciumnya dengan lembut.
"Kenapa Layla?" tanya Kei.
"Lupakan aku Kei, lupakan aku!" Layla memalingkan wajahnya dari Kei, dadanya sesak dan merasakan sakit yang teramat sakit saat harus berkata seperti itu.
"Apakah karena Raiden?" tanya Kei, terhenyak mendengar pernyataan Layla.
Layla hanya terdiam dan terisak menundukkan kepala.
"Tidak, tidak..ini bukan kau Layla. Aku tahu itu" ucap Kei menyentuh dagu Layla dan mengangkatnya supaya sejajar dengan wajahnya.
"Siapa yang sudah mempengaruhimu Layla? katakan?" tanya Kei.
"Tidak ada" jawab Layla.
"Layla, apapun yang terjadi. Aku akan tetap menjaga cintaku padamu Layla, terserah kau mau berkata apa." Kei menurunkan tangannya dari dagu Layla.
"Pergi Kei, jangan temui aku lagi!"
"Tidak akan pernah Layla, tidak akan pernah" Kei mengerutkan dahi tidak mengerti kenapa Layla bersikap seperti itu.
"Pergi!" ucap Layla berteriak histeris.
"Layla?" ucap Kei, kedua tangannya terulur memegang pundak Layla.
"Pergi! aku tidak ingin melihatmu lagi!"
"Tidak Layla, jangan katakan itu padaku. Aku tidak sanggup melakukannya" Kei langsung memeluk Layla dan mengusap punggungnya supaya Layla tenang.
"Seribu kali kau mengusirku, aku tidak akan pernah pergi dari hidupmu, dari cintaku."
__ADS_1
Tubuh Layla bergetar menahan kesedihan yang dia rasakan saat ini. Layla melepaskan kedua tangan Kei dan menghempaskannya.
"Pergi!!"
"Layla?" ucap Kei menatap Layla bingung.
"Maaf, jangan buat keributan ini rumah sakit, biarkan pasien tenang." Sapa seorang Suster dari arah pintu.
Layla langsung turun mendekati Suster. "Sus, usir dia Sus, dia sudah mengganggu saya" ucap Layla menatap Kei nanar.
"Layla?" Kei berdiri mengerutkan dahi menatap Layla.
"Maaf Mas, sebaiknya Mas keluar. Biarkan pasien istirahat" ucap Suster sambil menggandeng lengan Kei dan memaksa Kei untuk keluar dari ruangan Layla.
"Tapi Sus."
"Saya mohon pengertiannya Mas."
Mau tidak mau, akhirnya Kei mengalah dan mengikuti langkah kaki Suster. Didepan pintu Kei menoleh menatap Layla dan berteriak. "Layla, aku tidak akan pernah menjauhimu! tidak akan pernah!"
"Ceklek!"
Suara pintu di tutup, Layla menjatuhkan tubuhnya di lantai keramik. Ia menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Lalu menangis sesegukan.
"Ceklek!"
Suara pintu kembali di buka. Layla menoleh menatap Suster dengan membawa alat alat medis. Suster terkejut melihat Layla duduk di lantai sambil menangis. "Apa kamu baik baik saja?" Suster langsung mendekati Layla dan membantu Layla berdiri dan membaringkannya di atas tempat tidur. Setelah itu Suster memeriksa kondisi kesehatan Layla dan memberikan obat penenang, Suster itu kembali memasangkan infusan yang tadi terlepas.
"Layla, kau harus banyak istirahat biar cepat sembuh" ucap Suster tersenyum menatap Layla.
"Baik Sus" jawab Layla.
Setelah selesai pemeriksaan Suster itu kembali keruangannya tempat ia bertugas.
Layla terdiam menatap langi langit kamar dengan tatapan kosong. Air matanya terus berlinang, hingga tak terasa ia pun tertidur efek dari obat penenang yang Suster berikan.
Tak lama kemudian, suara pintu terdengar di buka perlahan dari luar, nampak Raiden dari arah pintu dengan membawakan buah buahan kesukaan Layla. Ia berjalan perlahan karena melihat Layla tengah tidur. Kemudian Raiden meletakkan buah itu di atas meja dan menoleh menatap Layla. Ia mengerutkan dahi menatap Layla karena melihat rambutnya basah. 'Sepertinya Layla habis menangis.' ucap Raiden dalam hati.
Raiden duduk di tepi tempat tidur dan mengulurkan tangannya perlahan menyentuh pipi Layla pelan. Raiden masih bisa melihat jejak jejak air mata yang tertinggal di bulu matanya Layla yang lentik.
Tiba tiba saja Layla terbangun dan membuka matanya. Ia menatap Raiden dan langsung bangun dan memeluk Raiden. "Kau baik baik saja Rai" ucap Layla sambil terisak.
Raiden perlahan membalas pelukan Layla. Ia mengerutkan dahi tidak mengerti akan sikap Layla yang tak biasanya. "Aku baik baik saja, tuan Putri. Ada apa?" tanya Raiden memeluk erat Layla.
Layla hanya menggelengkan kepala sembari terisak di pelukan Raiden.
"Hei, ada apa denganmu Layla?" Raiden mengusap punggung Layla dengan lembut.
Layla tetap menggelengkan kepala tanpa menjawab pertanyaan Raiden. Membuat Raiden tambah bingung.
"Layla, katakan padaku ada apa?" Raiden melepas pelukan Layla dan mengangkat dagu Layla. Menatap kedua bola mata Layla yang sembab dan merah. Layla tetap menggelengkan kepala tidak menjawab.
"Kau terlihat cantik kalau sehabis menangis" ucap Raiden tersenyum menggoda Layla.
"Memangnya kalau aku tidak menangis, jelek begitu?" Layla membalas kata kata Raiden dengan suara serak.
"Mmm, iya." Raiden mengangkat kedua alisnya sambil menganggukkan kepala.
"Ih jahat!" Layla mencubit perut Raiden sambil tertawa samar menatap horor Raiden.
"Aw! ampun tuan putri!" jawab Raiden mengusap perutnya sendiri.
"Jangan menangis, apa kamu tidak cape menangis terus, percuma dong ada aku di sini" ucap Raiden tersenyum, tangannya terulur menyeka air mata di pipi Layla dengan lembut.
"Sekarang kamu makan buahnya dulu, selepas itu kamu istirahat lagi ya." Raiden berdiri dan mengambilkan Layla buah. Sebelumnya ia kupas dulu buah apel itu lalu ia berikan pada Layla. Raiden menatap dalam wajah Layla dan tersenyum sendiri.
__ADS_1
'Hidupmu berat Layla, tapi percayalah aku akan selalu ada buat kamu. Meskipun cintaku hanya bertepuk sebelah tangan. Tapi cintaku padamu tulus dan akan aku jaga sampai aku tiada.' ucap Raiden dalam hati.