
"Layla..sudah pagi, apa kau masih tidur?" Rico merasakan pegal di pundaknya karena semalaman Layla tidur di bahunya. Layla menggeliat, ia membuka mata perlahan.
"Maaf..apa kau pegal?" tanya Layla balik, ia tengadahkan wajah menatap Rico.
Rico tersenyum, mengusap lembut rambut Layla, "tidak apa apa, aku hanya khawatir terjadi sesuatu pada mu."
Layla menggelengkan kepala, "tidak..semalam tidurku pulas, jadi aku lupa kalau tidur di sini."
"Ya sudah, kalau kau mau lanjut tidur..tapi jangan di sini.." Rico membantu Layla untuk bangun.
"Tidak Rico..sudah cukup."
"Baiklah..sebaiknya kau bersihkan badanmu, lalu kita sarapan." Rico turun dari kursi lalu ia mengangkat tubuh Layla dan menggendongnya menuju kamar mandi.
Tiga puluh menit berlalu, mereka telah selesai. Rico membawa Layla ke meja makan menggunakan kursi roda.
"Kau sarapan dulu..terus minum obatnya," Rico menyodorkan semangkuk sayur di hadapan Layla, lalu ia membuatkan susu ibu hamil beserta obat obatan Layla.
'Kau sangat baik..sama baiknya seperti Raiden' ucap Layla dalam hati memperhatikan semua yang Rico kerjakan.
"Kenapa kau bengong?"
Layla tersenyum, ia mengulurkan tangan meraih tangan Rico dan menggenggamnya.
"Hei..ada apa?" Rico meletakkan gelas di atas meja lalu duduk di kursi menghadap Layla. "Ada apa?"
"Terima kasih untuk semua yang telah kau berikan dan lakukan padaku," Layla menundukkan kepala. Rico mengangkat dagu Layla supaya menatapnya.
"Tidak perlu kau bicara seperti itu..aku iklas melakukannya tanpa ada rasa terpaksa..ataupun mengasihanimu," ucap Rico menatap Layla. "Kamu tahu..aku mencintaimu..sama seperti kau mencintai Kei..tapi..aku tidak perduli semua itu..yang aku mau..kau bisa kuat melawan penyakitmu itu dan bisa sembuh."
"Iya aku tahu..tapi?"
"Tidak ada tapi tapian..ingat..ada bayi dalam kandunganmu..yang membutuhkanmu, Layla," potong Rico.
__ADS_1
"Bagaimana jika aku tak mampu lagi?" Layla mengusap perutnya yang mulai membesar.
"Selebihnya soal kematian itu..kita tidak bisa menolak..aku mau kau terus berjuang..demi bayimu.."
"Baiklah.." Layla tersenyum. Rico tersenyum tipis lalu ia mencium puncak kepala Layla.
"Sudah..jangan berpikir yang tidak tidak, fokus saja pada kesehatan dan bayimu." Layla menganggukkan kepala. "Sekarang kita sarapan, setelah ini kita langsung menemui Dr. Kenzi," ucap Rico.
Mereka pun menikmati sarapannya dengan tenang, sesekali Rico memberikan perhatian lebih pada Layla. Membuat Layla merasa bersalah, tapi dia tak mampu untuk mengatakannya. Dalam diam ia menangis sedih, ada rasa menyesal tapi waktu tidak bisa di putar selain menerima semua kenyataan yang tidak sesuai dengan yang di harapkan. Layla tidak bisa menyalahkan Kei ataupun keadaan, selain berdamai dengan dirinya sendiri dan sekuat hati menerima segala konsekwensi atas apa yang sudah menjadi pilihan. Tidak ada lagi yang ingin Layla harapkan selain menyerahkan semua ini pada Sang Maha Hidup. Setelah mereka selesai sarapan, Rico membawa Layla untuk bertemu Dr. Kenzi.
***
"Layla, apa kabarmu?" tanya Dr. Kenzi tersenyum menatap raut wajah Layla yang sedikit terlihat pucat.
"Baik Dok, semenjak dia merawatku..aku sudah merasa lebih baik dari sebelumnya," jawab Layla melirik sesaat ke arah Rico.
"Bagus Layla, jangan bebankan dirimu dengan semua peristiwa yang sudah lewat. Ingat..sebentar lagi kau akan menjadi seorang ibu." Dr. Kenzi berdiri dan meminta Rico untuk menggendong Layla dipindahkan ke ranjang. Setelah itu Dr. Kenzi meminta Rico untuk menunggu di luar ruangan selama pemeriksaan.
Rico menganggukkan kepala, lalu ia beranjak keluar ruangan. Ia duduk termenung di kursi mengkhawatirkan kondisi Layla. Meski Rico berusaha membesarkan hati Layla dan selalu menyemangatinya tapi Rico tidak dapat menutupi kebenarannya. Bahwa Layla sedang dalam keadaan sekarat. Ia bertahan bukan demi dirinya tapi untuk bayi dalam kandungan.
"Rico?!"
Seseorang menyapa membuyarkan lamunan Rico, ia menoleh ke samping nampak Raiden dan Sila sudah berdiri di hadapannya.
"Kalian? sedang apa di sini?" tanya Rico, ia langsung berdiri.
"Kami baru saja selesai cek kandungan," jawab Sila tersenyum, tangannya mengusap perutnya.
"Ah iya, aku lupa." Rico menepuk keningnya sendiri.
"Di mana Layla?" tanya Raiden.
"Layla di dalam..dia sedang di periksa Dr. Kenzi."
__ADS_1
"Layla baik baik saja bukan?" tanya Raiden lagi, tidak bisa Raiden pungkiri. Meskipun ia telah menikahi Sila, tapi rasa sayang dab cintanya terhadap Layla masih ia simpan rapat rapat di dalam hatinya.
Rico menundukkan kepala sesaat, "sulit untuk kujelaskan Rai.." Raiden menganggukkan kepala. Ia mengerti maksud ucapan Rico. Bahwa Layla tidak sedang baik baik saja.
"Kita tidak boleh berhenti berharap," sahut Sila. Raiden dan Rico membenarkan ucapan Sila.
"Ceklek!" suara pintu ruangan di buka dari dalam, mereka langsung berjalan mendekati pintu. Nampak Dr. Kenzi keluar dari ruangan dan menutup pintu ruangan tempat Layla berada.
"Bagaimana Layla, Dok?" tanya Rico dengan tatapan penuh rasa cemas. Dr. Kenzi menghela napas dalam dalam.
"Sebaiknya kita bicara di ruangan saya," jawab Dr. Kenzi. Rico menganggukkan kepala, lalu ia dan yang lain berjalan mengikuti langkah Dr. Kenzi dari belakang. Sesampainya di ruangan Dr. Kenzi mempersilahkan mereka duduk. Sementara dia sendiri mengambil beberapa dokumen hasil pemeriksaan, lalu ia duduk di kursi membuka dokumen itu satu persatu. Rico dan yang lain diam tidak ada yang bertanya, karena takut mengganggu Dr. Kenzi yang tengah serius.
Dr. Kenzi menghela napas panjang, ia menutup semua dokumen lalu menatap satu persatu ke arah mereka.
"Ada apa Dok?" Rico memberanikan bertanya, ia sudah tidak sabar lagi ingin mendengar keterangan tentang penyakit kanker otak Layla.
"Sebenarnya kanker otak bisa di sembuhkan karena penanganannya sudah benar, tapi..?"
"Tapi apa Dok?" potong Rico.
"Obat obatan yang saya berikan, terjadi penolakan di tubuh Layla."
"Apa artinya Dok?" Raiden ikut penasaran.
"Layla sudah tidak menginginkan hidupnya lagi," jawab Dr. Kenzi.
Mereka saling pandang sesaat, pernyataan Dr. Kenzi memang sempat membuat mereka terhenyak, tapi mengingat semua hal yang sudah menimpa Layla, tidak aneh lagi jika Layla tidak menginginkan hidupnya lagi.
"Apa yang harus aku lakukan, Dok?" ucap Rico, matanya berkaca kaca menatap Dr. Kenzi.
"Kau harus lebih kerja keras lagi untuk memberikannya semangat hidup, jauhkan dia dari hal hal yang mengingatkannya tentang masa lalu," jawab Dr. Kenzi.
"Akan saya lakukan Dok, demi Layla dan bayinya..apapun akan kulakukan." Rico tersenyum getir, ia diam sesaat untuk meyakinkan apa yang ia ucapkab sendiri. Raiden menepuk pundak Rico berkali kali.
__ADS_1
"Kau harus kuat Ric," kata Raiden.
"Yang paling utama, persiapkan diri kalian untuk hal terburuk sekalipun," timpal Dr. Kenzi. Mereka terdiam menatap tajam ke arah Dr. Kenzi, apa yang di katakan dia ada benarnya.