Kei Dan Layla

Kei Dan Layla
Chapter 37: Kematian Dinda


__ADS_3

Kondisi Dinda semakin lama semakin buruk. Sudah tiga hari dia di rawat di rumah sakit. Tapi tidak ada tanda tanda Dinda akan sembuh. Dokter mengatakan jika tubuh Dinda sudah menolak asupan vitamin dan obat obatan yang di berikan Dokter. Tubuh Dinda dalam tiga hari turun drastis, bukan karena Dokter tidak mampu mengobati Dinda. Tapi beban pikiran yang membuat Dinda tidak ada lagi semangat hidup. Dia merasa tidak ada lagi kebahagiaan untuknya.


Yuda, sebagai seorang Ayah tentu merasa terpukul. Dia menyalahkan Kei dan Layla sebagai penyebabnya.


"Aku akan buat perhitungan denganmu, jika terjadi sesuatu dengan Dinda." Yuda menatap marah pada Kei.


"Papa boleh menyalahkanku, tapi," ujar Kei, "Papa tidak bisa menyalahkan Layla."


Yuda tersenyum miring menatap Kei. Dia berjalan mendekati Kei dan mencengkram kerah baju Kei.


"Kenapa kau membela Layla?," kata Yuda. "Apa kau masih mencintainya?"


Kei menarik tangan Yuda dan menurunkannya dari kerah bajunya.


"Lepas!" seru Kei.


Yuda mendengus kesal menatap Kei. Tangannya terulur ke depan menunjuk ke arah Dinda yang terbaring lemah.


"Kau anggap cintamu suci pada Layla," ujar Yuda. "Tapi kau hilangkan sisi kemanusiaanmu, dimana hati nuranimu, Kei!! teriak Yuda.


Kei menatap lurus ke arah Dinda, ia menghela napas dalam, dan menundukkan kepalanya.


" Papa...." ucap Dinda lirih.


Yuda langsung menghampiri Dinda dan duduk di kursi. Ia meraih tangan Dinda dan menggenggam erat lalu menciumnya dengan dalam.


"Ada apa sayang?" tanya Yuda.


Dinda menatap sendu Yuda, lalu beralih menatap Kei.


"Kei,"-tangan Dinda terulur mencoba menggapai tangan Kei-" kemarilah" ucap Dinda dengan lirih.


Kei berjalan perlahan lalu ia duduk di kursi menyambut uluran tangan Dinda.


"Kau butuh sesuatu?" tanya Kei.


Dinda menggelengkan kepala. Ia tersenyum menatap Kei lalu beralih menatap Yuda.


"Aku mau, kalian tidak bertengkar, selama aku sakit, bisa?" tanya Dinda.


Yuda menatap tajam Kei sesaat, lalu beralih menatap Dinda.


"Tentu sayang" ucap Yuda.


"Terima kasih." Mata Dinda berkaca kaca.


Yuda dan Kei terdiam untuk waktu yang cukup lama. Mereka hanya memperhatikan setiap pergerakan naik turunnya napas Dinda.


"Dinda, kau istirahat. Aku akan menunggumu di sini." Kei meletakkan tangan Dinda lalu mengusap lembut rambut Dinda.


Dinda menganggukkan kepala, lalu ia berusaha memejamkan matanya. Kei meletakkan tangan Dinda dan menarik selimut untuk menutupi tubuh Dinda. Sementara Yuda bangun dari duduknya dan melangkahkan kaki ke luar ruangan tanpa bicara sepatah katapun pada Kei.


Kei menatap punggung Yuda, menghela napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Lalu Kei mengalihkan pandangannya pada Dinda yang tertidur lelap.


"Maafkan aku..," ucap Kei. "Semua salahku."


Kei menundukkan kepala dan menangis dalam diam.


***


Hari ke tujuh Dinda di rawat di rumah sakit. Kondisinya semakin memprihatinkan. Kei tidak pernah sedikitpun meninggalkan Dinda. Ia berharap Dinda kembali sehat seperti semula.


"Kei, biar Ibu yang menjaga Dinda. Kau istirahat dulu." Anita menatap wajah Kei yang terlihat pucat karena kurang tidur.


"Tidak Bu," jawab Kei. "Aku tetap di sini."


"Baiklah, apa kau butuh sesuatu?" tanya Anita.


Kei menggelengkan kepala menatap Anita. Matanya sendu memancarkan kesedihan.


"Ya sudah." Anita berjalan keluar bersama Abdul.


Kei menghela napas dalam menatap wajah Dinda yang terlihat pucat pasi. Kei meraih tangan Dinda dan mengecupnya pelan.


"Dinda, bangunlah.." ucapnya lirih.

__ADS_1


"Kei..." ucap Dinda parau.


"Kau sudah bangun?" tanya Kei.


"Uhukkk!"


Dinda terbatuk batuk dan mengeluarkan darah dari mulutnya.


Kei berdiri dan mengambil air mineral di atas meja, lalu ia memberikan air mineral itu dengan sedotan pada Dinda.


"Terima kasih."


Kei kembali meletakkan gelas di atas meja. Lalu ia membenarkan bantal supaya Dinda bisa bersandar dengan nyaman.


"Kei, aku mau pulang," ucap Dinda. "Aku bosan di sini."


"Tapi kau belum sembuh." Kei membenarkan rambut yang menghalangi wajah Dinda.


"Tapi aku bosan." Dinda menatap lurus ke depan dengan tatapan mata kosong.


Kei menghela napas panjang, lalu ia hembuskan perlahan. Lalu ia berdiri dan berjalan mendekati pintu ruangan.


"Uhukk!!"


Kei menghentikan langkah kakinya. Menoleh ke belakang menatap Dinda. Kei langsung kembali menghampiri Dinda.


"Uhukkk! Uhukk!"


Kei langsung menekan tombol memanggil Dokter. Setelah itu ia membenarkan tubuh Kei dan menyelimuti tubuh Dinda dengan selimut.


"Bertahanlah."


Kei mengambil tisu dan menyeka darah di bibir Dinda. Tak lama kemudian Dokter datang dengan dua perawat.


"Ada apa?" tanya Dokter.


"Pendarahan Dok." Raiden menatap Dokter sesaat.


"Silahkan Anda tunggu di luar." Dokter langsung memeriksa Dinda.


"Tapi Dok?" Kei menolak untuk meninggalkan Dinda.


"Baik Sus."


Kei melangkahkan kakinya keluar ruangan. Ia berdiri di depan pintu ruangan dengan cemas. Dari kejauhan Kei mendengar suara langkah kaki dari lorong Rumah Sakit. Nampak Abdul, Anita dan Yuda tengah berjalan mendekatinya.


"Ada apa Kei?" tanya Yuda.


"Dinda Pa," ucap Kei. "Dinda pendarahan."


"Apa?" Yuda membelalakkan matanya menatap Kei.


Kei menganggukkan kepala. "Benar Pa."


Yuda langsung berjalan menuju pintu, tapi di halangi Kei. "Jangan Pa!" seru Kei. " Dokter meminta kita menunggu di luar.


"Ahkkkk!"


Yuda mendorong tubuh Kei hingga oleng ke samping dan Yuda langsung membuka pintu ruangan. Melihat Dinda kondisinya kritis, Yuda langsung berlari menhampiri Dinda. Tapi kedua Suster itu langsung menarik Lengan Yuda dan membawanya keluar ruangan.


"Dia Putriku! aku ingin ada didekatnya!" pekik Yuda.


"Maaf Pak, tolong jangan buat keributan" ucap salah satu Suster. Lalu Suster itu kembali masuk ke dalam ruangan dan menutup pintu.


"Biarkan aku masuk!" seru Yuda sembari memukul pintu ruangan.


"Pak, bersabarlah" ucap Abdul menenangkan hati Yuda.


"Dinda anakku.." ucap Yuda lirih.


Dua puluh menit berlalu, pintu ruangan belum juga di buka. Yuda, Kei dan kedua orang tuanya menunggu dengan cemas.


Tak lama kemudian suara pintu di buka dari dalam. Kei dan yang lain langsung mendekati pintu. Nampak Dokter keluar dari ruangan.


"Siapa yang bernama Kei?" tanya Dokter.

__ADS_1


"Saya Pak" jawab Kei maju selangkah.


"Bu Dinda ingin bicara dengan Anda."


Kei langsung masuk ke dalam ruangan dan berjalan perlahan mendekati Dinda. Air matanya berlinang, tangannya terulur meraih tangan Dinda. Lalu ia duduk di kursi tanpa melepaskan genggaman tangannya. Alat alat medis terpasang di tubuh Dinda.


"Dinda..."


Dinda menoleh perlahan ke arah Kei dan Ia tersenyum samar berusaha membuka matanya.


"Kei..." ucapnya lirih.


"Jangan bicara dulu, kau istirahat dulu."


Dinda menggelengkan kepala pelan.


"Tidak Kei," ucapnya pelan. "Aku mau bicara denganmu."


Kei terisak menatap Dinda, sesekali ia mencium tangan Dinda. "Maafkan aku."


"Semua sudah terlambat Kei, maafmu tidak ada gunanya lagi."


Kei menggelengkan kepala menatap Dinda. Ia semakin gelisah dan merasa bersalah.


"Waktuku tidak banyak" ucap Dinda serak.


"Jangan bicara begitu, kau tidak akan kemana mana Dinda."


Dinda tersenyum. "Kei, sepeninggal aku nanti. Kembalilah pada Layla."


Kei terus menggelengkan kepala, menatap nanar wajah Dinda. "Tidak Dinda...tidak akan..." ucap Kei terisak.


"Kei, aku...aku..."


Kei membulatkan matanya menatap Dinda yang terkulai lemas dan matanya terpejam. Sesaat Kei terpaku, lalu ia berteriak histeris.


"Dinda, Dindaaa!" pekik Kei.


Kei mengguncang tubuh Dinda dan berharap Dinda bangun seperti semula. Tapi Dinda tidak meresponnya lagi.


"Dokterr!!!


Yuda, Abdul dan Anita langsung masuk ke dalam ruangan, bersamaan dengan Dokter dan Suster.


" Kalian keluar dulu." Dokter langsung memeriksa Dinda.


"Dokter, apa yang terjadi dengan Putri saya?" tanya Yuda.


"Maaf Pak, bisa kalian tunggu di luar?" ucap Dokter menatap Yuda dan yang lain, lalu ia menyuntikkan obat di selang infus.


"Mari Pak, Bu."


Suster berdiri di depan pintu ruangan dan mempersilahkan Kei dan yang lain untuk menunggu di luar.


Akhirnya Yuda dan yang lain menunggu di luar dengan cemas. Nampak Abdul dan Anita memanjatkan doa pada Ilahi Rabbi untuk kesembuhan Dinda. Sementara Yuda hanya bisa mondar mandir, sesekali dari mulutnya keluar caci maki yang tak jelas. Ia merutuki kesalahannya telah menikahkan Dinda dengan Kei.


Tiga puluh menit berlalu, suara pintu di buka dari dalam. Kei dan yang lain langsung menghampiri pintu ruangan saat Dokter keluar dari pintu.


"Bagaimana dengan Putri saya Dok?" tanya Yuda.


Dokter terdiam sesaat, lalu ia mulai menjelaskan kondisi Dinda.


"Maaf, Bu Dinda tidak bisa di selamatkan."


Yuda menggelengkan kepala, ia mundur selangkah "Tidak mungkin..." ucap Yuda pelan.Yuda langsung bergegas masuk ke dalam ruangan di ikuti Kei dan yang lain.


"Dindaaaaa!!!" teriak Yuda histeris memeluk tubuh Dinda yang terbujur kaku.


"Bangun sayang," Yuda menatap wajah Dinda. "Jangan tinggalkan Papa, Nak."


Yuda menangis sambil memeluk tubuh Dinda. Tiba tiba saja dia tertawa dan menoleh menatap Kei.


"Kau lihat?,"-Yuda terisak-"puas kau!"


Kei menundukkan kepala, ia menangis dalam diam. Ia tidak mampu mengangkat wajahnya saat Yuda menyalahkannya atas kematian Dinda.

__ADS_1


Dokter, Anita dan Abdul berusaha menenangkan Yuda dan memintanya untuk tidak larut dalam kesedihan. Meski berat harus di tinggalkan oleh orang yang di sayangi tapi Yuda di minta untuk mengiklaskan kepergian Dinda.


Tangis Yuda pun mulai berhenti. Ia membiarkan saat Suster membawa jasad Dinda untuk di bawa pulang ke rumah.


__ADS_2