
"Ini susu hangatnya Neng," ucap Mbok Darmi meletakkan susu hangat di atas meja di teras depan rumah Layla.
"Makasih Mbok," jawab Layla tersenyum.
"Hari ini jadwal pemeriksaan Neng, Dokter Kenzi akan datang pagi ini." Mbok Darmi duduk di kursi.
"Iya Mbok," kata Layla.
Saat mereka asik berbincang, dari gerbang halaman rumah yang terbuka sebuah mobil berwarna putih memasuki halaman rumah Layla.
"Clara?" gumam Layla pelan.
"Ada apa Ibu itu kemari Neng?" tanya Mbok Darmi.
"Aku tidak tahu Mbok," jawab Layla. "Mbok tetap di sini temani aku." Layla mulai merasakan firasat kurang menyenangkan melihat ke datangan Clara.
"Selamat pagi," sapa Clara dengan sopan.
"Pagi Bu Clara," jawab Layla.
"Apakah kau ada waktu luang Layla?" tanya Clara.
"Tentu, silahkan duduk." Layla mempersilahkan Clara duduk di kursi berhadapan dengan Mbok Darmi.
"Ada apa ya, Bu?" tanya Layla sopan.
Clara menarik napas dalam dalam, ia membenarkan posisi duduknya dan mulai berbicara, "ada hal yang ingin aku sampaikan padamu Layla." Clara menatap tajam Layla, ia berusaha menyembunyikan kebenciannya terhadap Layla.
"Silahkan.." ucap Layla pelan.
"Aku tidak suka hal yang basa basi," ucap Clara. "Jadi saya langsung pada inti permasalahannya."
"Iya?" Layla mengerutkan dahi menatap Clara.
"Aku minta satu hal padamu," ujar Clara. "Tolong kau jauhi Kei, layla."
"Deg!" Layla terdiam, dadanya sesak serasa di pukul palu godam.
"Apa kau bisa?" tanya Clara menatap Layla yang hanya diam saja.
"Jangan bertanya padaku, tapi tanyakan pada Kei" Mata Layla berkaca kaca.
"Ehem," Clara terbatuk kecil.
"Di mana mana, seorang pria tergantung wanita," ucap Clara. "Jika wanita itu tahu diri, maka pria pun akan diam," sindir Clara.
Layla menundukkan kepala sesaat, "apa aku terlihat seperti wanita seperti itu?" tanya Layla.
"Iya, kau wanita pengganggu rumah tangga orang lain," ucap Clara. "Apakah tidak ada pria lain selain Kei?"
__ADS_1
Mbok Darmi yang sedari tadi diam, akhirnya angkat bicara, "Bu Clara, saya harap Ibu bisa menjaga mulut Ibu sendiri," ucap Mbok Darmi. "Sebelum menyalahkan Neng Layla, ada bakknya Ibu koreksi diri Ibu sendiri."
"Tutup mulutmu!" seru Clara. "Kau hanya pembantu, dan saya tidak meminta pendapat kau!"
Layla mengulurkan tangan menyentuh lengan Mbok Darmi, ia menganggukkan kepala menatap Mbok Darmi.
"Bu Clara, aku lumpuh," ucap Layla. "Bagaimana mungkin aku mendekati Kei?"
"Kau memang lumpuh dan tidak berguna," hina Clara. "Tapi racun dari bibirmu yang manis membuat Kei menjadi buta karena cinta."
"Kei yang buta, atau Ibu yang di butakan oleh ego?" tanya Layla berusaha untuk tetap stabil.
"Kau tidak perlu menceramahiku Layla, lakukan saja apa yang jadi permintaanku."
Clara berdiri dan membenarkan rok nya.
"Akan aku lakukan semampuku," jawab Clara. "Tapi jika Kei masih datang padaku, tanyakan pada diri Ibu sendiri, apa yang salah."
"Sebagai seorang wanita, tentu kau bisa tahu bagaimana rasanya di posisiku." Clara tersenyum sinis, lalu ia melangkahkan kakinya meninggalkan rumah Layla.
"Apa salahku Ya Rabb, hingga kau uji sedemikian rupa," gumam Layla mengelus dada. "Mbok, antarkan aku ke kamar, jika ada yang ingin bertemu denganku, katakan aku sedang tidak ingin diganggu."
Mbok Darmi menganggukkan kepala, lalu ia berdiri dan mendekati Layla, "jangan di pikirkan ucapan Bu Clara, Neng."
Mbok Darmi mendorong kursi roda Layla, dan membawanya masuk ke dalam rumah.
***
"Bagaimana kalau ada Sila di rumah Laya?" Raiden terdiam di depan pintu mobil, berpikir bagaimana caranya menghindari Sila.
"Ah sudahlah, bagaimana nanti saja," gumam Raiden, lalu ia membuka pintu mobil dan masuk ke dalam. Lalu ia menjalankan mobilnya menuju rumah Layla.
Tiga puluh menit berlalu, akhirnya Raiden sampai di halaman rumah Layla. Ia langsung keluar dari pintu mobil, "tumben sepi," gumam Raiden menatap pintu rumah Layla yang tertutup.
Raiden berjalan mendekati pintu rumah Layla dan mengetuk pintu. Raiden mengulurkan tangan dan mengetuk pintu.
"Tok tok tok!
Raiden menurunkan tangannya dan menunggu seseorang membuka pintu, namun beberapa detik berlalu tak seorang pun membuka pintu.
" Tok tok tok!"
Raiden mencoba mengetuk pintu lagi, namun hasilnya tetap sama, "aneh," ucap Raiden pelan. "Apakah Layla ke rumah sakit?"
Raiden menoleh ke arah halaman rumah Layla, "tapi mobil Layla ada terparkir, lalu di mana Layla?"
"Den Raiden?" sapa Mbok Darmi dari arah pintu yang terbuka.
Raiden balik badan menatap Mbok Darmi, "Mbok Layla baik baik saja bukan?" tanya Raiden. "Layla di mana Mbok."
__ADS_1
Mbok Darmi menarik napas panjang, "Neng Layla ada di kamar, dan dia baik baik saja, Den," jawab Mbok Darmi. "Hanya saja, Neng Layla tidak ingin di ganggu, itu yang di pesankan Neng Layla," jelas Mbok Darmi.
"Tapi kenapa Mbok?" tanya Raiden. "Apakah Layla marah padaku?" Selesai bicara, Raiden langsung masuk ke dalam rumah, tanpa menunggu jawaban dari Mbok Darmi.
"Laylaa!" seru Raiden dari arah ruang tamu, kemudian Raiden mendekati pintu kamar Layla.
"Tok tok tok!" Raiden mengetuk pintu kamar Layla.
"Layla, apakah kau baik baik saja!" seru Raiden. "Apakah kau marah padaku?" Raiden mendekatkan telinganya ke pintu kamar Layla.
"Layla?!"
Namin tidak ada jawaban sama sekali dari dalam kamar, Raiden berusaha membuka pintu kamar, ia mendapati Layla tengah berbaring di atas tempat tidur.
"Layla, apa kau masih tidur?" tanya Raiden pelan.
Raiden menghela napas panjang, ia menatap wajah Layla yang terpejam, "aneh, tidak biasanya Layla masih tidur. Ada apa sebenarnya." Raiden perlahan menutup pintunya dan kembali menghampiri Mbok Darmi.
"Mbok, katakan padaku, apa yang telah terjadi pada Layla?" tanya Raiden berusaha membujuk Mbok Darmi supaya mengatakan yang sebenarnya.
Mbok Darmi menundukkan kepala sesaat, lalu ia menceritakan apa yang sudah terjadi pada Layla tadi pagi.
Bibir Raiden mengatup, giginya gemelutuk menahan emosi, "sudah kuduga, Layla seperti itu selalu ada hubungannya dengan keluarga Kei."
"Den Raiden temani Neng Layla saja di sini, Mbok tidak tega kalau lihat Neng Layla mengurung diri."
Raiden menganggukkan kepala, "tenang saja Mbok, aku akan temani Layla setelah dia bangun." Raiden meraih kursi dan duduk di atasnya.
"Den Rai, mau minum apa?" tanya Mbok Darmi.
"Kopi saja Mbok," ucap Raiden. "Oh ya Mbok, hari ini jadwal pemeriksaan Layla bukan?"
"Iya Den," Mbok Darmi menoleh sesaat. "Pagi ini Dokter Kenzi akan datang ke rumah bersama Dokter lain yang akan merawat Neng Layla di rumah."
"Dokter baru?" tanya Raiden mengerutkan dahi.
"Benar Den," jawab Mbok Darmi.
"Siapa Mbok?"
Mbok Darmi menggelengkan kepala, ia meletakkan secangkir kopi di atas meja.
"Mbok juga belum dapat penjelasan yang pasti Den."
"Hem, ya sudah Mbok," ucap Raiden sambil mengamb cangkir di atas meja, lalu ia meniup kopi yang masih panas, dengan sangat perlahan Raiden menyecap kopi panas itu.
"Kira kira, apa alasan Dokter Kenzi memberikan seorang Dokter untuk menjaga Layla dua puluh empat jam ya Mbok?" Raiden meletakkan cangkir di atas meja.
"Mbok sendiri tidak tahu Den," balas Mbok Darmi. " Kalau Den Raiden ingin tahu penjelasannya, Den Rai jangan kemana mana," jelas Mbok Darmi.
__ADS_1
"Baik Mbok."