Kei Dan Layla

Kei Dan Layla
Chapter 51: Menguji hati.


__ADS_3

Satu minggu berlalu pasca operasi, Layla sudah sadar dari komanya. Meski masih terlihat lemah tapi Layla selalu tersenyum saat para murid dan Guru di sekolahnya datang menjenguk. Terlebih Raiden setiap hari berada di sisinya. Dengan membawakan sebuket bunga sedap malam yang selalu Raiden letakkan di sisi Layla.


Semua ketulusan, perhatian yang Raiden berikan membuat Layla semakin merasa bersalah. Sampai saat ini, Layla masih belum bisa membuka hati untuk yang lain.


"Terima kasih, kau selalu ada buatku." Layla meraih tangan Raiden dan mengusapnya lembut.


Raiden tersenyum menatap Layla, "sekarang giliran kau yang lebay Layla."


Layla tertawa kecil menanggapi kata kata Raiden. "Aku ingin pulang."


"Nanti, aku coba bicara dengan Dokter Kenzi." Raiden menjawab pertanyaan Layla.


Layla menganggukkan kepala, "aku sudah bosan di sini."


"Kau tunggu disini, aku akan temui Dokter Kenzi dulu." Raiden berdiri dan menatap sesaat Layla.


"Jangan lama lama" ucap Layla.


Raiden menganggukkan kepala, ia langsung melangkahkan kakinya menuju ruangan Dokter Kenzi.


Sepeninggal Raiden, Layla terdiam menatap langit langit kamar, "Inilah akhirnya hidupku" gumam Layla pelan. "Semua harapan, keyakinan, sudah lenyap bersama waktu. Bahkan aku tidak tahu lagi harus aku letakkan dimana rasa percayaku." Layla menyeka air matanya yang hampir jatuh.


"Ceklek" suara pintu di buka dari luar.


Layla menoleh ke arah suara, ia terkejut melihat Kei berdiri di depan pintu dengan raut wajah kebingungan.


"Kei?" gumam Layla pelan.


Layla melihat Kei tengah menatapnya dan berjalan perlahan mendekatinya, "apa kau baik baik saja" tanya Layla coba menekan perasaannya.


Kei menganggukkan kepala menatap Layla dalam, perlahan tangannya terulur hendak menyentuh wajah Layla. Tapi tiba tiba, Kei kembali menarik tangannya, "kau siapa?" Kei balik bertanya.


Layla menarik napas dalam dalam, "aku bukan siapa siapa" jawab Layla suaranya tertahan di tenggorokan.


"Kau sakit apa?" tanya Kei dengan tatapan terus ke arah Layla.


"Kanker otak."


"Pria yang bersamamu, apakah dia suamimu?" tanya Kei.


"Dia kakakku." Layla memalingkan wajahnya ke samping sambil menyeka air matanya.


"Aku seperti mengenalmu, tapi aku lupa siapa kamu," Kei langsung memegang kepalanya yang terasa sakit. "Aww, sakit sekali."


"Kei?" Layla bangun darn duduk, tangannya terulur hendak menyentuh tangan Kei. Namun Kei balik badan dan berlari keluar sambil memegang kepalanya.


"Keii!!" seru Layla.


"Keiiii!!" Layla semakin keras berteriak memanggil nama Kei, sambil memukul kedua kakinya yang tidak bisa di gerakkan.


"Layla?" Raiden yang baru saja datang langsung berlari mendekati Layla dan memeluknya. "Ada apa, Layla?" tanya Raiden.


"Kei, aku mau ketemu Kei.." ucap Layla serak.

__ADS_1


Raiden tertegun, hatinya bagai di tusuk ribuan jarum. Ia tertegun sesaat lalu melepas pelukannya dan berdiri menatap Layla.


"Aku mau ketemu Kei..." ucap Layla lagi.


"Temui dia kalau kau bisa" jawab Raiden dingin.


"Rai? kau kenapa?" tanya Layla suaranya semakin serak.


"Kau tanya kenapa?" Raiden mengusap wajahnya kasar.


"Apa aku salah?" tanya Layla.


"Kau tidak salah Layla, tapi kau terlalu berlebihan, kau tahu itu?" jawab Raiden kesal.


"Apa maksudmu, Rai?"


"Aku tahu, kau tidak mencintaiku," ucap Kei kesal. "Aku tahu, dihatimu hanya ada Kei, aku pahami itu Layla!" ucap Kei dengan nada suara tinggi.


Layla menggeleng gelengkan kepala menatap Raiden, "tidak Rai, bukan itu maksudku."


"Selama ini aku yang selalu ada buatmu, aku yang selalu ada di kala kau susah, suka ataupun duka. Tapi, apa kau berpikir sedikit saja untuk menghargai keberadaanku, Layla?" tanya Raiden penuh penekanan.


"Kau agungkan cintamu pada Kei! tapi apa artinya cintamu jika kau tidak menghargai keberadaan orang lain!" ucap Kei. "bukan aku mengungkit semua yang telah aku berikan. Tapi, lihatlah sedikit saja akan keberadaanku." Raiden mulai kesal dan tidak terima jika Layla terus memikirkan Kei, senentara Raiden berusaha keras untuk kesembuhannya.


Timbul pertanyaan dalam benak Raiden, cinta siapa yang lebih suci antara cintanya? atau Kei?


"Maafkan aku Rai..maafkan aku.." ucap Layla lirih.


"Oke, sekarang begini saja. Aku antarkan kau kerumahmu, tapi setelah itu aku tidak akan ikut campur lagi semua perihal tentang kamu. Kau boleh tetap bertahan dengan cintamu pada Kei, aku sama sekali tidak mengerti dengan cinta yang kau pertahankan," ucap Raiden.


"Rai, maafkan aku..jangan marah.." ucap Layla.


Tapi Raiden tetap diam, kemudian Raiden mengangkat tubuh Layla pelan pelan dan ia letakkan di atas kursi roda. Setelah itu Kei langsung mendorong kursi roda layla menuju mobil untuk pulang kerumah.


Sesampainya dirumah, Raiden langsung membawa Layla ke kamarnya yang sudah di sterilkan. "Rai..maaf..maafkan aku." Layla tidak berhenti meminta maaf, karena kali ini Raiden benar benar kesal terhadap Layla. Ia ingin menguji perasaannya dan perasaan Layla terhadapnya. Benarkah cinta Kei terhadap Layla itu suci dan layak di pertahankan atau sebaliknya?


Setelah selesai mengatur semua kepeuan Layla, Raiden langsung keluar kamar meninggalkan Layla yang berusaha mengejarnya menggunakan kursi roda.


"Rai, maaf."


Tapi Rai tidak menggubrisnya, "Mbok.. Mang Usman...jangan lupa semua pesan pesan saya, dan jangan lupa juga pemberian obat untuk Layla."


"Baik Den."


"Rai, jangan pergi." Layla menahan lengan Raiden.


Raiden menatap Layla sesaat, lalu ia melepaskan tangan Layla dan menurunkannya. Lalu ia melangkahkan kakinya menuju halaman rumah dan langsung masuk ke dalam mobil meninggalkan rumah Layla.


"Raiii!" seru Layla menatap kepergian Raiden. Layla menangkup wajahnya dan menangis sesegukan.


Mbok Darmi dan Mang Usman mencoba menenangkan Layla, lalu mereka membawa Layla ke kamarnya.


***

__ADS_1


Satu minggu berlalu, Raiden tidak pernah datang kerumah Layla lagi. Layla semakin sedih dan kesepian. Ia sangat menyesal karena tidak pernah menganggap Raiden ada. Layla hanya memikirkan Kei terus.


"Apa salahku, Ya Rabb," ucap Layla. "Aku merindukan Raiden, kenapa dia tidak mau memaafkanku."


Layla merasa kehilangan Raiden, padahal baru satu minggu di tinggalkan Raiden. Kini Layla mengakui akan keberadaan Raiden begitu berarti dalam hidupnya. Raiden yang selalu membuat Layla tertawa, Raiden yang selalu memberikan yang terbaik buat Layla, Raiden orang pertama yang selalu ada di saat Layla jatuh terpuruk ke dalam jurang yang paling dalam.


"Rai, maafkan aku" ucap Layla semakin membuatnya sedih.


Tiap hari, Layla akan duduk di kursi roda di depan teras rumahnya, berharap Raiden datang seperti dulu lagi. Tapi, sudah lebih satu minggu Raiden tidak datang.


"Mbok!" seru Layla.


Mbok Darmi yang ada di ruang tamu sedang menyapu, langsung berlari ke luar rumah menghampiri Layla.


"Iya Neng?" tanya Mbok Darmi.


"Mbok, Mang Usman mana?" tanya Layla.


"Ada Neng" jawab Mbok Darmi.


"Antarkan aku kerumah Raiden Mbok" ucap Layla dengan berurai air mata.


"Tapi Neng-?"


"Mbok, aku mohon." Layla melipat kedua tangannya memohon pada Mbok Darmi supaya meluluskan keinginannya.


"Baiklah Neng, tunggu di sini. Mbok panggilkan dulu Mang Usman.


Layla menganggukkan kepala, lalu beralih menatap gerbang rumahnya. Ia melihat mobil Raiden masuk ke halaman rumah.


" Raiden?" Mata Layla berbinar.


"Rai!!" seru Layla.


Raiden keluar dari pintu mobil menatap ke arah Layla. Ia langsung berjalan mendekati Layla dan memeluknya erat.


"Aku kangen sama kamu Rai" ucap Layla serak.


"Maafkan aku Layla, karena aku malah menambah beban pikiranmu."


"Tidak Rai, kau benar. Aku telah salah selama ini" ucap Layla. "Maukah kau memaafkanku?"


Raiden menganggukkan kepala, ia melepaskan pelukannya dan mencium kening Layla. "Maafkan aku" ucapnya pelan.


"Aku juga, janji padaku bahwa kau tidak akan meninggalkanku lagi." Layla mengangkat satu kelingkingnya.


"Aku janji," ucap Rai. "Tapi kau juga berjanjilah untuk tidak mengulanginya."


"Aku berjanji, Rai."


Kemudian Raiden membalas kelingking Layla dengan kelingkingnya. Lalu mereka tertawa kecil dan kembali berpelukan.


"Loh, ini Den Raiden." Mang Usman termangu melihat Raiden yang sudah ada di rumah.

__ADS_1


"Iya Mang, nggak jadi kok" jawab Layla sambil melepas pelukannya.


"Ya sudah, syukurlah sudah baikan. Mamang ambilkan kopi dulu ya." Mang Usman lalu kembali masuk ke dalam langsung menuju dapur. Dan membuatkan kopi untuk Raiden


__ADS_2