
Dalam perjalanan menuju rumah Surya, di dalam mobil tiba tiba saja Anita merasakan sesak di dada.
"Pak, dada Ibu sakit sekali." Anita membungkukkan badan dan tangannya meremas dada kirinya yang terasa sakit. Napasnya tersengal sengal seolah olah habis berlari jauh. Ia mengalami kesulitan bernapas.
"Bu, Ibu kenapa?" tanya Surya menyentuh kedua pundak Anita. Keringat bercucuran di wajah Anita membuat Surya panik.
"Tante kenapa Om?" Tanya Raiden melirik sesaat.
"Ibu sakitnya kambuh lagi Nak." Jawab Surya cemas.
"Kita bawa Tante ke Rumah Sakit Om." Tanpa pikir panjang lagi Raiden membawa Anita ke rumah sakit terdekat yang tak jauh dari persimpangan rumahnya.
Sesampainya di halaman rumah sakit Raiden langsung menepikan mobilnya dan membantu Surya membawa Anita masuk ke dalam rumah sakit.
Sesampainya di dalam Anita langsung di bawa ke ruang UGD untuk pemeriksaan.
"Bu, bertahan Bu." Ucap Surya memegang tangan Anita yang sudah tidak sadarkan diri.
"Maaf, kalian tidak boleh ikut masuk. Silahkan tunggu di luar." Suster langsung menutup pintu ruangan UGD.
Surya dan Raiden duduk di kursi luar ruang UGD. Raiden dan Surya menunggu dengan sangat cemas.
"Sabar ya Om." Ucap Raiden menyentuh punggung Surya. Surya melirik sesaat ke arah Raiden lalu menoleh ke arah pintu ruang UGD.
"Bu, yang kuat Bu" ucap Surya dengan nada bergetar.
"Apa sebelumnya Tante seperti ini?" tanya Raiden menatap Surya yang berdiri dan berjalan mondar mandir di depan pintu ruangan.
Surya menggelengkan kepala. "Tidak, Ibu baik baik saja selama ini, hanya saja Ibu sering mengeluhkan sakit di dada semenjak Layla pergi dari rumah."
Raiden mengangguk anggukkan kepala tanda mengerti apa yang menimpa Anita. Raiden berdiri dan berjalan mendekati Surya yang terlihat sangat mengkhawatirkan Anita, wajah nya pucat dan menyimpan luka di balik kerutan kerutan di wajahnya.
"Ibu pasti baik baik saja Om."
Satu detik, dua menit, satu jam berlalu. Terdengar suara pintu ruangan di buka dari dalam. Surya dan Raiden menatap pintu ruangan yang mulai terbuka dengan cemas. Nampak Dokter yang menangani Anita keluar dari arah pintu menatap Surya dan Raiden bergantian.
"Di antara kalian siapa suami Bu Anita?"
"Saya Dok." Surya langsung mendekati Dokter lebih dekat lagi.
"Pak Surya?" Tanya Dokter.
__ADS_1
Surya menganggukkan kepala. "Ada apa dengan istri saya Dok?"
Sesaat Dokter terdiam tidak langsung menjawab pertanyaan Surya. Membuat Surya semakin merasakan takut.
"Dok, ada apa dengan istri saya? jawab Dok!"
Surya mengguncang lengan Dokter sudah tidak sabar ingin mendengarkan jawaban Doktet.
"Maaf Pak, kami sudah berusaha semaksimal mungkin, Bu Anita meninggal."
Surya menggelengkan kepala dengan menatap wajah Dokter,air matanya turun saling memburu dan langsung masuk ke dalam ruangan dengan berjalan perlahan. Lututnya serasa gemetar tubuhnya bergetar hebat mendekati jasad Anita yang sudah tak bernyawa lagi. Dan Raiden pun menyusul Surya masuk ke dalam ruangan.
"Bb,u" ucapnya kelu.
Surya langsung memeluk tubuh Anita sembari mengguncang guncang tubuh Anita dengan sangat kencang, berharap Anita terbangun lagi dan berbicara padanya seperti yang biasa Anita lakukan.
"Bu, kenapa kau tinggalkan aku sendirian. kenapa bu..!" Ucapnya histeris dengan air mata berurai jatuh di wajah Anita.
"Bu, bangun Bu! Bangunn!!"
Surya terisak menangis histeris, kakinya tak mampu lagi menahan beban luka di hatinya. Akhirnya Surya pun jatuh pingsan. Raiden yang memperhatikan dan menyadari Surya jatuh pingsan langsung berlari mendekat dan menangkap tubuh Surya supaya tidak jatuh ke lantai.
"Om, Om." Raiden menepuk pipi Surya pelan, supaya bangun. " Dokter! Suster" Raiden berteriak memanggil Dokter dan Suster yang berada di luar ruangan. Dokter dan Suster langsung masuk ke dalam dan membantu Raiden mengangkat tubuh Surya ke atas tempat tidur yang bersebelahan dengan Anita. Dokter langsung melakukan pemeriksaan dengan menyeluruh di pasangnya alat Elektrokardiagram supaya dapat di ketahui denyut jantungnya. Dokter terus melakukan upaya supaya Surya sadar. Tapi lama kelamaan detak jantung Surya semakin melemah dan tidak menunjukkan Surya akan sadar.
Baru saja Raiden selesai menelpon, dari arah pintu Dokter bertanya. " Apakah anda keluarganya?"
Raiden menoleh menatap Dokter lalu bangkit dari duduknya dan mendekati Dokter.
"Saya bukan keluarganya Dok, tapi sebentar lagi Putrinya akan datang." Jawab Raiden melirik ke dalam ruangan sesaat, ia melihat alat alat yang di pasangkan di tubuh Surya di lepaskan oleh Suster.
"Bagaimana Pak Surya Dok?" Tanya Raiden menatap wajah Dokter.
"Maaf, saya sudah melakukan semampu saya, Pak Surya sudah meninggal." Jawab Dokter menundukkan kepala.
"Apa?!" Raiden menutup mulutnya dengan satu tangan dan satu tangan ia letakkan di pinggangnya. "Ya Rabb, ini tidak mungkin, tidak mungkin." Gumam Raiden terduduk di kursi menangkup wajahnya.
"Semoga keluarga di berikan ketabahan." Dokter menyentuh pundak Raiden sesaat. Lalu kembali masuk ke dalam ruangan.
Tiga puluh menit berlalu, dari arah lorong rimah sakit. Nampak Layla tengah berlari dengan sangat cepat mendekati Raiden yang tengah berdiri menunggunya.
Layla mengatur napasnya dengan menelan salivanya susah. " Apa yang terjadi dengan Ayah dan Ibuku?" tanya Layla dengan terengah enga, tangan kanannya mencengkram tangan Raiden.
__ADS_1
Sesaat Raiden menundukkan kepala, "Layal, Om dan Tante sudah tiada." Jawab Raiden sembari menundukkan kepala lagi.
"Deg!"
Jantung Layla serasa berhenti berdetak. Dadanya sakit serasa di pukul palu godam. Sesaat Layla hanya terpaku dengan menatap wajah Raiden tanpa ekspresi. Detik berikutnya Layla langsung berlari masuk ke dalam ruangan. Layla tertegun melihat jasad Ayah dan Ibunya sudah di tutup kain berwarna putih. Dokter dan Suster terdiam dan mundur ke belakang memberikan ruang untuk Layla.
Layla tertegun cukup lama, dengan derai air mata jatuh saling memburu di pipinya. Masih hangat di ingatannya semalam bercanda bersama dengan kedua orangtuanya.
"Ayah, Ibu." Gumamnya lirih.
Layla berjalan perlahan dan mendekati jasad Ibunya dan perlahan membuka kain putih yang menutupi wajah Ibunya. Layla menatap wajah Ibunya yang terlihat pucat tak bernyawa lagi. " Ibu! bangun Bu, jangan tinggalkan Layla! Layla janji akan mengikuti apa mau Ibu, asalkan Ibu bangun!
Layla mengguncang tubuh Anita berharap Ibunya bangun dan memarahinya seperti dulu.
"Ibu, maafkan Layla, maafkan Layla Bu."
Layla memeluk Ibunya cukup lama sembari menangis. "Maafkan Layla Bu, maafkan Layla." Ucapnya lirih di telinga Anita.
"Layla, tenangkan hatimu." Raiden menyentuh pundak Layla. Layla menoleh menatap Raiden sesaat, lalu kembali memeluk Ibunya sesaat dan mengecup kening Anita untuk terakhir kalinya. Lalu Layla bangkit dan melangkahkan kakinya mendekati jasad Ayahnya dan membuka kain putih di wajahnya.
"Ayah."
Layla memeluk tubuh Surya dan berbisik ditelinga Surya. " Maafkan Layla Ayah, maafkan Layla." Ucapnya Lirih, setelah itu Layla mengecup kening Surya dengan dalam untuk terakhir kalinya. Setelah itu Layla kembali menutup wajah Surya dengan kain putih tadi.
"Rai."
Layla balik badan menatap wajah Raiden dan menubruk tubuh Raiden dan memeluknya, menenggelamkan wajahnya di dada bidang Raiden menangis sesegukan. Raiden membalas pelulan Layla dan mengusap usap punggung Layla pelan untuk menenangkan.
Lalu Dokter meminta Layla untuk mengurus semua administrasi dan menandatangani surat surat. Setelah itu Raiden dan Layla mengiringi mobil ambulance yang membawa jenazah Anita dan Surya. Sesampainya mereka sampai di rumah Layla, kabar kematian orangtua Layla terdengar ke tetangga dan kerabatnya pun berdatangan untuk mengurus jenazah dan pemakaman.
Tanpa terkecuali Abdul dan Alya pun datang melayat, meskipun dulu pernah bersiteru dengan keluarga Surya. Abdul dan Alya melihat Layla duduk di samping Raiden yang terus memberikan ketenangan. Alya dan Abdul mendekati Layla dan mengucapkan belasungkawa. "Layla, iklaskan kepergian ke dua orang tuamu supaya tenang di sisiNya." ucap Alya sembari menyentuh pundak Layla.
"Terima kasih Tante." Ucap Layla pelan.
Setelah semua selesai di urus, jenazah Anita dan Surya pun di bawa ke pemakaman. Tiada yang mengira kalau Anita dan Surya akan meninggal begitu cepat karena mereka berdua sehari sebelumnya masih terlihat sehat dan beraktifitas.
Sesampainya di pemakaman jenazah mulai dikuburkan, nampak Layla yang terus menangis di peluk Raiden. Dia masih belum bisa melupakan saat saat semalam bersama tertawa dan bercanda. Layla pun teringat akan masa masa di mana dia telah membuat Ibu dan Ayahnya merasa kecewa terhadapnya. Layla semakin berurai air mata dengan sangat deras meskipun Raiden dan kerabatnya berusaha menenangkannya.
Setelah acara pemakaman selesai, Layla masih duduk di hadapan nisan kedua orangtuanya. " Maafkan Layla, maafkan Layla." Ucapnya Lirih sembari tangannya memeluk batu nisan.
"Layla, kamu harus berbesar hati melepas mereka," ucap Raiden mengusap punggung Layla dengan lembut.
__ADS_1
"Kita pulang Layla," Raiden tengadah menatap langit yang mulai mendung.
"Layla, ayo kita pulang sebelum hujan turun." Raiden mengangkat tubuh Layla dan merangkulnya. Lalu Raiden melangkahkan kakinya bersama Layla menuju tepi jalan setapak. Sesekali Layla menoleh ke belakang menatap pusara kedua orang tuanya. Tak lama kemudian hujanpun turun membasahi pusara Anita dan Surya.