
"Rai! mau kemana?! tanya Sila.
Sila berlari mendekati Raiden yang baru saja keluar dari kantornya.
" Aku mau ada urusan, kau jangan ikut!" seru Raiden.
"Ayolah sayang..."
"Ih apaan sih, jangan manja deh," sindir Raiden.
"Ikut..." Sila bergelayut manja di lengan Raiden.
"Hufffttt, oke oke, ayo cepat!" Raiden membukakan pintu mobil untuk Sila, di susul Raiden dari pintu mobil yang lain.
"Memangnya kita mau kemana?" tanya Sila.
"Kerumah sakit," jawab Raiden ketus.
"Siapa yang sakit?" tanya Sila penasaran.
"Jangan bawel deh!" Raiden mendelik, lalu ia menjalankan mobilnya menuju rumah sakit untuk bertemu Dokter Adrian.
Raiden ingin tahu soal Rico, ia menganggap bahwa Dokter Adrian tahu segalanya tentang Rico, mengingat Dokter Adrian adalah Dokter pribadi keluarga Layla sejak Layla belum di lahirkan.
Tak butuh waktu lama, Raiden telah sampai di halaman rumah sakit dan langsung menuju ruang kerja Dokter Adrian.
"Silahkan duduk," ucap Dokter Adrian.
"Terima kasih Dok," jawab Raiden menundukkan kepala, dan duduk di kursi berhadapan dengan Dokter Adrian. Sementara Sila duduk di samping Raiden.
"Tumben kalian kesini? ada hal penting tentang Layla?" Dokter Adrian merasa aneh melihat Raiden ingin bertemu secara pribadi, padahal baru kemarin pagi, Dokter Rico memberikan hasil pemeriksaan Layla.
"Maaf Dok sebelumnya, saya sudah mengganggu jam kerja Dokter," ucap Raiden sopan.
"Tidak apa apa," balas Dokter Adrian
"Saya ingin bertanya tentang Dokter Rico."
"Kenapa dengan Dokter Rico?" tanya Dokter Adrian terkejut.
"Bukan apa apa Dok, saya hanya bingung saja dengan sikap Dokter Rico."
"Bingung?" Dokter Adrian mengerutkan dahi menatap Raiden.
"Begini Dok."
Raiden mulai menceritakan semua sikap dan ucapan Dokter Rico selama ini, dan Raiden merasa janggal dengan semua itu.
Dokter Adrian tertawa, "hahaha."
Raiden menautkan kedua alisnya, begitu juga Sila. Mereka lebih aneh lagi melihat sikap Dokter Adrian.
"Rico itu tunangan Layla," ucap Dokter Adrian.
"Tunangan? bagaiman bisa?" tanya Raiden. Raiden mengungkapkan rasa tidak percayanya, karena setahu Raiden, Layla tidak pernah bertemu Rico. Dan pertemuan mereka hanya sekali saat ulang tahun Layla yang ke tujuh belas.
__ADS_1
"Begini Nak Rai.."
Dokter Adrian kemudian menceritakan tentang Rico, Rico adalah putra sahabat Anita dan Surya, semenjak di hari ulang tahun itu Anita dan Surya menjodohkan mereka, kebetulan sejak pertemuan pertama, Rico sudah jatuh cinta di pandangan pertama meski di bumbui dengan penghinaan buat Layla. Pada saat Layla sakit akibat pernikahan Kei yang pertama, Anita dan Surya memaksa Laya bertunangan dengan Rico. Anita dan Surya tidak perduli dengan kondisi Layla yang tidak stabil.
Tapi semenjak Rico tahu, kalau Layla mencintai Kei, Rico tidak mau dekat dekat dengan Layla atau mengatakan bahwa dia sudah bertunangan. Rico memilih memperhatikan Layla dari jarak jauh.
"Jadi, wajar kalau Rico tahu segala hal tentang Layla." Dokter Adrian mengakhiri ceritanya.
"Bagaimana Dokter tahu?" tanya Sila.
"Saya sahabat sekaligus Dokter pribadi mereka Nak."
Raiden dan Sila menganggukkan kepala tanda mengerti.
"Terima kasih Dok atas informasinya," ucap Raiden dengan sopan.
"Iya sama sama," ucap Dokter Adrian. "Biarkan Rico melakukan keinginannya untuk merawat dan menjaga Layla."
"Saya paham Dok," jawab Raiden. "Kalau begitu saya permisi, dan maaf sudah mengganggu waktu Dokter."
Dokter Adrian menganggukkan kepala, kemudian Raiden dan Sila berpamitan untuk pulang.
Sesampainya di halaman rumah saki, Raiden dan Sila langsung masuk ke dalam mobil menuju rumah Sila.
"Sudahlah Rai..jangan sedih begiti, bukankah masih ada aku."
"Iya, iya! jawab Raiden kesal.
" Nah gitu dong, ih lucu deh." Sila mencubit gemas pipi Raiden, Raiden mendelik menatap Sila, di susul ketawa Sila membuat Raiden ikut tertawa.
***
"Sepertinya aku hamil," ucap Clara.
Kei menarik napas dalam dalam. Ia melirik Clara yang terlihat pucat.
"Aku akan panggil Dokter," jawab Kei.
Kemudian Kei memanggil Dokter ke rumah untuk memeriksakan kesehatan Clara.
"Kau isturahat, sebentar lagi Dokter akan segera datang."
Tak lama kemudian Dokterpun datang, Clara langsung di periksa Dokter. Ternyata dugaan Clara benar, kalau dia tengah mengandung anak Kei. Suatu kabar gembira untuk Alya, Abdul dan Keila, tetutama Clara. Tapi tidak untuk Kei.
Bukan Kei tidak menerima keberadaan calon darah dagingnya, tapi Kei sangat menyesal akan perbuatannya yang mudah sekali di tipu untuk ke dua kalinya, dulu sewaktu bersama Dinda, dan sekarang oleh Clara.
Kei bergegas menuju rumah Layla setelah mendapat kabar bahwa dia akan menjadi seorang Ayah, dan Clara berhasil memisahkan Kei dan Layla untuk selamanya.
Sesampainya di rumah Layla, Kei mendapat halangan dari Rico. Rico tidak ingin melihat Layla semakin sedih dan terpuruk. Tapi Kei terus memaksa dan berjanji pada Kei untuk tidak menemui Layla lagi. Meski itu keputusan yang sangat berat, tapi Kei harus melakukannya. Karena ia merasa malu terhadap dirinya sendiri.
"Ada apa Kei..." ucap Layla pelan, ia tengah berbaring di atas tempat tidur, kemudian ia bangun dan duduk.
"Layla aku...." Kei tidak sanggup melanjutkan ucapannya.
"Kei? ada apa?" tanya Layla.
__ADS_1
"Layla, aku...aku minta maaf," ucap Kei menundukkan kepala sesaat.
"Minta maaf untuk apa Kei?" tanya Layla tak mengerti.
"Aku-?"
"Kenapa Kei? katakan?!" potong Layla.
"Aku mau jadi ayah Layla," ucap Kei dengan berlinangan air mata.
"Wah, selamat Kei..." Mata Layla berkaca kaca, untuk kesekian kalinya Kei mengkhianati cinta sucinya.
"Layla, maafkan aku..."
"Tidak ada yang perlu di maafkan Kei, aku juga tidak marah. Aku hanya kecewa," ucap Layla berusaha menahan air matanya.
"Kau kecewa padaku bukan?" tanya Kei.
"Aku kecewa pada diriku sendiri," jawab Layla dengan tersenyum samar.
"Layla, mungkin kau jijik padaku, atau bahkan kau benci padaku, tapi aku harus mengatakannya walau ini sulit." Kei menelan salivanya susah.
"Katakan saja Kei," ucap Layla suaranya serak.
"Aku minta maaf, karena hari ini adalah hari terakhir aku menemuimu."
"Tapi kenapa?" tanya Layla.
"Tidak Layla, aku sudah mengkhianatimu dan aku juga akan jadi seorang Ayah."
"Kei...kau."
"Iya Layla, maafkan aku...maafkan aku."
Kei bangun dan berdiri, lalu ia melangkahkan kakinya meninggalkan Layla dengan seribu luka di hati Layla.
"Kei!" seru Layla. "Kau tidak bisa meniggalkan aku begitu saja Kei!" jerit Layla.
Layla menjerit sekuat tenaganya. Untuk mengeluarkan rasa sesak di dada.
"Ahhhhhhkkkk!!
Layla berkali kali memukul dadanya untuk menghentikan tangisnya, namun usahanya sia sia.
" Kei!! kau sudah tidak adil terhadapku, Kei!"
Rico yang sedari tadi mendengarkan di balik pintu, ia berjalan mendekati Layla dan memeluknya erat.
"Kei tidak salah, kau yang terlalu berharap lebih Layla," ucap Rico mengusap punggung Layla untuk menenangkan.
"Ini tidak adil! ini semua tidak adil!"
Tiba tiba saja Layla merasakan sesak, kepala Layla terkulai lemas, ia jatuh pingsan di pelukan Rico.
"Layla..." ucap Rico pelan.
__ADS_1
Rico merebahkan tubuh Layla di bantal, lalu ia berdiri dan berjalan mengambil alat alat medis, dengan sigap Rico memasangkan semua alat alat medis di tubuh Layla, kemudian ia memanggil Dokter Kenzi untuk membawakan obat obatan yang kurang.
"Layla, sudahi penderitaanmu sayang..." ucap Rico lirih.