Kei Dan Layla

Kei Dan Layla
Chapter 62: Obsesi


__ADS_3

tiga puluh menit berlalu, Raiden dan Sila sudah sampai di rumah Sila. Raiden meminta Sila untuk beristirahat. Tapi bukan itu yang di mau Sila. Sila hanya inginkan Raiden untuk tidak dekat dekat dengan Layla.


"Ada apa Sil?" tanya Lina sahabat Sila.


"Dia sakit perut, kau bawa dia ke kamarnya," ucap Raiden. "Aku akan kembali ke rumah sakit."


Sila mengedipkan mata pada Lina sebagai kode. Dan Lina memahami apa yang di inginkan sahabatnya.


"Aku ada urusan mendadak, jadi aku tidak bisa temani Sila," ujar Lina.


"Tapi aku harus ke rumah sakit," jawab Raiden mulai kesal.


"Sila, maaf ya," ucap Lina. "Nanti sore aku baru bisa balik." Lina memeluk Sila sesaat, lalu ia melangkahkan kakinya tergesa gesa keluar rumah.


"Sahabat macam apa begitu," gerutu Raiden.


"Aduuhh..." Sila merintih pelan.


"Ya sudah, aku antar kau kekamar."


Raiden merangkul bahu Sila dan membawanya ke kamar, setelah itu ia meminta Sila untuk istirahat. Namun bukan itu juga yang Sila inginkan. Berbagai alasan dia berikan untuk menahan Raiden.


"Aku butuh obat, tapi stok obatku habis," rengek Sila.


"Oke, aku belikan," ucap Raiden semakin jengkel. "Mana resepnya!"


Sila bangun dari tempat tidur, dan mengambil tas yang tergeletak di sampingnya. Ia membuka tasnya dan mengambil resep obat lalu di berikan pada Raiden. Kemudian Raiden meninggalkan Sila di kamarnya, ia sendiri pergi ke apotek untuk membeli obat.


Sila tersenyum menang, ia turun dari tempat tidur, memperhatikan Raiden dari balik kaca jendela, "aku tidak akan melepaskanmu Rai," ucap Sila terobsesi terhadap Raiden.


Dua puluh menit berlalu, akhirnya Raiden sudah kembali dari apotek. Ia langsung memberikannya pada Sila, "ini obatnya," ucap Raiden.


Sila bangun dan mengambil obat di tangan Raiden, namun sebelum Sila meminum obatnya, ia sudah mempersiapkan cara lain untuk kembali menahan Raiden. Sila memegang kepalanya, ia meringis kesakitan.


"Aduh...kepalaku," ucap Sila.


Raiden mengerutkan dahi, "kau kenapa?" tanya Raiden naik ke atas tempat tidur.


"Kepalaku sakit," jawab Sila, lalu ia merebahkan tubuhnya di dada Raiden dan pingsan.


"Sila! seru Raiden, ia menepuk pipi Sila. Namun Sila tidak meresponnya.

__ADS_1


" Ah sial, malah pingsan." Raiden menggerutu, ia merebahkan tubuh Sila, lalu ia turun dari tempat tidur dan memanggil asisten rumah tangga Sila untuk membawakan minyak angin.


"Ini minyaknya Den."


"Terima kasih Mbok," jawab Raiden, lalu ia membuka tutup minyak dan mengolesi kening dan hidung Sila dengan minyak. Namun sampai beberapa menit kemudian Sila tidak juga bangun. Akhirnya Raiden memutuskan untuk membawa Sila ke Rumah sakit terdekat.


Sesampainya di rumah sakit, Sila langsung di tangani oleh Dokter.


"Bagaimana dengan Sila Dok?" tanya Raiden.


"Sila tidak apa apa, mungkin hanya kelelahan saja," balas Dokter. "Tidak perlu di rawat, Sila baik baik saja."


"Baik Dok, Terima kasih," jawab Raiden.


Kemudian Raiden kembali membawanya pulang ke rumah dan meminta Sila untuk istirahat.


"Kau istirahat, aku akan kembali ke rumah sakit," ucap Raiden menatap Sila.


"Temani aku," Sila berdiri memegang lengan Raiden.


"Aku harus ke rumah sakit Sila!" seru Raiden, melepaskan tangan Sila dari lengannya, lalu ia melangkahkan kakinya keluar kamar.


"Aku takut terjadi apa apa, aku mohon," ucap Sila menahan lengan Raiden dari belakang. "Temani aku sekali saja."


"Aku hanya sendiriqn," isak Sila. "Aku tidak minta apa apa, hanya minta di temani saja."


"Oh Tuhan, apalagi ini Sila!" Raiden mengusap kasar wajahnya, ia paling tidak bisa kalau melihat wanita menangis.


"Aku mohon..." ucap Sila dengan berlinangan air mata. "Temani aku sampai tidur..."


"Oke! oke!" seru Raiden. "Hentikan tangisanmu, oke?!


Sila menganggukkan kepala, ia mengusap air matanya lalu ia meeaih tangan Raiden dan memintanya untuk menemaninya sampai tertidur.


Raiden melangkahkan kakinya mengikuti Sila ke kamar, kemudian ia duduk di sofa yang tak jauh dari tempat tidur Sila, sementara Sila sendiri berbaring di atas tempat tidur, ia memejamkan mata, walau sesekali melirik ke arah Raiden.


Menit berlalu jam pun berganti, akhirnya Raiden lah yang tertidur pulas di sofa, sementara Sila hanya memperhatikan Raiden yang tengah tertidur pulas.


" Yes! serunya. "Akhirnya aku berhasil!"


Sila turun dari tempat tidur, lalu ia mengambil selimut untuk menyelimuti tubuh Raiden supaya tidak kedinginan.

__ADS_1


"Kau harus jadi milikku Rai.."


Sila tersenyum, dan ia kembali tidur di tempat tidurnya sendiri, dan sesekali memperhatikan Raiden.


***


"Layla..."


Raiden membuka matanya perlahan, ia menatap sekitar ruangan kamar, "Sila? aku masih di rumahnya?"


Raiden bangun dan berdiri, ia mengusap wajahnya lalu ia bergegas keluar kamar Sila.


"Sial, aku malah ketiduran di rumah Sila," Raiden memaki dirinya sendiri.


Sesampainya di halaman rumah, ia melihat ban depan mobil dua duanya kempes.


"Ahhhhh, sial siala!" Raiden menendang ban mobilnya. "Aneh, bisa kempes dua duanya," gumam Raiden, ia merasa ada yang ganjal.


"Kenapa Rai?" sapa Sila dari arah pintu.


Raiden menoleh ke arah Sila, ia menanggapi dingin pertanyaan Sila, lalu ia alihkan pandangannya kembali pada ban mobilnya yang kempes.


"Aku harus ke rumah sakit sekarang." Raiden merogoh saku celananya, lalu ia mengambil ponsel miliknya dan memesan Taksi online.


"Kau sarapan dulu ya," rengek Sila bergelayut manja di lengan Raiden.


"Tidak!" Raiden menepis tangan Sila.


"Ayolah.."


"Aku bilang tidak, ya tidak!"


"Tiiiittt!!"


Suara klakson Taksi online sudah datang. Raiden menoleh ke arah Taksi, lalu berjalan mendekat.


"Jangan dulu pulang, ayo sarapan dulu," rengek Sila.


Namun Raiden sudah di ambang batas kesabarannya, ia tidak perduli lagi dengan rengekan Sila. Ia langsung membuka pintu mobil dan memasukinya.


"Rai...!" seru Sila menatap Taksi melaju meninggalkan rumah Sila.

__ADS_1


"Tidak apa apa, lain kali aku pasti bisa." Mata Sila memicing.


__ADS_2