
Hai Para readersku tersayang ... 💚💚💚
Jangan lupa ya untuk Like, Komentar dan Vote seikhlasnya.
Tidak lupa untuk memberikan Rate 5 ⭐⭐⭐⭐⭐
Jangan lupa Kritik dan Sarannya, karena saran dari kalian itu sangat penting bagiku.
Aku tunggu jejak kalian di kolom Like dan Komentar ....
Berikan Saran dan Kritikan kepada author untuk membangun cerita ini lebih baik lagi.
Baca Juga Kisah Nyata lainnya ...
Hidayah Hijrahku
Dahsyatnya SHOLAWAT
Angkringan Cinta
Kopi Paste
Kesucian Syahadat
Selamat Membaca ....
💚💚💚💚💚💚
"Maafkan aku Kak Aisyah. Tadi aku menutup kotak makankudan isinya sandwich, tapi ini setelah aku bukan kenapa isinya nasi goreng." ucap Anggie pelan.
Aisyah pun tersentak kaget. Kotak makan itu memang mirip dengan kotak makan miliknya, tapi apakah benar isinya nasi goreng dan telur serta irisan tomat.
Aisyah mendekatkan wajahnya ke arah kotak makan itu, dan ya itu kotak makan yang Aisyah bawakan untuk Baihaqi. Kotak makan itu terlihat tak beraturan, isinya sudah tercampur aduk hingga kondisinya terlihat kurang baik, tidak serapih saat kotak itu akan ditutup dan di bawa oleh Baihaqi.
"Maaf, ini sudah masuk perumahan, rumahnya yang mana?" tanya Pak Amin pelan.
"Oh iya ....Itu yang Cat berwarna Abu." ucap Anggie menjelaskan.
Anggie pun menutup kembali kotak makan itu dan dimasukkannya kembali ke dalam tas selempangnya. Mobil pun sudah terparkir dengan baik tepat di depan pagar rumah Anggie.
"Kak Aisyah, kita turun dulu." ucap Anggie pelan.
Aisyah pun menurut turun dari mobilnya dan berjalan ke arah pagar rumah Anggie.
Rumahnya seperti tampak ramai, ada tamu sepertinya. Anggie membuka pintu pagar rumah itu dan mempersilahkan Aisyah masuk dan duduk di kursi tunggu di teras rumah.
"Nastiti... kamu dari mana saja. Tadi Ayahmu mencarimu, katanya kamu menghindari. Ada apa?" ucap Mama Margaretha dengan suara keras.
Anggie hanya terdiam tidak menjawab. Mama Margaretha pun keluar dan mendapati Aisyah sedang duduk di teras dan terlihat sangat nyaman.
"Kamu siapa? Kamu ingin mendoktrin anakku untuk membangkang terhadapku." ucap Margaretha dengan suara yang keras dan kasar.
__ADS_1
Aisyah tersentak kaget dengan ucapan Mama Margaretha.
"Mama, dia temanku, dia yang telah menolongku." ucap Anggie dengan suara keras juga.
"Menolong? pasti dia punya niat buruk terhadapmu Nastiti." ucap Margaretha berteriak keras.
"Mama, Kak Aisyah tamu ku. Jangan Mama bersikap kasar seperti itu." ucap Anggie membela Aisyah.
"Lihat Nastiti, dia berbeda dengan kita. Tuhannya dan Tuhan kita pun berbeda." ucap Mama Margaretha dengan marah, wajahnya merah padam, menahan emosinya.
Margaretha pun menghentakkan satu kaki kanannya dan masuk ke dalam rumah.
"Kak Aisyah maafkan Mama Anggie. Dia seperti itu Kak." ucap Anggie pelan.
"Anggie, Kakak pulang saja. Kakak harus ke Butik untuk keperluan pribadi." Ucap Aisyah pelan.
"Iya Kak Aisyah. Terima kasih sudah menolong Anggie dan mengantarkan sampai rumah." ucap Anggie pelan.
"Iya.... Anggie... Aku pulang. Assalamualaikum.." ucap Aisyah dengan sangat pelan mengucap salam.
"Waalaikumsalam... " ucap Anggie dengan sangat lirih tapi masih mampu di dengar oleh Aisyah dengan jelas.
Aisyah memandang takjub kepada Anggie. Lalu tersenyum lebar di balik cadarnya. Langkah kakinya terus saja berjalan keluar menuju mobilnya yang terparkir di depan pagar rumah Anggie.
"Pak Amin, kita pulang saja, tidak perlu ke Butik biar nanti diantar oleh asisten Aisyah saja." ucap Aisyah pelan.
Pak Amin pun memutar balik arah dan melajukan mobilnya ke arah kembali pulang sesuai dengan perintah Ini Aisyah.
Aisyah hanya terdiam, menikmati setiap kejadian yang dialaminya, termasuk mimpi mimpinya yang akhir akhir ini terlihat aneh tapi nyata.
Mobil pun sudah masuk ke dalam pekarangan rumah Aisyah. Nampak Hanyfah dan Nadya sedang berbicara serius, mereka pun menatap kedatangan mobil Aisyah dan berdiri.
"Umi Aisyah..." teriak Nadya dengan keras, saat Aisyah membuka mobil dan turun lalu berjalan menuju teras rumahnya.
"Nadya sayang..." ucap Aisyah pelan lalu memeluk gadis kecil itu dengan penuh kasih sayang.
"Aisyah... maaf, Nadya ingin kesini menemui kamu, padahal hari ini aku ada acara di kantor suami. Boleh aku titip Nadya." tanya Hanyfah pelan.
"Dengan senang hati Hanyfah. Aku senang bila harus menjaga anak menggemaskan ini." ucap Aisyah sambil mencium kening Nadya dengan lembut.
"Baiklah, aku buru buru Aisyah. Itu Taksi online ku sudah datang. Aku permisi dulu Aisyah. Nadya harus nurut ya sama Umi Aisyah." ucap Hanyfah kepada Nadya anak semata wayangnya, lalu mengecup kening dan kedua pipinya.
Hanyfah pun pergi meninggalkan rumah Aisyah dengan menaiki Taksi Online buang sudah di pesannya.
"Umi Aisyah, Nadya ingin kentang goreng." ucap Nadya dengan jujur dan polos.
"Baiklah, kamu tunggu di meja makan, Umi akan membuat kentang goreng untuk Nadya. Setuju?" tanya Aisyah dengan mengacungkan jempol kanannya ke depan.
Mereka berdua pun masuk ke dalam rumah dengan kompak. Sesuai perintah Umi Aisyah, Nadya pun duduk di meja makan dengan diam tanpa sepatah kata pun. Satu tangannya menggendong boneka Winnie the Pooh kesayangannya.
"Kamu suka dengan boneka Winnie the Pooh?" tanya Aisyah sambil menggoreng kentang di dalam minyak panas.
"Iya Umi.. sangat suka sekali." ucap Nadya sambil memeluk erat bonekanya.
Kentang goreng pun di bolak balik hingga terlihat kekuningan dan sedikit kecoklatan. Kentang goreng itu pun segera dipindahkan ke piring besar beserta mangkuk kecil berisikan saos tomat dan saos sambal secara terpisah.
__ADS_1
"Ini dimakan dulu Nadya sayang. Mau minum apa? Sirup jeruk?" tanya Aisyah pelan ke arah Nadya.
"Iya Umi, silup kasa meluk." ucap Nadya terkekeh dengan pengucapannya.
Satu piring besar kentang goreng dan dua gelas sirup jeruk pun habis tak bersisa. Mereka sudah merasa kenyang dan lelah bercanda.
"Assalamualaikum... disini rupanya kalian. Habis berpesta ya." tanya Baihaqi yang tiba-tiba sudah masuk ke dalam ruang makan dan duduk di meja makan disamping Nadya.
"Waalaikumsalam... Papa..." ucap Nadya berteriak bahagia.
Aisyah pun langsung menyalimi tangan Suaminya dan mencium punggung tangan itu dengan sopan.
"Papa tidak disisakan kentang gorengnya?" tanya Baihaqi kepada Nadya.
"Papa, kita beli es klim yuk." ucap Nadya pelan.
Baihaqi pun tersenyum dan menoleh ke arah Aisyah yang mengangguk pelan.
"Kita pergi bertiga dengan Umi ya?" ucap Baihaqi pelan.
"Beli mainan Papa." ucap Nadya penuh semangat dengan mata berbinar.
"Boleh, Nadya ingin mainan apa?" tanya Aisyah pelan.
"Nadya suka laut Umi. Nadya ingin mainan tentang pantai dan pasir putih." ucap Nadya pelan membayangkan mainan yang ia idamkan sejak dulu.
"Oke Papa akan belikan apa yang Nadya inginkan. Pilih saja ini hadiah dari papa." ucap Baihaqi pelan.
Suasana di mobil pun memang terasa hangat sejak Nadya sering ikut bermain dan berjalan jalan dengan Aisyah.
"Mas... gimana sarapannya tadi? enak?" tanya Aisyah menyelidik.
Baihaqi pun tersenyum polos.
"Sejak kapan aku suka sandwich Aisyah. Kamu tahu kan, aku tidak pernah menyukai makanan itu." ucap Baihaqi pelan.
"Sandwich?... berarti dugaanku benar. Kotak itu tertukar, tapi bagaimana bisa? mereka berdua saling mengenal?" gumam Aisyah dalam hati.
"Sandwich? Mas, aku membuat Nasi goreng dengan telur mata sapi dan irisan tomat cukup banyak." ucap Aisyah pelan.
Baihaqi pun memberhentikan mobilnya dan menoleh ke arah Aisyah dengan raut wajah penuh kekecewaan.
JAZAKALLAH KHAIRAN
💚💚💚💚💚
Jangan Lupa tinggalkan jejak kalian sebelum melanjutkan ke Bab berikutnya.
Biar aku makin semangat menulisnya ...
Yang mau kenalan sama author bisa gabung ke GC HUMAIRAH BIDADARI SURGA atau PC atau pun FOLLOW IG @Humairah_bidadarisurga.
Yang mau tanya tanya atau sharing seputar Novel Karya Author atau hal lain juga boleh.
Ditunggu ya ...
__ADS_1
Terima Kasih ....