KETABAHAN AISYAH

KETABAHAN AISYAH
Bab 6


__ADS_3

Hai Para readersku tersayang ... 💚💚💚


Jangan lupa ya untuk Like, Komentar dan Vote seikhlasnya.


Tidak lupa untuk memberikan Rate 5 ⭐⭐⭐⭐⭐


Jangan lupa Kritik dan Sarannya, karena saran dari kalian itu sangat penting bagiku.


Aku tunggu jejak kalian di kolom Like dan Komentar ....


Berikan Saran dan Kritikan kepada author untuk membangun cerita ini lebih baik lagi.


Baca Juga Kisah Nyata lainnya ...



Hidayah Hijrahku


Dahsyatnya SHOLAWAT


Angkringan Cinta


Kopi Paste


Kesucian Syahadat



Selamat Membaca ....


💚💚💚💚💚💚


"Apapun yang terjadi, aku akan selalu kuat dan sabar mendampingiku Mas. Hatiku ini sudah penuh berisikan namamu, hingga tidak ada celah sedikit pun untuk nama yang lain, hanya ada Ahmad Baihaqi." ucap Aisyah dengan lantang.


"Seneng Mas dengernya." ucap Baihaqi pelan dan menjawil dagu Istrinya.


"Tidur yuk Mas, Aisyah mulai ngantuk." ucap Aisyah dengan lembut, sesekali tangannya menutup mulutnya yang menguap.


"Ini kopinya untuk tempur kan? kok malah minta tidur?" ucap Baihaqi pelan dan terkekeh.


"Mesum, ayok tidur." ucap Aisyah cemberut dan meninggalkan Baihaqi yang terkekeh di balkon kamarnya.


Aisyah yang sudah sangat ngantuk pun langsung menuju tempat tidurnya dan merebahkan tubuhnya yang pegal dan sedikit nyeri.


Baihaqi pun menyusul naik ke tempat tidur dan tidur disebelah Aisyah.


Seperti biasa, Hari Senin pagi akan menjadi hari sibuk bagi keduanya. Apalagi setelah weekend, dan pagi ini harus mulai beraktivitas itu rasanya sangat berat.


"Humairah... Mas, mau survei ke Kota Kudus, mungkin akan pulang larut. Kalau lelah, tidurlah dahulu, tidak perlu menungguku." ucap Baihaqi pelan.


"Baiklah Mas, hari ini aku juga lembur untuk menyelesaikan pesanan seseorang yang akan di ambil Minggu depan." ucap Aisyah dengan lembut.

__ADS_1


Baihaqi dan Aisyah pun sarapan pagi bersama, Aisyah hanya membuat nasi goreng, dan membawakan Bekal untuk suaminya roti selai coklat dan kopi di tempat minum kesayangannya.


"Ini bekalmu Mas, hanya aku bawakan roti, makan siang di luar saja. Aisyah belum masak." ucap Aisyah memberikan tas bekal kepada Suaminya dan mencium punggung tangan Suaminya dengan sopan.


"Mas berangkat dulu ya Dek. Hati hati ke butik, bilang Pak Amin, jangan ngebut." ucap Baihaqi mengingatkan.


Baihaqi pun mengeluarkan mobilnya keluar dari pekarangan rumah dan melajukan dengan kecepatan sedang.


Aisyah pun masuk ke dalam rumah untuk mengambil dompet dan berjalan ke luar rumah untuk berbelanja sayur di seberang jalan.


"Assalamualaikum... Bu Aisyah, ini pesanan buah pisang ambonnya." Ucap Mas Jangkung pelan menyodorkan bungkusan pisang Ambon.


Aisyah memang menjaga jarak dengan ibu ibu perumahan, biasanya mereka sering menghibah dan membuka aib seseorang di muka umum. Kedatangan Aisyah pun membuat bisikan-bisikan lirih sedikit terdengar di telinga Aisyah, terutama hal anak yang belum dimiliki oleh pasangan ini.


Aisyah pun tampak tidak memperdulikan, dan mulai memilih sayuran dan lauk yang akan dimasak hari ini.


"Ini semua Bu Aisyah? semuanya rnam puluh ribu rupiah." ucap Mas Jangkung pelan.


"Ini Uangnya Mas." ucap Aisyah sambil memberikan uang itu kepada tukang sayur.


"Terima kasih Bu Aisyah, ini kembaliannya, ada yang dipesan untuk besok?" tanya Mas Jangkung kepada Aisyah.


"Saya pesan Jeruk Sekilo sama semangka satu ya Mas." ucap Aisyah pelan.


"Iya Bu Aisyah. Terima kasih." ucap Mas Jangkung pelan.


Asiyah pun kembali ke rumahnya, tidak sengaja ada anak kecil yang menabraknya dan menumpahkan es krimnya di pakaian Aisyah.


Anak kecil itu terdiam dan meminta maaf.


"Tante tidak apa apa. Kamu berdiri, sini Tante bantu sayang. Namamu siapa tadi?" tanya Aisyah lembut.


Aisyah memang suka sekali pada anak anak, hingga cita citanya ingin membuka sekolah Paud untuk anak anak kurang beruntung secara gratis.


"Namaku Nadya, Tante. Rumahku di ujung sana." ucap Nadya pelan.


"Nadya.... jangan lari Nak." ucap Seorang Ibu setengah berteriak memanggil nama Nadya.


Nadya dan Aisyah pun menoleh ke arah suara tersebut. Seorang ibu berlari kecil mengejar Nadya.


Ibu itu terlihat lelah dan nafasnya pun tersengal. Matanya membola melihat noda cokelat dengan indah membatik di baju Aisyah.


"Maafkan anak saya Mbak. Maafkan anak saya sudah membuat baju anda kotor." ucap ibu itu pelan dan sopan.


"Tidak apa-apa Mbak. Aku Aisyah, itu rumahku, boleh berkenalan?" tanya Aisyah sambil mengulurkan tangannya ke arah ibu itu.


Ibu muda itu menerima ukuran tangan Aisyah dan mereka pun berkenalan.


"Aku Hanifah, bundanya Nadya." ucap Hanyfah dengan lembut.


"Ayo mampir ke rumahku Mbak Hany." ucap Aisyah pelan dan lembut, serta mempersilahkan Hanyfah dan Nadya masuk.

__ADS_1


Mereka pun masuk ke dalam sebagai ucapan permintaan maaf.


"Mbok Surti tolong bikinkan minum, Nadya sayang mau minum apa?" tanya Aisyah pelan.


"Silup lasa jeluk tante." ucap Nadya dengan cadel.


"Nadya mau sirup rasa jeruk? oke." ucap Aisyah sambil mengangkat jempolnya.


Mbok Surti pun mengganggukkan kepalanya tanda paham dengan keinginan Nadya.


"Anaknya sekolah Mbak Aisyah?" tanya Hanyfah pelan kepada Aisyah.


Aisyah pun sempat terdiam, karena sesak di dadanya kembali terasa.


"Saya belum memiliki anak mbak Hanyfah. Sudah hampir enam tahun usia pernikahan kami, tapi Allah SWT belum menitipkan juga amanah terindah untuk keluarga kecil kami. Dulu saya pernah keguguran, dan setelah itu belum hamil kembali. Kadang saya merasa gagal menjadi seorang istri." ucap Aisyah pelan. Raut wajahnya sedikit menampilkan guratan kesedihan.


"Masya Allah... maafkan saya Mbak Aisyah. Ini Nadya juga anak satu-satunya. Tahun kemarin rahim saya diangkat karena ada daging tumbuh dan ganas. Jalan satu-satunya rajin harus diangkat. Mungkin ini jalan terbaik, awalnya saya juga merasa tidak percaya diri, tapi Abinya Nadya selalu menguatkan saya. Ini harta saya satu satunya." ucap Hanyfah pelan sambil menunjuk ke arah Nadya dan mencium anak itu berkali kali.


Pemandangan itu tentu membuat iri Aisyah, pelukan seorang anak yang selalu Aisyah idamkan. Doa dan usaha pun tidak pernah putus selalu dipanjatkan dan dimunajatkan secara khusus agar langsung di jabah oleh Allah SWT.


"Permisi, ini minumannya Non." ucap Mbok Surti dengan sopan dan meletakkan tiga gelas sirup jeruk dan cemilan brownies.


"Terima kasih ya Mbok. Ayo Nadya, diminum." ucap Aisyah lembut.


Tanpa malu-malu Nadya pun langsung mengambil satu gelas sirup dan meminum Sirup Jeruk itu hingga menyisakan setengah gelas. Mungkin haus atau memang enak dan segar sewaktu di minum.


"Tante.. Nadya boleh main ke sini lagi. Nadya suka disini." tanya Nadya pelan.


"Tentu boleh sayang, tapi Nadya harus ijin dengan Bunda dulu, biar tidak di cari Bunda ya." ucap Aisyah lembut sambil mengusap pipi Nadya dengan penuh kelembutan.


"Mbak Aisyah. Maaf jadi merepotkan." ucap Hanyfah pelan.


"Aku senang Mbak Hanyfah. Pasti suamiku juga senang." ucap Aisyah pelan.


"Nadya ini termasuk anak yang jarang bicara dan sulit bergaul. Tapi saya lihat, Nadya nyaman dengan Mbak Aisyah. Kalau memang Nadya ingin main kemari untuk menemani Mbak Aisyah tidak apa-apa. Saya bisa mengerti." ucap Hanyfah dengan mantap.


"Terima kasih Hanyfah. Aku bahagia sekali jika memang Nadya mau bermain disini." ucap Aisyah pelan.


JAZAKALLAH KHAIRAN


💚💚💚💚💚


Jangan Lupa tinggalkan jejak kalian sebelum melanjutkan ke Bab berikutnya.


Biar aku makin semangat menulisnya ...


Yang mau kenalan sama author bisa gabung ke GC HUMAIRAH BIDADARI SURGA atau PC atau pun FOLLOW IG @Humairah_bidadarisurga.


Yang mau tanya tanya atau sharing seputar Novel Karya Author atau hal lain juga boleh.


Ditunggu ya ...

__ADS_1


Terima Kasih ....


💚💚💚💚💚


__ADS_2