
Hai Para readersku tersayang ... 💚💚💚
Jangan lupa ya untuk Like, Komentar dan Vote seikhlasnya.
Tidak lupa untuk memberikan Rate 5 ⭐⭐⭐⭐⭐
Jangan lupa Kritik dan Sarannya, karena saran dari kalian itu sangat penting bagiku.
Aku tunggu jejak kalian di kolom Like dan Komentar ....
Berikan Saran dan Kritikan kepada author untuk membangun cerita ini lebih baik lagi.
Baca Juga Kisah Nyata lainnya ...
Hidayah Hijrahku (Tamat)
Dahsyatnya SHOLAWAT (Tamat)
Angkringan Cinta (Tamat)
Kopi Paste
Kesucian Syahadat ( Tamat)
Amanah Terindah
Kalam Hikmah
Bulan dan Bintang
Kang Tatang dan Asmah
Selamat Membaca ....
__ADS_1
💚💚💚💚💚💚
"Cintai aku karena Allah, Aisyah. Jangan cintai aku karena ada apanya?" ucap Baihaqi tepat di telinga Aisyah dengan mendesah.
"Iya Mas." ucap Aisyah dengan lembut lalu mencium pipi Baihaqi.
"Sekarang kamu fokus pada operasi wajahmu nanti bulan depan. Persiapkan diri dengan baik Humairah." ucap Baihaqi pelan.
Baihaqi semakin mendekatkan wajahnya kepada Aisyah. Satu tangannya sudah berada di tengkuk Aisyah. Pertama kalinya kedua bibir itu menempel, dan hanya menempel tanpa ada pergerakan dan lanjutan. Rasanya kembali seperti pertama kali menikah.
Rasa suka mungkin sudah ada tapi rasa cinta itu belum tumbuh kembang dihati keduanya. Mereka menerima karena sama-sama menginginkan pernikahan yang mencintai karena Allah bukan karena diri pribadi atau nafsu.
Mereka berdua hanya saling bertatap dan menyatukan kedua bibir mereka. Terasa dingin dan kaku. Baihaqi berinisiatif untuk memulainya terlebih dahulu ******* bibir Aisyah yang masih terlihat kaku. Keduanya memejamkan mata, merasakan ciuman yang romantis, hangat dan membuat keduanya nyaman.
Lima menit sudah berlalu, dan mereka berdua masih asyik dengan keromantisan masing-masing pasangan. Aisyah sudah mulai larut dalam ciuman itu hingga tak terasa ada yang memanggil mereka.
"Umi ... Aby ... " teriak Nadya dari dalam kamar. Nadya menangis dengan kencang, teriak-teriak seperti orang kesurupan.
Keduanya sontak membuka matanya secara bersamaan. Pergerakan lidahnya pun terhenti dan melepas satu sama lain. Aisyah dengan segeralah berdiri dan menghampiri Nadya yang masih berbaring di tempat tidur dengan mata tertutup. Keringatnya membasahi wajah dan lehernya.
Aisyah memegang kening Nadya yang ternyata sedang mengalami demam ditambah rasa trauma yang sering membuatnya bermimpi buruk.
Baihaqi pun menyusul ke dalam kamar lalu memakai baju dan segera keluar mencari keberadaan Mbak Raina.
"Kenapa Bai? Kok kayaknya tergesa-gesa gitu." tanya Raina yang sedang membereskan makanan di meja makan.
"Anu Mbak. Nadya demam dan mengigau, mungkin mimpi buruk dari trauma itu sering masuk ke dalam pikirannya." ucap Baihaqi pelan.
"Cek keadaan Nadya Raina. Kasihan Nadya, dia masih terlalu kecil memikul beban berat seperti ini." ucap Fathan memberikan pendapatnya.
Raina pun segera ke kamar dan mengambil tas dokternya lalu bergegas menuju kamar Aisyah.
"Assalamualaikum Aisyah. Sejak kapan demam Aisyah?" tanya Raina pelan. Lalu dengan cepat memeriksa keadaan Nadya.
"Waalaikumsalam Mbak Raina. Sepertinya baru pagi ini. Semalam tidak demam." ucap Aisyah pelan.
"Beri obat ini setelah makan. Bangunkan saja agar mau makan. Kita lihat sampai nanti malam, kalau panasnya tidak turun terpaksa kita rawat inap." ucap Raina pelan menjelaskan.
__ADS_1
"Iya Mbak Raina. Beri yang terbaik untuk Nadya." ucap Aisyah pelan. Aisyah pun mengecup kening dan pipi Nadya agar terbangun.
"Bangun sayang ..." ucap Aisyah pelan.
DI TEMPAT LAIN
"Pergi Joe ... pergi kataku. Jangan urusi hidupku lagi." teriak Anggie dengan suara lantang.
"Aku akan tetap disini Anggie. Apapun yang terjadi. Aku akan menikahimu karena anak yang kami kandung adalah ANAKKU, DARAH DAGINGKU. Jangan pernah pisahkan anakku dengan ku." ucap Joe tak kalah keras.
"CUKUP JOE. PERGI!!" teriak Anggie semakin frustasi.
"Aku akan menunggumu disini. Aku akan bertanggung jawab atas dirimu Anggie. Lupakan Baihaqi." ucap Joe pelan dan lembut. Lalu memeluk Anggie yang sedang kacau, tapi Anggie tetap saja memberontak.
"Lepas Joe . Lepaskan aku, aku ini istri orang Joe." ucap Anggie bersikeras melepaskan pelukan itu.
"Kamu sudah ditalak Anggie. Apa lagi yang kamu harapkan dari Baihaqi. Kamu di rumah sakit saja, dia tidak perduli bukan?" ucap Joe lantang.
"Aku sudah bicara dengan Aisyah, bahwa aku membutuhkan Baihaqi. Aku sedang hamil." teriak Anggie keras.
"Lupakan Baihaqi, aku mohon. Lupakan Anggie. Kamu tidak boleh stres, kasihan dengan anak kita." ucap Joe melemah. Joe ikut frustasi melihat keadaan Anggie seperti ini.
"Kalau kamu kasihan. Antar aku ke Kairo. Aku ingin bertemu dengan suamiku dan memadu kasih. Perduli setan dengan Aisyah." teriak Anggie dengan sangat antusias.
"Jangan gila. Jangan sampai kamu di cap sebagai pelakor. Terima saja kalau kamu sudah diceraikan, dan aku siap menikahimu." ucap Joe antusias.
JAZAKALLAH KHAIRAN
💚💚💚💚💚
Jangan Lupa tinggalkan jejak kalian sebelum melanjutkan ke Bab berikutnya.
Biar aku makin semangat menulisnya ...
Yang mau kenalan sama author bisa gabung ke GC HUMAIRAH BIDADARI SURGA atau PC atau pun FOLLOW IG @Humairah_bidadarisurga.
Yang mau tanya tanya atau sharing seputar Novel Karya Author atau hal lain juga boleh.
__ADS_1
Ditunggu ya ...
Terima Kasih ....