KETABAHAN AISYAH

KETABAHAN AISYAH
87


__ADS_3

Tubuh Anggie makin melemas, napasnya mulai sesak dan melemah. Tubuhnya mendingin dan darah di daerah intim terus mengucur deras walaupun sudah ditutup dengan kain sarung dan selimut.


Salwa terus saja menangis. Mungkin bayi perempuan cantik itu merasa haus.


"Anggie, bisakah kamu menyusui bayi kita," ucap Joe pelan sambil menepuk pelan pipi Anggie karena kedua matanya terpejam.


Tidak ada respon dari Anggie. Anggie hanya diam, suara napasnya juga lirih hampir tidak terdengar lagi.


"Tuan, tubuh istriku mendingin. Bagaimana ini, Salwa menangis terus," ucap Joe cemas dan panik.


Benhard menatap sekilas ke arang Anggie, lalu mengulurkan tangannya untuk menyentuh Anggie sedangkan satu tangan lainnya masih memegang setir dan fokus pada jalanan yang sedang di lewatinya.


Benhard nampak terkejut setelah menyentuh dahi Anggie yang sudah mendingin.


"Kita harus cepat membawa istrimu ke rumah sakit. Aku takut, sesuatu terjadi padanya. Berilah bayi itu air putih sedikit demi sedikit agat tidak menangis," titah Benhard pelan.


Benhard menekan gasnya hingga truk itu melaju semakin cepat dan kencang. Benhard tidak ingin terlambat hingga sesuatu terjadi pada Anggie.


Joe mengambil air putih dan memberikan sedikit demi sedikit dengan sendok kecil. Salwa terus saja menangis, dan Joe berusaha mendiamkannya.


Anggie masih dengan posisi yang sama bersandar di bahu Joe. Kedua matanya masih tertutup rapat dan tidak ada respon positif dari Anggie sedikitpun.


"Kau yakin, istriku akan selamat tuan?" tanya Joe cemas. Duduknya kini bergeser berpindah menyamping sedikit. Kepala Anggie di sandarkan pada sandaran jok truk dan di beri bantal kecil agar lebih empuk.


Benhard menoleh sekilas ke arah Joe dan tersenyum penuh arti. Bibirnya terus berdzikir mengucap istighfar sebanyak mungkin. Tatapannya berpindah dan fokus pada jalanan tanpa menjawab pertanyaan Joe.


"Bangun Anggie. Lihatlah, Salwa terus menangis. Aku tidak bisa mengurus Salwa sendiri seperti ini," ucap Joe pelan setengah berbisik.

__ADS_1


Entah bagaimana doa yang baik yang bjsa langsung dikabulkan. Mungkin saja kalau doa itu bisa di beli, maka Joe mau membayar mahal doa tersebut agar cepat di kabulkan. Tapi sayang, doa itu munajat atas hajat dari keinginan seseorang. Kita harus pasrah dan yakin dengan doa.


"Jangan terus kamu ajak bicara Bung!! Istrimu sudah tidak sadarkan diri. Lebih baik kamu berdzikir atau terus berdoa minta yang terbaik. Ingat terbaik dari Allah terkadang menurut kita tidak baik, dan menurut kita baik bisa jadi menurut Allah itu bukan yang terbaik," ucap Benhard pelan namun terdengar sangat tegas.


Joe hanya bisa mengangguk pelan mendengar ucapan benhard.


Tidak sampai satu jam perjalanan, akhirnya tanda-tanda kehidupan di sebuah kota pun terlihat. Truk Benhard terus melaju dengan kecepatan maksimal dan mencari rumah sakit terdekat melalui GPS dari ponsel pintarnya.


Truk besar itu masuk ke dalam halaman rumha sakit dan berhenti tepat di depan ruang IGD lalu turun dan mencari pertolongan untuk Anggie dan bayinya.


Joe sudah bisa bernapas lega saat melihat Anggie langsung di tangani dengan baik oleh pihak rumah sakit. Begitu juga dengan Salwa yang langsung masuk inkubator. Tubuh Salwa membiru dan terlihat seperti kedinginan.


Benhard sudah duduk di kursi tunggu bersama Joe setelah memarkir truknya di halaman belakang rumah sakit. Benhard ikut menemani Joe yang sedang cemas dan bingung. Padahal Joe dan Anggie bukanlah siapa-siapa bagi Benhard, namun memang Benhard benar-benar merasa iba dan menjadikan keduanya seperti anak dan saudara sendiri.


"Keluarga pasien Anggie," panggill seorang perawat ke arah kursi tunggu. Joe dan Benhard terkesiap menoleh ke arah perawat yang menyembul dari arah pintu ruangan IGD itu.


"Ya, saya suaminya," tegas Joe dengan rasa cemas.


"Tuan tenang dulu. Mungkin keadaan Nyonya Anggie bisa lebih buruk dari ini. Pendarahannya tidak berhenti, sepertinya kelelahan. Alangkah baiknya di rujuk ke rumah sakit di kota. Lama-lama bisa koma, jika tidak ditangani dengan peralatan yang lebih lengkap," ucap perawat itu menginformasikan.


"Apa maksudnya? Apa yang sebenarnya terjadi pada istriku?" teriak Joe keras. Wajahnya memerah karena panik luar biasa.


"Lalu Salwa, anakku bagaimana?" tanya Joe kembali dengan cepat.


Perawat itu paham dengan segala kepanikan Joe. Begitu pula dengan Benhard yang memeluk Joe dari samping dan menepuk bahu tegap pria tampan itu untuk menguatkan.


"Dengarkan dan ikuti kata-kata perawat dan dokter. Itu tandanya, langkah tepat dan terbaik untuk Anggie," ucap Benhard memberikan saran

__ADS_1


Joe tersenyum kecut kepada Benhard. Situasinya berbeda kali ini, bahkan orang tidak akan tahu, bagaimana kesedihannya saat ini yang dirasakan oleh Joe.


"Berikan yang terbaik untuk Anggie dan Salwa. Kalau bisa satukan mereka dalam satu rumah sakit agar mudah menunggunya," ucap Benhard mengambil keputusan dengan sangat bijak.


Perawat itu mengangguk pelan tanda paham.


"Kami akan persiapkan semuanya. Mungkin akan tiba di Rumah sakit rujukan sekitar dua jam, dan selama di dalam ambulance akan tetap kami pantau kesehatan kedua pasien," ucap perawat itu pelan.


Dokter dan perawat menyiapkan segala sesuatu untuk kepindahan kedua pasien Ibu dan anak itu. Salwa hanya butuh proses pemulihan saja. Berbeda dengan Anggie yang memang masih dalam kondisi tidak sadar.


Joe kembali ke kursi tunggu dan duduk bersandar. Kepalanya menengadah ke atas menahan air mata yang turun. Betapa mengingat semua dosa-dosa besar yang telah dilakukannya.


'Jika kamu sembuh, ijinkan aku mnebus segala dosa-dosaku dengan menyerahkan diri,' batin Joe di dalam hatinya.


"Tenangkan hati dan pikiranmu Joe. Pasrahkan semuanya kepada Allah," ucap Benhard pelan kepada Joe yang tampak frustasi.


Semua sudah siap. Anggie dan Salwa sudah berada dalam ambulance alam pantauan dokter dan oerawat yang ikut berada di dalam ambulance itu.


Menurut dokter, kondisi Anggie yang paling parah. Kemungkinan hidup dan selamat hanya setengahnya saja. Ada beberapa bagian tubuhnya terutama di bagian intimnya yang rusak hingga mengalami pendarahan yang begitu dahsyat.


Benhard mengikuti ambulance itu dari belakang. Benhard membawa truknya dan melajukan tepat di belakang ambulance. Joe sendiri duduk di samping brankar Anggie dengan suara mesin pendeteksi jantung yang berbunyi keras membuat sayatan hati yang membekas.


Joe menatap Anggie dan Salwa secara bergantian. Kalau takdir sudah berbicara, maka kita sebagai manusia bisa apa? Kecuali menerima kenyataan itu dengan pasrah dan ikhlas.


Sulit bukan mengikhlaskan sesuatu itu. Bukan sesuatu yang mudah bersikap sabar, tanpa ada rasa ego dan merasa diri paling segalanya.


Kalau sudah dihadapkan pada ujian, kita hanya bisa menyesali lalu menangis. Memohon untuk tidak lebih buruk lagi kenyataan dan takdir untuk kita jalani.

__ADS_1


Tapi, semuanya proses hidup. Suka tidak suka, semua harus dijalani dengan hati yang lapang.


__ADS_2