
Hai Para readersku tersayang ... 💚💚💚
Jangan lupa ya untuk Like, Komentar dan Vote seikhlasnya.
Tidak lupa untuk memberikan Rate 5 ⭐⭐⭐⭐⭐
Jangan lupa Kritik dan Sarannya, karena saran dari kalian itu sangat penting bagiku.
Aku tunggu jejak kalian di kolom Like dan Komentar ....
Berikan Saran dan Kritikan kepada author untuk membangun cerita ini lebih baik lagi.
Baca Juga Kisah Nyata lainnya ...
Hidayah Hijrahku (Tamat)
Dahsyatnya SHOLAWAT (Tamat)
Angkringan Cinta (Tamat)
Kopi Paste
Kesucian Syahadat ( Tamat)
Amanah Terindah
Kalam Hikmah
Bulan dan Bintang
Kang Tatang dan Asmah
Selamat Membaca ....
💚💚💚💚💚💚
"Itu bukan alasan untuk aku tidak mencintaimu Aisyah. Dengan kehadiran Azan aku makin mencintaimu Aisyah, apapun keadaanmu. Ini takdir untuk rumah tangga kita." ucap Baihaqi lembut dan mengecup kening Aisyah dengan lembut.
"Mas ... setulus itukah cintamu untukku hingga kamu masih mengingatku bahkan menjemput aku disini?? Tak menyesal kah kamu dengan semua yang terjadi." tanya Aisyah pelan dan terbata-bata.
__ADS_1
Baihaqi sejak tadi berdiri dan menggendong Azan dengan rasa bahagia. Mendengar pertanyaan yang dilontarkan Aisyah, Baihaqi pun menengok ke arah Aisyah lalu tersenyum sempurna hingga memperlihatkan lesung pipinya.
"Dihatiku hanya ada namamu Aisyah ... tidak akan pernah ada yang lain. Selama ini pun aku menjaga diriku dan tinggal di ponpes." ucap Baihaqi pelan menjelaskan.
Senyumnya masih tercetak jelas. Bertemu Asiyah dan anaknya adalah sebuah keajaiban yang harus di syukuri berkali-kali. Doa dan usahanya selama ini tidak pernah sia-sia. Azan pun diletakkan di box bayi yang ada disebelah Aisyah. Nadya yang sejak tadi mengekor Papa Bai pun ikut melongok ke arah box untuk melihat sang adik.
"Boleh aku memelukmu Humairah ... Aku sangat merindukanmu sayang ..." ucap Baihaqi lembut yang sudah duduk di pinggiran brankar.
Aisyah menunduk menahan rasa haru dan bahagianya. Memiliki suami yang siaga dan tulus mencintainya.
"Aku juga merindukanmu Mas ..." ucap Aisyah pelan dan merentangkan kedua tangannya untuk memeluk suami tercintanya.
Tidak ada kebahagiaan lain dalam suatu rumah tangga kecuali hidup bersama dengan pasangannya. Kesempurnaan terletak dengan adanya buah hati karena kebahagiaan itu sejatinya tidak dinilai dengan harta dan uang.
Banyak harta dan hidup dalam kemewahan namun mempunyai sikap yang tidak baik, untuk apa? Lebih baik hidup sederhana dan berkecukupan itu lebih aman dan bahagia. Intinya pasangan itu saling mengerti, saling memahami dan saling melengkapi. Tidak ada yang sempurna dalam hidup ini.
Baihaqi pun membalas pelukan Aisyah dengan lembut dan penuh kasih sayang. Usapan dari kepala yang tertutup hijab hingga punggung di usap pelan oleh Baihaqi. Aisyah pun merasakan getaran dan desiran yang membuat hati dan tubuhnya pun bergetar dan meremang. Rasa rindunya benar-benar tidak terbendung, hatinya sudah basah matanya pun sudah bengkak karena sejak tadi menangis terus.
"Aku mencintaimu Mas Baihaqi ... Aku tidak ingin berpisah denganmu lagi." ucap Aisyah pelan dan terbata bata.
"Aku juga mencintaimu Aisyah ... Aku bertahan karena aku yakin kamu pasti selamat. Ijinkan aku untuk selalu menjadi satu-satunya untukmu, sama sepertimu yang akan selalu menjadi satu-satunya untukku." ucap Baihaqi pelan dan sesegukan.
Air matanya sudah penuh, tinggal mengedipkan matanya maka semua akan tumpah. Baihaqi berusaha tegar dan tabah. Kebahagiaan inilah yang membuatnya benar-benar bertahan pada keadaan.
"Sudah ... setelah ini tinggalah bersama kami sementara. Sampai jadwal operasi wajah Aisyah bisa dimulai." ucap Raina menengahi agar hatinya tidak ikut terhanyut dalam kesedihan yang mendalam.
Cinta keduanya sungguh tulus dan abadi. Mereka seakan tidak bisa terpisahkan, seolah batinnya bisa menjawab semua pertanyaan yang ada pada saat ini.
"Humairah ... boleh aku melihat wajahmu?" ucap Baihaqi pelan.
Aisyah menggeleng dengan cepat. Lalu menundukkan wajahnya karena malu.
"Aku malu Mas. Aku buruk Mas. Aku tidak ingin mengecewakanmu." ucap Aisyah pelan.
"Yang ku pandang adalah hatimu Aisyah bukan rupamu. Apapun keadaanmu, itu semua tidak akan mengubah rasa cintaku padamu yang telah Allah berikan. Aku mencintaimu karena Allah." ucap Baihaqi menegaskan.
"Aku takut Mas. Bisa saja kamu berpura-pura dengan suatu keadaan." ucap Aisyah pelan.
"Buka Aisyah. Aku ingin melihatmu. Biar aku juga merasakan kesedihan dan kesusahan mu dan segala penderitaanmu." ucap Baihaqi pelan. Satu tangannya sudah memegang cadar Aisyah untuk dibuka.
Satu tangan Aisyah pun menggenggam tangan Baihaqi untuk menghentikan semuanya.
"Aku takut Mas." ucap Aisyah yang merasa takut.
__ADS_1
"Aku tidak akan meninggalkanmu Humairah ... Aku akan tetap menemanimu dalam Suak maupun duka." ucap Baihaqi lembut. Dipindahkan tangan Aisyah lalu dikecup punggung tangan itu dengan lama dan lembut.
Perlahan cadar itu diangkat dan terbuka menampilkan bagian pipi hingga dagu Aisyah yang penuh dengan luka kering dan robekan.
Baihaqi pun mendekati Aisyah dan mengecup luka itu dengan lembut.
"Ada aku yang akan menemanimu Aisyah. Jangan merasa kamu sendiri dan tidak berguna." ucap Baihaqi menatap Aisyah.
Aisyah terkejut dan meremang karena luka-luka itu disentuh dan dicium oleh suaminya.
"Kamu tidak jijik Mas?" tanya Aisyah pelan.
"Sama sekali tidak. Kamu seperti ini karena ingin menyelamatkan anak kita, karena bertahan untuk hidup bersamaku disisa hidup kita Aisyah. Pengorbananmu sungguh mulia Aisyah. Aku tidak tahu bagaimana aku harus berterimakasih dan bersyukur atas kejadian ini." ucap Baihaqi pelan dan mengecup bibir Aisyah yang sedikit menganga dan terasa dingin.
"Mas Bai ... Aisyah hanya memiliki Allah sebagai penolong. Aisyah pasrah dengan keadaan pada waktu itu. Aisyah hanya bisa berdoa, jika memang engkau jodohku pasti akan dipertemukan kembali." ucap Aisyah pelan.
"Aku bangga memilikimu Aisyah ... Kamu wanita sholehah. Aku mencintaimu karena Allah dan tanpa syarat. Tetaplah di sisiku hingga ajal memisahkan kita." ucap Baihaqi pelan mengecup kening Aisyah.
Rindu memeluk Aisyah mengecup seluruh bagian wajahnya tanpa terlewatkan. Cintanya benar-benar tulus dan apa adanya.
"Aku bangga memiliki imamku. Tetaplah menjadi imam dan mengajariku apapun itu. Sejatinya surgaku ada di pada dirimu Mas." ucap Aisyah lembut.
Aisyah mengusap pipi Baihaqi dengan lembut dan penuh kasih sayang.
"Mas ... Nadya kok bisa bersamamu?" tanya Aisyah pelan.
Baihaqi pun terhenyak seketika. Bahkan Baihaqi melupakan Nadya yang sejak tadi bermain dengan Azan.
JAZAKALLAH KHAIRAN
💚💚💚💚💚
Jangan Lupa tinggalkan jejak kalian sebelum melanjutkan ke Bab berikutnya.
Biar aku makin semangat menulisnya ...
Yang mau kenalan sama author bisa gabung ke GC HUMAIRAH BIDADARI SURGA atau PC atau pun FOLLOW IG @Humairah_bidadarisurga.
Yang mau tanya tanya atau sharing seputar Novel Karya Author atau hal lain juga boleh.
Ditunggu ya ...
Terima Kasih ....
__ADS_1