
Hai Para readersku tersayang ... 💚💚💚
Jangan lupa ya untuk Like, Komentar dan Vote seikhlasnya.
Tidak lupa untuk memberikan Rate 5 ⭐⭐⭐⭐⭐
Jangan lupa Kritik dan Sarannya, karena saran dari kalian itu sangat penting bagiku.
Aku tunggu jejak kalian di kolom Like dan Komentar ....
Berikan Saran dan Kritikan kepada author untuk membangun cerita ini lebih baik lagi.
Baca Juga Kisah Nyata lainnya ...
Hidayah Hijrahku
Dahsyatnya SHOLAWAT
Angkringan Cinta
Kopi Paste
Kesucian Syahadat
Amanah Terindah
Kalam Hikmah
Selamat Membaca ....
💚💚💚💚💚💚
Lalu sekarang bagaimana? Bahkan mereka akan tinggal bersama dengan ikatan yang sudah pasti halal dan SAH.
__ADS_1
"Assalamualaikum ... " ucap Baihaqi memberikan salam saat memasuki rumahnya.
"Waalaikumsalam ..." jawab Anggie dan Mbok Surti yang sudah menunggu kedatangan Baihaqi sejak tadi.
Baihaqi pun mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru rumah berharap ada Aisyah yang menyambut kedatangannya, namun nihil, Aisyah memang sudah tidak ada dan Baihaqi harus menutup rapat rasa kecewa dan sedihnya itu untuk selamanya, walaupun harapannya untuk keajaiban itu tetap masih Baihaqi yakini.
Dengan mantap langkah kaki Baihaqi memasuki rumahnya langsung menuju kamar tidurnya.
Anggie dan Mbok Surti pun saling berpandangan bingung. Namun mereka bisa memahami perasaan Baihaqi saat ini. Bukan hal yang mudah untuk mengikhlaskan sesuatu yang belum ada wujudnya.
Kamar tidur itu masih sama seperti beberapa bulan yang lalu. Warna sprei yang putih bersih kesukaan Aisyah, harum wewangian milik Aisyah pun masih menyeruak disekitar kamar. Meja rias yang penuh dengan kosmetik kesukaan Aisyah, beberapa baju gamis yang masih terpajang di almari kaca menjadi baju kesukaannya. Kenangan tentang Aisyah pun mulai menghantui seluruh pikirannya. Mukena Aisyah yang di lipat rapi di tempatnya.
Baihaqi pun melangkah menuju ranjang dimana mereka sering bercanda dan tertawa disana bahkan melepas rasa cinta dan kasih sayang pun di ranjang itu. Kini sepi, kini hampa, kini, kosong tak berpenghuni, hanya ada guling kesayangan Aisyah yang masih tergeletak ditempatnya.
Air mata Baihaqi pun luruh begitu saja mengingat semua kenangan itu. Manjanya Aisyah saat menginginkan sesuatu kepada Baihaqi. Rengekan Aisyah yang menginginkan jalan-jalan bersama Baihaqi. Tangisan Aisyah saat ia menumpahkan segala kelelahannya di Butik. Semua dan semua tentang Aisyah.
Aisyah ... aku yakin kamu pasti masih hidup bersama anak kita. Aku akan kembali ke kota itu untuk mencarimu Aisyah. Aku sudah sehat dan sudah bisa mencari kamu hingga ke pelosok daerah pun akan ku tempuh demi kamu Aisyah ku....
Malam ini, sangat berbeda dengan malam malam sebelumnya. Dunianya sudah berhenti rasanya saat mengingat Aisyah. Baihaqi sudah memakai sarung dan baju Koko putih lengkap dengan kopiah. Digelarnya sajadah dan Baihaqi pun mulai melaksanakan sholat malam. Setelah itu Baihaqi membuka mushaf kesayangan Aisyah dan membacanya dengan suara yang begitu nyaring. Suara yang sendu dalam tangis, begitu terasa kesedihan yang sedang dialaminya. Lalu berdzikir hingga Baihaqi pun tertidur diatas sajadah sama persis dengan yang sering dilakukan oleh Aisyah.
Matanya masih menutup hingga adzan shubuh pun berkumandang dengan sangat indah untuk membangunkan orang-orang yang masih nyenyak dan nyaman berada di bawah selimut yang hangat.
Rencana pagi ini, Baihaqi akan ke kampusnya dan menanyakan jadwal mengajarnya. Karena sudah terlalu lama ia absen dari kampusnya karena kejadian yang dialaminya. Baihaqi sudah rapi dengan setelan kemeja dan jasnya serta dasi yang dipakainya dengan warna yang sebenarnya kurang pas, namun Baihaqi tetap cuek dan melangkah menuju ruang makan.
Di sana sudah tersedia beberapa makanan kesukaan Baihaqi termasuk teh madu minuman favoritnya dikala pagi.
Anggie pun menghampiri Baihaqi dan membantu mengambilkan makanan untuk Baihaqi. Lalu menyiapkan air putih di gelas besar di samping piringnya, sama persis yang dilakukan Aisyah setiap pagi kepada suaminya.
Anggie hanya ingin diakui dan dihargai keberadaannya disini, walaupun menjadi yang kedua. Sudah menjadi tugasnya, untuk mengurus Baihaqi suaminya.
Baihaqi hanya terdiam saat Anggie menyiapkan makanan dan minuman. Satu kata yang terucap dari bibir Baihaqi pagi itu "Terimakasih".
Keduanya pun mulai menyantap sarapan pagi dengan nasi goreng dan telor ceplok serta irisan tomat yang cukup banyak.
Satu suapan masuk ke dalam mulut Baihaqi dan mulai dikunyah. Seakan menikmati makanan pagi itu seperti mengobati rasa rindunya pada istri tercintanya Aisyah. Nasi goreng itu memiliki cita rasa yang sama persis dengan nasi goreng yang dibuat oleh Aisyah.
"Siapa yang membuat nasi goreng ini?" tanya Baihaqi dengan suara agak keras.
__ADS_1
Anggie pun tersentak kaget dan meletakkan sendok garpunya di atas piring. Lalu menatap Baihaqi dengan perasaan bersalah.
"Saya yang membuat Pak Baihaqi. Apakah rasanya tidak enak? Selama ini saya belajar dari Kak Aisyah." ucap Anggie pelan.
Baihaqi pun menatap ke arah Anggie dengan perasaan campur aduk. Baru kali ini, Baihaqi menatap intens wanita yang sudah beberapa bulan ini tinggal satu rumah dengannya.
Ya ... Anggie itu cantik, walaupun tidak secantik Aisyahnya. Rambutnya yang panjang membuat Anggie pun semakin mirip dengan Aisyah. Rasa makanan ini dan perlakuannya kini mirip dengan Aisyah ya yang telah pergi.
"Maafkan saya, Pak Baihaqi membuat sarapan Bapak jadi tidak berselera. Atau akan saya ganti dengan roti?" tawar Anggie dengan lembut dan sopan.
"Tidak Anggie. Makanan ini sangat enak, rasanya pun sama dengan masakan Aisyah. Aku begitu merindukan Aisyah. Maafkan aku membuatmu tidak nyaman dengan keadaan ini." ucap Baihaqi pelan, lalu dengan cepat menyelesaikan makan paginya.
Baihaqi sudah berdiri di teras menunggu Pak Amin yang masih memanaskan mobil. Untuk sementara Baihaqi akan pulang dan pergi bersama Pak Amin. Baihaqi masih belum sanggup untuk menyetir sendiri.
Anggie pun keluar dari dalam rumah dan memberikan tas bekal kepada Baihaqi. Sama persis yang dilakukan Aisyah setiap pagi.
"Pak Baihaqi. Maaf dasinya boleh saya ganti, warna itu kurang cocok dengan kemeja yang bapak pakai." ucap Anggie pelan dan lembut. Satu tangannya sudah melepaskan ikatan dasi yang sudah terpampang di dadanya kemudian menggantinya dengan warna yang lebih senada.
"Oh .. Iya .." ucap Baihaqi menjawab pelan karena Anggie sudah lebih dulu mengganti dasi itu dengan lembut.
Keduanya saling bertatapan. Sinar bila mata yang dipancarkan Anggie adalah sebuah ketulusan dan tanggung jawabnya sebagai seorang istri. Baihaqi hanya bisa menatap Anggie dengan tatapan lain, tatapan mengiba dan memelas.
'Anggie kenapa rupa dan akhlakmu kini menyerupai Aisyahku. Kenapa semesta membuatku semakin tidak bisa melupakan Aisyahku. Aisyah dimana kamu ... Aisyah ...', gumam Baihaqi dalam batinnya.
JAZAKALLAH KHAIRAN
💚💚💚💚💚
Jangan Lupa tinggalkan jejak kalian sebelum melanjutkan ke Bab berikutnya.
Biar aku makin semangat menulisnya ...
Yang mau kenalan sama author bisa gabung ke GC HUMAIRAH BIDADARI SURGA atau PC atau pun FOLLOW IG @Humairah_bidadarisurga.
Yang mau tanya tanya atau sharing seputar Novel Karya Author atau hal lain juga boleh.
Ditunggu ya ...
__ADS_1
Terima Kasih ....