KETABAHAN AISYAH

KETABAHAN AISYAH
Bab 38


__ADS_3

Hai Para readersku tersayang ... 💚💚💚


Jangan lupa ya untuk Like, Komentar dan Vote seikhlasnya.


Tidak lupa untuk memberikan Rate 5 ⭐⭐⭐⭐⭐


Jangan lupa Kritik dan Sarannya, karena saran dari kalian itu sangat penting bagiku.


Aku tunggu jejak kalian di kolom Like dan Komentar ....


Berikan Saran dan Kritikan kepada author untuk membangun cerita ini lebih baik lagi.


Baca Juga Kisah Nyata lainnya ...



Hidayah Hijrahku


Dahsyatnya SHOLAWAT


Angkringan Cinta


Kopi Paste


Kesucian Syahadat


Amanah Terindah


Kalam Hikmah



Selamat Membaca ....


💚💚💚💚💚💚

__ADS_1


"Sabar Mbok Surti. Kita serahkan semuanya pada Allah SWT. Kita harus yakin, semua ini adalah yang terbaik untuk kita." ucap Pak Amin pelan menenangkan hati Mbok Surti yang masih terus bersedih.


-DI TURKI-


Dua bulan berlalu, Aisyah pun mulai tersadar dengan menggerakkan jari-jarinya diatas ranjang tempat ia terbaring lemah. Matanya mulai mengerjap dan terbuka secara perlahan hingga kedua matanya pun sempurna membuka lebar. Menatap langit-langit rumah itu dan menatap orang yang berada didepannya.


Wanita berhijab didepannya menggunakan seragam putih dengan hijab lebar menjuntai hingga pinggangnya. Wajahnya terlihat seperti orang Indonesia namun hidungnya mancung seperti orang Arab.


"Assalamualaikum Aisyah ... Namamu Aisyah?" tanya wanita itu pelan dan tersenyum dengan ramah.


"Waalaikumsalam ... Aku Aisyah ... Aku ada dimana?!" ucapnya pelan dan terdengar serak.


Aisyah pun akan bangkit duduk namun rasanya masih sakit sekali di bagian punggung dan kakinya. Tangannya pun mengusap perutnya yang makin membesar dan membuncit, Aisyah tersadar bahwa dirinya sedang mengandung dan anaknya pun selamat dalam kecelakaan itu. Namun bagaimana nasib Baihaqi suaminya.


"Tidurlah dulu Aisyah. Tubuhmu masih belum kuat menyangga berat tubuhmu sendiri. Kenalkan namaku Maryam. Aku seorang dokter yang bekerja di salah satu Rumah Sakit di negara ini. Aku juga dari Indonesia sama sepertimu. Aku melihat paspormu yang ada di dalam tas kecil yang menempel pada tubuhmu saat aku menemukanmu Aisyah." ucap Maryam dengan lembut.


"Ceritakan padaku Bu Maryam bagaimana aku bisa disini. Arghhh ... wajahku kenapa perih seperti ini." tanya Aisyah pelan. Kedua tangannya menyentuh wajahnya yang penuh luka dan terasa perih saat di sentuh.


"Aku menemukan dipinggir pantai, mungkin terbawa ombak atau bagaimana aku tidak tahu persisnya bagaimana. Tas yang ada di tubuhmu hanya ada paspor tanpa identitas lainnya. Semua isi tasmu kosong dan aku hanya mengandalkan paspormu saja. Tubuhmu lemas dan tidak sadarkan diri, aku langsung membawamu ke rumah untuk membantumu mendapatkan pertolongan pertama. Karena aku seorang dokter dan aku tidak menemukan identitas lain selain ini maka aku berinisiatif membawa ke rumah untuk aku rawat hingga kamu sadar. Awalnya aku ingin melaporkan tentang dirimu ke kedutaan besar, namun pencarian korban sudah dihentikan satu bulan lalu saat kamu belum sadarkan diri. Tapi kalau kamu mau pulang ke Indonesia, aku bisa membantumu Aisyah. Dan soal kandunganmu, janinnya sehat, setiap hari aku pantau dan aku beri nutrisi lewat suntikan. Satu hal lagi, wajahmu saat ini tidak bisa dikenali oleh siapapun karena rusak." ucap Bu Maryam menjelaskan.


Aisyah pun menangis hingga bahunya pun bergetar dengan hebat. Air matanya terus saja turun tanpa henti dan tiada habisnya. Kedua tangannya pun menyentuh wajahnya yang memang terasa kasar karena luka-luka yang belum sembuh.


Bu Maryam pun membawakan kaca rias yang kecil kepada Aisyah. Aisyah pun terlihat meringis ketakutan melihat wajahnya sendiri yang tampak buruk dan jelek.


"Apakah aku bisa melakukan operasi wajah agar bisa tampak seperti dulu lagi?" tanya Aisyah pelan.


"Tentu Aisyah, tapi setelah kami melahirkan nanti. Kamu tahu bahayanya obat-obatan itu terhadap janin yang ada dalam kandungan bukan?!" ucap Bu Maryam dengan lembut menjelaskan.


Wajahnya hanya nampak ketulusan dan keramahan serta keikhlasan yang luar biasa hebat.


"Bolehkah aku tetap tinggal disini Bu Maryam, aku akan mencari pekerjaan untuk menghidupi diriku dan anakku. Aku tidak mungkin pulang ke Indonesia dengan keadaan yang seperti ini. Rasanya sulit menerima kenyataan pahit ini." ucap Aisyah pelan dan sesegukan menangis.


"Aku tidak keberatan Aisyah, lakukanlah seperti dirumahmu sendiri. Disini aku hanya tinggal sendiri setelah suamiku meninggal aku hanya sendiri disini." ucap Bu Maryam pelan dan tenang. Tatapannya meneduhkan jati hingga terasa aman dan nyaman.


"Terima kasih Bu Maryam. Berapa lama aku tidak sadarkan diri?" tanya Aisyah pelan.

__ADS_1


"Hari ini tepat dua bulan kamu tertidur tanpa bangun dari tidurmu." ucap Bu Maryam pelan.


"Selama itu, jadi anak ini usianya sudah tujuh bulan, dan Anggie pasti akan melahirkan, lalu Mas Baihaqi ... Bagaimana keadaanmu Mas?!" ucap Aisyah pelan.


"Ini daftar nama orang-orang yang selamat lihatlah, kemungkinan suamimu selamat atau tidak silahkan baca saja." ucap Bu Maryam dengan memberikan surat kabar dua bulan yang lalu.


Aisyah membaca satu per satu nama-nama korban yang selamat. Dan benar nama Ahmad Baihaqi ada disana. Aisyah pun mengucapkan rasa syukur berkali-kali hingga menangis kembali. Rasa haru dan bahagia bercampur menjadi satu hingga senyumnya pun terbit dengan sangat manis. Namun hanya sebentar senyum itu hadir, Aisyah pun mengerutkan keningnya dan mulai cemberut dan cemburu.


Mereka kini tinggal berdua, bisa jadi mereka menganggapku sudah mati dan tidak akan pernah kembali dan mereka akan hidup bahagia, kalau aku datang tiba-tiba maka aku yang akan merusak kebahagiaan rumah tangga orang. Apa yang harus aku lakukan, gumamnya dalam hati.


"Kenapa Aisyah?! Kenapa wajahmu berubah kecut seperti itu. Ceritakan tentangmu, anggap aku seperti Ibu atau kakak perempuanmu yang bisa kamu ajak berbagi." ucap Bu Maryam dengan baik.


Aisyah pun mulai menceritakan kehidupannya dari awal pernikahan hingga kecelakaan pesawat itu terjadi. Dan ketakutannya tentang Anggie yang bisa merubah statusnya sebagai Nyonya Baihaqi yang Sah dan tercatat.


Kegelisahan dan kecemburuan Aisyah pun sangat nampak dan terlihat jelas tercetak di wajahnya.


"Aisyah ... Allah SWT akan menurunkan sebuah cobaan berikut dengan solusi dan penyelesaiannya, walaupun prosesnya itu akan terasa berat dan perih bahkan kita tidak sanggup, namun akhirnya Allah SWT memberikan yang terbaik untuk kebahagiaan hambaNya. Bukankah begitu janji Allah SWT kepada orang-orang yang yakin dan taat kepadaNya?!" ucap Bu Maryam menjelaskan.


"Aku hanya belum ikhlas Bu Maryam. Aku korban disini, aku juga wanita lemah dan manusia biasa yang punya hati dan perasaan. Hatiku sakit dan perih, cobaan rumah tanggaku sangat pelik dan rumit. Kini aku hanya memiliki anak ini, amanah ini akan aku jaga dengan baik Bu Maryam." ucap Aisyah pelan dan terbata-bata.


Tangis Aisyah pun pecah dan memeluk Bu Maryam dengan sangat erat. Rasa sakit di punggung dan kakinya sudah tidak dirasakan lagi. Saat ini hatinya benar-benar kacau dan hancur sehancurnya.


Bu Maryam pun mengusap lembut lengan dan punggung Aisyah. Memberikan kekuatan yang lebih untuk wanita sebaik Aisyah.


JAZAKALLAH KHAIRAN


💚💚💚💚💚


Jangan Lupa tinggalkan jejak kalian sebelum melanjutkan ke Bab berikutnya.


Biar aku makin semangat menulisnya ...


Yang mau kenalan sama author bisa gabung ke GC HUMAIRAH BIDADARI SURGA atau PC atau pun FOLLOW IG @Humairah_bidadarisurga.


Yang mau tanya tanya atau sharing seputar Novel Karya Author atau hal lain juga boleh.

__ADS_1


Ditunggu ya ...


Terima Kasih ....


__ADS_2