KETABAHAN AISYAH

KETABAHAN AISYAH
Bab 64


__ADS_3

Hai Para readersku tersayang ... 💚💚💚


Jangan lupa ya untuk Like, Komentar dan Vote seikhlasnya.


Tidak lupa untuk memberikan Rate 5 ⭐⭐⭐⭐⭐


Jangan lupa Kritik dan Sarannya, karena saran dari kalian itu sangat penting bagiku.


Aku tunggu jejak kalian di kolom Like dan Komentar ....


Berikan Saran dan Kritikan kepada author untuk membangun cerita ini lebih baik lagi.


Baca Juga Kisah Nyata lainnya ...



Hidayah Hijrahku (Tamat)


Dahsyatnya SHOLAWAT (Tamat)


Angkringan Cinta (Tamat)


Kopi Paste


Kesucian Syahadat ( Tamat)


Amanah Terindah


Kalam Hikmah


Bulan dan Bintang


Kang Tatang dan Asmah



Selamat Membaca ....


💚💚💚💚💚💚


BEBERAPA BULAN KEMUDIAN ...


Aisyah dan Baihaqi masih menetap di Kairo dengan menyewa apartemen sendiri. Karena Aisyah masih harus perawatan untuk pasca operasi wajahnya maximal satu tahun ke depan.


Baihaqi sudah bekerja sebagai dosen honorer di kampus Kairo. Sedangkan Aisyah hanya mengurus kedua anaknya dan suami tercintanya. Mereka sungguh keluarga yang harmonis dan bahagia. Semua cobaan telah mereka lewati dengan baik, hingga berakhir kebaikan pula.

__ADS_1


Saat ini hanya tinggal menunggu kapan Aisyah sudah dinyatakan sembuh total dan tidak perlu kontrol lagi. Dan itulah akhir kebahagiaan keluarga Baihaqi dan Aisyah.


DI LAIN TEMPAT


Nasib Anggie benar-benar berada ditangan Joe. Bagaimana tidak, kini hidupnya berubah 180 derajat. Niat awal Anggie ke Kairo untuk bertemu Baihaqi dan mengganggu rumah tangga Aisyah namun semuanya hanya mimpi. Saat ini Anggie hanya seperti tawanan, yang dikeluarkan dari sangkarnya saat akan dipakai oleh Joe. Sungguh mengenaskan hidupnya. Perutnya yang semakin membuncit membuat Anggie semakin lemah dan tidak berdaya.


"Sayang ... Mau jalan-jalan? Biar anak kita semakin sehat." ucap Joe saat memasuki kamar Anggie.


Anggie hanya terdiam menatap kaca jendela, melihat ke arah luar ada taman disekitar apartemennya dan banyak orang berjalan-jalan dengan suami dan anaknya. Beberapa bulan ini, Anggie sudah melupakan niat buruknya terhadap Aisyah.


Joe berjalan ke arah Anggie lalu duduk di depannya dan memegang wajah Anggie.


"Kalau aku bicara itu tatap aku, dan bila aku bertanya itu dijawab bukan malah diam seperti ini." tegas Joe kepada Anggie.


"Aku mau Joe. Lihat banyak sekali makanan disana aku ingin mencicipinya." ucap Anggie lirih sambil mengusap perut buncitnya.


"Baiklah ... Kamu boleh berjalan-jalan, tapi hanya satu jam saja. Ada Edward yang akan mengawalmu. Aku masih ada pekerjaan lain. Untuk perlengkapan bayi sudah aku belikan, tunggu saja barangnya datang." ucap Joe pelan lalu merogoh dompetnya dan memberikan beberapa lembar uang kepada Anggie.


"Ini untukku?" tanya Anggie pelan.


"Ya, kurang?? Kamu ingin beli apa?? Katakan??" tanya Joe pelan menatap Anggie.


"Aku hanya ingin memakan makanan kecil ditaman dan beberapa akan ku bungkus untuk makan disini. Sepertinya ini terlalu banyak." ucap Anggie lembut.


"Sudah bawa saja. Kamu kan istriku, itu nafkah dariku untuk kamu. Jadilah perempuan yang manis, biar aku juga bisa mencintaimu lagi seperti dulu Anggie." ucap Joe pelan sambil mengecup kening Anggie.


"Aku pergi dulu ya." ucap Anggie pelan dengan langkah gontai tidak bersemangat.


"Anggie, kamu ingin pergi dengan pakaian seperti itu?? Ganti dulu pakaianmu. Aku tidak ingin kamu terlalu mengumbar tubuhmu untuk orang lain." ucap Joe singkat.


Tubuh Anggie bagaikan TV yang dengan mudahnya di setel sesuai keinginan Joe menggunakan remote rahasianya. Anggie menurut dengan semua yang diminta Joe lalu mengganti pakaiannya dengan yang lebih sopan dan tertutup.


"Nah, itu lebih baik. Edwrad ..." teriak Joe keras.


"Iya Tuan Joe. Ada yang bisa saya bantu." tanya Edward dengan sopan.


"Antarkan Anggie berjalan-jalan ditaman. Dua ingin mencicipi makanan di luar sana. Ingat, jangan biarkan dia berbicara dengan siapapun dan aku hanya beri waktu satu jam. Bila telat, kamu yang tanggung akibatnya." ucap Joe mengancam.


"Siap Tuan Joe." jawab Edward singkat.


Anggie berjalan lebih dulu dibandingkan Edward. Hari ini entah kenapa, perasaan Anggie tidak menentu. Berjalan pelan menuju taman dan menghirup udara segar di sekitar taman.


"Nyonya Anggie, anda hanya ingin berjalan-jalan atau mau duduk disana." ucap Edward pelan menunjuk arah bangku-bangku taman yang kosong.


"Waktuku tidak banyak Edward. Pesankan aku beberapa makanan kecil dan bawa kesana. Kau menunggumu disana. Ini uangnya." ucap Anggie pelan.

__ADS_1


"Baik Nyonya. Nyonya duduk saja disana, dan jangan kemana-mana, karena nyawa saya taruhannya." ucap Edward Dnegan singkat.


Anggie berjalan menuju bangku-bangku taman yang indah, sedangkan Edward membeli makanan yang disekitar taman.


Anggie duduk di bangku taman yang terbuat dari besi berwarna putih. Dengan keindahan dan kesejukkan udara pagi membuat semuanya terasa segar dan nyaman untuk dilihat.


Seorang gadis yang sudah tidak asing bagi Anggie, sedang berlari-lari membawa sebuah balon. Lalu dibelakangnya ada seorang perempuan dengan pakaian gamis dan berhijab panjang serta memakai cadar. Ya, wanita itu mendorong kereta bayi sambil menikmati keindahan taman.


"Itu Kak Aisyah ... Ya Kak Aisyah." ucapnya lirih. Anggie pun bangkit berdiri dan mengejar Aisyah yang sedang berkeliling taman.


"Kak Aisyah ... Kak Aisyah ..." teriak Anggie keras sambil berjalan cepat menyusul Aisyah.


Merasa dirinya dipanggil oleh seseorang, Aisyah pun menoleh ke belakang. Menatap lekat wanita yang memanggilnya.


"Kak Aisyah ... Aku Anggie Kak." ucap Anggie saat menghampiri Aisyah.


"Anggie!! Masya Allah. Kamu sama siapa kesini?" ucap Aisyah pelan sambil memeluk Anggie.


"Kak ... aku sama Joe suamiku. Tapi aku kemari di temani bodyguard suamiku." ucap Anggie pelan.


"Kita duduk disitu yuk. Kita ngobrol disana." ucap Aisyah pelan.


Aisyah berjalan menuju satu kursi panjang di taman. Mereka berdua duduk berdampingan dan semua terdiam tidak bersuara.


"Kak Aisyah maafkan aku. Aku sudah mengganggu rumah tanggamu. Aku menyesali semuanya Kak." ucap Anggie pelan.


"Sudahlah Anggie, yang berlalu biarlah berlalu. Ini sudah berapa bulan." tanya Aisyah pelan.


"Permisi Nyonya Anggie. Ini pesanan nyonya. Sebentar lagi waktu habis nyonya, sebaiknya kita pulang sekarang." ucap Edward dengan sopan.


"Kak Aisyah ... Bisakah besok kita bertemu lagi." tanya Anggie pelan.


"Boleh Anggie. Kita bertemu disini di jam yang sama." ucap Aisyah pelan.


JAZAKALLAH KHAIRAN


💚💚💚💚💚


Jangan Lupa tinggalkan jejak kalian sebelum melanjutkan ke Bab berikutnya.


Biar aku makin semangat menulisnya ...


Yang mau kenalan sama author bisa gabung ke GC HUMAIRAH BIDADARI SURGA atau PC atau pun FOLLOW IG @Humairah_bidadarisurga.


Yang mau tanya tanya atau sharing seputar Novel Karya Author atau hal lain juga boleh.

__ADS_1


Ditunggu ya ...


Terima Kasih ....


__ADS_2