
Hai Para readersku tersayang ... 💚💚💚
Jangan lupa ya untuk Like, Komentar dan Vote seikhlasnya.
Tidak lupa untuk memberikan Rate 5 ⭐⭐⭐⭐⭐
Jangan lupa Kritik dan Sarannya, karena saran dari kalian itu sangat penting bagiku.
Aku tunggu jejak kalian di kolom Like dan Komentar ....
Berikan Saran dan Kritikan kepada author untuk membangun cerita ini lebih baik lagi.
Baca Juga Kisah Nyata lainnya ...
Hidayah Hijrahku
Dahsyatnya SHOLAWAT
Angkringan Cinta
Kopi Paste
Kesucian Syahadat
Amanah Terindah
Kalam Hikmah
Selamat Membaca ....
💚💚💚💚💚💚
"Aisyah ... Aisyah ... kamu Aisyah adikku kan?!!" ucap Fathan dengan derai air mata yang terus luruh berjatuhan ke pipinya.
"Aku Aisyah, Kak Fathan. Aisyah Maharani ... Aku masih hidup Kak!! Aku dan anakku masih hidup ..." ucap Aisyah menangis hingga pandangannya pun mulai menggelap dan tidak sadarkan diri.
Aisyah ...... !!!!!!
Dengan sigap Fathan pun menangkap tubuh Aisyah yang sudah tidak sadarkan diri dan membawanya ke kamar tidur pribadinya yang ada di restaurant tersebut. Kamar tidur ini biasanya berfungsi untuk melepas lelah Fathan dan Raina serta kedua anak kembarnya bila lelah berada di restaurant.
__ADS_1
Raina pun mengambil tas dokternya dan mengambil beberapa peralatan yang dibutuhkan untuk memeriksa Aisyah. Cadarnya pun dibuka oleh Raina, tampak banyak belas luka dan robekan disekitar pipi dan dagu yang membuat Aisyah kehilangan kecantikannya.
Dengan pelan dan teliti Raina memeriksa Aisyah serta memeriksa kandungan Aisyah. Alhamdulillah Aisyah berada di kondisi yang stabil dan normal, tidak sadarkan diri karena Aisyah merasa syok dan stress.
Fathan terus memandangi wajah sayu adiknya itu. Dirinya seakan tidak bisa berbuat apa-apa saat ini. Apa yang harus aku lakukan sebagai Kakak, gumamnya pelan dalam hati.
"Kita harus memberitahukan hal ini kepada Baihaqi, Mas Fathan. Baihaqi tetaplah Suaminya, dia begitu sabar dan baik, pasti bisa menerima keadaan Aisyah yang seperti ini." ucap Raina pelan.
"Aku tidak sanggup bila harus menelan pil pahit yang dirasakan oleh adikku. Ini posisi yang berat sayang." ucap Fathan yang terus memandang wajah Aisyah dan memegang tangan Aisyah.
"Cobalah berpikir, bila kita ada di posisi ini. Apa kamu tidak bisa menerimaku dengan keadaanku seperti ini?!" tanya Raina menyalak dengan sorotan mata yang tajam.
Hatinya kesal dan kecewa, kenapa laki-laki harus memperdebatkan kecantikan. Toh, kecantikan itu bisa dibuat dengan operasi plastik.
Fathan pun seketika mendongak menatap wajah cantik Raina dengan penyesalan.
"Maafkan aku sayang, aku bingung, aku takut Baihaqi berbeda." ucap Fathan dengan raut wajah gusar dan cemas.
"Aku yakin Mas Fathan. Baihaqi pasti bisa menerima dengan baik, hanya Aisyah yang mampu mengembalikan kehidupannya menjadi lebih baik dari sekarang." ucap Raina dengan lembut. Raina tahu betul bagaimana frustasinya Baihaqi kehilangan Aisyah.
"Coba kamu hubungi Baihaqi sekarang Raina." ucap Fathan menitah pelan kepada istrinya.
Fathan pun mengolesi minyak angin ke dekat lubang hidung Asiyah. Berharap adiknya segera sadar dari tidurnya. Dan menceritakan bagaimana Aisyah bisa sampai disini. Lalu tinggal dengan siapa?!. Banyak pertanyaan yang masih bercokol di kepala Fathan yang belum sempat ditanyakan kepada Aisyah karena Aisyah lebih dulu tidak sadarkan diri.
"Arghhh ... Kamu kemana Baihaqi, disaat genting seperti ini kamu malah tidak mengaktifkan nomor ponselmu" ucap Raina dengan geram.
Mulut wanita itu terus saja meracau tidak jelas membuat Fathan pun jengah mendengarnya.
"Sayang ... Kamu kan bisa telepon di rumahnya. Kalau Baihaqi tidak ada titip pesan pada Mbok Surti atau Pak Amin beritahukan informasi penting ini dan Baihaqi suruh hubungi kamu agar jelas." ucap Fathan pelan memberikan solusi.
"Ohh Iya bener kamu Mas. Kok aku gak kepikiran ya." ucap Raina pelan dengan senyum mengembang dan mengecup pipi suaminya itu dengan penuh kelembutan.
"Mulai nakal kamu ya. Ini lagi serius Na. Cepat hubungi Baihaqi di rumahnya." ucap Fathan dengan gemas sambil memencet hidung Raina dengan pelan.
Raina pun mengerang kesakitan dan mulai memencet nomor telepon rumah Baihaqi. Berharap pria itu ada di rumah, karena ini hari Sabtu biasanya Baihaqi libur mengajar di kampus.
Sambungan telepon itu menandakan tanda tersambung dan dari ujung telepon ada seorang wanita yang mengangkat telepon itu dengan suara yang lembut. Raina pun terhenyak kaget, siapa wanita ini, kenapa suaranya bukan seperti suara Mbok Surti.
"Assalamualaikum .. Betul ini kediaman Pak Baihaqi?! Bisa saya bicara sebentar dengan beliau, ada informasi penting tentang Aisyah istrinya." ucap Raina pelan dan sedikit gugup.
Fathan pun yang melihat raut wajah istrinya seketika terkejut dan berubah pucat itu pun menanyakan siapa yang sedang berbicara dengannya melalui telepon dengan memberikan kode melalui dagunya yang ditujukan ke arah telepon.
"Waalaikumsalam ... Iya betul ini kediaman Pak Baihaqi, namun dari semalam beliau tidak kembali ke rumah. Ada informasi apa tentang Kak Aisyah. Aku Anggie istri kedua Pak Baihaqi." ucap Anggie pelan sambil memperkenalkan diri.
__ADS_1
Mendengar jawaban Anggie dari sambungan telepon disana, Raina pun langsung menutup mulutnya dengan telapak tangannya. Seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Bagaikan tersambar petir disiang bolong, Raina pun hanya bisa diam membisu.
Melihat hal itu Fathan pun menepuk bahu Raina pelan. Dan menyambar ponsel Raina untuk melanjutkan pembicaraannya dengan seseorang di seberang sana.
"Maaf, tolong beritahu Baihaqi, kami menemukan Aisyah. Saat ini Aisyah berada di Turki dan bersama kami. Kami adalah Kakak Aisyah, namaku Fathan dan tadi Raina istriku." ucap Fathan dengan cepat Jantungnya pun berdegup kencang hingga napasnya pun ikut tersengal-sengal.
"Baik nanti akan aku sampaikan kepada Pak Baihaqi." ucap Anggie dengan lembut dan sopan.
"Apa benar kamu istri Baihaqi?! Sejak kapan kalian menikah?!" tanya Fathan menyelidik.
"Aku menikah sekitar enam atau tujuh bulan yang lalu." ucap Anggie dengan tenang dan sopan.
"Semudah itu Aisyah memberikan ijin kalian untuk menikah. Apa alasannya Baihaqi menikahimu?!" tanya Fathan dengan geram.
Hatinya kesal dan kecewa, ada apa sebenarnya dengan Rumah Tangga Aisyah. Kenapa Baihaqi begitu tega berpoligami. Apa salah Aisyah adikku kepadamu Baihaqi!!!
Tut .. Tut ... Tut..
Sambungan telepon itu pun terputus secara sepihak. Fathan pun makin geram dibuatnya.
Sekilas melihat Aisyah yang sudah mengerjapkan kedua bola matanya pertanda Aisyah sudah sadar dari tidurnya yang singkat.
Sudah banyak pertanyaan yang ingin diajukan oleh Fathan karena rasa penasarannya. Namun, lengannya langsung ditarik pelan dan diusap lembut oleh Raina agar emosi Fathan pun reda dan tidak menyalak-nyalak.
Karena mengambil keputusan di saat dikuasai amarah besar, maka yang ada penyesalan di kemudian hari.
"Istighfar Mas Fathan. Jangan ikut campur lebih dalam dengan urusan rumah tangga Aisyah." ucap Raina pelan dan lembut. Seolah-olah ingin berkata sudah biarkan saja, urusan kita adalah membantu Aisyah hingga persalinan nanti.
JAZAKALLAH KHAIRAN
💚💚💚💚💚
Jangan Lupa tinggalkan jejak kalian sebelum melanjutkan ke Bab berikutnya.
Biar aku makin semangat menulisnya ...
Yang mau kenalan sama author bisa gabung ke GC HUMAIRAH BIDADARI SURGA atau PC atau pun FOLLOW IG @Humairah_bidadarisurga.
Yang mau tanya tanya atau sharing seputar Novel Karya Author atau hal lain juga boleh.
Ditunggu ya ...
Terima Kasih ....
__ADS_1