
Hai Para readersku tersayang ... 💚💚💚
Jangan lupa ya untuk Like, Komentar dan Vote seikhlasnya.
Tidak lupa untuk memberikan Rate 5 ⭐⭐⭐⭐⭐
Jangan lupa Kritik dan Sarannya, karena saran dari kalian itu sangat penting bagiku.
Aku tunggu jejak kalian di kolom Like dan Komentar ....
Berikan Saran dan Kritikan kepada author untuk membangun cerita ini lebih baik lagi.
Baca Juga Kisah Nyata lainnya ...
Hidayah Hijrahku
Dahsyatnya SHOLAWAT
Angkringan Cinta
Kopi Paste
Kesucian Syahadat
Selamat Membaca ....
💚💚💚💚💚💚
"Kamu membuatku penasaran Humairah... " ucap Baihaqi pelan.
"Tutup matamu dulu. Setelah ini permintaanku harus kamu turuti sebagai tanda ucapan syukur." ucap Aisyah mengedipkan satu matanya.
"Haruskah tutup mata? Jangan menggodaku Humairah?" ucap Baihaqi pelan.
"Menggodaku untuk apa? Kamu itu tidak perlu aku goda juga sudah tergoda kan Mas?" goda Aisyah dengan menjawil hidung Baihaqi.
"Kamu ini paling pintar membuat surprise, dan aku selalu penasaran dibuatnya." ucap Baihaqi mengecup pipi Aisyah dan memejamkan kedua matanya.
"Tutup sampai aku beri aba aba untuk kamu buka Mas." ucap Aisyah pelan.
"Hemmmmm Iya." ucap Baihaqi pelan. Kedua matanya sudah terpejam dan tertutup dengan rapat.
Aisyah pun bangkit menarik sebuah amplop yang ada di dalam tas selempangnya dan kembali ke tempat tidur.
Amplop itu diberikan kepada suaminya, lalu mereka bermain tebak-tebakan.
"Ini kejutannya, tapi tebak dulu kira kira isinya apa? Jangan buka matamu dulu Mas." ucap Aisyah pelan.
__ADS_1
"Ini seperti kertas, apakah ini uang untuk event besarmu di Jepang Humairah?" ucap Baihaqi pelan. Karena itu benar kertas dan sedikit tebal karena lipatan kertas di dalam amplop.
"Buka matamu Mas Bai." ucap Aisyah lirih dan mengecup bibir Baihaqi dengan perasaan riang dan bahagia.
Perlahan matanya dibuka dan kertas dalam genggamannya pun di angkat persis di depan wajahnya.
Amplop itu putih polos tanpa tulisan tapi tidak direkatkan, hanya ditutup asal. Dibukalah amplop itu dan terlihat lipatan kertas disana.
"Baca ya Mas Bai, Aisyah ingin mendengar." ucap Aisyah pelan.
"Rumah Sakit Ibu dan Anak Soedibyo, atas nama Aisyah Maharani, positif, usia kandungan ......... " ucapannya terhenti, Baihaqi menoleh ke arah Aisyah dan tersenyum dengan lebar hingga gigi nya terpampang putih dan rapi.
"Lanjutkan Mas Bai, Aisyah ingin mendengar." ucap Aisyah pelan sambil memejamkan kedua matanya.
"Aisyah.... kamu hamil sayang? Alhamdulillah.... subhanallah..... ini semua yang aku tunggu-tunggu, akhirnya ujian dalam keluargaku berakhir juga." ucap Baihaqi pelan, dan berkali kali mengecup pipi dan punggung tangan Aisyah secara bergantian.
Satu buliran kristal mulai menggenangi pelupuk matanya dan tumpah membasahi bantal.
"Humairah.... apa yang terjadi? Apa kamu sakit atau kenapa katakan kepadaku?" ucap Baihaqi mencium kedua mata Aisyah yang basah dan mengusap rambut hitam itu dengan sayang.
"Ini kabar bahagia untukmu suamiku. Aku bahagia, ternyata apa yang aku inginkan terwujud untuk memberikanmu keturunan di keluarga kecil kita. Satu hal, aku ingin meminta sesuatu yang sudah kamu janjikan Mas Bai. Kamu sanggup kan mengabulkan permintaanku?" ucap Aisyah pelan.
"Apa itu Humairah.... katakan saja, aku siap mendengarkan apa yang menjadi permintaanmu." ucap Baihaqi dengan mantap.
Kebahagiaan tentang kehamilan Aisyah pun sudah membutakan semua permintaan Aisyah. Sebagai wanita hamil, tentu memiliki sesuatu yang diinginkan wanita hamil atau di sebut mengidam, maka sudah menjadi tugas dan kewajiban seorang suami mengabulkan permintaan mengidam istrinya itu.
"Kamu siap mendengarkan permintaanku Mas Bai?" ucap Aisyah lirih dan terasa serak di tenggorokan.
Aisyah pun tersenyum penuh kemenangan, mungkin dengan cara inilah apa yang menjadi keinginan Aisyah aku terkabulkan.
"Mas Baihaqi.... Menikahlah dengan Anggie demi anak kita, demi nama baikmu, demi keluarga. Aku rela dan ikhlas untuk menjadi yang pertama dan Anggie menjadi yang kedua untukmu. Ingat, kasihan anak di dalam kandungannya." ucap Aisyah lirih, matanya tidak mampu menatap ke arah Baihaqi yang terkejut setengah mati mendengar ucapan Aisyah yang terdengar lembut.
Hatinya terasa mencelos, dan merasakan beberapa bagian tubuhnya menegang hebat mendegar penuturan Aisyah yang tidak biasa. Selama ini mengenal wanita atau pasangan lain, tidak ada wanita yang mau di madu, apalagi ini malah permintaan sang istri, sungguh di luar dugaan.
Wajah Baihaqi sudah terlihat memerah menahan rasa kecewanya terhadap ucapan Aisyah.
Tatapan Baihaqi terlihat kurang bersahabat dan seperti mengintimidasi Aisyah.
"Ucapanmu membuatku kecewa Aisyah... Apa kamu tidak memikirkan terlebih dahulu sebelum berucap?" tegas Baihaqi dengan sedikit ketus.
Nafasnya terdengar memburu menahan sebuah amarah yang tidak mungkin Baihaqi tumpahkan kepada istrinya yang sedang mengandung anaknya, itu bisa membuatnya trauma dan bersedih berkepanjangan.
Aisyah hanya terduduk dan menundukkan wajahnya, tangisannya sudah tumpah dengan deras. Entah apa yang mendorongnya untuk berkata seperti itu kepada suaminya, di saat kebahagiaan sedang mereka raih dengan kehadiran janin yang sudah tertanam di rahim Aisyah.
Baihaqi hanya berdiri menatap nanar ke arah luar jendela, sinar matahari sore yang mulai menyorot ke arah jendela membuat tubuh pun seakan mendidih.
Aisyah pun berdiri dan memeluk Baihaqi dari belakang. Bibirnya mencium punggung suaminya dengan tulus. Kedua tangannya saling menggapai melingkar di atas perut Baihaqi.
Hembusan nafas Aisyah sangat terasa di punggung Baihaqi. Nafas yang hangat karena sesak di dadanya yang sejak tadi tertahan.
"Maafkan aku, Suamiku. Aku mengambil keputusan tanpa berunding denganmu. Semuanya sudah aku persiapkan, kamu tinggal mengucap akad dan aku menjadi saksi atas pernikahan keduamu." ucap Aisyah yang merekatkan kembali pelukannya.
__ADS_1
Baihaqi tersentak, aura kecewa dan penyesalannya pun terpancar jelas di bagian wajahnya.
"Aiayah.!!!!.... " ucap Baihaqi keras dan membalikkan tubuhnya ke hadapan Aisyah. Kedua tangannya yang kekar memegang erat lengan Aisyah.
Aisyah hanya tertunduk lemah, tangisannya tidak terdengar hanya tetesan air matanya yang terlihat jatuh ke lantai.
Aisyah pun berlutut di hadapan Baihaqi dan memegang kedua kaki Suaminya lalu mengecup punggung kaki itu dengan tulus.
"Ampuni Aisyah.... Aisyah hanya ingin kamu bertanggung jawab kepada Anggie." ucap Aisyah terbata bata. Walaupun Aisyah tahu, Suaminya tidak mungkin berbuat hal seperti itu.
"Aisyah.... apa yang harus aku pertanggung jawabkan, bila memang kenyataannya bukan aku yang melakukannya. Saat ini pun aku berani bersumpah Humairah, aku tidak melakukan perbuatan dosa itu." ucap Baihaqi yang sudah benar-benar kecewa dengan perasaannya.
Bukankah di saat seperti ini, Aisyah menguatkannya, bukan malah ikut menyudutkannya, ini sama saja Aisyah tidak mempercayai Baihaqi sebagai Suaminya.
"Aku merasakan Mas Bai, ingin menjadi seorang ibu juga, bagaimana rasanya bila aku ditinggalkan saat aku mengandung. Yang aku tahu Anggie begitu mencintaimu. Aku sudah membuktikannya sendiri. Banyak Foto yang terpampang di dinding kamarnya. Ada orang lain yang mencintai dan ingin memiliki suamiku, bila ini kehendak Allah SWT, Aisyah bisa apa Mas." ucap Aisyah dengan suara serak.
Sore itu betul-betul di luar dugaan. Aisyah bersimpuh di kedua kaki Baihaqi dan memohon agar lelaki itu segera menikahi Anggie. Terbuat apa hati istri itu?...
"Aku tidak mau Aisyah, aku tidak mencintainya bahkan aku tidak mengenal Anggie sama sekali." ucap Baihaqi keras.
Tidak pernah Baihaqi berbicara keras seperti itu, kali ini hati dan pikirannya tidak bisa diajak berdamai. Suasananya benar benar kacau di luar ekspektasi nya. Ancaman tadi siang pun masih menjadi kekalutannya.
"Demi aku dan anak yang sedang ku kandung Mas Bai. Ajukan syarat-syarat apa yang harus dipenuhi Anggie agar dia bisa bersanding denganmu." ucap Aisyah pelan.
"Cukup Aisyah !!!!! Aku tidak mau mendengar permintaanmu yang sulit aku terima, bahkan untuk menerimanya aku tidak bisa. Aku tidak pernah berpikir ujian yang ku terima harus berkhir seperti ini, menyakiti orang yang aku cintai. Maafkan aku Aisyah aku tidak bisa." ucap Baihaqi berkaca-kaca.
Baihaqi tidak sanggup mengabulkan permintaan Aisyah. Berpoligami bukanlah suatu tujuan hidupnya dan bukanlah solusi terbaik. Tidak mungkin bertanggung jawab karena perbuatan orang lain yang dilimpahkan kepadanya, ini pencemaran nama baik ini suatu tidak pidana.
Masalah status sosial Anggie tentu bukan urusan Baihaqi. Berani berbuat makan Anggie harus sanggup menerima resiko dan konsekuensinya.
Aisyah masih menangis di kaki Baihaqi, terasa air mata yang masih mengalir di punggung kaki hingga ke telapak kaki Baihaqi.
Dunianya seakan runtuh, tapi ini satu satunya cara untuk menolong suaminya dari fitnah yang keji di kampusnya. Gelar sebagai dosen terbaik pun bisa tercemar karena keadaan ini.
Apa yang harus kulakukan, apakah permintaanku ini terlalu berlebihan, gumam Aisyah dalam hatinya.
JAZAKALLAH KHAIRAN
💚💚💚💚💚
Jangan Lupa tinggalkan jejak kalian sebelum melanjutkan ke Bab berikutnya.
Biar aku makin semangat menulisnya ...
Yang mau kenalan sama author bisa gabung ke GC HUMAIRAH BIDADARI SURGA atau PC atau pun FOLLOW IG @Humairah_bidadarisurga.
Yang mau tanya tanya atau sharing seputar Novel Karya Author atau hal lain juga boleh.
Ditunggu ya ...
Terima Kasih ....
__ADS_1