KETABAHAN AISYAH

KETABAHAN AISYAH
84


__ADS_3

"Aku tidak bohong Joe!! Aku tidak tahu apa-apa," ucap Mikael sedikit terbata-bata dan gugup.


Tangan Joe diarahkan ke atas dan satu peluru di letuskan ke arah langit gelap itu. Tatapan Joe semakin tajam dan lekat bagaikan elang yang telah mendapatkan mangsa dan tinggal mencengkeram mangsanya dengan cakar tajamnya.


"Aku tidak main-main!! Aku tahu siapa Burhan dan siapa Bram!! Katakan atau kau mati di tempat!!" ucap Joe dengan tegas dan lantang.


"Jangan bunuh aku Joe. Istriku sedang hamil sembilan bulan, sebentar lagi akan melahirkan anak pertama yang kami inginkan sejak lama," ucap Mikael Dnegan suara lirih.


Joe tidak iba, ini lawan bukan kawan. Joe harus bersikap profesional untuk tidak mengedepankan nuraninya. Joe sendiri pasrah jika memang keadaan Anggie tidak sedang baik-baik saja. Semua memang salahnya telah membawa Anggie masuk dalam permasalahan ini.


"Siapa wanita yang ada di dalam mobil itu!! Katakan!!" teriak Joe semakin kesal dan frustasi.


Joe merasa ada yang tidak beres. Joe merasa hidup Anggie sedang dalam ancaman bahaya besar.


Mikael semakin gugup dan cemas. Kebohongannya tidak mungkin dilanjutkan, Mikael tahu persis bagaimana perasaan seorang suami yang mengkhawatirkan istri dan bayi di perut istrinya itu.


Wajah Mikael pun menunduk lemah dan berlutut di depan Joe yang masih menatapnya dengan tatapan tajam.


Kedua mata Joe menatap Mikael yang tiba-tiba luruh berlutut, seolah kakinya begitu lemah dan tidak kuat menopang tubuh besarnya itu.


Joe tetap bersiap dan tidak berkedip sedikitpun agar tidak kehilangan waktu singkat yang bisa merubah nasibnya malam itu.


Angin malam yang berhembus sangat kencang membuat pohon-pohon besar dan ilalang di sekitarnya pun bergoyang mengikuti arah angin dalam gelap.


Air mata Mikael luruh begitu saja, mengingat Anggie yang terbaring lemah di jok belakang dalam keadaan terikat dan kini hampir empat jam lamanya mengikuti permainan Burhan. Sudah dipastikan wanita hamil itu bisa mati perlahan.

__ADS_1


"Berdiri!! Berdiri, kataku!!" teriak Joe keras kepada Mikael. Senjata apinya di arahkan pada kepala Mikael dengan berjarak.


Mikael menggelengkan kepalanya pelan.


"Maafkan aku, Joe. Anggie, istrimu ada di dalam mobil itu," suara lirih itu terdengar menyakitkan sekali. Bukan hanya petir yang menyambar tubuh Joe, tapi sengatan listrik seolah memberikan setrum yang sangat kuat hingga membuat tubuhnya kaku berdiri bagaikan patung manekin.


Tatapan Joe semakin tajam menatap Mikael yang masih menundukkan kepalanya secara dalam. Mikael tahu sekali, jika Joe pasti akan marah besar mendengar penjelasannya. Tapi, ini sebuah kejujuran, dan hanya ini yang bisa membuat Joe menyelamatkan Anggie tanpa memperdulikan nyawa dirinya sendiri.


"Tolong katakan, jangan bilang, Burhan sedang menyentuh istriku!!" teriak Joe keras. Suara Joe menggema dengan keras, begitu sakit dan frustasi.


Mikael mengangguk kepalanya pelan.


"Dasar tua Bangka tidak tahu diri!! Dia istriku dan sedang mengandung anakku!! Tega-teganya dia memperlakukan istriku bagai wanita murahan!! Dan kamu!! Kenapa kamu hanya berdiam?! Bukankah istrimu juga sedang mengandung!! Apa tidak ada rasa iba sedikit pun dalam hatimu, Mikael!!" teriak Joe frustasi. Pelatuk senjata api itu sudah ditarik dan siap diletupkan ke arah kepala Mikael yang siap di cecerkan isi kepalanya hingga berantakan di tanah penuh ilalang itu.


Kebencian Joe sudah tingkat tinggi. Jie sangat tidak terima dengan perlakuan Burhan, anak buah Bram yang begitu menggilai istrinya.


"Maafkan aku. Aku benci kamu, Mikael!!" teriak Joe keras dan menembak Mikael tepat di bagian kepalanya serta dadanya.


Joe hanya melihat anggukan kepala Mikael pelan sebelum senjata api itu meluncurkan peluru tajamnya tepat menembus dahi Mikael.


Seketika tubuh Mikael terjatuh di tanah dengan darah yang mengucur deras dari bagian kepala dan dadanya. Tubuh Joe mendadak lemas, menembak atau membunuh orang belum pernah ia lakukan sama sekali.


Ada penyesalan yang mengganjal hatinya telah melenyapkan satu nyawa teman seperjuangannya yang kini sama-sama sedang menunggu lahirnya sang buah hati.


Joe menggelengkan kepalanya cepat, ia merasa tindakannya ini sangat tepat. Ini saatnya balas dendam, nyawa harus di bayar dengan nyawa. Kepergian Edward dengan luka tembak mengharuskan Joe membalaskan perbuatan Mikael yang begitu kejam dan bengis.

__ADS_1


Joe mengumpulkan tenaganya dan berusaha berdiri mencari sisa lelua atau senjata api lainnya yang ada di saku jaket kulit milik Mikael. Joe hanya menemukan satu kotak peluru dan mengisinya senjata api itu dengan peluru penuh. Joe menoleh ke arah mobil Burhan. Lampu mobil bagian dalam menyala, terlhat jelas dari kejauhan sosok Burhan yang sedang memakai pakaiannya. Joe bangkit berdiri dan berlari sangat cepat menyusuri ilallang tinggi itu hingga menggapai jalan raya menuju mkbil Burhan.


Jaraknya kini semakin dekat dengan mobil Burhan dengan sengaja Joe bersembunyi di balik batu besar.


Saat Burhan keluar dari mobilnya, dengan sengaja satu peluru melesat persis di samping tubuh Burhan yang sedang berdiri tegak mencari-cari keberadaan Mikael.


Joe pun keluar dari persembunyiannya dan menembaki mobil Burhan hingga membuat Burhan berlari tunggang langgang menuju pintu mobil bagian supir dan melanjutkan mobilnya dengan sangat cepat.


Waktu begitu cepat dan singkat, hingga kecepatan mobil itu mencapai maksimal dan tidak terkendali lalu menabrak pohon dan pagar pembatas dan masuk ke dalam jurang.


Begitu sangat cepat dan singkat. Joe pun terkejut menatap kejadian yang begitu dramatis.


"Anggie!!" teriak Joe begitu sangat keras. Tatapannya tidak lepas pada mobil itu yang berkali-kali terguling dan akhirnya masuk ke dalam jurang.


Joe pun berlari ke arah tempat kejadian, dan berniat menolong Anggie yang ada di dalam mobil itu. Peluh Joe sudah bercucuran karena lelah berlari hingga tempat itu, cukup jauh dari tempat tadi berdiri sambil menembaki mobil Burhan.


Joe langsung turun mencari-cari keberadaan mobil Burhan dengan bantuan cahaya terang di langit. Tidak ada penerangan apapun yang membantu untuk bebas berjalan, semuanya perlu feeling yang tepat.


Suara rintihan dan teriakan Burhan meminta tolong, yang terjepit di bagian jik depan. Kakinya patah, lukanya parah, darahnya juga mengucur dari beberapa bagian tubuhnya yang terluka menganga.


Joe melihat Burhan, tidak ada iba sedikitpun, hanya didiamkan tanpa rasa peduli. Kedua mata Joe mencari-cari keberadaan Anggie.


Anggie sempat terlempar saat mobil itu terguling dan pintu bagian samping terbuka. Tubuh Anggie terlempar dan mengenai pohon besar sebelum akhirnya mobil itu hancur.


Kedua mata Anggie sempat membuka untuk memastikan keadaannya masih sadar. Tubuhnya yang masih polos dan terasa sakit di bagian pinggang membuat Anggie hanya bisa mengelus pelan perut besarnya dan mengeluarkan air matanya tanpa bisa berteriak.

__ADS_1


"Anggie!! Dimana kamu!!" teriak Joe dengan suara keras dan lantang.


__ADS_2