KETABAHAN AISYAH

KETABAHAN AISYAH
Bab 48


__ADS_3

Hai Para readersku tersayang ... 💚💚💚


Jangan lupa ya untuk Like, Komentar dan Vote seikhlasnya.


Tidak lupa untuk memberikan Rate 5 ⭐⭐⭐⭐⭐


Jangan lupa Kritik dan Sarannya, karena saran dari kalian itu sangat penting bagiku.


Aku tunggu jejak kalian di kolom Like dan Komentar ....


Berikan Saran dan Kritikan kepada author untuk membangun cerita ini lebih baik lagi.


Baca Juga Kisah Nyata lainnya ...



Hidayah Hijrahku (Tamat)


Dahsyatnya SHOLAWAT (Tamat)


Angkringan Cinta (Tamat)


Kopi Paste


Kesucian Syahadat ( Tamat)


Amanah Terindah


Kalam Hikmah


Bulan dan Bintang


Kang Tatang dan Asmah



Selamat Membaca ....


💚💚💚💚💚💚


Setelah acara tahlilan Hanyfah dan Suaminya malam itu. Baihaqi pulang ke rumahnya dengan Nadya yang terus menempel dalam dekapan Baihaqi. Niatnya untuk menginap di Butik pun diurungkan karena ada Nadya saat ini yang harus dirawat.

__ADS_1


Baihaqi pun seakan tidak perduli ada dan tiada Anggie di dalam rumahnya.


"Pak Bai, sudah jam segini Non Anggie belum juga datang." ucap Mbok Surti mengadu pada majikannya.


"Biarkan saja. Dia sudah dewasa, pasti bisa menentukan sikap dan memilih mana yang baik dan benar." ucap Baihaqi pelan dan datar.


Wajahnya terlihat teduh dan tenang dan tidak ingin membahas apapun tentang Anggie atau siapapun kecuali Aisyah.


"Pak Bai ... Sepertinya tadi ada telepon dari turki, kalau tidak salah dari Mas Fathan dan membicarakan tentang Bu Aisyah. Tapi yang menerima telepon tadi Non Anggie." ucap Mbok Surti pelan dan sopan.


"Mas Fathan?! Tolong bawa Nadya Mbok, saya akan menelepon kembali Mas Fathan." ucap Baihaqi pelan namun masih terdengar sangat jelas.


Dengan cekatan Baihaqi pun menuju tempat telepon rumahnya berada dan memutar nomor Fathan yang sangat ia hapal hingga di luar kepala.


Telepon pun tersambung namun belum ada jawaban dari seberang sana. Baihaqi pun menunggu hingga beberapa kali nadanya terputus dan mengulangnya lagi, namun telepon itu tidak ada yang menyahut.


Hatinya makin panik dan cemas, kala kabar tentang Aisyah belum Baihaqi terima dengan jelas. Rasanya ingin memakai dirinya sendiri. Ponselnya pun tiba-tiba mati dan tidak bisa digunakan walaupun sudah diberi daya.


"Mbok, kalau ada telepon dari Mas Fathan atau Mbak Raina cepat panggil saya. Atau tanyakan ada kabar apa tentang Aisyah." ucap Baihaqi menitah.


"Baik, Pak Baihaqi. Apakah anda tidak khawatir dengan Non Anggie?" tanya Mbok Surti pelan.


"Hufft ... Biarkan aku sendiri Mbok. Aku akan menceraikan Anggie dan fokus mengurus Nadya sesuai amanah Mbak Hanyfah." ucap Baihaqi dengan menghembuskan napas kasar.


Keesokkan harinya, Baihaqi dan Nadya pun sudah pergi sejak pagi-pagi buta. Dirinya ingin bertemu dengan Habib Quraisy dan beberapa hari ingin tinggal disana bersama Nadya untuk menenangkan diri dan pikirannya.


Anggie pun datang dengan wajah yang pucat dan lemas. Masuk ke rumah tanpa mengucapkan salam dengan pakaian terbuka dan jalan menuju kamarnya dengan tertatih-tatih. Hidupnya sudah hancur dan kali ini lebih hancur lagi. Saat tubuhnya dinikmati oleh lelaki lain dan bukan Suaminya yang Anggie harapkan selama ini.


'Apa ini karmaku, dosaku kepadamu Aisyah. Apa ini hukumanku karena aku telah berzinah dengan papaku sendiri. Apa ini yang dinamakan murka Allah terhadap diriku.' batinnya terus saja berteriak namun tetap tidak bisa Anggie keluarkan seperti biasanya.


Dirinya sudah berada di titik terendah dan terpuruk lagi ke lembah dosa. Membohongi suaminya untuk berpura-pura berhijrah. Namun kenyataannya itu semua palsu dan itu semua tipu daya setan yang masih mempengaruhi kehidupan Anggie.


Saat ini jiwanya betul-betul terguncang, seakan bunuh diri adakah cara terbaik untuk melepaskan beban berat yang ada di pundaknya.


Mbok Surti melihat dengan iba, lalu membawakan makanan dan minuman ke dalam kamar Anggie.


"Kenapa Non? Kok Non Anggie, terlihat pucat dan lemas. Lalu pakaian ini? Bukankah kemarin Non Anggie memakai gamis dan hijab?" tanya Mbok Suryo pelan. Lalu meletakkan makanan dan minumannya di nakas dekat tempat tidur Anggie.


Anggie pun menangis terisak dan memeluk Mbok Surti. Dirinya hanya bisa menangis dan menyesali perbuatannya.


Mbok Surti pun membalas pelukan Anggie dan mengusap lembut punggung Anggie hingga terasa sangat nyaman.

__ADS_1


Anggie sudah merasa tenang dan nyaman, lalu makan dan istirahat setelah membersihkan diri dan mengganti pakaiannya.


SATU BULAN KEMUDIAN ....


Satu bulan berlalu, Baihaqi dan Nadya pun masih berada di Padepokan Habib Quraisy. Untuk menghilangkan trauma pada Nadya, anak perempuan itu di bantu untuk belajar mengaji. Sedangkan Baihaqi lebih banyak beribadah, berzikir dan bersholawat meminta petunjuk terbaik kepada Allah SWT.


Selama satu bulan itu juga, Anggie lebih sering menghabiskan waktu di kamarnya dan diam seribu bahasa. Bahkan kejadian satu bulan lalu pun tidak ada yang mengetahuinya.


"Hoek ... hoekk ... " Anggie pun merasa beberapa Minggu terakhir ini kepalanya pusing dan tubuhnya lemas, rasanya hanya ingin rebahan di kamar.


Mendengar suara orang muntah-muntah, Mbok Surti menghampiri Anggie dengan membawakan segelas teh manis hangat.


"Non Anggie gak papa. Kita periksa saja, atau saya panggilkan dokter wanita langganan Bu Aisyah." tanya Mbok Surti dengan sopan.


Namun, pertanyaan itu tidak di gubris sama sekali oleh Anggie. Merasa dirinya tidak dianggap Mbok Surti pun kembali ke ruang keluarga untuk menelepon dokter langganan majikannya untuk memeriksa Anggie.


Tidak berselang lama telepon itu ditutup oleh Mbok Surti, telepon itu berbunyi sangat nyaring. Ya, Mas Fathan menelepon dan mengabarkan bahwa Aisyah sudah ditemukan. Baihaqi di minta untuk menjemput Aisyah karena sebentar lagi Aisyah akan melahirkan. Seperti itu kira-kira informasi yang diberikan oleh Fathan kepada Mbok Surti.


Mbok Surti langsung sujud syukur antara percaya dan tidak percaya, jika Bu Aisyah ditemukan dalam keadaan baik-baik saja dan kandungannya pun sehat-sehat saja bahkan akan melahirkan. SUBHANALLAH ALLAH MAHA BESAR ...., batinnya didalam hati Mbok Surti.


Dokter langganan Aisyah pun sudah datang dan mulai memeriksa Anggie yang hanya bisa terdiam dan pucat.


"Ibu Anggie, selamat anda akan menjadi seorang Ibu. Baihaqi pasti senang sekali mendengarnya." ucap Dokter itu pelan namun terdengar sangat menohok bagi Anggie.


'Anak ini bukanlah anak Baihaqi. Bahkan suamiku saja tidak pernah sedikitpun menyentuh kulitku. Aku benar-benar hanya dianggap orang asing. Hidupku sudah hancur, apa kata Baihaqi, aku mengandung dalam keadaan terikat perkawinan dengannya.' batinnya menangis.


"Hamil Dokter?! Ini tidak salah?" tanya Mbok Surti yang kaget dengan ucapan Dokter tersebut. Sorot matanya pun tajam menatap Anggie, wanita yang dianggap sudah berubah menjadi lebih baik, malah menorehkan luka bagi keluarga Baihaqi kembali.


"Iya kandungannya sudah berjalan enam minggu. Di jaga kandungannya, terlebih sebelumnya pernah keguguran. Jadi kali ini harus lebih berhati-hati." ucap Dokter itu menasehati.


JAZAKALLAH KHAIRAN


💚💚💚💚💚


Jangan Lupa tinggalkan jejak kalian sebelum melanjutkan ke Bab berikutnya.


Biar aku makin semangat menulisnya ...


Yang mau kenalan sama author bisa gabung ke GC HUMAIRAH BIDADARI SURGA atau PC atau pun FOLLOW IG @Humairah_bidadarisurga.


Yang mau tanya tanya atau sharing seputar Novel Karya Author atau hal lain juga boleh.

__ADS_1


Ditunggu ya ...


Terima Kasih ....


__ADS_2