
Hai Para readersku tersayang ... 💚💚💚
Jangan lupa ya untuk Like, Komentar dan Vote seikhlasnya.
Tidak lupa untuk memberikan Rate 5 ⭐⭐⭐⭐⭐
Jangan lupa Kritik dan Sarannya, karena saran dari kalian itu sangat penting bagiku.
Aku tunggu jejak kalian di kolom Like dan Komentar ....
Berikan Saran dan Kritikan kepada author untuk membangun cerita ini lebih baik lagi.
Baca Juga Kisah Nyata lainnya ...
Hidayah Hijrahku (Tamat)
Dahsyatnya SHOLAWAT (Tamat)
Angkringan Cinta (Tamat)
Kopi Paste
Kesucian Syahadat ( Tamat)
Amanah Terindah
Kalam Hikmah
Bulan dan Bintang
Kang Tatang dan Asmah
Selamat Membaca ....
💚💚💚💚💚💚
Aisyah sudah berada di taman itu bersama Azan di kereta bayinya. Baihaqi dan Nadya berada di belakang Aisyah. Aisyah mencoba mengedarkan pandangannya di sekeliling taman bunga itu, berharap Anggie masih setia menunggunya.
Awalnya Baihaqi kurang setuju dengan keinginan Aisyah yang menginginkan bertemu dengan Anggie, Baihaqi jaya khawatir dan cemas jika Anggie sedang merencanakan sesuatu yang buruk terhadap Aisyah dan rumah tangganya.
"Mana Anggie?" tanya Baihaqi yang masih setia dibelakang Aisyah sambil menggendong Nadya yang tertidur pulas dipundaknya.
"Entahlah, aku sudah terlambat setengah jam. Apa mungkin Anggie masih menungguku?" tanya Aisyah kepada dirinya sendiri.
Baihaqi ikut melihat ke sekeliling taman bunga itu, menatap satu per satu kursi taman yang ada disana. Aisyah berjalan menyusuri jalan setapak di taman itu dan menoleh ke kanan dan ke kiri. Namun tetap saja hasilnya nihil.
__ADS_1
Baihaqi berjalan di sekitar trotoar taman dekat para penjual kaki lima menjajakan makanan khas dari negara itu.
Brugggghhh....
"Sorry." ucap pria itu saat menabrak Baihaqi. Lalu pria itu berjalan terburu-buru hingga menghilang di tikungan jalan.
'Sepertinya aku pernah melihat lelaki itu, tapi siapa aku lupa.' batin Baihaqi di dalam hatinya.
Baihaqi meneruskan jalan di sekitar taman dan menghampiri Aisyah yang sudah berdiri ditengah-tengah taman bunga dekat dengan air mancur.
"Bagaimana? Ketemu Aisyah?" tanya Baihaqi lembut.
"Gak ada Mas. Aku sudah dua kali lewat sini namun tetap tidak ada. Mungkin Anggie sudah pulang." ucap Aisyah lirih.
"Kita duduk dulu ya. Aku belikan makanan kesukaan kamu, Aisyah. Kamu tunggu disini." ucap Baihaqi pelan, lalu menuju salah satu penjual Kushari, makanan kesukaan Aisyah selama tinggal di Kairo.
Aisyah duduk di kursi taman. Memegang kereta bayi Azan. Azan yang diam dan tidak menangis saat dibawa jalan-jalan pagi oleh Aisyah.
"Kak Aisyah ..." panggil seorang wanita dari bangku sebelah.
Aisyah menengok ke arah samping, ada seorang wanita dengan suara yang khas sangat dikenali. Namun, ini memakai baju panjang dan hijab serta cadar di wajahnya.
"Anggie?? Kau kah itu?" tanya Aisyah pelan dan sedikit ragu.
Anggie pun berdiri dan duduk disamping Aisyah.
"Iya Kak Aisyah, ini aku Anggie. Apakah kamu tidak mengenaliku Kak Aisyah." tanya Anggie lembut.
"Terima kasih Kak Aisyah. Kak Aisyah sendiri?" tanya Anggie pelan sambil menengok bayi azan yang diam sambil memasukkan jari-jarinya ke dalam mulut.
"Aku sama Mas Baihaqi dan Nadya. Tadi mereka beli makanan tapi belum kembali." ucap Aisyah pelan sambil menunjuk ke arah penjual Kushari di pinggir taman bunga itu.
"Kamu sendiri. Aku bersama Joe, suamiku." ucap Anggie pelan.
"Ada apa, kamu mengajakku bertemu disini. Kamu bisa main ke tempatku Anggie." ucap Aisyah pelan.
"Aku malu Kak Aisyah. Mungkin ini sudah menjadi takdirku Kak Aisyah. Satu hal yang aku ingat saat materi di perkuliahan dahulu. Pak Baihaqi selalu berucap, jodoh itu akan digolongkan, wanita baik untuk pria yang baik, wanita Sholehah untuk pria Sholeh, dan wanita yang kurang baik tentunya untuk pria yang kurang baik. Begitu juga dengan kematian, kematian seseorang itu tidak luput dari profesinya atau aktivitasnya sehari-hari. Jadi kalian bisa memilih dari sekarang. Jangan sampai kalian kehilangan waktu untuk bertobat karena usia kalian berhenti pada detik ini juga." ucap Anggie pelan menjelaskan.
Aisyah menyimak dengan baik. Kata-kata itu juga yang selalu Baihaqi utarakan saat awal pernikahannya dulu. Mereka berdua dipertemukan dengan sempurna karena Allah SWT.
"Aku senang mendengarnya. Anggie kamu bahagia dengan Joe suamimu??" tanya Aisyah pelan.
"Alhamdulillah Kak Aisyah. Aku sangat bahagia, walaupun di awal pernikahan aku belum mencintai Joe. Namun karena kesabaran dan kegigihannya aku jatuh cinta juga dengan suamiku." jawab Anggie pelan.
"Lalu, apakah kamu masih mencintai Mas Baihaqi?" tanya Aisyah lembut dengan menatap lekat netra Anggie.
"Kak Aisyah jangan cemas. Kalau perasaan cinta itu masih ada bukankah wajar, tapi semuanya akan hilang karena ada Joe disampingku." ucap Anggie pelan. Anggie sangat paham kekhawatiran Aisyah saat ini.
Mungkin kejadian beberapa waktu lalu bisa saja terjadi lagi.
__ADS_1
"Assalamualaikum pernah lihat wanita dan pria ini?" tanya seorang laki-laki berbadan besar kepada Aisyah dan Anggie.
"Waalaikumsalam ..." jawab Aisyah lembut. Aisyah menatap foto Anggie disana, lalu melirik ke arah Anggie yang sudah terlihat cemas dan panik.
"Kamu pernah melihatnya Nastiti?" tanya Aisyah pelan. Aisyah sangat tahu persis ketakutan Anggie.
Anggie hanya menggelengkan kepalanya tanda tidak tahu.
"Maaf kami tidak melihatnya, mungkin bisa tanyakan dengan yang lain." ucap Aisyah dengan lembut.
"Baiklah. Simpan brosur ini, bila kalian melihatnya tolong hubungi nomor ini." ucap pria bertubuh kekar itu.
"Iya Pak." jawab Aisyah dengan sopan dan singkat.
Setelah beberapa pria bertubuh kekar itu pergi, Anggie langsung duduk mendekat pada Aisyah. Tangannya memegang gamis Aisyah dengan kencang, hingga terdengar suara letusan senjata api di ujung jalan sebanyak tiga kali. Orang-orang berhamburan dan mencari keamanan.
"Suara apa itu?" tanya Aisyah keras.
"Itu suara pistol Kak Aisyah." ucap Anggie terbata-bata.
"Ada apa ini perasaanku tiba-tiba tidak enak." lirih Aisyah yang sejak tadi memangku Nadya.
"Joe .... " teriak Anggie tertahan.
Aisyah menoleh ke arah Anggie.
"Apa maksudmu Anggie?" tanya Aisyah penasaran.
"Joe pasti dalam bahaya Kak Aisyah. Tadi aku minta dibelikan makanan, namun belum kembali sejak tadi." ucap Anggie yang terlihat panik dan cemas.
"Kita kesana Kak Aisyah. Aku penasaran ada apa sebenarnya." ucap Anggie pelan.
Tidak lama suara ambulance nyaring berbunyi, tidak lama ambulance itu pergi meninggalkan kerumunan orang banyak.
Aisyah dan Anggie datang ke lokasi tempat penembakan. Di sana hanya terlihat beberapa makanan jatuh berceceran, salah satunya makanan kesukaan Aisyah.
Deg deg deg ....
JAZAKALLAH KHAIRAN
💚💚💚💚💚
Jangan Lupa tinggalkan jejak kalian sebelum melanjutkan ke Bab berikutnya.
Biar aku makin semangat menulisnya ...
Yang mau kenalan sama author bisa gabung ke GC HUMAIRAH BIDADARI SURGA atau PC atau pun FOLLOW IG @Humairah_bidadarisurga.
Yang mau tanya tanya atau sharing seputar Novel Karya Author atau hal lain juga boleh.
__ADS_1
Ditunggu ya ...
Terima Kasih ....