
Hari semakin gelap dan malam. Anggie sudah kenyang, tubuhnya makin kuat dan bertenaga. Gerakan bayinya di dalam perutnya mulai bergerak-gerak dan menendang-nendang dengan sangat kuat hingga terasa sedikit sakit dan nyeri.
Beberapa kali Anggie mengusap perutnya dengan gerakan memutar dengan sangat lembut dan sedikit cepat untuk menghilangkan rasa sakit itu.
'Baik-baik Nak, setelah ini kita cari Papa Joe dan kita akan hidup sederhana Dengan bahagia. Semoga saja, orang tadi benar-benar ingin membantu Mama,' batin Anggie di dalam hati sambil berbisik lirih kepada bayi yang ada di dalam perutnya.
Rasa kantuk mulai melanda, rasanya matanya mulai berat dan ingin terpejam. Tubuhnya yang sudah tidak lemas di tanah pertanian yang sudah penuh karena makanan menambah nikmat rasa kantuk itu membuat mata terpejam lalu tertidur pulas.
Susu hangat buatan Burhan tadi dengan sengaja ditambahkan obat tidur. Burhan sangat licik, dia bahkan bisa memprediksikan ketidakpercayaan Anggie terhadapnya. Saat rasa kantuk itu melanda, secara otomatis Anggie akan tertidur dan itu akan memudahkan Burhan untuk memindahkan Anggie ke dalam mobilnya tanpa ada perlawanan sedikitpun.
Sudah satu jam berlalu Burhan masuk ke dalam ruangan itu dan melihat keadaan Anggie yang sudah terlelap dalam tidurnya. Dengan mudahnya Burhan mengangkat tubuh kecil dengan perut membesar itu ke dalam mobilnya yang sudah dipersiapkan di halaman depan markas besar milik Bram.
"Kemana Bos?" tanya salah satu anak buahnya dengan penasaran saat Burhan membawa Anggie keluar dari ruangan gelap itu.
"Bos besar menyuruhku untuk membuang wanita ini ke jalanan karena Joe dan sahabatnya itu sudah di ketemukan. Aku tinggal mengeksekusi mereka setelah urusanku dengan wanita ini selesai," ucap Burhan pelan menjelaskan kepada anak buahnya.
Anak buahnya itu tampak menganggukkan kepalanya dengan paham dan membantu Burhan untuk merebahkan Anggie di kursi belakang.
"Tolong ikat wanita itu kedua tangan dan kakinya, aku takut dia terbangun dan mengganggu aku saat menyetir," ucap Burhan menitah anak buahnya itu.
Burhan bersiap dan duduk di kursi depan untuk melajukan mobilnya dengan segera. Hasratnya sudah tak tertahankan untuk segera dilampiaskan kepada Anggie yang sudah sejak tadi diinginkan.
"Sudah Bos. Apa perlu pengawalan?" tanya anak buahnya itu kepada Burhan.
Burhan menatap anaka buah kesayangannya itu dan tampak berpikir sebentar. Mungkin Anggie cukup kuat untuk digilir dengan dua orang laki-laki yang sedikit buas.
__ADS_1
"Naiklah," jawab Burhan singkat.
Burhan dan anak buahnya itu melajukan mobilnya dengan sangat cepat. Keduanya saling diam dan tidak ada yang memulai pembicaraan.
Sesekali Burhan menatap jalanan yang sepi dan gelap lalu menatap ke arah anak buahnya yang fokus pada jalanan sepi itu tanpa ada kecurigaan sedikitpun. Anggie masih tertidur pulas dengan efek samping kantuk setelah di beri obat tidur untuk beberapa jam kedepan.
"Hei, aku ingin bermain-main dengan wanita hamil itu sebelum aku buang ke jalan. Aku sudah lama menduda dan menyendiri, hidupku hanya untuk bekerja dan mengabdi pada bos besar Bram. Saat melihat wanita hamil ini, hasratku mulai meninggi dan ingin melampiaskan beberapa kali hingga mencapai kenikmatan surga dunia," ucap Burhan pelan dengan santai.
Kedua mata anak buah itu terbelalak kaget. Baru kali ini Burhan seperti anak kecil sedikit merengek.
"Itu terserah Bos saja. Bos yang punya kendali untuk hal ini. Saya hanya mengikuti saja," ucap anak buahnya itu pelan.
Ada rasa tidak setuju di dalam hatinya. Rasa kasihan terhadap Anggie, karena istrinya juga sedang hamil besar. Anak buahnya itu hanya menggelengkan kepalanya pelan secara reflek karena tidak sepikiran untuk berbuat tidak baik.
"Kenapa kamu menggelengkan kepala begitu?" tanya Burhan dengan ketus.
"Tidak apa-apa Bos," jawabnya lirih sambil menundukkan kepalanya karena segan.
"Kalau kamu ingin mencicipi juga boleh, tapi setelah saya," ucap Burhan tertawa puas hingga suaranya terdengar keras.
"Tidak Bos, istri saya juga sedang hamil, tidak baik rasanya kalau saya juga berbuat seperti itu," ucap anak buah itu pelan.
"Oh seperti itu. Ya sudah, kamu berjaga di depan ya," ucap Burhan menitah.
Burhan segera menepikan mobilnya. Hasratnya sudah sampai di ubun-ubun dan sudah tidak tertahankan lagi untuk dilampiaskan. Anak buah Burhan sangat paham dengan kondisi dan keadaan Burhan. Sudah menduda dalam waktu yang lama dan bekerja tanpa istirahat selama itu, tentu tubuhnya sudah sangat lelah. Jiwa ke laki-lakiannya pun akan muncul secara otomatis.
__ADS_1
Mobil sudah menepi dan berhenti terparkir di pinggir jalanan yang cukup sepi dan gelap. Tampak kejauhan ada bilik yang terlihat remang-remang dan bercahaya redup seperti sebuha tempat tinggal terasing. Burhan bahkan sudah tidak peduli lagi, yang ada di pikirannya kini hanya melampiaskan pada Anggie yang masih tertidur pulas.
"Saya turun dulu, mau menghisap cerutu di dekat sana, sambil berjaga," ucap anak buah Burhan pelan sambil memasukkan senjata api kecil yang di masukkan ke dalam selipan celana panjangnya.
Burhan hanya mengangguk pelan dan keluar dari mobilnya untuk berpindah ke arah belakang.
Anak buah Burhan sudah keluar dari mobil itu dan berjalan menjauh mencari tempat untuk duduk bersantai menikmati cerutu yang di bawanya.
Satu jam sudah lamanya, Burhan berada di dalam mobil itu hingga mobil yang terparkir itu bergoyang-goyang mengikuti irama orang yang ada di dalamnya.
Dari kejauhan anak buah Burhan hanya menatap ke arah mobil yang masih saja bergoyang dan belum ada tanda-tanda untuk berhenti.
Kedua matanya mengedarkan pandangannya dan menatap semua tempat gelap itu. Rasanya seperti ada yang sedang mengintai mereka berdua. Kedua ekor matanya begitu tajam menatap keadaan sekeliling.
Bukan takut, tapi tempat sepi ini, apa yang mau di cari.
Joe dan Edward berada tidak jauh dari tempat dimana mobil Burhan terparkir. Awalnya mereka berdua berniat membantu, mereka pikir mobil itu ada kendala, seperti mogok ataupun pecah ban.
Tapi ternyata tidak, mobil itu memang sengaja berhenti. Edward menatap anak buah Burhan dengan lekat dari kejauhan.
"Bang Joe, itu Mikael, asisten Burhan," ucap Edward yang cukup kenal dengan Mikael pada masanya.
Joe pun menatap Mikael dengan tajam lalu mengangguk pelan. Kedua matanya berpindah menatap mobil yang terparkir itu dengan seksama. Mobil yang sudah tidak asing lagi, sering terlihat di markas besar milik Bram.
"Itu mobil Burhan," ucap Joe pelan. Tubuhnya sedikit takut dan cemas, bukan berarti tidak berani hanya saja tetap menghargai mereka sebagai kawan lama.
__ADS_1
"Apa yang sedang mereka lakukan?" tanya Joe dengan penasaran.
Edward menatap ke arah mobil yang terparkir namun terlihat bergoyang-goyang dengan kencang.