
Supir itu berusaha menghilangkan rasa panik dan cemasnya saat melihat Joe dan Anggie yang juga sedang kebingungan dengan keadaan. Supir itu berusaha untuk tenang dengan menarik napas panjang. Cukup berpikir sejenak mengingat kembali yang dilakukan oleh anak gadisnya. Langkah-langkah yang dilakukan apa saja, dari awal hingga akhir, dan apa yang harus dilakukan oleh pasien atau ibu yang melahirkan.
"Arghhhhhh ... Aku sudah tidak tahan lagi, Joe!! Tolong aku!!" teriak Anggie dengan suara keras sambil memegang erat tangan Joe. Peluh bercucuran dengan sangat deras di sekitar dahi Anggie.
"Sabar Anggie, kamu kuat ya," ucap Joe membalas genggaman erat tangan Anggie sambil menatap Anggie yang sudah pucat menahan rasa sakit yang campur aduk.
Supir itu menepikan truknya dan memberhentikan laju truk dan mematikan mesin truk itu.
"Istrimu sudah tidak kuat lagi ingin melahirkan, ini sangat bahaya. Lebih baik kita bantu dengan agar bayinya keluar," ucap Supir truk itu nampak tenang.
Joe pun menatap supir truk itu dengan lekat. Antara cemas dan bahagia, ada yang mau membantunya keluar dari masalah ini. Keadaan ini sangat darurat dan urgent dari pada melihat Anggie seperti itu, lebih baik melakukan tindakan.
"Kamu meragukan saya, Bung?" tanya supir itu tegas. Padahal memang sipir itu belum pernah membantu siapapun tapi seolah memang sudah bisa dan bahkan berpengalaman agar Joe nampak yakin dan tidak ragu. Semua ini demi kebaikan Anggie.
Joe menggelengkan kepalanya pelan.
"Aku percaya dan yakin, tuan. Bantu istriku, aku pasrah dengan apa yang terjadi, asalkan bayi dan istriku selamat," ucap Joe dengan suara lirih.
Supir truk itu turun dan meminta ijin untuk melaksanakan sholat terlebih dahulu. Jujur saja, supir truk itu sangat takut dan cemas bila gagal. Sholat adalah jalan satu-satunya untuk meminta petunjuk dan berdoa adalah munajat untuk melancarkan segala hajat yang diinginkan.
Supir truk itu menurunkan tikar dan kasur tipis yang dibawanya untuk beristirahat. Tubuh Anggie di rebahkan dan ditutupin sebuah kain sarung yang sering digunakan untuk sholat.
"Bismillahirrahmanirrahim, kita berdoa bersama untuk kelancaran semuanya. Jika anaknya lahir, balut dengan pakaian bersih ini," ucapnya kepada Joe yang masih cemas dan bingung.
"Iya, tuan. Terima kasih banyak sudah mau membantu istriku," ucap Joe lirih.
Entah bagaimana lagi Joe mengucapkan rasa syukur itu. Semua jalan bagai di mudahkan walaupun terasa sulit di awal.
__ADS_1
Supir truk itu dengan berani memberikan instruksi kepada Anggie untuk menarik napas panjang dan menghembuskan napas itu secara perlahan.
Anggie pun menurut hingga beberapa kali melakukan sambil sedikit mengejan.
"Huftt aku lelah, rasanya tidak kuat lagi," lirih Anggie dengan napas yang sedikit tersengal.
"Kamu perempuan kuat, kamu perempuan hebat. Kamu dan anakmu adalah anugerah bagi kebahagiaan kalian. Ayo sedikit lagi, lihat kepala anak ini sudah terlihat. Kamu mampu, aku yakin kamu pasti bisa," ucap supir truk itu pelan memberikan semangat kepada Anggie yang sudah nampak kelelahan dan kesakitan.
Tubuh Anggie sudah tak karuan rasanya. Peluhnya makin banyak dan basah di sekujur tubuhnya. Aroma darah dan cairan ketuban yang sudah pecah terlebih dahulu membuat sedikit merinding dan ngeri membayangkannya.
Berkali-kali Anggie berucap istighfar dan mengucap ampun kepada Allah SWT. Sudah banyak dosa yang diperbuatnya dengan menyakiti perasaan orang lain terlebih kepada Aisyah. Hanya Aisyah yang ada dalam ingatannya.
"Joe ..." panggil Anggie lirih.
"Ya, Anggie? Apa ada yang bisa aku bantu?" tanya Joe dengan suara lirih. Kedua tangan Joe saling bertaut dengan tangan Anggie.
Supir truk dan Joe pun begitu takjub menatap kemudahan dan kelancaran proses persalinan itu. Persalinan yang dijalani oelh anggie begitu mudah dan tanpa beban.
Supir truk itu bernama Benhard. Beliau seorang mualaf yang taat. Benhard memotong ari-ari itu dengan alat seadanya. Bayi itu di bersihkan dengan air mineral di dalam botol yang ditumpahkan sedikit pada handuk kering untuk membersihkan sisa-sisa darah yang masih menempel di tubuh anak itu.
Joe ikut membereskan ari-ari itu setelah merebahkan Anggie dalam posisi nyaman.
Anggie sendiri begitu sangat lega, rasa khawatir dan sakit yang di rasakan sebelumnya dan rasa campur aduk kini semuanya sudah terbayar lunas dan bisa bernapas dengan sangat mudah.
Tangisan bayi perempuan yang membuat air mata Anggie luruh begitu saja, sangat menyentuh kalbu di dalam hatinya. Pikirannya melayang pada proses perjalan hidupnya yang penuh drama. Tidak hanya itu, proses hijrah yang dipaksakan demi seseorang yang dicintai hingga terobsesi untuk memiliki tanpa memikirkan dan memperdulikan keadaan di sekitarnya.
Benhard memberikan bayi itu kepada Joe untuk segera di adzankan tepat di telinga bayi perempuan itu baik di kanan dan kirinya.
__ADS_1
Senyum bahagia merekah begitu saja dari bibir Joe saat bayi perempuan itu ada dalam gendongan kedua tangannya. Bayi mungil yang sangat cantik seperti Anggie. Bayi ini membuat hidup Joe semakin bersemangat lagi, seolah jalan kehidupan baru sudah menanti untuk membangun rumah tangga kecilnya itu dengan kebahagiaan dan kesederhanaan.
Setelah di adzankan, bayi perempuan itu di dekatkan pada Anggie. Anggie menerima bayi itu dengan penuh rasa bahagia.
"Berikan nama cantik untuk anak kita. Pilih yang baik," ucap Joe pelan kepada Anggie.
Anggie tersenyum manis lalu menggelengkan kepalanya pelan.
"Kamu saja yang berikan nama untuk anak kita, Joe," ucap Anggie pelan memberikan keputusan kepada Joe.
"Salwa? Cantik bukan? Salwa Joana," ucap Joe pelan.
"Salwa? Nama yang sangat cantik, aku suka," ucap Anggie pelan menyetujui. Mereka berdua pun sepakat dengan nama cantik itu.
Semua sudah beres, dan mereka melanjutkan perjalanan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan yang lebih baik untuk Anggie. Kondisi Anggie masih belum stabil malah semakin memburuk. Pendarahannya tidak berhenti malah makin parah.
Benhard melajukan kecepatan truknya agar cepat sampai ke rumah sakit dan segera memberikan pertolongan kepada Anggie.
Joe menggendong putrinya dan bahunya dibiarkan bebas untuk tempat bersandar Anggie yang makin melemah.
"Joe ..." lirih Anggie memanggil nama Joe dengan pandangan fokus ke depan tanpa berkedip. Dadanya begitu sesak sekali rasanya.
"Iya Anggie," jawab Joe pelan sambil menepuk-nepuk pelan paha Salwa yang tertidur dengan pulas.
"Titipkan salam ku untuk Kak Aisyah. Rasanya aku sudah tidak kuat lagi," ucap Anggie lirih menahan sesak di bagian dadanya.
Joe menoleh ke arah Anggie yang masih bersandar di bahunya.
__ADS_1
"Bicara apa kamu? Kamu baik-baik saja Anggie, kita sedang menuju ke rumah sakit," ucap Joe pelan menenangkan Anggie.