KETABAHAN AISYAH

KETABAHAN AISYAH
Bab 67


__ADS_3

Hai Para readersku tersayang ... 💚💚💚


Jangan lupa ya untuk Like, Komentar dan Vote seikhlasnya.


Tidak lupa untuk memberikan Rate 5 ⭐⭐⭐⭐⭐


Jangan lupa Kritik dan Sarannya, karena saran dari kalian itu sangat penting bagiku.


Aku tunggu jejak kalian di kolom Like dan Komentar ....


Berikan Saran dan Kritikan kepada author untuk membangun cerita ini lebih baik lagi.


Baca Juga Kisah Nyata lainnya ...



Hidayah Hijrahku (Tamat)


Dahsyatnya SHOLAWAT (Tamat)


Angkringan Cinta (Tamat)


Kopi Paste


Kesucian Syahadat ( Tamat)


Amanah Terindah


Kalam Hikmah


Bulan dan Bintang


Kang Tatang dan Asmah



Selamat Membaca ....


💚💚💚💚💚💚


Anggie duduk diam di sebelah Joe yang terlihat panik dan cemas. Sejak tadi ponselnya selalu saja berdering dan tidak satu pun di angkatnya. Anggie hanya menatap gawai Joe dan melihat siapa yang menelponnya hingga beberapa kali.


Pikiran Joe melayang, satu bulan yang lalu, Edward tangan kanannya sudah memberi tahu Joe, bahwa ini adalah satu taktik penjebakan. Namun, modusnya seperti apa Edward pun belum bisa berucap. Hanya saja banyak kejadian aneh dan terlihat janggal.

__ADS_1


'Tuan Joe, sepertinya ada yang berkhianat, sudah beberapa hari ini, bisnis kita tercium oleh pihak berwajib, tapi motifnya apa saya tidak tahu. Saya masih menyelidikinya.' ucap Edward pelan kepada Joe.


'Ada satu hal yang seharusnya aku lakukan di negara ini. Aku harus membunuh seseorang, namun aku tidak sanggup dan aku tidak mencari tahu itu, Edward. Aku tahu ini akan berakibat fatal, lambat lain Bang Bima akan menagih semua janjiku padanya.' ucap Joe pelan.


'Apakah anda kesini karena misi tertentu Tuan?' tanya Edward pelan.


'Ya, tepat sekali. Misi ku harus membunuh seseorang, dan waktuku tinggal sebentar lagi, saat istriku melahirkan. Aku takut Edward, ini bukan pekerjaan mudah bukan.' ucap Joe dengan perasaan khawatir.


'Sebaiknya anda tidak main-main dengan bang Bima, Tuan Joe. Ini sedikit saran dari saya. Bang Bima memiliki daerah kekuasaan yang luas. Kalau gagal tentu anak dan istri tuan yang menjadi taruhannya.' jelas Edward secara gamblang.


'Aku mohon Edward, jagalah istriku bila nyawaku terancam dan mati terlebih dahulu.' ucap Joe dengan gusar lalu menepuk pundak Edward dengan pelan.


'Kenapa harus saya, Tuan Joe' tanya Edward singkat.


'Aku hanya percaya padamu Edward. Ingat, disini ada mantan suami Anggie. Anggie bisa kapan saja menemui pria itu tanpa sepengetahuan aku. Jaga dia baik-baik Edward.' ucap Joe pelan.


'Tuan ... Polisi sudah mengetahui tempat tinggal kita. lebih baik kita pindah tinggalkan semua barang di rumah. Biar aku yang menjadi tawanan mereka.' ucap Edward pelan.


'Jangan Edward. Lebih baik bawa istriku pergi jauh, biar aku menanggung resiko ini." ucap Joe pelan.


Rasa takut pasti ada, takut mati, takut tertangkap, takut dianiaya, takut dibunuh, tapi ini semua sudah terlanjur, ini semua sudah menjadi kebiasaan, ini semua sudah menjadi kesehariannya. Manusia tidak luput dari dosa, dari khilaf yang tidak disengaja karena suatu kebutuhan dan keinginan.


'Dua bulan lagi istriku akan melahirkan Joe. Aku harus memastikan dia baik-baik saja. Aku harus mencari orang untuk ku titipkan istriku.' ucap Joe pelan.


'Benar katamu, tapi aku harus mencari kemana?' tanya Joe singkat.


'Saya akan membantu Tuan Joe untuk menemukan mantan suami Nyonya Anggie dan istrinya.' ucap Edward pelan.


'Kamu memang selalu bisa aku andalkan Edward.' ucap Joe dengan tersenyum.


Joe menutup matanya dan menyandarkan tubuhnya ke kursi bus, sedangkan Anggie melihat ke arah luar jendela. Beberapa anak buah Joe pun sedang berjaga-jaga.


Dua jam kemudian, Joe dan Anggie sudah sampai di rumah yang dibeli dengan uang tabungannya sendiri.


"Joe ... Ini rumah siapa?" tanya Anggie pelan kepada Joe yang baru saja turun dari bis.


"Rumahku yang khusus aku belikan untuk kamu." ucap Joe dengan singkat.


Anggie menatap wajah Joe dengan sendu. Ada perasaan bersalah kepada Joe karena awalnya Anggie bersikap kurang baik.


"Kamu kenapa Anggie?? Ada yang salah dengan jawabanku?" tanya Joe pelan lalu menautkan jari jemarinya kepada Anggie.


"Terima kasih Joe. Aku sedang berusaha mencintaimu. Bantu aku Joe." ucap Anggie lirih.

__ADS_1


Joe mendengar ucapan Anggie sempat terhenyak, apakah ini nyata atau mimpi. Seorang Anggie ingin belajar mencintai Joe yang penuh dengan dosa


"Kamu tidak sedang mengajakku bercanda Anggie??" tanya Joe yang masih tersentak kaget mendengar ucapan Anggie.


Anggie menghentikan langkahnya lalu tersenyum menghadap ke arah Joe lalu memeluknya dengan tulus.


"Mungkin memang kamu adalah jodohku. Berbuatlah baik dan berubahlah menjadi baik demi aku dan anak kita, Joe. Kamu mau berjanji padaku?" tanya Anggie pelan.


Joe hanya berdiri tegak membalas pelukan Anggie. Joe diam seribu bahasa bagaikan patung yang keras dan tidak bisa bergerak. Matanya merah dan panas, air matanya sudah mengumpul di pelupuk matanya. Sedih rasanya, saat orang yang kita cintai membalas dengan perasaan yang sama. Meminta permintaan yang baik dan masuk akal untuk kebahagian dan kehidupan yang lebih baik lagi.


"Apa menurutmu aku kurang baik? Apa yang aku rubah dari diriku agar kamu tetap menemaniku Anggie." tanya Joe pelan di dekat telinga Anggie.


"Kamu sudah baik Joe, bahkan sangat baik dan peduli denganku. Tapi, hanya pekerjaanmu saja yang kurang baik. Bisa kamu meninggalkan itu semua demi aku, kita belajar agama Islam agar kita tidak terpuruk ke dalam dosa secara terus menerus." ucap Anggie pelan lalu melepaskan pelukannya.


"Kenapa kamu jadi seperti ini Anggie?? Apa ada seseorang yang mendiktemu jadi seperti ini??" tanya Joe curiga.


"Jangan pernah mencurigai aku, Joe. Aku selalu di rumah dan selalu bersamamu setiap waktu. Hanya saja tadi di taman aku bertemu Kak Aisyah istri Mas Baihaqi. Aku bertemu tidak sengaja." ucap Anggie pelan.


Joe menyimak ucapan Anggie dan tersenyum lepas.


"Kamu masih mencintai Baihaqi??" tanya Joe pelan kepada Anggie.


Anggie pun tertawa terbahak-bahak, lalu mencubit pipi Joe dengan gemas.


"Rasa cinta itu memang masih ada, tapi kini berangsur-angsur hilang dan sirna karena cinta itu pun hanyut dan berlabuh pada hatimu Joe. Aku merasa aman dan nyaman bersamamu. Walaupun awalnya sangatlah sulit, tapi aku selalu mencoba dan mencoba untuk bisa menjadikan dirimu sebagai satu-satunya untukku." ucap Anggie pelan dan mencium pipi Joe.


"Terima kasih Anggie. Tapi ... " ucapan Joe terhenti saat menatap lekat netra Anggie dan mengusap pipi mulus Anggie.


JAZAKALLAH KHAIRAN


💚💚💚💚💚


Jangan Lupa tinggalkan jejak kalian sebelum melanjutkan ke Bab berikutnya.


Biar aku makin semangat menulisnya ...


Yang mau kenalan sama author bisa gabung ke GC HUMAIRAH BIDADARI SURGA atau PC atau pun FOLLOW IG @Humairah_bidadarisurga.


Yang mau tanya tanya atau sharing seputar Novel Karya Author atau hal lain juga boleh.


Ditunggu ya ...


Terima Kasih ....

__ADS_1


__ADS_2