KETABAHAN AISYAH

KETABAHAN AISYAH
Bab 52


__ADS_3

Hai Para readersku tersayang ... 💚💚💚


Jangan lupa ya untuk Like, Komentar dan Vote seikhlasnya.


Tidak lupa untuk memberikan Rate 5 ⭐⭐⭐⭐⭐


Jangan lupa Kritik dan Sarannya, karena saran dari kalian itu sangat penting bagiku.


Aku tunggu jejak kalian di kolom Like dan Komentar ....


Berikan Saran dan Kritikan kepada author untuk membangun cerita ini lebih baik lagi.


Baca Juga Kisah Nyata lainnya ...



Hidayah Hijrahku (Tamat)


Dahsyatnya SHOLAWAT (Tamat)


Angkringan Cinta (Tamat)


Kopi Paste


Kesucian Syahadat ( Tamat)


Amanah Terindah


Kalam Hikmah


Bulan dan Bintang


Kang Tatang dan Asmah



Selamat Membaca ....


💚💚💚💚💚💚


Derap langkah kaki Baihaqi menyusuri lorong rumah sakit dengan menggendong Nadya dalam dekapannya. Rasa rindu yang sangat membuncah membuatnya sudah kacau, jantungnya sejak tadi berlarian hingga temponya pun tidak beraturan.


Tepat di depan ruang kamar Aisyah terdengar suara tangis bayi yang sangat membuat hati Baihaqi pun menangis dalam kebahagiaan. Suaranya tangisannya memang nyaring namun masuk ke dalam relung hati hingga menyisakan sesak di dada Baihaqi. Mengingat kejadian beberapa waktu yang lalu, ternyata ini adalah pertemuan pertama mereka saat keduanya terpisahkan oleh jarak dan waktu.

__ADS_1


Pintu pun dibuka terlihat Aisyah yang sedang menyusui buah hatinya didampingi oleh Raina. Fathan yang sedari tadi berada dibelakang Baihaqi pun ikut terdiam mematung.


Baihaqi menikmati pemandangan itu. Pemandangan kasih sayang antara Aisyah kepada buah hati mereka. Usapan di kepala bayi itu membuat Baihaqi ikut meneteskan air mata. Lalu berjalan menuju brankar Aisyah.


tap


tap


tap


Aisyah pun menoleh ke arah sumber suara. Menatap Baihaqi dengan terkejut dan perasaan antara percaya dan tidak percaya. Menangis sudah tentu, air mata itu luruh begitu saja. Hingga Aisyah pun tak berkedip menatap Baihaqi yang berjalan ke arahnya. Satu tangannya memangku bayi kecil itu dan satu tangannya meremas kain berlapis yang pakainya. Aisyah was was dan takut, karena wajahnya yang rusak, dan kini tertutup dengan cadar. Aisyah takut Baihaqi menyesal dan kecewa bertemu dengannya. Pandangan Asiyah pun turun ke bawah menunduk menatap bayi yang berada dalam pangkuannya.


Hatinya berdesir dan berdebar-debar menatap kedua bola mata Baihaqi, namun semakin menatap dalam, hatinya pun ikut menangis ada rasa takut bila Baihaqi tidak bisa menerima ini semua.


"Aisyah ... Humairah ... " panggil Baihaqi di sisi ranjang Aisyah.


Aisyah tetap menunduk dan tidak menyahut. Fathan mengusap pelan bahu Baihaqi agar tenang. Raina pun berdiri dan berjalan menuju pintu.


"Umi ... Umi Aisyah ..." panggil Nadya keras dan beringsut turun dari gendongan Baihaqi untuk berdiri di dekat Aisyah.


Aisyah pun menoleh ke arah suara tersebut, Aisyah melihat Nadya dengan mata sembab. Kedua matanya pun sembab karena menangis, ditambah melihat Nadya yang terlihat terpuruk dan berduka. Ada apa sebenarnya ini? Dan dimana Anggie?, batin Aisyah bertanya tanya di dalam hati.


"Humairah ... aku datang untuk menjemputmu sayang." ucap Baihaqi dengan suara serak dan tertahan.


Aisyah tetap terdiam, matanya terasa panas. Menahan air mata agar tidak terjatuh lagi.


Aisyah pun menerima uluran tangan itu dan mencium tangan suaminya dengan penuh cinta. Rasa rindunya benar benar sudah di titik puncak. Cadar yang menutupi wajahnya pun sudah basah karena air mata.


"Aisyah ... Aku sudah tahu apa yang terjadi kepadamu. Ijinkan aku untuk menebus semua kesalahanku padamu Humairahku ..." ucap Baihaqi pelan menatap lekat netra Aisyah.


Aisyah menunduk dan menghapus semua sisa air matanya. Rasanya ingin memeluk tubuh Baihaqi Suaminya yang sudah nyata ada di depannya. Tapi bayangan Anggie pun selalu menghantui dan seketika menghampiri pikiran Aisyah. Beberapa bulan ini tentu mereka bersama, sudah berapa kali mereka tidur bersama dan membesarkan anak Anggie bersama. Pikiran buruk itu selalu membuat Aisyah bingung dan pasrah dengan keadaannya saat ini.


"Anggie kemana Mas Bai? Bagaimana anaknya? laki-laki atau perempuan?" tanya Aisyah lembut seperti tidak terjadi apa-apa. Rasa keingintahuan Aisyah begitu besar, bagaimana mereka semenjak Aisyah tidak ada.


"Aku datang untuk menemuimu Aisyah. Untuk apa memikirkan orang lain yang sudah merenggut kebahagian rumah tangga kita. Aku tidak bisa menjalani ini semua Aisyah. Aku hanya menginginkan kamu Aisyah. Hanya ada Aisyah Maharani dalam hatiku." ucap Baihaqi menjelaskan.


"Bukankah sudah melahirkan Anggie?" tanya Aisyah yang masih penuh tanda tanya.


Baihaqi seolah tidak mau tahu, dan tidak menanggapi pertanyaan Aisyah tentang Anggie.


"Siapa nama anak kita Aisyah. Nadya, kemarin adik bayi mau dinamakan siapa?" tanya Baihaqi lembut.


"Muhamad Azan. Panggilannya Azan, papa." ucap Nadya dengan polos.

__ADS_1


"Anak pintar ... Nama yang bagus sekali. Bagaimana Aisyah? Kamu setuju?" tanya Baihaqi pelan.


Aisyah hanya terdiam dan mengangguk. Rasanya aneh seperti ada yang disembunyikan dari dirinya.


"Nama yang bagus Mas. Azan ... anak umi ..." ucap Aisyah sambil mencium kening Azan dengan lembut.


"Boleh aku menggendongnya Aisyah?" tanya Baihaqi pelan. Tangannya sudah siap menerima bayi kecil itu dari tangan Aisyah.


"Ini Mas Bai. Alhamdulillah mirip dengan mu Mas." ucap Aisyah pelan dengan senyum mengembang.


"Sini papa. Nadya mau mencium Azan." ucap Nadya yang nampak bahagia.


Baihaqi pun mendekatkan bayi Azan kepada Nadya untuk dicium lembut.


"Halum baunya ... Nadya suka banget. Adik bayi ..." ucap Nadya polos.


"Azan ... anak papa ... Mulai sekarang kita akan bersama dengan papa, umi, dan kakak Nadya." ucap Baihaqi mantap.


Aisyah hanya menyimak dan terdiam mendengar ucapan Baihaqi.


"Mas? Anggie? Anggie kemana Mas?" tanya Aisyah pelan dan menatap tajam ke arah Baihaqi.


"Biarkan dia bahagia dengan kehidupannya Aisyah. Kita tidak perlu mengurusinya lagi." ucap Baihaqi lantang.


"Apa kamu menceraikannya Mas? Bagaimana nasibnya?" tanya Aisyah pelan.


"Aisyah cukup ... Aku kesini ingin bersamamu tanpa ada orang lain mengganggu kebahagiaan kita." ucap Baihaqi lantang.


"Mas ... Aku tidak sempurna. Wajahku buruk, tidak seperti dulu lagi." ucap Aisyah sesegukan.


"Itu bukan alasan untuk aku tidak mencintaimu Aisyah. Dengan kehadiran Azan aku makin mencintaimu Aisyah, apapun keadaanmu. Ini takdir untuk rumah tangga kita." ucap Baihaqi lembut dan mengecup kening Aisyah dengan lembut.


JAZAKALLAH KHAIRAN


💚💚💚💚💚


Jangan Lupa tinggalkan jejak kalian sebelum melanjutkan ke Bab berikutnya.


Biar aku makin semangat menulisnya ...


Yang mau kenalan sama author bisa gabung ke GC HUMAIRAH BIDADARI SURGA atau PC atau pun FOLLOW IG @Humairah_bidadarisurga.


Yang mau tanya tanya atau sharing seputar Novel Karya Author atau hal lain juga boleh.

__ADS_1


Ditunggu ya ...


Terima Kasih ....


__ADS_2